Selesai makan, Queen menatap kosong ke arah meja, pikirannya melayang pada Gar. Jadi ternyata Gar sama seperti laki-laki lain. Lagipula, zaman sekarang siapa sih yang masih benar-benar suci sebelum menikah? Kecuali dirinya sendiri, yang saat ini masih menjaga diri. Sementara itu, di kamar mandi, Gar sedang mandi. Ia yakin Queen pasti memandangnya buruk sekarang. Queen pasti mengira kalau ia sudah membeli banyak wanita sebelumnya. Padahal, satu-satunya hubungan semacam itu hanyalah dengan istrinya dulu, Amara. "Duh, kenapa sih aku harus bilang itu," gumam Gar kesal pada dirinya sendiri, sambil mengusap tubuhnya yang masih basah. Di sisi lain, Queen masih duduk di atas kasur, menunduk sambil memikirkan Gar, rasa penasaran dan bingung bercampur di dadanya."Ih, ngapain sih mikirin yang nggak penting. Mending tidur. Tapi aku belum cuci muka, nanti jerawatan," gumam Queen sambil menunduk. Ia memutuskan untuk tetap duduk di kasur, menunggu Gar selesai bersiap. Tak lama kemudian, Gar keluar dari kamar mandi dengan baju putih polos rumahan untuk tidur dan celana hitam pendek. Rambutnya masih setengah basah. "Kamu mau ke mana?" tanya Gar, menatap Queen yang berdiri hendak turun dari kasur. "Aku mau bersih-bersih juga," jawab Queen. Tenaganya sudah kembali setelah makan, tapi sebelum Queen sempat melangkah, Gar cepat melangkah ke arahnya dan menggendongnya dengan sigap. "Ih, aku nggak apa-apa. Lepasin aku, aku sudah kuat," protes Queen, matanya memerah sedikit. Aroma tubuh Gar segar dan wangi membuatnya terdiam sesaat. "Tenagamu buat di kamar mandi saja," kata Gar, sambil tersenyum tipis dan menggendong Queen sampai di depan pintu kamar mandi. Queen menatap kotak belanjaan baju yang masih tergeletak di lantai. "Aku mau pakai baju baru," ucapnya polos. "Besok saja, pakai yang ada dulu. Nanti aku suruh orang laundry," balas Gar tenang. Queen mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Gar segera menyuruh anak buahnya mengambil belanjaan baju yang Queen beli kecuali perhiasan dan tas. Seperti biasanya, Gar membuka CCTV di ponselnya. Entah kenapa, ini sudah menjadi kebiasaan. Tentu saja, ia tak akan menonton saat Queen buang air. Satu per satu, Queen melepaskan pakaiannya. Gar tetap memperhatikannya dari layar dengan diam, tak pernah memalingkan mata. "Andai kau istriku," ucap Gar pelan dalam hati, menahan perasaan yang mulai menghangat. Setiap gerakan Queen, dari memakai baju hingga menyesuaikan pakaian, selalu menarik perhatiannya. Sebagai laki-laki dewasa, Gar menginginkannya, tapi kontrak membuatnya menahan diri. Hanya jika Queen benar-benar menginginkan, ia akan bertindak. Pintu kamar mandi terbuka, Gar pura-pura sibuk bermain ponsel. Ia ingin bangkit dan membantu Queen, tapi ia langsung dihentikan dengan tegas. "Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," kata Queen mantap, menatap Gar dengan senyum tipis. Queen kembali ke kasur dengan wajah segar setelah mandi. Sebelum benar-benar tidur, ia ingin mengecek ponselnya dari bangun tidur hingga sekarang, ia bahkan hampir lupa dengan ponselnya. Gar ikut duduk di samping kasur, memperhatikan Queen dengan tenang. Saat Queen menaiki kasur sambil memegang ponselnya, ia tiba-tiba terkejut. Sesuatu yang tak ia sangka membuatnya langsung memejamkan mata dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Queen melihat gundukan di celana Gar. Gar menatapnya heran. "Kamu kenapa? Kayak habis lihat hantu," tanyanya, suaranya sedikit cemas. "Ini, lebih dari hantu. Berbahaya," jawab Queen dari balik selimut, suaranya bergetar sedikit namun tetap terdengar tegas. Gar mengerutkan alis, penasaran sekaligus bingung dengan reaksi Queen. Ia menunggu, tidak berani membuat gerakan terlalu dekat, tapi matanya tetap mengikuti setiap gerakan Queen di balik selimut. Gar menatap Queen yang memejamkan mata, selimut menutupi wajahnya, napasnya cepat dan sedikit gemetar. Ia langsung paham Queen takut karena melihat gundukan di celananya. “Eh… Nur, tunggu,” ucap Gar, nada suaranya pelan, setengah tertawa tapi menenangkan. “Aku nggak bakal… apa-apa sama kamu. Gak usah takut.” Queen menahan napas, hampir tak bergerak. Gar mengangkat tangannya, menaruhnya di udara, memberi jarak aman. “Dengar ya, aku ngerti kenapa kamu kaget. Tapi itu wajar, manusiawi banget. Aku nggak akan menyentuh kamu kalau kamu nggak mau. Oke?” Queen tetap diam, tapi napasnya mulai mereda sedikit. Gar tersenyum tipis, mencoba membuat suasana lebih ringan. “Kalau kamu mau, aku bisa pindah sedikit jauh, biar kamu nyaman. Tapi aku tetap di sini, nggak akan pergi. Aku cuma mau kamu merasa aman.” Queen menunduk sebentar, lalu mengangkat sedikit selimut. Matanya masih malu, tapi sekarang perlahan menatap Gar. “O-oke, aku percaya,” ucapnya pelan. Gar mencondongkan badan sedikit, tapi tetap menjaga jarak. “Bagus, itu aja yang aku mau, Nur. Kamu nggak sendirian, dan aku nggak akan bikin kamu nggak nyaman.” Queen menarik napas panjang, sedikit lega. Gar duduk tenang di sampingnya, menatapnya sebentar, tapi tak bergerak terlalu dekat. Kehangatan kehadirannya cukup terasa cukup untuk membuat Queen merasa aman, tapi tetap menjaga batas. Pikiran Queen terus berputar. Ia seorang wanita, dan kata-kata Gar tentang pengalaman masa lalunya membuatnya ragu. Barangkali sudah banyak wanita yang diperlakukan seperti dirinya. Apalagi, Gar telah menyiapkan begitu banyak baju, make-up, dan kebutuhan lainnya seolah ia ingin memanjakan Queen sepenuhnya. “Emang kamu bisa dipercaya?” tanya Queen tiba-tiba, menatap mata Gar yang menatapnya tanpa berkedip. “Ya, kamu bisa percaya aku,” jawab Gar tegas, suaranya tenang tapi penuh arti. Queen menarik napas, menegakkan tubuhnya, duduk dengan tegap di atas kasur. Pandangannya serius. Gar menatapnya sejenak, merasa ada aura berbeda dari Queen malam itu. “Menurutmu aku cantik?” tanya Queen, memastikan, seolah ingin mendengar kejujuran yang murni. Gar mengangguk, tanpa ragu. Queen menundukkan kepala sebentar, lalu menatap Gar lagi. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Ia tahu posisi mereka dekat, tapi sesuatu menahan dirinya. “Kamu laki-laki dewasa. Aku, kamu bayar aku untuk berada di sini, tanpa tanpa apa-apa,” ucap Queen pelan, suaranya gemetar sedikit. “Terus?” tanya Gar, matanya menelusuri raut wajah Queen. “Apakah kamu sering melakukan ini ke wanita lain?” suara Queen nyaris berbisik, tapi cukup jelas terdengar. "Nur, kamu cantik. Jangan buat aku melanggar kontrak kita." "Ya, aku tau. Tapi mana tahu kan." Gar perlahan mendekat, merangkak hingga wajahnya hanya beberapa inci dari Queen. Tangannya menegak, seolah membuat pagar yang mengunci tubuh Queen agar tetap di tempatnya. Jantung Queen berdegup kencang, panas merayap ke pipinya. “Jang… jangan,” ucap Queen pelan, hampir tak terdengar.
Perawan Mahal sang Penggoda - Kamu Laki-laki Dewasa - Bab 30
Penulis
MahaSilsi24
29 December 2025