Pukul dua dini hari, suasana sunyi merayap di setiap sudut rumah, hanya terdengar bunyi jarum jam berdetak lambat di ruang tamu.
Angin dini hari menyelinap lewat celah jendela, membawa hawa dingin yang menusuk kulit.
Di dalam kamar, Arema membuka matanya. Ia menatap langit-langit yang remang, matanya sembab, wajahnya masih menyisakan bekas air mata.
Sejak pertengkaran malam itu, ia tak bisa memejamkan mata. Tamparan ibunya masih terasa di pipi, tapi yang lebih sakit adalah rasa hancur di dalam hatinya.
Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling kamarnya yang kini terasa begitu asing.
Foto kecil dirinya bersama Salma dan Wawan di atas meja rias menatapnya seolah ingin menahan langkahnya.
Tapi tekad Arema sudah bulat. Ia tak bisa bertahan di rumah ini lebih lama.
Dengan hati-hati, ia membuka lemari dan mengambil tas ransel hitam yang biasa ia pakai saat sekolah dulu.
Tangannya gemetar saat memasukkan beberapa potong pakaian, dua kaus, sepasang celana, satu jaket, dan sedikit perlengkapan mandi.
Ia juga mengambil uang tabungan kecil yang selama ini disimpan di kotak camilan di bawah tempat tidur, hasil dari berjualan martabak kecil-kecilan selama beberapa bulan terakhir.
"Cukup buat sementara," bisiknya lirih, meski suaranya sendiri terdengar ragu.
Arema mengenakan jaket, lalu berjalan pelan ke arah pintu kamar. Setiap langkah terasa berat. Ia membuka pintu dengan perlahan agar engselnya tidak berderit.
Matanya menatap ruang tengah yang gelap. Dari kamar sebelah terdengar dengkuran pelan ayahnya, sementara kamar ibunya hening.
Ia menahan napas, berjalan menjinjit menuju pintu depan. Suara sandal tipisnya nyaris tak terdengar di lantai ubin.
Saat ia meraih gagang pintu, tangannya sempat berhenti. Dalam sekejap, rasa ragu kembali menyeruak.
"Kalau aku pergi, Bunda bakal marah lagi gak, ya?" pikirnya.
Tapi segera ia menggeleng. "Aku harus pergi. Aku gak kuat kalau tiap hari harus lihat mereka kecewa."
Dengan hati-hati, Arema membuka pintu rumah. Udara dingin malam langsung menyapa wajahnya. Ia menatap ke langit, bulan separuh tampak pucat di balik awan.
Sambil menarik napas panjang, ia melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Langkah Arema cepat dan hati-hati. Ia berjalan di jalan setapak menuju jalan besar, melewati gang kecil di depan rumahnya.
Suasana begitu sepi, hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong di kejauhan.
Begitu tiba di jalan utama, Arema berdiri di pinggir, menatap ke kiri dan kanan, berharap ada kendaraan lewat.
Dalam beberapa menit, suara motor mendekat. Seorang bapak paruh baya dengan jaket tebal berhenti di depannya.
"Mau kemana, Mbak jam segini?" tanya bapak itu heran.
Arema berusaha tersenyum meski wajahnya lelah. "Ke kota, Pak. Tempat kos-kosan, yang penting dekat terminal atau pasar aja."
"Jam segini?" Bapak itu mengerutkan kening, tapi kemudian mengangguk. "Ya sudah, naik aja. Tapi jauh lho, tarifnya agak mahal kalau malam."
"Gak papa, Pak. Asal sampai," jawabnya cepat sambil naik ke motor.
Motor melaju menembus jalan gelap, menembus udara dingin dini hari.
Arema memeluk tasnya erat, memejamkan mata setiap kali motor melewati jalan rusak.
Di kepalanya, bayangan rumah dan suara ibunya masih bergema. Tapi ia menolak menoleh ke belakang. Ia harus kuat.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka tiba di tepi kota kecil. Lampu jalan mulai ramai, meski sebagian toko masih tertutup.
Angin dini hari membawa aroma tanah basah dan kopi dari warung-warung yang mulai buka.
"Berhenti di sini aja, Pak," ucap Arema ketika melihat sebuah warung angkringan di pinggir jalan yang masih buka.
"Baik, Mbak."
Ia turun dari motor, mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku jaketnya. "Ini, Pak. Terima kasih udah anterin."
"Sendirian aja, Mbak?" tanya bapak itu sambil menatap Arema penuh curiga.
Arema tersenyum kaku. "Iya, Pak. Saya udah ada urusan di sini."
Bapak itu hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanan, meninggalkan Arema sendirian di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan.
Arema menarik napas panjang, menatap warung angkringan itu. Seorang ibu paruh baya sedang duduk di balik meja, sibuk membakar sate telur puyuh.
"Bu," sapa Arema pelan, mendekat. "Apa ada kos-kosan deket sini?"
Ibu itu mendongak, menatap gadis muda di depannya yang membawa tas besar dan wajah lelah. "Kos-kosan? Ada, Dek. Jalan lurus ke sana, gang ke tiga belok kiri. Rumah warna biru, pintunya kayu, ada papan kecil tulisannya KOS PUTRI."
"Terima kasih banyak, Bu."
"Sendirian aja, Nduk? Malem-malem begini?" tanya ibu itu heran.
Arema hanya tersenyum lemah. "Iya, Bu. Lagi cari tempat tinggal."
Ibu angkringan itu menatapnya iba, tapi tak bertanya lebih lanjut. "Kalau sudah dapat, nanti mampir sini lagi, ya. Ibu jualan sampe pagi."
"Iya, Bu. Makasih."
Arema melangkah sesuai arah yang ditunjukkan. Gang kecil itu cukup sepi, tapi bersih. Beberapa lampu rumah menyala redup.
Akhirnya ia menemukan rumah dengan papan kecil bertuliskan Kos Putri.
Ia mengetuk pelan. Tak lama, seorang ibu kos berumur sekitar lima puluhan membuka pintu sambil menutup selimut di pundaknya. "Cari siapa, Nak?"
"Saya cari kos, Bu. Kalau boleh, saya mau tinggal mulai malam ini."
Ibu kos sempat terdiam melihat jam dinding di ruang tamu. "Malam-malam begini baru cari kos? Kamu gak apa-apa?"
Arema menunduk, suaranya kecil. "Saya cuma ... butuh tempat buat istirahat, Bu. Besok pagi saya bisa jelasin."
Ibu kos itu memperhatikan wajah Arema yang pucat, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah. Kebetulan ada satu kamar kosong di ujung. Tapi kamarnya kecil, ya?"
"Gak papa, Bu. Makasih banyak."
Malam itu, Arema resmi memiliki tempat baru. Kamarnya kecil, hanya cukup untuk satu kasur tipis, meja kecil, dan gantungan baju di dinding.
Tapi bagi Arema, tempat itu terasa seperti dunia baru, tempat di mana ia bisa mulai menata hidupnya lagi tanpa beban tatapan kecewa dari siapa pun.
Ia meletakkan tasnya di pojok kamar, duduk di tepi kasur, lalu menatap sekeliling. Dindingnya sederhana, catnya sedikit terkelupas, tapi kamar itu sunyi dan hangat.
Arema membuka dompetnya, menghitung sisa uang. "Masih cukup buat beberapa bulan ke depan asal aku hemat," gumamnya.
Ia tersenyum tipis, lalu memeluk lututnya. "Mending aku hidup sendiri, biar gak jadi beban orang tua."
Pikiran Arema melayang ke Rino. Nama itu membuat dadanya nyeri lagi. Ia menggigit bibir, menahan perih yang tiba-tiba menyeruak.
"Mulai sekarang aku gak mau nangis karena dia lagi. Aku harus buktiin kalau aku bisa tanpa dia."
Malam semakin larut. Dari luar jendela terdengar suara jangkrik bercampur suara kendaraan yang mulai lewat di jalan besar. Arema berbaring di kasur tipis itu, menatap langit-langit.
"Besok aku bakal cari kerja sementara dulu," katanya pada dirinya sendiri.
"Apa aja bakal aku lakuin, asal halal. Aku mau kumpulin uang buat buka usaha martabak sendiri.
Namun saat kelopak matanya mulai menutup, bayangan masa lalu kembali hadir, senyum Rino, genggaman tangannya, janji-janjinya yang manis. Air mata Arema mengalir pelan tanpa suara.
"Aku bakal buktiin, Rin, suatu hari kamu bakal nyesel," bisiknya dengan nada getir.
Ia menatap ponselnya yang masih menyala di samping kasur. Ada belasan pesan belum dibuka, sebagian dari ibunya, sebagian dari nomor tak dikenal.
Tapi satu pesan di paling atas membuat dadanya berdegup cepat.
Rino: "Aku harus ketemu kamu, ada yang mau aku bicarakan."Pukul dua dini hari, suasana sunyi merayap di setiap sudut rumah, hanya terdengar bunyi jarum jam berdetak lambat di ruang tamu.
Angin dini hari menyelinap lewat celah jendela, membawa hawa dingin yang menusuk kulit.
Di dalam kamar, Arema membuka matanya. Ia menatap langit-langit yang remang, matanya sembab, wajahnya masih menyisakan bekas air mata.
Sejak pertengkaran malam itu, ia tak bisa memejamkan mata. Tamparan ibunya masih terasa di pipi, tapi yang lebih sakit adalah rasa hancur di dalam hatinya.
Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling kamarnya yang kini terasa begitu asing.
Foto kecil dirinya bersama Salma dan Wawan di atas meja rias menatapnya seolah ingin menahan langkahnya.
Tapi tekad Arema sudah bulat. Ia tak bisa bertahan di rumah ini lebih lama.
Dengan hati-hati, ia membuka lemari dan mengambil tas ransel hitam yang biasa ia pakai saat sekolah dulu.
Tangannya gemetar saat memasukkan beberapa potong pakaian, dua kaus, sepasang celana, satu jaket, dan sedikit perlengkapan mandi.
Ia juga mengambil uang tabungan kecil yang selama ini disimpan di kotak camilan di bawah tempat tidur, hasil dari berjualan martabak kecil-kecilan selama beberapa bulan terakhir.
"Cukup buat sementara," bisiknya lirih, meski suaranya sendiri terdengar ragu.
Arema mengenakan jaket, lalu berjalan pelan ke arah pintu kamar. Setiap langkah terasa berat. Ia membuka pintu dengan perlahan agar engselnya tidak berderit.
Matanya menatap ruang tengah yang gelap. Dari kamar sebelah terdengar dengkuran pelan ayahnya, sementara kamar ibunya hening.
Ia menahan napas, berjalan menjinjit menuju pintu depan. Suara sandal tipisnya nyaris tak terdengar di lantai ubin.
Saat ia meraih gagang pintu, tangannya sempat berhenti. Dalam sekejap, rasa ragu kembali menyeruak.
"Kalau aku pergi, Bunda bakal marah lagi gak, ya?" pikirnya.
Tapi segera ia menggeleng. "Aku harus pergi. Aku gak kuat kalau tiap hari harus lihat mereka kecewa."
Dengan hati-hati, Arema membuka pintu rumah. Udara dingin malam langsung menyapa wajahnya. Ia menatap ke langit, bulan separuh tampak pucat di balik awan.
Sambil menarik napas panjang, ia melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Langkah Arema cepat dan hati-hati. Ia berjalan di jalan setapak menuju jalan besar, melewati gang kecil di depan rumahnya.
Suasana begitu sepi, hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong di kejauhan.
Begitu tiba di jalan utama, Arema berdiri di pinggir, menatap ke kiri dan kanan, berharap ada kendaraan lewat.
Dalam beberapa menit, suara motor mendekat. Seorang bapak paruh baya dengan jaket tebal berhenti di depannya.
"Mau kemana, Mbak jam segini?" tanya bapak itu heran.
Arema berusaha tersenyum meski wajahnya lelah. "Ke kota, Pak. Tempat kos-kosan, yang penting dekat terminal atau pasar aja."
"Jam segini?" Bapak itu mengerutkan kening, tapi kemudian mengangguk. "Ya sudah, naik aja. Tapi jauh lho, tarifnya agak mahal kalau malam."
"Gak papa, Pak. Asal sampai," jawabnya cepat sambil naik ke motor.
Motor melaju menembus jalan gelap, menembus udara dingin dini hari.
Arema memeluk tasnya erat, memejamkan mata setiap kali motor melewati jalan rusak.
Di kepalanya, bayangan rumah dan suara ibunya masih bergema. Tapi ia menolak menoleh ke belakang. Ia harus kuat.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka tiba di tepi kota kecil. Lampu jalan mulai ramai, meski sebagian toko masih tertutup.
Angin dini hari membawa aroma tanah basah dan kopi dari warung-warung yang mulai buka.
"Berhenti di sini aja, Pak," ucap Arema ketika melihat sebuah warung angkringan di pinggir jalan yang masih buka.
"Baik, Mbak."
Ia turun dari motor, mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku jaketnya. "Ini, Pak. Terima kasih udah anterin."
"Sendirian aja, Mbak?" tanya bapak itu sambil menatap Arema penuh curiga.
Arema tersenyum kaku. "Iya, Pak. Saya udah ada urusan di sini."
Bapak itu hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanan, meninggalkan Arema sendirian di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan.
Arema menarik napas panjang, menatap warung angkringan itu. Seorang ibu paruh baya sedang duduk di balik meja, sibuk membakar sate telur puyuh.
"Bu," sapa Arema pelan, mendekat. "Apa ada kos-kosan deket sini?"
Ibu itu mendongak, menatap gadis muda di depannya yang membawa tas besar dan wajah lelah. "Kos-kosan? Ada, Dek. Jalan lurus ke sana, gang ke tiga belok kiri. Rumah warna biru, pintunya kayu, ada papan kecil tulisannya KOS PUTRI."
"Terima kasih banyak, Bu."
"Sendirian aja, Nduk? Malem-malem begini?" tanya ibu itu heran.
Arema hanya tersenyum lemah. "Iya, Bu. Lagi cari tempat tinggal."
Ibu angkringan itu menatapnya iba, tapi tak bertanya lebih lanjut. "Kalau sudah dapat, nanti mampir sini lagi, ya. Ibu jualan sampe pagi."
"Iya, Bu. Makasih."
Arema melangkah sesuai arah yang ditunjukkan. Gang kecil itu cukup sepi, tapi bersih. Beberapa lampu rumah menyala redup.
Akhirnya ia menemukan rumah dengan papan kecil bertuliskan Kos Putri.
Ia mengetuk pelan. Tak lama, seorang ibu kos berumur sekitar lima puluhan membuka pintu sambil menutup selimut di pundaknya. "Cari siapa, Nak?"
"Saya cari kos, Bu. Kalau boleh, saya mau tinggal mulai malam ini."
Ibu kos sempat terdiam melihat jam dinding di ruang tamu. "Malam-malam begini baru cari kos? Kamu gak apa-apa?"
Arema menunduk, suaranya kecil. "Saya cuma ... butuh tempat buat istirahat, Bu. Besok pagi saya bisa jelasin."
Ibu kos itu memperhatikan wajah Arema yang pucat, lalu mengangguk pelan. "Ya sudah. Kebetulan ada satu kamar kosong di ujung. Tapi kamarnya kecil, ya?"
"Gak papa, Bu. Makasih banyak."
Malam itu, Arema resmi memiliki tempat baru. Kamarnya kecil, hanya cukup untuk satu kasur tipis, meja kecil, dan gantungan baju di dinding.
Tapi bagi Arema, tempat itu terasa seperti dunia baru, tempat di mana ia bisa mulai menata hidupnya lagi tanpa beban tatapan kecewa dari siapa pun.
Ia meletakkan tasnya di pojok kamar, duduk di tepi kasur, lalu menatap sekeliling. Dindingnya sederhana, catnya sedikit terkelupas, tapi kamar itu sunyi dan hangat.
Arema membuka dompetnya, menghitung sisa uang. "Masih cukup buat beberapa bulan ke depan asal aku hemat," gumamnya.
Ia tersenyum tipis, lalu memeluk lututnya. "Mending aku hidup sendiri, biar gak jadi beban orang tua."
Pikiran Arema melayang ke Rino. Nama itu membuat dadanya nyeri lagi. Ia menggigit bibir, menahan perih yang tiba-tiba menyeruak.
"Mulai sekarang aku gak mau nangis karena dia lagi. Aku harus buktiin kalau aku bisa tanpa dia."
Malam semakin larut. Dari luar jendela terdengar suara jangkrik bercampur suara kendaraan yang mulai lewat di jalan besar. Arema berbaring di kasur tipis itu, menatap langit-langit.
"Besok aku bakal cari kerja sementara dulu," katanya pada dirinya sendiri.
"Apa aja bakal aku lakuin, asal halal. Aku mau kumpulin uang buat buka usaha martabak sendiri.
Namun saat kelopak matanya mulai menutup, bayangan masa lalu kembali hadir, senyum Rino, genggaman tangannya, janji-janjinya yang manis. Air mata Arema mengalir pelan tanpa suara.
"Aku bakal buktiin, Rin, suatu hari kamu bakal nyesel," bisiknya dengan nada getir.
Ia menatap ponselnya yang masih menyala di samping kasur. Ada belasan pesan belum dibuka, sebagian dari ibunya, sebagian dari nomor tak dikenal.
Tapi satu pesan di paling atas membuat dadanya berdegup cepat.
Rino: "Aku harus ketemu kamu, ada yang mau aku bicarakan."