Drama

BAB 17 -Benih yang Tumbuh dalam Diam

29 December 2025

Pangeran Kael muncul di serambi timur, tempat ia beberapa kali melihat Cloris lewat. Saat gadis itu akhirnya tampak, berjalan sambil membawa keranjang kecil di tangannya, Kael segera menghampiri.

“Pagi yang sibuk rupanya,” sapanya.

Cloris hanya berhenti sebentar, mengangguk tipis tanpa memandangnya lama. “Paduka.”

Jawaban singkat itu terdengar sopan, tetapi ada jarak yang disengaja. Bukan gugup, bukan takut—melainkan ketenangan seseorang yang memilih menjaga batas.

Kael memiringkan kepala. Reaksi yang… tidak biasa. Kebanyakan perempuan akan menunduk berlebihan, atau membalas dengan gugup. Cloris justru berdiri tenang seperti angin lewat.

“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu,” Kael membuka percakapan sambil menahan senyum. “Tentang bagaimana seorang pedagang kecil bisa ikut undangan kerajaan.”

Cloris tidak mengubah ekspresi. “Jika paduka mempertanyakan itu, sebaiknya paduka bertanya kepada pelayan yang bertugas mencatat tamu. Hamba hanya datang karena diperbolehkan masuk.”

Jawabannya datar, jujur, dan sama sekali tidak berusaha menyenangkan Kael.

Kael mengangkat alis. Menarik.

“Aku yakin kamu punya alasan lebih dari itu.”

Cloris menatapnya sejenak—tatapan stabil, tenang, seolah ia mengukur seseorang yang mencoba membaca dirinya.

“Hamba pikir paduka memiliki hal yang lebih penting daripada menyoroti seorang pedagang kecil,” ujarnya lembut, tetapi dingin. “Pangeran kerajaan Barat tidak seharusnya membuang waktu untuk hamba.”

Kael merasakan geli aneh. Ia tidak tersinggung—justru semakin penasaran.

“Kau terus mengatakan itu,” katanya pelan. “Namun semakin kau menolak, semakin aku yakin bahwa kamu bukan pedagang biasa.”

Cloris membalas tatapannya dengan sopan, tanpa gentar. “Dan semakin paduka menebak-nebak, semakin besar kemungkinan paduka salah.”

Jawaban itu membuat Kael tertawa kecil.

Ketegangan meningkat ketika Lady Seraphine muncul dan menyinggung status Cloris.

Cloris menunduk namun tetap tegak, tidak menunjukkan rasa minder sedikit pun. Tatapan matanya tetap jernih, tidak terhina, hanya tidak peduli.

Ketika Seraphine pergi, Kael kembali fokus pada Cloris.

“Maaf atas sikapnya,” ucap Kael.

“Tidak perlu meminta maaf, paduka.” Cloris kembali berjalan pelan, memaksanya mengikuti. “Komentar beliau tidak mengubah apa pun tentang diri hamba.”

Kael terpesona. “Kau tidak tersinggung?”

Cloris menghela napas tipis. “Menghabiskan emosi untuk kata-kata orang yang tidak mengenal hamba adalah tindakan sia-sia.”

Kael terdiam. Sikapnya luar biasa dewasa… dan sangat mengontrol diri.

Ia mempercepat langkah, menyamai langkah Cloris.

“Cloris,” panggilnya. “Aku… tertarik padamu.”

Cloris berhenti. Ia menatap Kael dengan ketenangan mulia—tenang, tapi bukan hening yang rapuh. Tenang seperti seseorang yang sudah melihat cukup banyak penderitaan untuk tidak mudah terpengaruh oleh ucapan manis.

“Paduka tertarik pada hal yang paduka belum pahami,” katanya dengan nada halus namun tegas. “Itu bukan ketertarikan. Itu hanya rasa ingin tahu.”

Kael tercengang. Tidak banyak orang berani berbicara seperti itu padanya. Bahkan bangsawan pun memilih hati-hati.

“Aku tidak main-main,” ujarnya lebih serius.

Cloris kembali menatap lurus ke depan. “Hamba tahu paduka tidak sedang bercanda. Namun paduka juga tidak memikirkan konsekuensi.”

“Konsekuensi apa?”

Cloris menoleh sedikit, matanya memantulkan cahaya matahari—indah, tetapi tajam seperti cermin yang bisa menilai seseorang hingga ke dalam.

“Jika paduka terus mendekati hamba tanpa tahu siapa hamba, paduka mungkin akan menyesal suatu hari.”

Kael melangkah lebih dekat. “Apa kamu berbahaya?”

Cloris tersenyum kecil, tanpa kehangatan tetapi juga tanpa kecemasan. “Hamba bukan ancaman. Namun hidup hamba tidak layak disentuh seorang pangeran.”

Kael menegang. Kata-katanya seperti dinding tinggi yang tidak bisa ditembus hanya dengan emosi.

“Aku tidak peduli soal status,” Kael bersikeras.

Cloris menggeleng pelan. “Tapi rakyat, bangsawan, dan sejarah akan peduli. Dan itu sudah cukup.”

Kael terdiam. Ia tidak menyangka jawaban Cloris bisa setegas itu—tidak kasar, tetapi jelas menutup pintu. Namun justru di situlah daya tariknya: ia tidak menjilat, tidak memelas, tidak tergoda. Ia berdiri dengan marwah dan wibawa yang tidak bisa diciptakan oleh seseorang yang benar-benar rakyat jelata.

Kael menatapnya lekat-lekat. “Kamu bicara seperti seseorang yang pernah hidup dalam istana.”

Cloris menoleh—kali ini sorotnya sedikit mengancam, meski tetap sopan.

“Hamba tidak akan membahas masa lalu paduka. Dan hamba mohon paduka tidak menebak masa lalu hamba.”

Nada itu tidak meninggi, tidak membentak. Namun Kael merasakan sebuah peringatan tegas, begitu halus dan anggun hingga ia tidak bisa tersinggung.

“Sejujurnya…” Cloris menambahkan dengan tatapan lurus yang tegas, “…paduka mendekati hamba hanya akan membuat hari paduka lebih rumit.”

Kael justru tersenyum samar. “Aku tidak takut rumit.”

Cloris menunduk hormat, kemudian melangkah pergi dengan tenang.

“Hamba tidak meminta paduka takut. Hamba hanya meminta paduka bijak.”

Kalimat terakhir itu, diucapkan tanpa emosi tetapi penuh kharisma, membuat Kael berdiri mematung. Kata-kata seorang gadis yang mengaku pedagang… tetapi memiliki wibawa seorang bangsawan tinggi.

Dan tanpa sadar, Kael tersenyum.

“Semakin kau bicara begitu,” bisiknya pada dirinya sendiri, “semakin aku ingin tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Sementara di kejauhan, Cloris terus berjalan tanpa menoleh, meninggalkan Kael dengan rasa penasaran yang semakin sulit ia sembunyikan… dan benih perasaan yang mulai tumbuh tanpa permisi.