Drama

BAB 18 — Luka yang Kembali Menyala

29 December 2025

Genderang besar dipukul bertalu-talu, memenuhi udara dengan ritme berat yang menandai kedatangan tamu agung. Pasukan berkuda berbaris rapi di sepanjang jalan utama, tombak mereka berkilauan di bawah matahari. Rakyat berkerumun di tepi jalan, bersorak dan berbisik, ingin melihat siapa tamu besar yang membuat Raja Aldren sendiri turun tangan menyambut.

Cloris berdiri di antara kerumunan, menyamar seperti biasa. Kain hijau kusam menutupi kepalanya, menutupi hampir seluruh wajah kecuali mata. Hari ini seharusnya ia hanya ingin melihat keramaian, mengamati situasi politik dari jauh, dan memastikan semua stabil menjelang jamuan kerajaan. Namun, takdir memutuskan memberi kejutan yang tidak pernah ia harapkan.

Dari kejauhan, suara sang penyiar menggelegar:

"Iring-iringan tamu dari Kerajaan Barat telah memasuki gerbang utama! Sambutlah Yang Mulia Raja Edric dari Barat!"

Seolah waktu berhenti.

Napas Cloris tercekat. Tangannya yang memegang kain lapak hampir jatuh. Jalan di depan matanya berputar sebentar sebelum ia paksa stabil. Dunia seakan memudar, menyisakan hanya satu nama yang menggema:

Edric.

Orang yang menghancurkan hidupnya.

Orang yang membatalkan perjodohan semalam sebelum hari penikahan. Orang yang memberi alasan bagi ayah kandungnya sendiri untuk membuangnya dari istana, menghapus namanya dari sejarah, dan menuduhnya membawa aib bagi kerajaan.

Orang yang membuatnya menjadi Anne yang hilang.

Cloris—atau Anne—menggenggam kain penutup wajahnya lebih erat. Bila orang melihat matanya sekarang, mereka mungkin akan melihat bara membara di baliknya.

“Cloris? Kau tidak apa-apa?” tanya seorang pedagang di sampingnya.

Anne mengangguk kecil, mencoba mengendalikan napas. “Aku hanya… terkejut.”

Terkejut adalah kata yang terlalu halus. Yang sebenarnya ia rasakan adalah badai yang menerjang dadanya.

Lalu iring-iringan itu muncul dengan jelas.

Kuda-kuda besar dengan pelana berukir emas berjalan mantap. Di tengah rombongan, seorang lelaki bertubuh tinggi, berbalut jubah biru gelap khas Kerajaan Barat, menunggang kuda putih bersih. Mahkotanya sederhana namun elegan, menandakan bahwa ia bukan lagi pangeran yang pengecut—melainkan raja yang telah dimahkotai beberapa tahun lalu.

Edric tampak lebih dewasa, wajahnya lebih terasah, sorot matanya lebih dingin.

Anne meremas kain penutup wajahnya hingga jemarinya memutih.

“Jadi… ini akhirnya,” bisiknya lirih. “Orang itu…”

Sorak-sorai rakyat memenuhi udara. Mereka memuji ketampanan sang raja, kekuatan kerajaannya, prestasinya dalam menaklukkan wilayah perbatasan. Namun di telinga Anne, suara mereka hanya terdengar seperti dengung kosong.

Karena bagi Anne, Edric bukanlah raja agung.

Ia adalah pecahan masa lalunya yang paling tajam.

Kael berdiri di sisi ayahnya, menyambut kedatangan raja tamu. Ia melihat kerumunan, mencari sosok tertentu secara refleks. Sosok itu tidak jauh—Cloris ada di antara rakyat. Ia melihat sekilas kain hijau yang dikenakan gadis itu dan hampir melangkah ke arahnya… sampai tatapan Cloris terpaku pada Edric.

Tatapannya berbeda.

Tajam. Dipenuhi sesuatu yang Kael belum pernah lihat darinya.

Kenapa dia melihat Raja Edric seperti itu?

Kael menyimpan pertanyaan itu dalam hati.

Ketika Edric turun dari kudanya, Raja Aldren menyambutnya dengan tangan terbuka.

“Selamat datang di kerajaanku,” ujar Aldren dengan senyum hangat.

“Suatu kehormatan berada di sini,” jawab Edric, suaranya berat dan berwibawa.

Para pejabat memberi hormat. Para rakyat menunduk. Edric melangkah ke depan dengan anggun, menatap kerumunan sebagai seorang raja yang sudah terbiasa dengan ribuan mata yang mengikuti setiap geraknya.

Namun ada satu pasang mata yang ia tidak sadari—mata yang penuh kemarahan tertahan.

Anne.

Raja Edric berjalan tidak jauh dari tempat ia berdiri. Beberapa meter saja. Bila ia mengangkat wajah, ia bisa melihat garis rahangnya, lekuk tubuhnya, bahkan kilauan mata birunya yang dulu pernah ia sangka menatapnya dengan cinta.

Dulu.

Sebelum semua berubah menjadi mimpi buruk.

Ketika Edric berhenti sejenak untuk menyapa seorang anak kecil, Cloris merasa dadanya kembali bergetar—bukan karena luka semata, tetapi karena ingatan yang ia paksa terkubur.

Ingatan tentang dirinya yang berdiri di ruang pernikahan, mengenakan gaun putih keperakan, menunggu seseorang yang tidak pernah datang.

Ingatan tentang utusan Edric membawa kabar bahwa pernikahan dibatalkan karena “Anne tidak layak menjadi ratu.”

Ingatan tentang ayahnya, Raja Carlos, memaki dan menyebutnya aib.

Ingatan tentang diusir pada malam yang sama.

Anne merasakan darahnya mendidih.

“Kau bahkan tidak menatapku ketika menghancurkan hidupku,” gumamnya di balik kain penutup wajah.

Sorakan rakyat kembali bergemuruh ketika Edric bergerak lagi.

Anne menggigit bagian dalam pipinya. Ia tidak boleh emosi. Ia tidak boleh menarik perhatian. Ia tidak boleh terlihat goyah.

Namun ketika Edric mendekat hanya beberapa langkah dari posisinya, tubuh Anne menegang. Napasnya tercekat. Sial—jaraknya terlalu dekat. Edric hanya perlu menoleh sedikit, dan meski wajahnya tertutup kain, mata Anne adalah sesuatu yang mudah dikenali oleh seseorang yang pernah menghabiskan bertahun-tahun bersamanya.

Ia menunduk, menutupi wajah lebih rapat.

Namun Edric berhenti.

Tepat di depannya.

Anne membeku.

Ia mendengar suara napas Edric, mendengar langkah kudanya berhenti. Suara rakyat mereda, menjadi bisik-bisik.

Edric menatap ke arah kerumunan—ke arah Anne.

Dan untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Meski kain menutup sebagian wajah Anne, sorot matanya menyala cukup untuk membuat Edric terpaku.

Hanya sebentar.

Hanya sekejap.

Namun itu cukup membuat jantung Anne terasa seperti dihantam palu godam.

Edric mengerutkan kening, seolah ia melihat seseorang yang dikenalnya… atau mungkin hanya merasa ada sesuatu yang aneh.

Anne buru-buru menunduk, berpura-pura sibuk menata barang-barang kecil di lapaknya.

Edric akhirnya melangkah pergi.

Namun tatapan itu—tatapan ragu, seakan mencoba mengingat—tertanam dalam ingatan Anne seperti racun.

Kael memperhatikan semuanya dari jauh.

Ia melihat bagaimana Edric berhenti tepat di depan Cloris. Ia melihat reaksi Cloris—sesuatu yang bukan ketakutan, bukan kagum, melainkan kepanikan yang dijaga rapat.

Sangat rapat.

Kael merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya.

Cloris… siapa sebenarnya kau?

Ketika iring-iringan berakhir dan rakyat mulai bubar, Anne menyingkir ke gang kecil samping pasar. Nafasnya terengah, bukan karena lelah… melainkan karena emosi yang menumpuk bertahun-tahun baru saja menyerangnya sekaligus.

Ia memegang dadanya.

“Kenapa… kenapa ia harus muncul lagi?” suaranya pecah dalam bisikan.

Ia berusaha menenangkan diri, tapi percuma.

Ingatan itu datang lagi—pisau-pisau lama yang kembali menusuk.

“Suatu hari…” katanya pelan, lirih dan getir.

“Suatu hari… aku akan berdiri di hadapanmu sebagai diriku yang sebenarnya.”

Ia memejamkan mata.

“Kau akan menyesal karena telah membuang Anne.”

Lalu ia menarik napas panjang.

Namun untuk saat ini, ia tetap harus menjadi Cloris.

Tubuhnya harus tetap hidup dalam bayangan.

Karena permainan yang lebih besar baru saja dimulai.

Dan kini, salah satu lawan terbesarnya telah tiba.