Sore itu, setelah iring-iringan kerajaan Barat dipersilahkan memasuki istana, Kerajaan Selatan tenggelam dalam hiruk-pikuk persiapan jamuan penyambutan. Pelayan berlarian membawa baki emas, para juru masak memotong rempah dengan kecepatan luar biasa, dan para pengawal disiagakan di setiap sudut. Kedatangan Raja Edric dan tunangannya, Lady Marvella, adalah peristiwa politik besar yang tidak boleh dinodai kekacauan sedikit pun.
Namun, di tengah gemerlap persiapan itu, satu orang tidak bisa melepaskan pikirannya dari kejadian di alun-alun.
Pangeran Kael.
Ia berdiri di beranda lantai dua, memandangi pasar yang mulai sepi, angin mengibarkan rambut hitamnya. Seharusnya ia memikirkan jamuan malam, protokol diplomatik, atau setidaknya calon istri yang sedang dipersiapkan untuk dirinya. Namun pikirannya terikat pada satu sosok: Cloris.
Tepatnya—tatapan Cloris terhadap Raja Edric.
Tatapan yang tak akan dimiliki seorang gadis pedagang biasa. Tatapan penuh kepanikan, kebencian, dan sesuatu yang bahkan Kael tak bisa namai.
“Tidak mungkin itu hanya kebetulan,” gumamnya pelan.
Selama ini ia selalu menganggap Cloris unik—cerdas, terlalu berwawasan untuk seorang gadis pasar, dan memiliki cara bicara yang anehnya terlatih seperti bangsawan. Banyak hal darinya tidak cocok dengan cerita yang ia dengungkan mengenai masa lalunya. Kael sering mengabaikan kejanggalan itu karena menghargai privasinya.
Tapi hari ini…
Saat ia melihat Cloris seperti hendak runtuh ketika Edric menoleh ke arahnya—rupanya Cloris menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.
Kael mengepalkan tangan.
“Cloris… siapa sebenarnya kau?”
Sementara itu, di ruang tamu megah istana Selatan, Raja Edric dan Lady Marvella tengah disambut dengan hangat oleh Raja Aldren. Para penasihat dan bangsawan penting turut hadir, memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Raja Edric adalah penguasa yang kekuatan militernya disegani. Tak ada kerajaan yang akan meremehkan kedatangannya.
Raja Aldren, dengan senyum lebar dan sikap ramah, memimpin rombongan menuju ruang diskusi kecil sebelum jamuan dimulai. Ruang itu hangat dan elegan, dihiasi permadani sutra Selatan dan lampu minyak berwarna keemasan.
“Semoga perjalananmu tidak terlalu melelahkan, Edric,” ujar Aldren sambil menuangkan anggur ke gelas raja tamu.
“Perjalanan panjang seperti ini justru kesempatan bagiku melihat kondisi kerajaan-kerajaan tetangga,” jawab Edric dengan nada diplomatis. “Kerajaan Selatan tampak semakin makmur.”
Aldren tersenyum bangga. “Kami berusaha mempertahankan kestabilan. Meski persaingan dagang semakin ketat tiap tahun.”
Marvella, yang duduk anggun di sofa panjang, memeriksa sekeliling ruangan tanpa banyak bicara. Gadis itu cantik—pantas menjadi calon Ratu Barat—namun dingin dan sulit ditebak. Matanya lebih banyak menilai daripada sekadar melihat.
Edric meletakkan gelasnya. “Kabar terakhir yang kudengar, perdagangan kain dan kerajinanmu meningkat pesat?”
Aldren tertawa pelan. “Ah, itu sebagian besar berkat seseorang yang sangat menarik.”
Edric mengangkat alis. “Seseorang?”
“Seorang gadis miskin,” jelas Aldren, nadanya setengah kagum, setengah heran. “Ia berasal dari pasar. Bekerja sebagai pedagang kain. Tapi kecerdasannya… cukup membuat beberapa menteri kerajaanku terdiam.”
Edric terlihat tertarik. Marvella juga memalingkan wajah, meski tidak setertarik Edric.
“Seorang pedagang pasar mampu menarik perhatian penasihatmu?” Edric tersenyum kecil. “Itu tidak biasa.”
“Sangat tidak biasa,” sahut Aldren. “Ia membantu menyelesaikan beberapa persoalan dagang lokal, memberi masukan kreatif mengenai strategi distribusi bahan baku. Bahkan dia mengoreksi laporan salah satu petugas pajak yang ternyata salah menghitung angka.”
Edric terdiam sesaat, menimbang. “Jika seorang gadis pasar bisa melihat apa yang tidak dilihat para bangsawan, maka ia bukan gadis biasa.”
Aldren mengangguk setuju.
“Benar. Aku tak pernah melihat seseorang dari kelas bawah secerdas itu. Ada sesuatu… berbeda darinya. Seolah ia terbiasa membaca lebih banyak dari apa yang terlihat.”
Edric mencondongkan tubuh, tatapannya tajam. “Aku ingin bertemu dengannya.”
Aldren terkekeh. “Aku menduga kau akan berkata begitu.”
Sementara pembicaraan itu berlangsung, di sisi lain ruangan, Seraphine—putri bangsawan terpandang yang diincar untuk menjadi calon istri Kael—berusaha mendekat secara halus ke arah Marvella. Sejak beberapa hari terakhir, ia tahu bahwa jika ia ingin masuk ke keluarga calon ratu, ia harus mengenal Marvella terlebih dahulu.
Seraphine membawa gelas anggur dan berdiri di dekat Marvella dengan senyum lemah lembut.
“Lady Marvella, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku Seraphine Elwood.”
Marvella menoleh sebentar. Tatapannya datar, namun ia mengangguk sopan. “Senang bertemu denganmu.”
“Kerajaan Selatan sangat gembira menyambut kedatanganmu,” lanjut Seraphine dengan suara sedikit bergetar—lebih gugup daripada yang ia harapkan. “Aku… ingin sekali belajar banyak darimu.”
Marvella memiringkan kepala, masih dengan ekspresi sulit ditebak.
“Belajar dariku? Tentang apa?”
“Etiket, diplomasi, seni berbicara pada bangsawan… dan mungkin… bagaimana menjadi calon ratu yang baik.” Seraphine menunduk sedikit. “Aku berharap suatu hari aku bisa menjadi pendamping Pangeran Kael, dan aku ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin.”
Sekilas, mata Marvella tampak melembut—hanya sekilas. Ia menatap Seraphine seperti menilai sesuatu yang masih ia tentukan nilainya.
“Ambisi yang menarik,” jawab Marvella tenang. “Baiklah. Kita bisa saling mengenal.”
Seraphine menahan napas lega.
Setidaknya langkah pertama berhasil.
Sementara itu, Kael turun dari beranda dan berjalan cepat menuju pasar yang sudah mulai lengang. Ia harus memastikan Cloris baik-baik saja. Atau mungkin… ia butuh jawaban dari tatapannya yang aneh itu.
Namun ketika ia tiba di lapak Cloris, gadis itu sudah tidak ada. Hanya kain-kain terlipat rapi, seolah ia pergi tergesa-gesa.
Kael mendesah frustasi. “Cloris, kau menyembunyikan terlalu banyak hal dariku.”
Ia berbalik, hendak kembali ke istana, ketika tiba-tiba ia melihat siluet familiar berdiri di gang sempit. Cloris—dengan kerudung hijau, tubuhnya bersandar di dinding seakan sedang menenangkan diri.
Kael berjalan mendekat. “Cloris.”
Gadis itu tersentak kecil, lalu menunduk. “Yang Mulia… apa yang Anda lakukan di sini?”
“Aku seharusnya bertanya hal itu padamu.” Kael mendekat satu langkah lagi. “Kau tadi tampak… ketakutan. Atau marah. Ketika melihat Raja Edric.”
Cloris membeku.
Kael memperhatikan setiap ekspresi kecil yang lewat di wajahnya. Gadis itu sangat pandai mengendalikan diri. Tapi hari ini… ia lengah.
“Cloris,” ulang Kael, suaranya lembut namun tegas. “Apa kau mengenalnya?”
Anne menelan ludah. Selama bertahun-tahun ia hidup dengan satu aturan: jangan pernah biarkan siapa pun mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Kebenaran hanya akan membawa bahaya.
Namun tatapan Kael malam itu penuh ketulusan—dan kecurigaan.
“Yang Mulia…” Cloris akhirnya menjawab, suaranya dipaksa tenang. “Raja Edric hanyalah seseorang yang pernah kudengar namanya. Itu saja. Tidak lebih.”
Bo—hong.
Kael langsung tahu. Matanya menyipit sedikit, bukan marah, tetapi penuh kecerdasan seorang pangeran yang terbiasa membaca kebohongan di ruang diplomasi.
“Cloris.” Kali ini Kael memanggilnya dengan nada lebih personal. “Kau boleh tidak percaya padaku, tapi… aku berharap suatu hari kau akan mengatakan yang sebenarnya.”
Anne menunduk, tidak menjawab.
Kael menghela napas panjang.
“Jika ada sesuatu yang mengancammu, kau bisa memberitahuku.” Ia melangkah mundur. “Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku akan mencari tahu sendiri.”
Ucapan itu bagaikan ketukan palu di dada Anne.
Ketika Kael pergi, Anne menggigit bibir hingga hampir berdarah.
Ia tahu Kael bukan musuh. Bahkan mungkin, satu-satunya orang yang memperlakukannya dengan tulus selama ia menetap di Selatan.
Tapi semakin Kael penasaran… semakin ia berbahaya.
Karena jika Kael menemukan kebenarannya…
Jika Raja Edric tahu bahwa Anne masih hidup…
Jika seluruh kerajaan tahu bahwa putri yang dibuang telah bersembunyi selama ini…
Maka seluruh permainan politik yang ia atur dengan hati-hati selama bertahun-tahun akan runtuh dalam sekejap.
Dan ia belum siap.
Belum.
Namun takdir, seperti biasa, tidak peduli kesiapan seseorang.
Karena malam itu, Raja Aldren mengumumkan satu hal kepada Edric.
“Besok, aku ingin memperkenalkanmu kepada gadis pedagang kain yang kuceritakan.”
Edric tersenyum.
“Baik. Aku tertarik melihatnya.”
Senyuman itu—yang bagi rakyat adalah senyum raja yang anggun—bagi Anne adalah senyum dari mimpi buruk yang kembali menghantui hidupnya.
Dan ia tidak tahu… bahwa lelaki itu akan mencari dirinya.