Drama

BAB 20 — Saat Bayang dan Cahaya Bertemu

29 December 2025

Sepuluh jam sebelum jamuan besar di Istana Selatan, suasana pasar Pedran masih diselimuti kabut pagi. Cahaya matahari baru menyusup perlahan melalui celah atap dan tirai kain yang tergantung di antara kios-kios. Para pedagang mulai membuka lapak mereka, sementara beberapa pelanggan awal melintas dengan kantong-kantong kecil, mencari rempah atau kain sederhana untuk keperluan sehari-hari.

Namun satu lapak tetap tertutup.

Lapak tempat seorang gadis dengan kerudung hijau biasanya duduk, tersenyum tenang sambil melipat kain-kain berwarna.

Cloris.

Di dalam rumah kecil di balik pasar, gadis itu duduk diam di tepi tempat tidur, kedua tangannya menggenggam erat ujung rok lusuh yang telah lama ia pakai. Wajahnya pucat, dan matanya kosong menatap lantai, seolah tengah menimbang dunia.

Suara langkah pelan terdengar di luar pintu, lalu ayah angkatnya, Garren, masuk sambil membawa secangkir teh hangat.

“Kau belum makan sejak subuh,” ujarnya lembut.

Cloris tidak bergerak. “Aku… tidak yakin harus pergi.”

Garren mendesah, meletakkan teh di meja. “Cloris, kau tidak harus memaksakan diri jika kau benar-benar takut.”

Cloris mengangkat wajah, matanya bergetar. “Aku tidak takut… hanya… aku tidak yakin keputusan apa pun yang kuambil hari ini tidak akan menghancurkan semua yang telah kubangun.”

Garren mendekat, duduk di sampingnya. “Kau telah bersembunyi bertahun-tahun. Berusaha menjadi angin yang tak terlihat. Tapi angin itu, pada akhirnya, akan bertemu badai.”

Cloris memejamkan mata, mengingat senyum Edric… senyum yang selama bertahun-tahun menghantui mimpinya.

“Aku bisa tidak pergi,” gumamnya. “Kalau aku menghilang sebelum jamuan, jika aku tidak muncul di pasar beberapa hari, mungkin—”

“Cloris.” Suara Garren kali ini tegas. “Itu bukan hidup. Itu melarikan diri.”

Cloris menggigit bibir. “Tapi jika ia mengenaliku…”

“Maka kau hadapi.” Garren berdiri perlahan, mata tuanya memandang Cloris penuh kasih. “Kau bukan lagi gadis rapuh yang tiba di hadapanku delapan tahun lalu dengan tubuh penuh luka dan mata ketakutan. Kau sudah tumbuh menjadi perempuan yang berdiri tegak, mampu melawan dunia jika kau mau. Jangan biarkan masa lalu mengurungmu lagi.”

Cloris menggeleng. “Aku tidak sekuat itu.”

“Kau lebih kuat daripada yang kau kira.” Garren tersenyum samar. “Dan jika memang takdir menuntunmu untuk muncul di hadapan raja, maka itu bukan untuk menjatuhkanmu… tapi untuk membuatmu bangkit.”

Cloris memalingkan wajah, suaranya lirih. “Bangkit sebagai siapa?”

Garren menahan napas sejenak, lalu menjawab hati-hati, “Sebagai dirimu sendiri. Siapa pun kau.”

Cloris terdiam lama. Hening memenuhi ruangan.

Akhirnya, ia menarik napas panjang. “Aku… akan berpikir lagi.”

Garren terlihat lega. Tetapi ada sesuatu yang ia sembunyikan—Cloris merasakannya, tetapi tidak mampu menebaknya.

Beberapa menit kemudian, Garren bangkit dan berkata, “Ada sesuatu yang harus kutunjukkan.”

Cloris mengerutkan kening. “Apa?”

Dengan langkah perlahan, Garren menuju lemari kayu terbesar di sudut ruangan. Lemari itu jarang dibuka; biasanya hanya berisi kain-kain lama dan barang dagang yang tidak terjual. Namun kali ini, Garren menggeser tumpukan kotak, lalu menarik sesuatu yang terbungkus kain putih.

“Ayah?” Cloris berdiri, bingung.

Garren membuka kain itu.

Dan Cloris terdiam.

Di sana—sebuah gaun. Gaun sederhana namun cantik: warna biru lembut dengan benang perak halus di bagian pinggang, rok jatuh seperti aliran sungai, dan bagian bahu yang ringan seolah dibuat untuk seseorang yang harus melangkah dengan anggun.

“Aku… membuatkan ini untukmu,” ujar Garren pelan.

Cloris menyentuh kain itu, jari-jarinya bergetar. “Ini… ayah membuat ini kapan?”

“Beberapa minggu terakhir,” jawab Garren jujur. “Saat mulai berdatangan kabar tentang kedatangan raja dan jamuan besar. Aku tahu suatu saat kau takkan bisa terus bersembunyi.”

Cloris terdiam. Air matanya berkumpul, namun tidak jatuh.

“Ini terlalu indah… Ayah tidak perlu—”

“Aku perlu.” Garren tersenyum hangat. “Karena bagiku, kau bukan sekadar gadis yang menumpang hidup. Kau… seperti putriku sendiri. Dan jika putriku akan menghadapi dunia, maka ia harus melakukannya dengan kepala tegak, bukan dengan pakaian lusuh.”

Cloris menggigit bibir. “Ayah…”

Garren meletakkan tangan di bahunya. “Pikirkan ini, Cloris. Bukan sebagai panggilan takdir. Tapi sebagai kesempatan. Kesempatan untuk berhenti berlari.”

Cloris memandang gaun itu lama… sangat lama.

Dan akhirnya, ia mengangguk perlahan.

“Aku… akan datang.”

Garren tersenyum lega, seperti beban bertahun-tahun akhirnya turun dari pundaknya.

Sementara Cloris meneguhkan hati, rombongan istana Utara memasuki wilayah kerajaan Selatan. Kereta besar dengan lambang elang emas melaju perlahan melewati gerbang utama, diiringi pasukan penjaga kerajaan Selatan yang memberikan hormat.

Raja Carlos tampak nyaris tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Begitu kereta berhenti, ia turun dengan langkah besar, senyum lebar mengembang.

“Ah, Aldren! Sudah lama sekali!” serunya ketika Raja Aldren datang menyambut.

Aldren, dengan kehangatan khas Selatan, memeluk sahabat lamanya itu. “Carlos, kau datang dengan semangat seperti selalu.”

Ratu Elena turun perlahan di belakangnya, anggun namun dingin. Matanya menyapu lingkungan sekitar, menghitung siapa pun yang hadir seolah mencari celah yang mungkin merusak reputasinya.

Beberapa bangsawan Selatan membungkuk hormat. Elena mengangguk kecil, senyumannya tipis dan terukur.

Namun momen itu berubah dingin saat seorang raja lain turun dari sisi halaman.

Raja Edric.

Tatapan Carlos langsung mengeras. Tatapan Edric lebih dingin lagi.

Keduanya berdiri saling menatap seperti dua pedang yang dikeluarkan setengah dari sarungnya. Udara di sekeliling mereka seakan membeku.

Aldren buru-buru tertawa keras, memecah ketegangan.

“Ah! Ternyata tamu-tamuku yang paling berpengaruh bertemu lebih cepat dari jadwal!” serunya, menarik perhatian semua orang. “Edward, Carlos, kalian ini mirip anak kecil yang memperebutkan bola saja!”

Raja Carlos tertawa, meski tawanya jelas dibuat-buat. Edric hanya mengangguk tipis, menyembunyikan ketegangan diplomatik di balik wajah elegannya.

Ratu Elena memperhatikan keduanya dengan tajam, seolah mengukur kekuatan mana yang lebih menguntungkan jika salah satu jatuh.

Perang dingin itu mereda… namun tidak menghilang.

Duke Anthony dan Jejak yang Ia Kejar

Di saat yang sama, jauh sebelum jamuan dimulai, seorang pria dengan jubah gelap melangkah memasuki Pedran. Ia tidak datang dengan kereta kerajaan besar, tidak pula membawa pengawal mencolok.

Duke Anthony lebih suka bekerja dalam bayangan.

Ia baru menerima surat rahasia dari utusan yang ia percaya—surat yang menyebut bahwa seseorang yang ia cari mungkin berada di Selatan. Seseorang yang seharusnya hilang… atau mungkin sengaja disembunyikan.

Ia tiba tidak langsung menuju istana. Tidak. Ia ingin mencari bukti.

Anthony berjalan menyusuri pasar, memperhatikan setiap kios, setiap wajah, setiap celah yang mungkin menyimpan jejak.

“Jika apa yang kulihat di laporan itu benar,” gumamnya, “maka seseorang telah membohongiku selama bertahun-tahun.”

Ia berhenti di salah satu kios yang tertutup.

Lapak Cloris.

Anthony menatap kain-kain yang tertata rapi, cara lipatannya, detail motifnya. Matanya menyipit.

“Orang yang menata ini… bukan gadis pasar biasa,” bisiknya.

Ia menoleh, matanya menuju gang kecil di belakang lapak.

“Dan aku akan menemukannya.”

Sementara dunia di sekelilingnya bergerak menuju jamuan besar yang penuh intrik dan kepentingan politik, Cloris berdiri di depan cermin kecil, memegang gaun biru buatan ayahnya.

Di luar sana, para raja berkumpul. Para bangsawan menyusun strategi. Dan seseorang dari masa lalunya sedang mencari kebenaran.

Ia menutup mata.

Hari ini… Ia akan berhenti bersembunyi.

Namun ia belum tahu bahwa langkah itu akan mempertemukan dirinya dengan tiga pria yang dapat mengubah nasib seluruh kerajaan:

Raja Edric. Pangeran Kael. Dan Duke Anthony.

Takdir mulai mengguncang pintu.

Dan pada malam jamuan itu… pintu itu akan terbuka.