Drama

Bayangan Gradasi - Bayangan Di Balik Janji - Bab 11

Penulis Ichan
11 September 2025

Bayangan di Balik Janji

Malam semakin pekat ketika puluhan aparat mengepung rumah sakit itu. Suara sepatu bot menghentak lantai koridor, menambah ketegangan yang sudah sejak tadi menggantung di udara. Hanum masih terbaring lemah, matanya terpaku pada sosok yang baru saja menanggalkan helmnya.

“Ayah?” suaranya bergetar, seolah tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

Firdaus, lelaki yang selama ini ia pikir berada jauh dari kehidupannya, kini berdiri di ambang pintu. Garis wajahnya keras, penuh wibawa. Namun, matanya menatap Hanum dengan kelembutan yang sudah lama tak ia lihat.

Sementara itu, Al menatap pria itu dengan tatapan penuh siaga. Ia tahu, setiap kemunculan seseorang di saat krisis tak pernah bisa dianggap kebetulan.

“Apa maksudmu muncul di sini dengan seluruh pasukanmu?” suara Al rendah, tapi penuh ancaman. Tangannya sudah setengah terulur ke arah pinggang, di mana pistol biasanya terselip.

Firdaus mengangkat tangannya, memberi isyarat agar para aparat menurunkan senjata mereka. “Tenang, Al-Faidzin. Aku tidak datang untuk menangkapmu. Aku hanya ingin bicara, terutama dengan putriku.”

Hanum masih gemetar. Air matanya menggenang, setengah karena rindu, setengah lagi karena bingung. “Ayah aku pikir, aku pikir kau.”

Firdaus tersenyum samar, seolah berusaha menenangkan. Ia melangkah mendekat. Namun, tatapan Al yang tajam membuat langkahnya terhenti beberapa meter dari ranjang Hanum.

“Jangan salah paham,” ujarnya tegas. “Aku memang datang dengan seragam dan membawa surat penangkapan. Itu hanya tameng. Aku harus memastikan semua mata tertuju padaku, agar kalian bisa tetap aman. Esok siang, tontonlah berita. Akan ada konferensi pers yang kubuat. Di sana, aku akan mengumumkan kembalinya aku menduduki kursi di DPR. Itulah satu-satunya jalan agar musuh-musuh kita berpikir dua kali sebelum mendekat.”

Hanum terbelalak. “Ayah kembali ke DPR? Bukankah itu berbahaya?”

Firdaus menatapnya dengan tatapan penuh arti, lalu tersenyum getir. “Bahaya untukku, tapi juga perlindungan untukmu. Kau harus percaya.”

Al, yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya membuka suara. “Aku tahu maksudmu. Dengan posisimu kembali di kursi DPR, musuh akan melihatmu sebagai perisai. Kau akan menyamarkan semua ini dengan janji-janji politik manis, tapi, Firdaus,” ia berhenti sejenak, suaranya semakin rendah, “kau sedang bermain dengan api. Musuhmu tidak bodoh. Mereka tahu setiap kata bisa jadi dusta.”

Firdaus menatap Al tajam. “Aku tahu kau tidak suka politik, tapi kau harus mengerti, Al. Jika aku tidak kembali, Hanum akan terus diburu. Hanya dengan kekuasaan aku bisa menutup mulut mereka. Kau cukup menjaganya, itu saja.”

Hanum menatap keduanya bergantian. Hatinya semakin kacau, tidak benar-benar paham apa yang sedang dipertaruhkan. Namun, ada getaran dalam suara ayahnya yang membuatnya percaya.

“Ayah,” bisiknya pelan.

Firdaus menepuk dada, lalu menatap putrinya dengan penuh tekad. “Jangan khawatirkan aku. Fokuslah pada dirimu sendiri. Aku akan menanggung sisanya. Ingat, besok siang, tonton berita.”

Sebelum Hanum sempat berkata apa-apa lagi, Firdaus memberi isyarat pada pasukannya. Mereka mundur teratur, meninggalkan rumah sakit itu tanpa banyak bicara.

Hening kembali.

Hanum menatap Al, bingung. “Apa maksud semua ini? Ayahku dia benar-benar akan kembali jadi anggota DPR?”

Al hanya mendengus, lalu menyalakan rokok. “Dia pintar memainkan kata-kata. Kau tidak perlu mengerti semuanya sekarang. Yang jelas, ayahmu sedang menjual dirinya pada permainan besar dan kita hanya bidak yang dia lindungi.”

Hanum menggertakkan gigi, setengah kesal. “Jadi kau tahu? Kau tahu semua ini tapi kau diam saja daritadi?”

Al menatapnya sekilas, senyumnya tipis namun sinis. “Aku tidak perlu menjelaskan semua padamu yang perlu kau tahu, aku akan tetap ada di sini. Itu cukup.”

Hanum menghela napas, pasrah. Namun, jauh di hatinya, ia mulai merasa ada jarak besar yang ia belum temukan jawabannya.


Esok siang, di kamar rumah sakit itu sunyi, hanya suara televisi yang menyala. Hanum duduk di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, sementara Al berdiri di dekat jendela, tangan bersedekap.

Di layar, konferensi pers dimulai. Firdaus tampil gagah dengan setelan jas rapi, senyum yang meyakinkan dan kalimat-kalimat manis yang dilontarkan penuh wibawa.

“Rakyat telah lama menunggu kepulanganku. Demi bangsa dan negara, aku kembali menduduki kursi DPR. Aku berjanji, semua yang kulakukan adalah untuk kesejahteraan kita bersama. Demi generasi muda, demi masa depan yang lebih cerah.”

Hanum menatap ayahnya di layar dengan mata berbinar. Ia bangga sekaligus lega. “Ayahku, dia benar-benar hebat.”

Namun, di baliknya, Al hanya terkekeh kecil. “Tipu daya yang indah. Kalimat yang manis, padahal isinya racun. Dia sedang menipu musuhnya, Hanum. Sama seperti politisi lain menipu rakyatnya.”

Hanum menoleh, bingung. “Apa maksudmu?”

Al tidak menjawab. Ia hanya memandang televisi dengan sorot mata yang penuh kewaspadaan.


Hari-hari setelah itu.

Musuh seolah menghilang. Tidak ada lagi serangan. Tidak ada lagi bayangan mengintai. Semuanya terasa tenang.

Hanum bisa menghela napas lega. Meski pundaknya masih sakit, ia sudah bisa berjalan di dalam kamar rumah sakit dengan bantuan Al. Pria itu semakin sering berada di sisinya, memastikan tidak ada ancaman mendekat. Namun, di balik ketenangan itu, ada badai lain yang diam-diam mendekat.

Wanita.

Hanum menyadari hal itu ketika suatu sore, seorang perempuan cantik dengan gaun merah menyala datang ke rumah sakit. Tubuhnya semampai, wajahnya menawan dan caranya melangkahnya penuh percaya diri. Ia langsung meminta bertemu dengan Al.

Hanum hanya bisa menatap dari jauh ketika wanita itu dengan santainya menempelkan tubuhnya ke arah Al, berbicara dengan suara manja. Gaunnya terbuka di bagian dada, membuat banyak mata memandang.

Al dengan gaya arogan khasnya, hanya menyeringai. Ia tidak menepis, tidak juga terlalu menerima. Sikapnya seperti membiarkan wanita itu bermain-main di sekitarnya.

Hanum menunduk, berpura-pura sibuk membaca majalah. Namun, hatinya terasa diremas.

Setelah wanita itu pergi, Hanum berusaha tetap tenang. “Temanmu?” tanyanya datar.

Al mengangkat alis. “Lebih tepatnya, pengganggu lama.”

Hanum mendengus. “Pengganggu yang memakai gaun terbuka begitu?”

Al menatapnya, lalu tersenyum miring. “Cemburu?”

Wajah Hanum langsung merah. “Siapa yang cemburu? Aku hanya, hanya jijik melihatnya.”

Al tertawa pelan, lalu duduk di tepi ranjang. “Bagus kalau begitu. Jangan pedulikan mereka. Wanita-wanita seperti itu hanya mencari kekuasaan dan uang. Mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya.”

Hanum menatapnya lama. “Siapa sebenarnya dirimu, Al?”

Pertanyaan itu membuat senyum Al perlahan memudar. Matanya berubah dingin dan untuk pertama kalinya, Hanum merasa ia benar-benar tidak mengenalnya.


Malam berikutnya di rumah sakit sudah sepi. Hanum tertidur, sementara Al duduk di balkon kamar, menatap langit malam. Rokok di tangannya sudah setengah habis, tapi pikirannya masih berputar-putar.

Suara langkah pelan terdengar. Ia menoleh, mendapati wanita lain berdiri di ambang pintu balkon. Wanita itu berbeda dengan sebelumnya, rambut panjang, pakaian lebih sopan. Namun, matanya tajam penuh ambisi.

“Al,” suaranya lembut. “Kau tidak bisa terus sembunyi. Cepat atau lambat, kau harus memilih.”

Al mendengus. “Pergilah. Aku tidak punya waktu untuk permainanmu.”

Wanita itu mendekat, nyaris menyentuhnya. “Kau tahu aku bisa membantumu. Bersamaku, kau tidak perlu takut pada ayahmu, tidak perlu takut pada musuh. Aku bisa memberimu kekuatan.”

Al menoleh cepat, sorot matanya penuh ancaman. “Aku sudah punya alasan untuk tetap berdiri dan itu bukan kau.”

Wanita itu tersenyum miring, lalu berbisik. “Kau bicara tentang Hanum, kan? Kau pikir dia benar-benar aman hanya karena Firdaus kembali ke DPR? Kau salah besar, Al. Mereka akan datang lagi dan kali ini, tidak ada janji politik yang bisa menyelamatkannya.”

Ucapan itu membuat Al terdiam. Sesuatu di dalam dirinya bergemuruh, rasa takut bercampur marah. Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara Hanum terdengar dari dalam kamar. “Al? Kau di mana?”

Wanita itu melangkah mundur, tersenyum licik. “Pikirkan kata-kataku.” Lalu ia menghilang ke kegelapan.

Al kembali masuk kamar, menatap Hanum yang baru saja bangun. Gadis itu menatapnya dengan mata sayu. Namun, ada senyum kecil di bibirnya. “Aku tadi mimpi kau pergi meninggalkanku.”

Al menatapnya lama, lalu duduk di samping ranjang. “Itu tidak akan terjadi. Aku di sini. Selalu.”

Hanum menggenggam tangannya, hangat dan penuh kepercayaan, tapi Al tahu, badai yang lebih besar sedang menunggu di luar sana.


Keesokan harinya, televisi kembali menyiarkan berita mengejutkan. Seorang jurnalis investigasi mengungkap dokumen rahasia yang diduga melibatkan Firdaus dalam kasus besar, penggelapan dana rakyat dan konspirasi dengan mafia bisnis.

Hanum menatap layar dengan mata melebar, tidak percaya. “Tidak, itu tidak mungkin. Ayahku tidak mungkin.”

Al hanya berdiri diam, wajahnya kaku.

Di layar, wajah Firdaus muncul lagi, tapi kali ini dengan tatapan penuh tekanan. Wartawan mengerubunginya, berteriak menanyakan kebenaran tuduhan itu.

Sementara itu, di balik layar televisi, sebuah pesan masuk ke ponsel Al. Pesan singkat tanpa nama pengirim.

“Kalau kau ingin tahu kebenaran tentang Firdaus, temui aku tengah malam nanti di dermaga tua.”

Al menatap pesan itu lama. Hatinya bergejolak.

Hanum menoleh padanya, suaranya bergetar. “Al apa ini berarti Ayahku pengkhianat?”

Al tidak menjawab. Ia hanya menatap layar televisi, lalu menatap Hanum, dengan sorot mata yang menyimpan rahasia besar.


Malam itu, Al berdiri di dermaga tua yang sunyi. Angin laut menusuk tulang, lampu redup berkelip. Dari kegelapan, seseorang melangkah keluar, wajahnya tertutup bayangan.

“Jadi kau datang,” suara itu dingin.

Al menggenggam pistolnya erat. “Kau siapa?”

Orang itu tertawa pelan. Lalu perlahan mengangkat wajahnya ke cahaya.

Al ternganga.

“Tidak mungkin,” bisiknya.

Sosok yang berdiri di depannya adalah seseorang yang selama ini dianggap sudah mati.