Hari Minggu yang sangat cerah, Sudarta duduk di teras rumahnya, memandang langit biru yang tak berawan. Semalam, perasaannya bercampur aduk. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Besok Senin, agen tim dari Malaysia akan datang untuk menginspeksi perusahaan cabang PT. RSTI yang telah dia bangun dengan susah payah.
Sudarta menggigit bibirnya. Di satu sisi, dia memikirkan nasib dirinya dalam masa lalu. Kenangan tentang Vina, wanita PSK yang pernah dia sakiti, menghantuinya. Dia merasa bersalah dan ingin menebus kesalahannya. Namun, disisi lain, dia sudah berhasil sejauh ini. Perusahaan cabangnya berkembang pesat, dan dia telah menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang.
Dia menatap surat kaleng yang masih ada di tangannya. Apakah ini permainan Mustafa? Ataukah ada yang lebih dalam? Mustafa, musuh lamanya, selalu mengintai di balik layar. Sudarta tahu dia harus berhati-hati.
Tiba-tiba, teleponnya berdering. Dia mengambilnya dan melihat nama Nayla di layar. Nayla, sekretaris Ruswanda, yang selalu tahu lebih banyak daripada yang dia ungkapkan.
"Pak Sudarta," sapanya lembut, "ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
Sudarta menggigit bibirnya. "Apa itu, Nayla?"
Nayla menatapnya dengan mata tajam. "Besok, saat agen tim dari Malaysia datang, kita akan menghadapinya bersama-sama. Kita akan mengungkap kebenaran dan menghadapi konsekuensinya." Sudarta mengangguk. Pertemuan dengan agen tim akan menjadi titik baliknya.
Saat Sudarta melamun, terdengar suara musik lembut mengalun dari kamar Marcel, anaknya. Sudarta memandang pintu kamar dengan senyuman. Marcel, dengan suara yang penuh perasaan, menyanyikan sebuah lagu cinta yang mengisi seluruh rumah.
Lirik-lirik lagu itu membawa Sudarta kembali pada masa muda, ketika cinta dan harapan masih membara dalam dadanya. Dia merenung tentang keputusan-keputusan yang telah dia buat, tentang rahasia yang tersembunyi, dan tentang bagaimana masa lalunya mempengaruhi masa depannya.
Marcel, tanpa tahu apa yang ada di benak ayahnya, terus menyanyi dengan penuh semangat. Suaranya mengalun seperti angin lembut yang menyentuh hati. Sudarta merasa haru mendengar lagu-lagu anaknya yang dengan sederhana membawa kehangatan dan keindahan dalam momen yang penuh ketidakpastian ini.
Saat Marcel sedang menyanyikan sebuah lagu dengan gitarnya, dia tiba-tiba menoleh dan melihat ayahnya berdiri di ambang pintu. Wajah Sudarta penuh perasaan campur aduk, dan Marcel merasa malu karena terkejut ketahuan.
“Ayah, apa yang sedang ayah lakukan?” tanya Marcel dengan suara terbata-bata.
Sudarta tersenyum. “Marcel, anakku,” katanya, “apakah kamu sedang kasmaran?”
Marcel memerah. Dia tidak pernah berpikir bahwa ayahnya akan menemukan dia sedang menyanyikan lagu cinta. Dia menatap ayahnya dengan campuran kebingungan dan kecanggungan. "Eh, bukan, Ayah!" ucapnya. "Aku hanya... berlatih."
Sudarta mengangguk, tetapi matanya masih penuh pertanyaan. "Lagu itu indah," katanya. "Siapa yang menginspirasimu?"
Marcel menelan ludah. Dia tidak bisa mengungkapkan bahwa lagu itu terinspirasi oleh perasaannya sendiri. Dia menyembunyikan rahasia yang lebih dalam, tentang cinta yang belum terungkap. "Oh, hanya lagu biasa," jawabnya. "Tidak ada yang istimewa."
Namun, Sudarta tahu ada lebih banyak di balik lagu itu. Dia memandang surat kaleng yang masih ada di tangannya. Rahasia mereka berdua, tentang masa lalu dan cinta yang terluka, semakin terjalin. Dan di pagi yang penuh misteri ini, Sudarta memutuskan: dia akan menghadapi semuanya, mengungkap kebenaran, dan mencari penebusan.
Marcel menatap ayahnya dengan mata tajam. "Ayah," sahutnya, "kenapa? Seperti ada yang sedang dirahasiakan?"
Sudarta menggigit bibirnya. "Tidak, nak," katanya. "Ayah tak apa-apa. Hanya merasa capek saja. Besok pagi akan ada tamu dari Malaysia di kantor, jadi ayah bakal sibuk besok."
Marcel mengangguk, tetapi dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayahnya. Namun, Sudarta mengalihkan pembicaraan, "Ngomong-ngomong, ayah mau tanya," lanjutnya, "sejak kapan kamu suka lagu cinta? Selama ini kamu terus tekun belajar dan belajar."
Marcel tersenyum, tapi matanya penuh perasaan. "Marcel, anakku," kata Sudarta "lagu itu... mengingatkanku pada masa lalu. Ada rahasia yang belum terungkap, dan lagu ini membawaku kembali pada saat-saat yang terluka."
Marcel menatap ayahnya dengan penuh perhatian. "Apa yang sebenarnya terjadi, ayah?"
Sudarta mengambil napas dalam-dalam. "Nanti kita bicarakan lagi yah nak. Sepertinya ayah mau keluar sebentar.” Marcel hanya bisa tersenyum dibalik ruangannya.
Marcel berdiri di tepi jendela, memandang langit yang penuh bintang. Suara angin malam mengusap wajahnya, dan hatinya berbicara dalam diam. "Rihanna," gumamnya, "kau adalah gadis cantik yang pernah aku temui. Senyummu, matamu, semuanya tentangmu membuatku terpesona."
Dia menggenggam gitarnya dengan erat. Lagu cinta yang dia ciptakan semalam masih mengalun dalam ingatannya. "Kapan ya aku bisa bertemu denganmu lagi?" pikirnya. Rihana, wanita yang hanya dilihat sekali, namun mengisi setiap sudut pikirannya.
Marcel menutup mata, merasakan getaran dalam dadanya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi satu hal pasti: dia akan mencari cara untuk menemui Rihana lagi.
Malam telah tiba, dan kegelapan menyelimuti segala sudut. Semua makhluk, dari manusia hingga burung hantu, merasakan kantuk yang menghampiri. Bintang-bintang di langit bersinar dengan gemerlap, seolah memberikan selamat malam pada bumi yang lelah.
Di rumah Sudarta, lampu-lampu mati satu per satu. Dia duduk di teras, memandang langit yang penuh bintang. Pikirannya melayang pada masa lalunya, rahasia yang tersembunyi, dan lagu cinta yang baru saja dia nyanyikan. Dia merasa tegang, tapi juga penuh harapan. Besok pagi, pertemuan dengan agen tim dari Malaysia akan menjadi titik balik. Sudarta memutuskan: dia akan menghadapinya, mengungkap rahasia yang terluka, dan mencari penebusan.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sudarta duduk di ruang tunggu, perasaannya campur aduk. Kedatangan Agen tim dari Malaysia akan menjadi titik balik dalam hidupnya. Dia berusaha menenangkan diri, mengingat semua yang telah terjadi.
Tiba-tiba, di tengah kegelapan, seorang lelaki berpenampilan profesional muncul di depan Sudarta. Wajahnya tegas, matanya tajam seperti mata elang yang siap menyibak rahasia. "Selamat pagi, Pak Sudarta!" ucapnya dengan suara rendah, menggetarkan udara di sekitarnya. "Apakah Anda mengingat tentang saya?"
Sudarta terkejut. Dia merasa pernah melihat wajah ini, tapi tidak bisa mengingat dengan pasti. Kilatan kenangan datang dan pergi, seperti bayangan yang terus bergerak. "Saya... saya tidak yakin," jawab Sudarta ragu, hatinya berdebar kencang.
Lelaki itu tersenyum, "Namaku Subroto, Pak Sudarta. Teman masa kecilmu." Suaranya seperti angin malam yang membawa cerita-cerita lama. "Masih ingat?"
Sudarta menelan ludah. Subroto. Nama itu menggema dalam benaknya. Mereka pernah bersama di desa kecil tempat mereka tumbuh dewasa. Bermain di sawah, mengejar kupu-kupu, dan bermimpi tentang masa depan. Sudarta dan Subroto tertawa riang, mengenang masa kecil mereka yang penuh petualangan.
Sudarta tersenyum lebar. "Subroto!" serunya, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Siapa sangka kita bertemu di sini setelah begitu lama?"
Subroto mengangguk. "Waktu memang membawa kejutan, Sudarta. Aku mendirikan perusahaan teknologi di Malaysia. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan."
Sudarta merasa campur aduk. Masa lalu dan masa depan bertabrakan di hadapannya. "Apa yang ingin kau ketahui dariku, Subroto?"
Subroto menatap Sudarta dengan serius. "Rahasia kita, Sudarta. Itu yang harus kita ungkap."
Sudarta menggigit bibirnya. Rahasia masa kecil mereka, yang terkubur dalam ingatan dan hati. Apakah dia siap menghadapinya? Kisah ini masih tetap berlanjut.