4. Robot juga perlu liburan

29 December 2025

“Aduh!”

Teriakan nyaring membelah keheningan malam.

Seluruh rumah bergetar kayak lagi diseruduk truk kontainer.

“Apaan tuh? Gempa?! Ada yang kesurupan?”

Hubble langsung panik. Buku pornonya sampai jatuh ke lantai.

“Huaaaaaaa!”

Dinda menggigit ujung selimut erat-erat, wajahnya meringis parah. “Kenapa... kenapaa kok sakitnya kayak digilas traktor?”

Iya, serius. Ini pertama kalinya dalam hidupnya atau lebih tepatnya, dalam programnya sebagai robot istri Dinda ngerasain yang namanya sakit beneran. Bukan sekadar simulasi. Ini rasanya kayak seluruh chip dan kabel di tubuhnya lagi diaudit pajak barengan.

“Host!”

Hubble tiba-tiba sadar dan ngomong pelan, kayak takut salah ucap, “Kayaknya itu... fitur spesialnya.”

Dia ngelirik ke arah Dinda, terus lanjut, “Untuk memberikan pengalaman ultra-real, istri robot kayak Dinda emang dibekali fitur rasa... ya, rasa-rasa gitu. Bahkan... rasa sakit.”

Hubble makin pelan ngomongnya, lalu kabur ke ruangan gelap dan ngunci diri, “Manualnya kan ada di inventori. Baca dulu kek...”

Dinda masih nahan sakit, mukanya udah kayak aplikasi ngelag. Tapi matanya menyipit, “Siapa yang desain beginian?! Tunggu aja! Gue kutuk hidup lo penuh sial! Ga ada tisu pas boker, keluar ketabrak angkot, hidup lo ditutup awan kelabu, dan anak lo ternyata... bukan anak lo!”

“Lo…”

Hisam berdiri kaku di sudut ruangan, matanya ngelirik ke arah Dinda, panik setengah mati. Bahkan waktu perang pun, dia nggak sekacau ini.

“Gimana ini... Gimana cara bantuinnya?”

“Gas!”

Dinda tiba-tiba angkat tangan sambil gigi gemeletuk, “Lanjut aja! Sekalian!”

Pokoknya Dinda nggak terima kalau udah mulai terus nggak diselesain. Walaupun awalnya kayak kena setrum listrik, lama-lama rasa sakitnya mulai reda... sisanya malah bikin.....

Hubble di pojokan: Mentalnya kuat banget… gila ini manusia.

Kalau yang lain sih, mungkin udah nyerah jadi hantu gentayangan sejak 5 menit pertama.

Dan setelah lewat fase “kagok”, semuanya berjalan lancar. Nggak ada crash sistem, nggak ada eror. Dinda bahkan berhasil makan orang. Istilahnya: misi terselesaikan.

......

Pagi harinya...

Sinar matahari nyelinap masuk lewat celah tirai, nempel di kulit mereka yang belum sempet pakai baju proper.

Hisam kebangun duluan, ngerasa ada sesuatu yang lembut di tangannya. Refleks, dia hampir ngeluarin jurus petir dari insting.

Tapi detik berikutnya...

Potongan kejadian semalem flashback di otaknya. Semua. Sampai bagian awkward-nya juga.

Ding! Ding! Ding!

Komputer pintar mulai bunyi, kayak pengingat utang.

Dinda kebangun. Rambutnya acak-acakan, tapi senyum puas menghiasi wajahnya.

"Pagi~" katanya santai, sambil merentangkan tangan.

“Robot model baru emang nggak kaleng-kaleng,” pikirnya. “Semalam gue tidur paling akhir, tapi baterai masih full!”

"Pagi…" Hisam menjawab, suaranya lebih lembut dari biasanya. Biasanya kayak es batu, sekarang jadi es teh manis.

Tapi...

Begitu dia lihat isi komputer pintarnya, wajahnya langsung tegang.

“Ada monster bintang muncul di sektor Delta-9! Gue harus cabut sekarang juga!”

“Oke, berangkat gih!” Dinda ngangguk cepat, masih sambil selonjoran di kasur.

Dalam hati: Cumbuannya empuk. Good deal.

Hisam makin ngerasa bersalah, “Nanti gue balik. Gue anter lo pulang, oke?”

Dinda senyum, tapi dalam hati cuma mikir: Yaelah, yang penting bercinta. Soal lo balik atau nggak, itu bisa dibicarakan nanti.

Hisam pun pergi dengan perasaan... campur aduk.

Ada rasa kosong di hatinya yang dia sendiri nggak ngerti. Kayak kehilangan sesuatu, tapi nggak tahu apa.

“Host, ulasannya bagus banget loh!” Hubble mendadak keluar dari ruangan kecil kayak anak magang habis disuruh ngopi.

Dinda langsung duduk tegak, nyengir, “Iyalah! Mana ulasannya? Mana bintangnya?!”

Hisam yang udah mau jalan, langsung noleh, “Hah? Apaan?”

“Ulasan, beb! Kasih dong! Contohnya: ‘Istriku sangat fungsional!’, ‘Ini istri idaman gue!’, atau ‘Dinda is the best~’”

Hisam bengong.

Akhirnya dia cuman ngomong sambil jalan keluar, “Istri... kamu yang terbaik…”

Dan… “Nama gue Hisam!”

Satu kalimat terakhir kayak template iklan roti.

Dinda masih melambaikan tangan kayak bucin ditinggal kekasih, sambil pegang sapu tangan kecil warna hitam.

Tunggu...

Dari mana sapu tangan itu datang?

Oh iya, properti teater mungkin.

BTW, celana dalam hitam yang Dinda pakai sebelumnya tuh dikasih Juanda. Tapi yang ngelepasnya semalam... si Hisam.

Ck ck ck.

Emang hidup itu nggak pernah bisa ditebak. Nggak ada yang abadi.

Pertanyaannya sekarang: Kalau Juanda tahu dia diselingkuhin di rumahnya sendiri, gimana reaksinya?

Hubble di pojokan: Host, lo istri robot, bukan selebgram baperan! Bangunlah!

Capek.

Capek banget jadi AI pendamping manusia yang selalu gonta-ganti mode.

Kayaknya Dinda juga udah capek. Capek mikir.

......

Beberapa hari ke depan...

Kehidupan Dinda berubah jadi mode full rebahan.

Tidur. Makan. Streaming drama. Browsing. Main bareng robot pelayan. Semuanya dijalani dengan tekun dan konsisten.

Bermain ya cuma main biasa. Nggak ada embel-embel lain. Dinda masih setia... dalam kadar robotik.

Tapi gimana caranya dia bisa jelajahi Star Network kalau nggak punya chips otak cerdas?

Mudah.

Begitu Hisam cabut, Dinda langsung klaim dua komputer pintar satu dari Hisam, satu lagi dari mantan, Juanda.

Gosip tetap jalan. Update galaksi tetap dilahap.

Dan Dinda tetap jadi ratu rebahan.

Karena pada akhirnya...

Pacar robot pun butuh liburan.

........

Sekolah Supranatural!

“Eh-eh!”

“Eh-eh!”

Terdengar tawa aneh yang random banget di lorong sekolah yang sepi.

Seketika, suasananya kayak... agak horor, tapi juga ngaco.

“Ada apa sama Juanda?”

“Gak tahu, bro! Dari tadi dia kayak gitu aja.”

“Jangan-jangan... si Juanda lagi jatuh cinta?!”

“Yah, mana mungkin... cowok kayak Juanda tuh anti banget sama hal-hal kayak gitu.”

“Eh, tapi, liat ekspresinya... mirip orang kasmaran deh!”

Tiga cowok Siji, Galih, dan Tilu yang nongkrong bareng Juanda, langsung saling lirik-lirikan, nyengir sambil nahan tawa.

Mereka itu circle pertemanan sejak kecil keluarga mereka sama-sama dari generasi supernatural, udah kayak geng power ranger kalau ada misi.

Tapi di antara mereka, Juanda paling jago. Bukan cuma kuat, tapi juga paling dingin dan cuek. Makanya, pas sekarang tiba-tiba doi ketawa-ketawa sendiri, mereka kaget setengah mati.

“Eh-eh!”

“Eh-eh!”

Juanda terus aja nyengir gak jelas, kayak orang kesamber sinyal WiFi dari masa depan.

Mulutnya komat-kamit, ngomong pelan banget, “Mulut istri gue tuh lembut... manis banget…”

Siji garuk-garuk kepala, akhirnya gak tahan dan nanya, “Bro, lo lagi mikirin apa sih?”

Juanda bengong sebentar, lalu jawab sejujur-jujurnya, “Gue kangen istri gue.”

Begitu kata-kata itu keluar, ruangan jadi sunyi.

Trus Juanda sendiri baru ngeh. Dia langsung ngelirik ketiga temennya dengan ekspresi, “Lo semua ngapain di sini?”

Siji dan yang lain: “…”

Ehem. Ada kemungkinan kita tuh udah bareng lo dari tadi?

Mereka menatap Juanda dengan tatapan penuh luka batin. Seolah berkata, Bro, kenapa lo ninggalin kami cuma gara-gara istri robot?

Tapi yang paling nge-trigger adalah...

“Juanda, lo beneran punya istri?”

“Bro... gimana caranya lo nikah duluan dari kita?”

“Ini lo lagi mimpi kan?”

Reaksi mereka bener-bener kaget berat.

Soalnya selama ini Juanda selalu sinis banget sama cewek. Bahkan bilang cinta tuh ‘kelemahan manusia modern’. Tapi sekarang?

“Ehem!” Juanda jadi malu sendiri. Dia pengen ngomong tentang ciuman... tapi batal. Malu, bro.

Tapi ngeliat tatapan curiga dari ketiga bro-nya, dia kesel.

“Kenapa? Gue gak boleh punya istri gitu?”

Suasana hatinya langsung kayak bunga sakura mekar. Rambut merahnya ngejreng kena angin AC ruangan. Dia angkat dagu, sok cool, “Istri gue tuh... cantik banget. Baik. Manis. Manis banget. Parah sih.”

Suaranya sombongnya udah kayak menang penghargaan istri terbaik nasional.

Lalu dia tatap ketiga sahabatnya dengan pandangan sok kasihan, “Gue udah punya istri. Kalian bertiga? Jomblo ngenes.”

Siji: “…”

Galih: “…”

Tilu: menahan sakit hati.

Komentar internal mereka bertiga:

"Bro... kami bukan gak mau pacaran, tapi cewek-cewek yang mau sama kita udah dikuasai sama algoritma dating app!"

Dan yang paling ngeselin?

Juanda menatap mereka dengan tatapan meremehkan, “Kalian gak perlu tahu istriku siapa. Privasi, bro.”

Tiga cowok jomblo itu cuma bisa mengepalkan tangan dengan penuh rasa ingin melempar Juanda ke portal dimensi lain.

.......

Sementara itu... di luar angkasa.

Di sebuah ruang komando spaceship futuristik, suasana tegang.

“Binatang bintang telah dimusnahkan!”

“Binatang bintang telah mundur!”

Laporan kemenangan berdatangan dari monitor. Para teknisi dan komandan lega setengah mati.

Di tengah ruangan, berdiri seseorang dengan aura dingin nan mematikan: Hisam, sang laksamana.

Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih, dan udah begadang tiga hari tiga malam, wajahnya tetap elegan. Tapi ada sorot lelah di matanya.

Ia mengusap alisnya pelan, mencoba menahan denyut migrain.

Wakilnya, Asep, langsung maju dengan wajah khawatir, “Laksamana, istirahat dulu, Pak. Kabin perawatan udah siap…”

Dia ngomong pelan, takut salah gerak. Karena… dia tahu satu hal yang tidak diketahui semua orang.

Hisam punya kekuatan supranatural yang... liar. Makin kuat dia bertarung, makin besar potensi dia meledak secara harfiah.

Solusi satu-satunya adalah... menikah. Tapi masalahnya?

Hisam = cuek terhadap cewek.

Bahkan pernah ada cewek cantik yang coba flirting... dan langsung ditatap kayak alien dari Pluto.

Saking desperate-nya, Asep pernah mau beliin dia pacar robot. Tapi langsung batal setelah inget aura sang laksamana yang kayak freezer 20 pintu.

Tiba-tiba…

Bip! Bip! Bip!

Salah satu komputer pintar di ruangan mulai bunyi.

Semua kepala otomatis nengok ke gadget masing-masing. Tapi bukan gadget mereka yang bunyi.

Suara itu berasal dari... komputer cerdas pribadi Laksamana Hisam.

Mata semua orang langsung terfokus ke satu titik.

Dan...

[Peringatan: Anda dicurigai melakukan prostitusi & transaksi seksual ilegal. Denda belum dibayar. Mohon segera bayar atau siap tanggung konsekuensinya.]

KRING!

Semua orang membeku. Bahkan suara AC pun tiba-tiba kayak ilang.

Jenderal Hisam... dituduh transaksi esek-esek?!

Asep panik. “P-Pasti error sistem, Pak! AI sekarang makin ngaco!”

Tapi belum sempat dia lanjutin klarifikasi...

[Hisam, sebagai perwira tinggi, perbuatan ini sangat mencoreng reputasi. Jika tidak segera dibayar, sanksi akan meningkat...]

AI-nya makin nyolot. Bener-bener out of pocket!

Asep langsung diem.

Para teknisi yang awalnya berdiri langsung nge-freeze.

Sebagian dari mereka pelan-pelan mulai mempertanyakan... apakah Laksamana Hisam ternyata punya sisi lain?

Hisam berdiri mematung. Wajahnya tetap datar... tapi kalau bisa nembus layar dengan tatapan, mungkin gadget itu udah meledak.

Note internal AI:

Transaksi dicurigai terkait dengan “Boneka Pasangan Virtual” edisi terbatas, model XR-99.

Jadi……

Apakah sang jenderal benar-benar melakukan sesuatu yang pornografi?

TIDAK!

Apakah ini masuk akal?

Sang jenderal jelas tidak tertarik pada wanita!

Benarkah kalau diam-diam melakukan itu?

Dengan kata lain, laksamana benar-benar memiliki hobi semacam ini?