Bab 12 Meracuni Tamu

07 January 2026

Suasana ruangan berubah seketika ketika pintu terbuka. "Selamat pagi semuanya," ucap direktur dengan tegas. Tiba-tiba, dia menghampiri mereka, dan tatapannya menyapu ruangan. Sudarta, Ruswanda, dan Subroto terpesona, seolah-olah waktu berputar mundur dan membawa mereka ke masa lalu.

Ruswanda, seorang direktur yang berpengaruh, memperkenalkan mereka. "Pak Sudarta, kenalkan ini saudara iparku, Subroto."

Sudarta mengangguk, hatinya berdebar. "Iya, Pak! Saya sudah mengenalnya sejak kecil. Beliau ini adalah teman semasa SD. Tidak menyangka bahwa dia adalah adik ipar Anda, Pak."

Subroto tersenyum, matanya penuh makna. Rahasia masa lalu dan masa depan terpampang di hadapan mereka.

Saat mereka berbincang-bincang, Nayla memperhatikan Sudarta dan Subroto. Matanya menyimpan rencana jahat. Di samping Sudarta, Abidin sebagai orang kepercayaan juga membantu rencana Nayla.

Nayla, wanita yang menyimpan dendam, merencanakan kejahatan dengan cermat. Dia ingin meracuni Subroto, teman masa kecil Sudarta, dan mengarahkan tuduhan kepada Sudarta sendiri dan Sudarta akan menjadi kambing hitam dalam rencana pembunuhan ini.

Abidin, orang kepercayaan Sudarta, terlibat dalam rencana Nayla. Dia tahu bahwa Sudarta adalah sasaran utama.

Di saat mereka lengah, Nayla dengan hati-hati menaruh racun dalam gelas Subroto. Racun itu mematikan, dan apabila diminum, Subroto akan mengalami kelumpuhan.

"Pak Subroto, ayolah kita minum biar kita semakin akrab lagi ngobrolnya," kata Sudarta dengan ramah.

Namun, sebelum Subroto bisa meraih gelas, Nayla merasa sesuatu yang aneh. Ruangan ini terdapat CCTV, dan rencananya terbongkar. Jika racun itu diminum oleh Subroto dan dia masuk rumah sakit, tentulah Nayla yang akan dituduh.

Dengan tiba-tiba, Nayla menangkis gelas milik Subroto, sehingga gelas itu pecah di lantai. Suasana ruangan berubah drastis, dan semua orang yang hadir terheran-heran. Abidin, yang berada di ruangan itu, merasa terkejut atas tindakan Nayla.

"Nayla! Apa yang kamu lakukan?" Ruswanda, sebagai atasannya, menatap Nayla dengan tajam. "Kita sedang berbicara dengan tamu, dan kamu...?"

Nayla tidak mau terpojok. Dia mencari alasan yang sekiranya masuk akal. "Anu, Pak..." katanya dengan ragu, "maafkan saya. Saya hanya ingin menghindari kecelakaan. Gelas itu terlihat seperti akan jatuh." Tegangan di ruangan semakin meningkat.

Dengan suara yang gemetar, Abidin berbicara, "Bi..biarkan saya buatkan lagi, Pak!" Dia berusaha membantu Nayla agar tidak ada kecurigaan di antara mereka. Nayla sibuk membereskan pecahan gelas, sementara Abidin dengan cemas membuatkan gelas yang baru.

Ruswanda, dengan nada marah, menatap mereka. Begitu juga dengan Sudarta. Baju Subroto basah karena gelas yang pecah tadi.

Sudarta mengamati Subroto dengan cermat. "Apa kamu baik-baik saja, Pak Subroto?" tanyanya dengan nada khawatir.

Subroto menatap Sudarta, wajahnya terasa tegang. "Aku baik-baik saja," katanya, menutupi kekesalannya. Namun, matanya mengisyaratkan sesuatu yang lebih dalam. Apa yang sebenarnya terjadi di balik senyumnya?

Hari semakin sore, dan matahari berada di ufuk barat. Subroto berpamitan akan kembali ke Malaysia esok harinya. Wajahnya mencerminkan perasaan campur aduk: antara kegembiraan karena produk yang Sudarta presentasikan sangat bagus, dan kekhawatiran karena rahasia masa lalu yang semakin terjalin.

"Terima kasih, Sudarta," ucap Subroto dengan tulus. "Produk ini luar biasa. Aku yakin kita bisa bekerja lebih erat lagi."

Sudarta tersenyum. "Aku berharap begitu, Subroto. Perusahaan cabang kita memproduksi tekstil benang-benang dan baju yang sangat bagus. Aku senang kau mau menjadi investor di sana."

Nayla, yang selama ini merencanakan kejahatan, diam-diam mengamati mereka. Dia tahu bahwa hubungan ini bisa menjadi kunci untuk menguak rahasia masa lalu. Konflik semakin kompleks, dan masa depan mereka bergantung pada pilihan yang akan mereka buat.

Sebelum pulang, Subroto ingin memberikan kartu namanya kepada Sudarta. Namun, saat akan memberikan kartu tersebut dari dompetnya, tiba-tiba ada yang terjatuh: sebuah foto gadis yang sangat cantik.

Sudarta segera membantu memungut foto itu dan melihat wajah gadis tersebut. Ia terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari foto itu.

“Wah! Gadis ini sungguh cantik, Pak Subroto. Siapa dia?” tanya Sudarta, matanya masih terpaku pada gambar yang memikat hatinya.

Subroto menatap foto dengan tatapan yang sangat merindukan. "Dia adalah Rihana, anak kami yang tinggal di Indonesia, Pak Sudarta," katanya dengan suara lembut. "Dia adalah anak kami satu-satunya, sehingga saat saya bekerja di Malaysia yang sangat jauh, saya sekadar memandang foto anak kami."

Sudarta merasa mengerti apa yang dirasakan Subroto. "Baiklah, kalau begitu," kata Sudarta dengan penuh pengertian. "Saya pamit, Pak Subroto, Kak Ruswanda." Sudarta mengangguk, dan ruangan itu terasa penuh dengan perasaan yang tak terucapkan.

Malam semakin larut, dan suasana ruangan terasa tegang. Pekerjaan yang memakan waktu berhari-hari akhirnya selesai, berkat kedatangan Subroto yang akan menjadi investor di perusahaan cabang milik Ruswanda. Namun, di balik kesuksesan ini, rahasia dan konflik semakin menggelayut di antara mereka.

Sudarta pulang dengan penuh kelelahan. Langkahnya berat, pikirannya melayang pada peristiwa yang baru saja terjadi. Setibanya di rumah, berita yang mengejutkan menanti: istrinya, ibu Ratih, telah masuk rumah sakit. Ia terkena racun setelah menerima makanan dari ojek online.

Takdir yang tak terduga menghampiri Sudarta. Apakah ini kebetulan atau ada yang lebih dalam?

Sudarta merasa dunia berputar saat berlari menuju rumah sakit. Istrinya, ibu Ratih, terbaring lemah di tempat tidur, wajahnya pucat. Marcel, anak pertama mereka, menatap Sudarta dengan mata penuh kekhawatiran.

“Ayah,” sahut Marcel, suaranya gemetar.

“Kenapa, anakku? Apa yang terjadi?” Tanya Sudarta, napasnya terengah-engah.

Marcel menelan ludah. “Entahlah, ayah. Tiba-tiba ada tukang ojek online yang memberikan martabak sore tadi. Ibu merasa tidak memesan, tapi tukang ojek itu memaksa dan memberikannya secara gratis. Setelah itu, ibu makan martabak itu, tiba-tiba mulut ibu mengeluarkan busa. Aku jadi takut, ayah!”

Sudarta merasakan detak jantungnya berhenti sejenak. "Ya Tuhan!" gumamnya dengan lemas. Racun dari tukang ojek online telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya.

Marcel menatap Sudarta dengan mata penuh kekhawatiran. "Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Setelah saya pulang kuliah, aku menemukan surat kaleng di depan gerbang. Seperti sebuah ancaman untuk keluarga kita," ucapnya sambil menunjuk surat kaleng dari tanganya.

Sudarta mengambil surat itu dengan gemetar. "Surat kaleng?" Lalu dia membaca isinya dengan perasaan campur aduk. Ancaman yang tertera di sana mengguncang hatinya: Apabila Sudarta tidak berhenti menjadi manajer perusahaan cabang, maka musuh dalam selimut ini akan terus mengganggu keluarganya.

Sudarta merasa terjepit di antara dua pilihan yang berbahaya. Dia tahu bahwa menjadi manajer perusahaan cabang adalah tanggung jawabnya, tetapi keluarganya juga dalam bahaya.

Sudarta merenung dalam kegelapan kamar rumah sakit. "Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya dalam hati. "Apakah dosaku belum aku tebus semuanya sehingga masalah ini terus menerus aku hadapi?"

Istrinya masih belum sadarkan diri karena racun dalam tubuhnya belum pulih secara normal. Sudarta memutuskan untuk menginap di rumah sakit malam itu, menjaga istrinya dengan penuh kekhawatiran. Konflik dan pertanyaan tentang masa lalu menghantuinya, dan dia merasa terjepit di antara pilihan-pilihan yang sulit. Kisah ini masih berlanjut pada bab-bab berikutnya