Malam itu, Istrinya masih belum sadarkan diri karena racun dalam tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Sudarta memutuskan untuk menginap di rumah sakit malam itu, menjaga istrinya dengan penuh kekhawatiran.
Sudarta tertidur di samping istrinya yang sedang berbaring, tiba-tiba suara memanggilnya, "Sudarta, Sudarta!" Sahutnya. Berdiri seorang perempuan yang dulu pernah menemani tidurnya.
Seorang perempuan yang susah payah, namun ia memanfaatkannya demi nafsu birahinya.
Seorang perempuan, yang telah lama ia lukai kini muncul dalam alam bawah sadarnya. "Vina! Apa yang kamu lakukan dengan istriku?" Kata Sudarta dengan nada gemetar.
"Inilah balas dendam, Sudarta. Kau telah merenggut keperawananku, dan kini aku balas dengan merenggut nyawa istrimu," ucap perempuan itu dengan mata yang memancarkan kebencian. Cahaya rembulan menyilaukan wajahnya yang pucat dan rambutnya yang terurai. Sudarta terpaku, terjebak dalam konflik yang lebih rumit daripada yang pernah dia bayangkan.
Mata Sudarta terbelalak, langsung ia terbangun dari mimpinya. "Ya Tuhan! Apa yang terjadi padaku," ucapnya dengan napas tersengal.
Tak sadar, bahwa hari sudah mulai subuh, adzan berkumandang di rumah sakit itu, membuat Sudarta sadarkan diri dan mendirikan Sholat subuh. Cahaya fajar menyinari wajahnya yang pucat, dan dia merasa seolah-olah ada kekuatan yang menggerakkan tubuhnya. Dalam kesunyian, Sudarta berbicara dengan Tuhan, memohon petunjuk dan kekuatan untuk menghadapi segala konflik yang menghantuinya.
Sementara itu, Mustafa menatap layar komputernya dengan mata yang tajam. Ruangan itu gelap, hanya cahaya biru dari monitor yang menerangi wajahnya. Dia adalah salah satu mantan eksekutif senior di perusahaan pusat, dan dia tahu betul apa yang harus dia lakukan.
Di sisi lain ruangan, Abidin mengenakan jasnya dengan hati-hati. Dia adalah anak dari Mustafa sebagai seorang akuntan kepercayaan Sudarta, tetapi dia juga memiliki ambisi yang lebih besar. Ambisi yang mungkin akan menghancurkan segalanya.
Mustafa dan Abidin adalah dua sosok yang selalu berada di belakang Sudarta. Sudarta, pemimpin perusahaan cabang yang sukses, memiliki banyak musuh. Dia memperluas bisnis tekstil keluarganya dengan cepat, dan banyak orang iri padanya. Tapi Mustafa dan Abidin adalah yang paling berbahaya.
Mereka berdua memiliki rencana. Rencana untuk menggulingkan Sudarta dan mengambil alih perusahaan cabang. Mustafa ingin kekuasaan, sementara Abidin ingin kekayaan. Mereka berdua tahu bahwa Sudarta adalah batu sandungan mereka.
"Abidin, Kita harus bertindak cepat," kata Ayahnya dengan suara rendah. "Sudarta tidak akan terus berada di puncak."
Abidin mengangguk. "Saya mengerti ayah. Dia terlalu percaya padaku. Jadi, Kita bisa memanfaatkannya." Dia mengeluarkan selembar kertas dari dalam jasnya. "Ini adalah bukti-bukti tentang kecurangan Sudarta dalam bisnis. Kita bisa menggunakannya untuk menjatuhkannya."
Mustafa tersenyum. "Bagus anakku, Kita akan memperlihatkan bukti ini pada dewan direksi. Sudarta akan dipecat, dan kita akan mengambil alih perusahaan cabang."
Namun, mereka tidak menyadari bahwa Sudarta juga memiliki sekutu. Subroto, investor besar dalam perusahaan cabang, dia adalah orang yang selalu berada di belakang Sudarta. Dia memiliki anak perempuan bernama Rihana. Yang kini sedang menjalankan kuliah bersama Marcel anak Sudarta.
Mustafa telah menghilang dari perusahaan cabang. Namun, bayang-bayang itu masih menghantui Sudarta. Dia tahu bahwa konflik ini belum berakhir. Dia harus tetap waspada dan melindungi perusahaannya. Sudarta tidak pernah tahu identitas Abidin.
Sudarta belajar banyak dari pengalaman ini. Dia belajar tentang pengkhianatan, kekuasaan, dan persahabatan. Dan dia tahu bahwa dalam dunia bisnis, bayang-bayang selalu mengintai di setiap sudut.
Pagi itu, ruangan rumah sakit dipenuhi cahaya fajar yang lembut. Sudarta duduk di samping tempat tidur istrinya, Ibu Ratih, dengan perasaan campur aduk. Semalam, dia merenung dalam kegelapan, terjebak dalam konflik yang lebih rumit daripada benang sutra yang ditenun di perusahaannya.
Tiba-tiba, Ibu Ratih mulai membuka mata. Wajahnya pucat, dan matanya mencari-cari. "Kang mas, dimana aku?" gumamnya dengan suara lemah.
Sudarta tersentak. Dia meraih tangan istrinya dengan penuh kekhawatiran. "Oh, sayangku, apa kau sudah baikan?" ucapnya dengan suara bergetar. "Saya panggil perawat dulu ya."
Dia berdiri dan meninggalkan ruangan, hatinya berdebar. Sudarta tahu bahwa ada lebih banyak yang harus dia hadapi selain hanya mengurus kesehatan Ibu Ratih. Konflik dengan Vina, ancaman misterius, dan pertarungan di perusahaan cabang semuanya menyelimuti pikirannya.
Sepuluh menit kemudian, dokter datang. Dia memeriksa Ibu Ratih dengan cermat, mengukur tekanan darah dan memeriksa denyut nadi. "Ibu Ratih baik-baik saja," kata dokter dengan senyum. "Racun dalam tubuhnya sudah mulai hilang. Dia bisa pulang ke rumah segera."
Sudarta merasa lega. Dia tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir, tetapi setidaknya Ibu Ratih aman. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi keluarganya, terlepas dari segala ancaman yang mengintai.
Setelah Ibu Ratih sadar, matanya memandang Sudarta dengan lembut. Wajahnya masih pucat, tetapi ada kelegaan di dalamnya. "Terima kasih, Kang Mas," katanya dengan suara lemah. "Aku merasa lebih baik sekarang."
Sudarta tersenyum dan menggenggam tangan istrinya. "Kita akan melewati ini bersama-sama," ucapnya dengan penuh keyakinan. "Aku akan selalu ada untukmu."
Ibu Ratih mengangguk, dan Sudarta tahu bahwa mereka berdua memiliki banyak hal yang harus dihadapi. Namun, saat ini, yang terpenting adalah kesembuhan Ibu Ratih dan keluarga mereka yang utuh.
Sudarta merasa campur aduk. Di satu sisi, dia merasa lega karena Ibu Ratih akhirnya sadar dan dalam keadaan baik. Namun, disisi lain, konflik yang menghantuinya masih belum terselesaikan. Dia tahu bahwa dia harus tetap waspada dan melindungi keluarganya dari ancaman yang misterius. Dalam hati, dia berdoa agar masa depan mereka bisa lebih baik dan bebas dari bayang-bayang yang selalu mengintai.
Sementara itu, di sebuah universitas pada saat jam makan siang, kantin kampus dipenuhi dengan suara tawa dan percakapan. Rihana, gadis yang selalu memikat perhatian, duduk sendirian di sudut meja. Matanya terfokus pada buku catatannya, sementara makanan terabaikan di depannya.
Marcel, anak Sudarta yang pemalu, memperhatikan Rihana dari kejauhan. Dia telah lama menyimpan perasaan untuk gadis itu. Hari ini, dia merasa berani. Dia ingin mendekati Rihana, mengajaknya bicara, dan mungkin, hanya mungkin, mengungkapkan perasaannya.
Marcel mengambil langkah ragu-ragu menuju meja Rihana. Hatinya berdebar kencang. "Halo, Rihana," sapanya dengan suara yang sedikit canggung.
Rihana menoleh, matanya memandang Marcel dengan senyum ramah. "Hai, Marcel. Ada apa?"
Marcel menggigit bibirnya. "Ehm, aku hanya ingin tahu, apakah kamu ingin makan siang bersama?"
Rihana menatapnya sejenak, lalu menggeleng. "Maaf, Marcel. Aku sedang menunggu seseorang."
Marcel merasa kecewa, tetapi dia mengerti. Rihana pasti sedang menunggu lelaki pujaan hatinya. Dia berusaha tersenyum. "Baiklah, semoga kamu berdua memiliki waktu yang menyenangkan."
Marcel kembali ke meja kosongnya. Dia merenung tentang perasaannya. Mungkin dia hanya seorang anak biasa, dan Rihana adalah bunga yang terlalu indah untuknya. Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja.
Marcel terus mengamati Rihana dari kejauhan. Dia belajar lebih banyak tentangnya, tentang apa yang dia sukai dan impian-impian gadis itu. Dia berharap suatu hari bisa menjadi bagian dari cerita Rihana.
Cinta di kantin adalah cerita yang sederhana, tetapi bagi Marcel, itu adalah dunia yang penuh harapan. Dia tahu bahwa cinta tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi dia akan terus berusaha. Siapa tahu, mungkin Rihana akan melihatnya dengan mata yang lebih dari sekadar teman.