Bayangan dalam Cahaya Klub
Malam itu angin laut masih menusuk tulang ketika Al berdiri di dermaga tua. Sosok misterius yang muncul dari kegelapan hanya memperlihatkan bayangan samar wajahnya. Tawanya dingin, suaranya seperti gema yang menembus dada.
“Jadi kau benar-benar datang, Al-Faidzin,” ucapnya, seolah menertawakan keberanian Al.
Al tidak melepaskan genggamannya pada pistol. “Katakan siapa kau. Kalau kau ingin bermain-main, aku tidak punya waktu.”
Namun, sosok itu hanya melangkah mundur, menghilang ke dalam kegelapan tanpa memberi jawaban. Hanya ada satu kalimat yang ia tinggalkan, nyaring di telinga Al.
“Kebenaran tentang Firdaus, lebih busuk dari yang kau bayangkan.”
Al menegang. Ia berlari beberapa langkah, tapi yang tersisa hanya udara dingin dan suara deburan ombak. Rahangnya mengeras, tapi ia tahu percuma. Sosok itu datang hanya untuk menabur keraguan.
Dengan napas berat, Al kembali menuju mobilnya. Pikirannya penuh tanya, tapi satu hal jelas: ia tidak bisa membiarkan Hanum tahu.
Keesokan harinya, Hanum duduk di balkon rumah sakit, tubuhnya sudah lebih segar. Perban di pundaknya masih terpasang, tapi ia bisa tersenyum tipis menikmati cahaya matahari.
Al datang dengan dua gelas kopi di tangan. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu duduk di samping Hanum tanpa banyak bicara.
“Kau bangun terlalu pagi,” kata Hanum, menatapnya.
“Aku tidak tidur,” jawab Al singkat.
Hanum mendesah pelan. Ia tahu Al sedang menyimpan sesuatu, tapi ia tidak tahu apa. “Kau terlihat lelah dan aneh.”
Al hanya mengangkat bahu. “Aku selalu aneh.”
Hanum menatapnya lama, lalu memilih diam. Namun, di hatinya, ia yakin ada hal besar yang Al sembunyikan darinya.
Malam di klub.
Hari itu, Hanum akhirnya diizinkan pulang dari rumah sakit. Al membawanya ke apartemen yang lebih aman, dijaga ketat oleh anak buahnya. Hanum lega, meski masih merasakan sisa nyeri di pundak.
Namun, ketenangan itu hanya sebentar.
Sekitar pukul sepuluh malam, pintu apartemen diketuk. Seorang wanita bergaun hitam ketat melangkah masuk tanpa menunggu izin. Wajahnya cantik, bibirnya merah menyala dan matanya penuh ambisi. Wanita yang sama seperti yang pernah Hanum lihat sebelumnya.
“Al,” sapanya manja, langsung melingkarkan lengannya di lengan Al. “Kau sudah terlalu lama bersembunyi. Malam ini, ikut aku. Ada pesta di klub. Semua orang penting ada di sana. Kau tidak boleh melewatkannya.”
Al menepis pelan tangannya. “Aku tidak tertarik.”
Wanita itu mengerling, lalu menatap Hanum yang duduk di sofa. Senyumnya tipis, menusuk. “Oh, jadi ini alasannya? Gadis kecil yang kau sembunyikan?”
Hanum menegang, tapi ia memilih diam.
“Kalau kau takut dia bosan, ajak saja dia ikut,” lanjut wanita itu. “Lagipula, tempat itu aman. Banyak orang berpengaruh. Tidak ada yang berani macam-macam.”
Al menatap wanita itu dengan dingin. Ia tahu maksudnya bukan hanya mengajak, tapi juga ingin menguji. Setelah beberapa detik, ia berdiri, meraih jaket kulitnya.
“Baiklah. Kita pergi.”
Hanum menoleh cepat. “Apa? Kita?”
Al menatapnya singkat. “Kau ikut. Lebih baik aku bisa mengawasi langsung daripada kau ditinggal sendiri di sini.”
Di klub malam.
Lampu neon berkilauan. Musik berdentum keras, membuat lantai bergetar. Aroma alkohol bercampur asap rokok memenuhi udara. Klub itu penuh dengan orang-orang bergaun mahal, pria-pria berjas rapi dan wanita-wanita glamor.
Hanum merasa canggung. Ia menempel di sisi Al, menunduk setiap kali ada tatapan asing mengarah padanya.
Al ada di sisi lain, ia melangkah penuh percaya diri. Tatapannya dingin, aura arogannya membuat orang-orang memberi jalan.
Wanita yang mengajak mereka tadi memimpin ke meja VIP. Botol-botol minuman keras sudah berjejer di sana.
“Silakan duduk,” katanya sambil tersenyum.
Al duduk tenang, menyilangkan kaki. Hanum ragu-ragu sebelum akhirnya duduk di sampingnya. Musik terlalu keras, membuatnya semakin gugup.
Tak butuh lama, wanita itu menuangkan minuman ke gelas kristal. Cairan keemasan berkilau di bawah lampu neon. Ia menyodorkannya pada Al.
“Minumlah, Al. Malam ini untuk bersenang-senang.”
Hanum menatapnya, setengah berharap Al akan menolak. Namun, tanpa banyak kata, Al mengambil gelas itu dan menegaknya dalam sekali teguk.
Hanum terperanjat. “Al!”
Al meletakkan gelasnya dengan tenang. “Apa? Kau pikir aku tidak pernah minum?”
Wanita itu terkekeh, lalu mengisi lagi gelas Al. Kali ini, ia menoleh pada Hanum, menyodorkan gelas lain. “Kau juga, manis. Cobalah. Setengah gelas saja tidak akan membuatmu mati.”
Hanum menelan ludah. “Aku, aku tidak biasa.”
Wanita itu tersenyum licik. “Sekali ini saja. Demi Al.”
Hanum menoleh ke arah Al. Pria itu menatapnya datar, tidak memberi isyarat apa pun. Dengan ragu, Hanum mengambil gelas itu. Tangannya gemetar saat ia menegak perlahan. Rasa pahit dan panas menyambar kerongkongannya, membuatnya batuk kecil.
Wanita itu tertawa. “Lihat? Tidak buruk, kan?”
Hanum mencoba tersenyum, tapi kepalanya mulai terasa ringan. Pandangannya berkunang.
Al yang sejak tadi diam akhirnya mencondongkan tubuh, menatap Hanum dengan tajam. “Cukup.”
Hanum menoleh dengan mata setengah sayu. “Aku, baik-baik saja.”
Namun, Al meraih gelas itu dari tangannya, lalu melemparkannya ke lantai hingga pecah berantakan. Semua orang di meja terdiam.
“Dia tidak minum lagi,” suara Al tegas, dingin. Tatapannya menusuk wanita itu. “Dan kau, berhenti bermain-main dengannya.”
Wanita itu terperanjat. Namun, cepat menyamarkan dengan senyum. “Baiklah, kalau itu maumu.”
Al berdiri, meraih tangan Hanum yang sudah setengah mabuk. “Kita pulang.”
Hanum berusaha protes, tapi tubuhnya lemah. “Al, aku bisa, sendiri.”
“Tutup mulutmu,” desis Al, menariknya keluar dari klub.
Perjalanan keluar tidak mudah. Klub penuh dengan pria-pria mabuk yang matanya langsung melirik Hanum. Beberapa mencoba mendekat, mengucapkan kata-kata genit.
“Cantik sekali, ikut kami saja, manis.”
Al langsung menepis tangan salah satu pria yang mencoba menyentuh Hanum. “Sentuh dia, mati kau.”
Tatapan dingin Al membuat pria itu mundur ketakutan. Anak buah Al yang diam-diam berjaga juga segera menghalau siapa pun yang berani mendekat.
Hanum yang setengah sadar hanya bisa merasakan genggaman Al yang begitu kuat di tangannya. Meski kepalanya pusing, ada rasa aman yang aneh.
Kembali ke apartemen.
Setelah berhasil keluar, Al menggendong Hanum masuk ke mobil. Gadis itu bersandar lemah di dadanya, wajahnya memerah karena alkohol.
Sepanjang perjalanan, Al tidak berkata apa-apa. Hanya tatapannya lurus ke depan, rahangnya mengeras.
Sesampainya di apartemen, ia langsung membaringkan Hanum di ranjang. Ia mengambil air putih, lalu duduk di sampingnya.
“Minum ini.”
Hanum membuka mata setengah, lalu tersenyum samar. “Kau, marah?”
Al tidak menjawab. Ia hanya memaksanya meneguk air itu.
Hanum terkekeh kecil. “Kau selalu arogan, tapi aku tahu kau peduli.”
Al menatapnya lama. Ada sesuatu di dadanya yang bergejolak, tapi ia menahannya.
“Tidurlah,” katanya akhirnya.
Hanum memejamkan mata, terlelap dengan senyum tipis di bibirnya.
Malam yang sunyi. Al duduk di kursi dekat ranjang, menyalakan rokok. Asapnya berputar di udara, sementara tatapannya terpaku pada wajah Hanum yang tertidur.
Ia teringat kata-kata sosok misterius di dermaga. Tentang Firdaus. Tentang kebusukan yang lebih dalam.
Lalu teringat juga wanita-wanita yang datang padanya, mencoba menariknya kembali ke dunia yang penuh tipu daya.
Namun, di tengah semua itu, ada Hanum. Gadis polos yang tanpa sadar sudah mengikatnya. Luka dan masa lalunya seakan tidak lagi berarti ketika ia berada di sisinya.
Al menarik napas panjang, lalu bergumam pelan. “Kau benar-benar menyusahkan, tapi aku tidak akan melepaskanmu.”
Tepat saat ia hendak mematikan rokok, ponselnya bergetar. Satu pesan baru masuk.
“Besok malam. Tempat yang sama. Kalau kau tidak datang, gadis itu akan tahu kebenaran dengan cara paling menyakitkan.”
Al menegang. Pandangannya beralih ke Hanum yang tidur pulas.
Tangannya mengepal.
Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.