Bab 14 cinta tak harus memiliki

09 January 2026

Malam hari, Marcel duduk di depan layar laptopnya, memandang foto Rihana yang terpampang di sana. Tanpa disadari, ayahnya sudah berada di rumah bersama ibunya.

“Marcel, siapa yang ada dalam foto di laptopmu?” tanya ayah dengan tiba-tiba, membuat Marcel terkejut.

“Ayah, ibu sudah sampai rumah jam berapa?” Marcel mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kami sudah tiba di rumah sejak sore tadi. Bagaimana kuliahmu, Nak?”

“Alhamdulillah, saya baik-baik saja, Ayah.” Marcel menjawab dengan lega. Dia tidak ingin membicarakan foto Rihana lebih lanjut, terutama di depan orangtuanya. Namun, kenangan tentang Rihana masih menghantuinya, dan dia berharap suatu hari bisa bertemu dengannya lagi.

Rihana, wanita yang menghiasi layar laptop Marcel, adalah sosok yang tak pernah lepas dari pikirannya. Mereka bertemu di kampus saat kuliah, dan Rihana memiliki senyum yang selalu menghangatkan hati Marcel.

Sementara itu, perasaan Marcel terhadap Rihana semakin dalam. Meskipun dia mengetahui bahwa Rihana telah menolaknya, dia tidak bisa menghapusnya dari hatinya. Baginya, Rihana adalah bintang yang terus bersinar di malam gelapnya kehidupan.

"bagaimana kabar ibu?" tanya Marcel setelah ibunya pulang dari rumah sakit.

"Ibu baik-baik saja, Nak," jawab ibunya dengan senyum lembut. Meskipun wajahnya masih pucat dan lelah, tetapi matanya bersinar penuh kasih sayang. Marcel merasa lega mendengarnya.

Melihat kondisi ibunya yang baru pulang dari rumah sakit, Marcel merasa campur aduk. Di satu sisi, dia merasa lega karena ibunya baik-baik saja dan telah pulih. Namun, disisi lain, dia juga khawatir melihat wajah ibunya yang masih pucat dan lelah. Perasaan cemas dan haru bercampur, namun Marcel tetap berusaha kuat dan berdoa agar ibunya semakin sehat.

Malam semakin larut, dan sinar matahari mulai menyinari dunia kembali. Marcel bangun dari tidurnya dan duduk di meja makan untuk sarapan pagi. Di sana, ayahnya duduk dengan serius, menatap Marcel dengan tatapan tajam.

"Tadi malam, ayah melihat sebuah foto di laptopmu," ujar ayah dengan suara rendah.

Marcel terkejut. Dia tidak pernah mengira ayahnya akan melihat foto itu. Foto Rihana, wanita yang selalu menghiasi layar laptopnya. Marcel merasa tegang, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Apakah ayahnya tahu tentang perasaannya terhadap Rihana? Atau ada sesuatu yang lain yang ingin ayahnya sampaikan?

Marcel menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Foto apa, Ayah?" tanyanya dengan hati berdebar.

Ayahnya menatapnya dengan tajam. "Rihana," jawabnya singkat. "Siapa dia, Marcel?"

Marcel menatap ayahnya dengan mata terbelalak. "Kok ayah tahu tentang foto itu, dan darimana ayah tahu bahwa foto itu bernama Rihana?" tanyanya dengan suara gemetar.

Ayahnya menghela nafas panjang, matanya menatap jauh ke kejauhan. "Marcel," katanya perlahan, "ayah tahu, apa yang ada dalam hatimu. Ayah juga pernah muda, mengalami cinta dan kehilangan. Rihana bukan hanya nama, dia adalah kenangan. Kenangan yang tak pernah pudar."

Marcel terdiam. Ayahnya melanjutkan, "Kamu berhak mencari kebahagiaan, Nak. Tapi ingat, kebenaran seringkali lebih rumit daripada yang kita bayangkan. Jangan biarkan cintamu mengaburkan penglihatanmu."

Senyuman tipis muncul di wajah ayahnya. "Sekarang, makanlah. Kita bicarakan lebih lanjut nanti." Marcel merasa campur aduk. Ia tersipu malu, tapi juga merasa terharu. Ayahnya, dengan bijaksana, memberikan nasihat yang tak terlupakan.

Sementara itu, di kantor pusat, suasana tenang terasa di pagi yang cerah. Nayla duduk di meja kerjanya, sibuk mengecek email dan merencanakan agenda hari ini. Dia adalah seorang sekretaris profesional muda yang bekerja dengan tekun dan penuh semangat.

Tiba-tiba, suasana berubah. Ada kehadiran yang tak terduga. Ruswanda, sang direktur yang selalu tampil dengan senyum misterius, tiba-tiba muncul dari belakang Nayla. Sebelum Nayla sempat berpikir apa-apa, Ruswanda menciumnya dengan lembut di pipi.

Nayla terkejut. Matanya membulat, dan dadanya berdebar kencang. “Ih bapak, apaan sih masih pagi” katanya

Ruswanda tersenyum, matanya penuh arti. "Maaf, Nayla," katanya dengan suara rendah. "Aku hanya ingin memberikan semangat untuk hari ini."

Nayla masih bingung. Apakah ini semacam lelucon? Ataukah ada perasaan lain di balik tindakan Ruswanda? Dia mencoba tersenyum, mencari kata-kata yang tepat. "Terima kasih, Pak Ruswanda," ucap Nayla. "Tapi, kenapa?"

Ruswanda hanya menggelengkan kepala. "Kadang-kadang, kita perlu mengambil risiko dan mengungkapkan perasaan," katanya. "Siapa tahu, ciuman tak terduga bisa mengubah segalanya."

Nayla merasa dunianya berputar. Tatapan campur aduk yang dia berikan pada Ruswanda mencerminkan perasaannya yang bergejolak. Nayla, sekretaris itu, membalas ciuman Ruswanda.

Dalam pelukan Ruswanda, Nayla merenung. Dia tahu ini adalah momen berani. Memilih untuk membalas dendam dengan cinta dan tahta. Sekarang dia memiliki kesempatan untuk mengubah takdir.

"Pak Ruswanda," bisik Nayla, "Maukah kamu menciumiku lagi lebih panas? Kita lanjutkan hubungan ini. Dan kita tidak boleh membiarkan masa lalu menghancurkan kita."

Ruswanda menatapnya dengan penuh arti. "Aku siap," katanya. "Kita akan bersama, dan kita akan menghadapi segala rintangan bersama."

Nayla menggenggam tangan Ruswanda. Dia tahu ini bukan hanya tentang dendam atau cinta. Ini tentang keberanian untuk memilih jalannya sendiri. Dan dalam pelukan Ruswanda, Nayla memutuskan untuk meneruskan hubungan ini.

Di kantor pusat, suasana berubah drastis. Hubungan terlarang antara Ruswanda dan Nayla telah terbongkar oleh Abidin, direktur mereka. Tiba-tiba, saat Ruswanda dan sekretarisnya berhubungan intim, Abidin masuk ke ruangan itu. Perbuatan mereka yang seharusnya rahasia kini telah terungkap.

Abidin memandang mereka dengan tatapan tajam. Wajahnya pucat, dan tangannya gemetar. "Ma...maafkan saya, Pak direktur," kata Abidin dengan suara tergagap. "Saya akan kembali lagi.”

Nayla dan Ruswanda saling menatap, hati mereka berdebar. Mereka langsung merapikan pakaian mereka, mencoba menyembunyikan ketidaknyamanan dan kepanikan. Namun, sebelum mereka bisa berbicara lebih lanjut, Ruswanda dengan tiba-tiba memanggil Abidin dengan suara yang penuh amarah.

"Abidin!" seru Ruswanda, matanya memancarkan kemarahan. "Apa yang kamu lakukan di sini?!"

Abidin terkejut, wajahnya semakin pucat. Dia mencoba menjelaskan, "Saya... saya hanya ingin memberikan berkas laporan, tapi pintu tidak terkunci, dan..."

"Jangan berani-berani berbicara!" potong Ruswanda. "Kamu tahu apa yang kamu lihat di sini? Ini urusan pribadi!"

Abidin menunduk, gemetar. "Maaf, saya tidak bermaksud..."

Nayla mencoba menenangkan situasi. "Abidin, ini memang urusan pribadi kami. Kami akan menyelesaikannya."

Namun, Ruswanda masih marah. "Ini tidak boleh terjadi lagi!" bentaknya. "Kamu harus menjaga kerahasiaan ini, Abidin. Jika tidak, konsekuensinya akan berat."

Abidin hanya mengangguk, matanya masih penuh ketakutan. Dia meninggalkan ruangan dengan langkah gugup, meninggalkan Nayla dan Ruswanda dalam keheningan yang membebani. Dalam hati, Nayla bertanya-tanya apakah hubungannya dengan Ruswanda bisa bertahan setelah insiden ini.

Abidin keluar dari kantor itu dengan mengepalkan tangannya, wajahnya memerah. "Ah! Apa yang kamu lakukan, Nayla?" gumamnya dengan nada kesal. Dia merasa campur aduk, karena di dalam hatinya tersembunyi perasaan cinta yang tak pernah terungkap.

Di antara mereka, ketegangan dan rahasia terbuka. Nayla merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan semuanya, sementara Abidin harus menghadapi perasaannya sendiri. Langkah apa yang akan mereka ambil selanjutnya? Apakah cinta akan mengalahkan segala rahasia yang terbuka? Bab itu masih berlanjut..