Bab 15 Rahasia Malam

29 December 2025

Di koridor yang sepi, Abidin berdiri dengan wajah yang memerah. Perasaannya campur aduk, dendam dan cinta berbenturan di dalam hatinya. Pertama, Ruswanda telah merebut tahta perusahaan dari ayahnya. Abidin masih ingat betapa marahnya dia ketika melihat Ruswanda mengambil alih kendali, menggantikan posisi yang seharusnya menjadi milik ayahnya. Ambisi Ruswanda telah merenggut hak-haknya, dan dendam itu terus membara.

Namun, ada satu hal lagi yang membuat hati Abidin terluka. Ruswanda telah merebut hati Nayla, sekretaris muda yang selalu tampil dengan senyuman manis. Nayla, wanita yang selalu menghiasi ruang kerja Ruswanda dengan keceriaan dan ketulusan. Abidin tak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Nayla, tapi dalam diam, dia mencintainya dengan segenap hati.

Mata Abidin merah, dan dia menunggu kedatangan Nayla di koridor. Dia ingin berbicara dengannya, mengungkapkan perasaannya, tapi dia juga tahu bahwa ini adalah momen yang sulit. Dendam dan cinta saling berbenturan, dan dia harus memilih jalannya dengan bijaksana.

Tiba-tiba, langkah Nayla terdengar. Dia berjalan dengan langkah ringan, wajahnya cerah seperti biasa. Abidin menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Nayla," panggilnya dengan suara yang bergetar.

Nayla berhenti, menatap Abidin dengan heran. "Ada apa, Abidin?" tanyanya.

Abidin mencoba menemukan kata-kata yang tepat. "Aku... aku ingin bicara denganmu," ucapnya. "Sebenarnya, apa hubungan kamu dengan Ruswanda."

Nayla menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. “Abidin, itu bukan urusanmu, sudahlah. Kamu dipanggil Ruswanda, tapi tolong jangan bahas kami berdua, dia pasti akan marah.”

Abidin, masih kesal akhirnya iapun pergi menemui Ruswanda dan melaporkan data yang berasal dari perusahaan cabang.

“Abidin, aku tak mau kamu membuka rahasia ini, apabila rahasia terbongkar maka kamu adalah orang yang pertama aku pecat !” Kata Ruswanda.

“Baik pak.” Dengan rasa kesal akhirnya Abidin kembali ke tempat kerjanya di perusahaan cabang dengan perasaan campur aduk.

Sementara itu, di kantor cabang Sudarta duduk di meja kerjanya dengan wajah yang penuh perhitungan. Dia adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak rencana tersembunyi. Salah satunya adalah menjodohkan anaknya, Marcel, dengan anak Subroto, Rihana.

Sudarta tahu bahwa pernikahan antara Marcel dan Rihana akan menguntungkan perusahaan cabang mereka. Kedua keluarga memiliki pengaruh dan kekayaan yang dapat memperkuat posisi mereka dalam dunia bisnis. Sudarta membayangkan bagaimana kehadiran Marcel dan Rihana akan membawa sinergi dan keuntungan yang tak terduga.

Namun, di balik rencana itu, ada banyak pertimbangan. Marcel belum lulus dari kuliahnya, dan masa depannya masih samar. Sudarta berharap Marcel bisa menyelesaikan sidang skripsinya dengan baik dan mengikuti jejak ayahnya dalam mengelola perusahaan. Namun, apakah Marcel akan setuju dengan perjodohan ini? Dan bagaimana perasaan Rihana?

Sudarta mengalihkan perhatiannya dari lamunannya saat seorang karyawan bersih-bersih menyapa, "Selamat pagi, Pak!"

"Selamat pagi," balas Sudarta dengan senyum tipis. Dia merasa terganggu dari pikiran-pikiran yang memenuhi kepalanya. Kehadiran karyawan itu membawanya kembali ke dunia nyata.

"Apakah Bapak mau kopi?" tanya karyawan tersebut dengan ramah.

Sudarta menggeleng. "Tidak, terima kasih. Tolong buatkan teh manis saja. Saya sedang kena asam lambung."

Karyawan itu mengangguk dan pergi menuju pantry. Sudarta memandang keluar jendela, berusaha meredakan perasaannya. Di balik urusan bisnis dan rencana tersembunyi, ada kesehatannya yang harus dijaga. Teh manis mungkin hanya sebatas minuman, tapi di dalamnya terdapat harapan agar asam lambungnya mereda, seiring dengan segala perubahan yang sedang terjadi di perusahaannya.

Sudarta merasa campur aduk tentang rencana perjodohan anaknya. Di satu sisi, dia melihat potensi keuntungan bisnis dari pernikahan antara Marcel dan Rihana. Namun, disisi lain, dia juga menyadari bahwa perasaan anaknya harus diperhatikan. Sudarta berharap Marcel bisa mengikuti jejaknya dalam mengelola perusahaan, tapi dia juga ingin memastikan bahwa kebahagiaan dan cinta anaknya tidak terabaikan.

Sementara itu, Marcel duduk di perpustakaan kampus, ruangan yang penuh dengan aroma kertas dan pengetahuan. Buku-buku tebal menatapnya dari rak-rak, mengajaknya untuk memahami dunia dengan lebih dalam. Namun, dibalik semua itu, ada Rihana. Wanita yang ia kagumi, yang senyumnya selalu menghangatkan hatinya.

Setiap kali dia membuka buku, bayangan Rihana muncul. Bagaimana matanya berbinar saat berbicara tentang hak asasi manusia, bagaimana senyumnya merekah ketika dia menemukan solusi untuk masalah kompleks. Rihana adalah bintang yang terang di kegelapan rutinitas kuliah dan tugas-tugas akademis.

Di siang hari, Marcel merasa tegang. Dia telah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Rihana, wanita yang selalu menghiasi pikirannya. Dia menatap Rihana dengan hati berdebar, mencari tanda-tanda bagaimana Rihana akan merespons. Matanya memandang wanita itu dengan intensitas yang membuatnya semakin gugup.

"Hai, Rihana," kata Marcel dengan suara yang sedikit gemetar. "Bagaimana kabarmu?"

Rihana diam sejenak. Wajahnya tak berubah, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak terbaca. Marcel merasa dunia berhenti berputar. Apakah Rihana akan membalas perasaannya? Ataukah dia akan menolaknya dengan cuek?

"Baik, Kak," jawab Rihana dengan santai. Suaranya datar, tanpa ada getaran apa pun. Marcel merasa keheningan itu menusuk hatinya. Dia ingin tahu lebih banyak, menggali perasaan Rihana, tapi kata-kata terasa terjebak di tenggorokannya. Marcel semakin penasaran.

Marcel menggigit bibirnya, mencoba memberanikan diri. "Nanti malam, kamu ada waktu tidak?" ucapnya dengan suara yang sedikit gemetar.

Rihana menatapnya dengan wajah serius. "Maaf, Kak," jawabnya, "kemungkinan aku tidak bisa. Masih sibuk dengan menulis novel, Kak."

Marcel terkejut. Dia berharap Rihana akan setuju untuk bertemu. Tapi sepertinya novel itu menjadi prioritasnya. "oh begitu ! Kamu ternyata suka menulis, ya?" godanya.

Rihana hanya bisa menganggukan kepalanya dengan datar. "Iya," katanya singkat.

Marcel mencoba mengalihkan pembicaraan. "Tapi kalau aku sih sukanya baca novel," katanya dengan gombal.

Rihana menatapnya tajam. "Masa sih, Kak? Emangnya Kak Marcel suka novel karya siapa?" pertanyaannya membuat Marcel terjebak. Dia tidak pernah berpikir bahwa gombalannya akan membalikkan pertanyaan pada dirinya sendiri.

Rihana menatap Marcel dengan senyum yang menggoda. "Ternyata Kak Marcel hanya tertarik pada judulnya saja, ya?" katanya dengan nada menggoda.

Marcel menggaruk kepalanya, mencoba mengingat. "Eh, tapi ada satu judul yang pernah membuatku penasaran," ucapnya. "Judulnya... 'Cinta di Antara Lembaran Buku'."

Rihana terkejut. "Itu... itu judul novelku, kak!" serunya. "Kamu baca?"

Marcel mengangguk. "Iya, aku baca. Dan aku suka ceritanya. Tentang dua orang yang menemukan cinta di tengah buku-buku dan perpustakaan."

Rihana tersenyum lebar. "Aku juga suka menulis tentang cinta," katanya. "Mungkin kita bisa berbicara lebih banyak tentang novel-novel, kak"

Marcel merasa hatinya berbunga-bunga. Dia tidak pernah berpikir bahwa perjalanannya di antara lembaran buku akan membawanya pada cinta sejati.

Sore telah selesai, dan ruang keluarga berganti suasana menjadi malam. Sudarta, ayah Marcel, duduk di meja dengan istrinya. Di tengah keheningan, dia memanggil anaknya.

"Marcel!" serunya.

"Iya, Ayah. Ada apa?" tanya Marcel, wajahnya penuh perhatian.

"Hari ini, kamu kelihatannya senang banget. Ada apa, ya?" tanya Sudarta, mencoba menggali lebih dalam.

Marcel menggeleng. "Gak ada apa-apa, Ayah," jawabnya singkat.

Ayahnya hanya tersenyum. "Besok malam, kamu ada di rumah, kan? Tidak keluyuran?"

Marcel mengangguk. "Tidak, Ayah. Kenapa?"

Sudarta mengambil napas dalam-dalam. "Besok, Ayah mau bertemu dengan seorang investor. Ayah ingin memperkenalkan anak Ayah. Bagaimana menurut kamu?"

Marcel terkejut. "Wah! Pasti asyik ya, sudah. Besok saya ikut Ayah," jawabnya dengan semangat.

Di balik senyumnya, Sudarta merasa haru. Dia berharap pertemuan besok akan membawa perubahan positif bagi keluarganya. Dan di malam yang berubah, dia merasa beruntung memiliki anak seperti Marcel.