Nayla menatap alat tes kehamilan di tangannya, hatinya berdebar. Garis dua yang muncul menandakan sesuatu yang tak terduga. Dia berada di kamar mandi, terisolasi dari dunia luar. Suara Ruswanda, pacarnya, terdengar samar-samar melalui pintu.
“Nayla sayang, apakah kamu sedang berada di kamar mandi?” Sahut Ruswanda di luar.
Nayla menggigit bibirnya. Dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi kenyataan ini. Sejenak, dia merenung tentang perjalanan hidupnya. Bagaimana dia dan Ruswanda bertemu, jatuh cinta, dan menjadi pasangan yang tak terpisahkan. Mereka berdua selalu bercanda tentang masa depan, tentang memiliki anak, tentang membangun keluarga kecil yang bahagia.
Namun, sekarang, garis dua pada test pack itu seolah menjadi garis kehidupan yang membelah hatinya. Di satu sisi, ada kebahagiaan dan harapan. Di sisi lain, ada ketakutan dan keraguan. Dia tidak pernah membayangkan bahwa momen seperti ini akan datang begitu cepat.
Nayla merasakan detak jantungnya berpacu. Garis dua pada test pack mengubah segalanya. Di luar pintu kamar mandi, Ruswanda menunggu dengan tatapan penuh tanya. Nayla tahu dia harus menghadapinya.
“Apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Nayla, suaranya gemetar.
Ruswanda tersenyum, mendekat, dan menciumnya lagi. Bibir mereka bertemu dalam kehangatan. Hari itu, adalah hari milik mereka berdua. Nayla merasa api cinta membakar di dadanya.
“Sayang,” bisik Ruswanda, “kita akan menghadapinya bersama-sama.” Dia menggenggam tangan Nayla dengan lembut, menghapus keraguan dan ketakutan yang ada.
Nayla menghela nafas lega. Mereka berdua berpegangan tangan, menatap masa depan yang penuh misteri. Di pagi itu, cinta mereka terbakar lebih kuat dari sebelumnya.
Sementara itu, Sudarta menyesap kopi panasnya, memandangi gedung-gedung yang sedang direnovasi. Kebakaran kemarin telah meninggalkan bekas luka di perusahaan cabang ini. Dia berharap semuanya akan kembali normal segera.
Hari ini, dia harus menghadiri rapat penting. Sudarta mengenakan jasnya dengan hati-hati, memastikan setiap detail terlihat rapi. Sebagai manajer cabang, tanggung jawabnya besar. Tapi ada sesuatu yang tidak biasa hari ini.
Tiba di kantor, seseorang mengetuk pintu kantornya. “Maaf, Pak Sudarta, ada yang mau interview dengan Bapak,” kata staf personalia.
Sudarta mengangguk. “Suruh dia masuk.”
Pintu kantor terbuka, dan Sudarta merasa terkejut. Di hadapannya berdiri seorang pemuda tampan. Rambut hitamnya teratur, mata tajam, dan senyumnya menggoda. Ternyata, itu adalah putranya sendiri, Marcel.
Marcel selalu bermimpi bekerja di perusahaan ini. Dia telah menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan memiliki ambisi besar. Sudarta selalu mendukungnya, meskipun kadang-kadang khawatir tentang tekanan dan tanggung jawab yang akan dihadapinya.
“Selamat datang, Marcel,” kata Sudarta dengan bangga. “Kamu siap untuk wawancara?”
Marcel mengangguk. “Saya siap, Pak. Saya ingin membuktikan diri.”
Wawancara berlangsung dengan lancar. Marcel menjawab pertanyaan dengan percaya diri. Sudarta melihat semangat dan tekad di matanya. Dia tahu, putranya akan membawa perubahan positif.
Setelah wawancara, Sudarta memeluk Marcel. “Selamat, anakku. Kamu bagian dari perusahaan ini sekarang.”
Marcel tersenyum. “Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Anda.”
Sudarta merasa haru. Perubahan telah datang, dan dia yakin masa depan perusahaan akan lebih cerah dengan kehadiran Marcel. Mereka berdua berpegangan tangan, menghadapi tantangan baru bersama.
Marcel melangkah di koridor perusahaan, tas kulitnya menggantung di bahunya. Gedung yang sedang direnovasi terlihat sibuk dengan pekerjaan. Dia berpikir tentang wawancara tadi pagi dan bagaimana dia akan memulai perjalanan barunya di sini.
Tiba-tiba, dia melihat Abidin. Abidin adalah teman sejak SMA, dan mereka bertemu dalam satu waktu. Ayah Marcel, Pak Sudarta, telah memperkenalkan mereka. Abidin adalah salah satu karyawan yang dipercaya oleh Sudarta. Dia selalu membantu pekerjaan ayah Marcel.
Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Marcel merasakan ketegangan di udara saat Abidin mendekat. Senyumnya terlalu lebar, terlalu dipaksakan. Ada kilatan kebencian di matanya yang tidak bisa Marcel pahami.
“Marcel,” Abidin menyapa dengan suara bergetar. “Selamat datang di perusahaan.”
Marcel mengangguk sopan. “Terima kasih, Abidin.”
Namun, saat mereka berbicara, Marcel merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Abidin tidak hanya teman. Dia memiliki rencana terselubung, dendam yang telah lama disimpan.
Abidin telah menyusun rencananya dengan hati-hati. Dia tahu bahwa Sudarta adalah kunci untuk menghancurkan perusahaan ini. Sudarta percaya padanya, memberikan akses ke informasi penting. Abidin akan menggunakan kepercayaan itu untuk menggulingkan Sudarta.
“Bagaimana kabarmu, wahai kawanku?” kata Abidin dengan senyum yang terlalu lebar.
Marcel menghentikan langkahnya dan menatap Abidin. “Yah, beginilah keadaanku. Sejak aku kuliah, aku belum pernah mengalami pekerjaan. Aku sangat berterima kasih padamu, ternyata selama ini kamu telah membantu pekerjaan ayahku, Abidin.”
Abidin mengangguk. “Tidak perlu berterima kasih, Marcel. Ayahmu adalah orang baik, dan aku senang bisa membantu.”
Marcel dan Abidin adalah sahabat yang solid. Mereka telah melewati banyak hal bersama sejak SMA. Namun, ada satu rahasia yang Marcel tidak pernah tahu: siapa sebenarnya ayah Abidin.
Ayah Abidin adalah seorang koruptor licik. Dia telah mempermainkan banyak orang, termasuk Sudarta, ayah Marcel. Sudarta adalah seorang manajer di perusahaan Cabang milik Ruswanda, tempat Marcel baru saja bekerja.
hari semakin sore dan matahari sudah mulai tenggelam, abidin mencoba untuk mendekati marcel, siapa tahu marcel mengetahui rahasia kelemahan ayahnya sudarta sehingga bisa menggulingkan dari tahtanya di perusahaan cabang.
“marcel, bagaimana kalau saya ikut pulang bersama kamu ?’ kata Abidin.
“boleh, mari kita pulang bersama, mengenang masa SMA kita dulu.” jawab Marcel.
Marcel dan Abidin berjalan menuju mobil. Matahari semakin merosot, meninggalkan jejak keemasan di langit. Abidin memandang Marcel dengan ketegangan. Mereka masuk ke dalam mobil, mesin berdentum. Marcel memandang jalan yang terbentang di depannya. Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di tengah jalan. Marcel hampir saja menabraknya.
“Endah?” seru Marcel, dia langsung turun dari mobil. “Apa kamu baik-baik saja?”
Endah, seorang wanita cantik dengan mata yang tajam, menatap Marcel. “Marcel? Kenapa kamu ada disini?”
Marcel terkejut. Endah adalah mantan pacarnya dari masa SMA. Mereka berpisah dengan pahit setelah lulus. Namun, kenangan tentang Endah selalu menghantuinya.
“Endah,” kata Marcel, “lama kita tidak bertemu.”
Endah berjalan menjauh, meninggalkan Marcel yang masih terdiam. Kenangan tentang masa lalu membanjiri pikirannya. Bagaimana mereka dulu begitu dekat, namun akhirnya harus berpisah dengan perasaan yang rumit.
Abidin melihat kebingungan di wajah Marcel. “Marcel, apa hubunganmu dengan Endah?”
Marcel menggeleng. “Kami dulu pacaran saat SMA. Tapi semuanya berakhir buruk.”
Abidin menatap Endah yang semakin menjauh. “Bagus, mungkin ini salah satu kesempatanku untuk menghancurkan marcel juga.?” gumamnya,
Malam semakin gelap. Mereka kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Marcel merenung tentang masa lalu dan masa depan. Apakah Endah memiliki jawaban yang dia cari? Abidin memperhatikan mereka dengan curiga. mugkinkah, Apa hubungan antara Marcel dan Endah? ikuti kisah selanjutnya..