Bab 20 Pencarian Kebenaran

15 January 2026

Pagi yang sangat cerah, matahari tersenyum melihat para pekerja bekerja dengan semangat menuju pabrik. Sudarta sudah berada di kantornya pagi-pagi, melihat kondisi karyawannya bekerja dengan semangat. Abidin, asisten keuangan, datang dengan membawa laporan bulanan.

“Hari ini, laporan keuangan kita semakin meningkat, Pak Sudarta,” katanya dengan senyum lebar. “Para investor sudah banyak yang ingin bekerja sama dengan kita.”

“Baiklah, terima kasih Abidin, saya simpan dulu laporan ini, ya,” jawab Sudarta sambil menerima laporan tersebut.

Hari itu, suasana di pabrik sangat sibuk. Mesin-mesin berdengung, para pekerja bergerak cepat, dan aroma kopi pagi memenuhi udara. Sudarta berjalan mengelilingi pabrik, menyapa para pekerja dan memastikan semuanya berjalan lancar.

Di sudut pabrik, seorang pekerja bernama Rina sedang berjuang dengan mesin yang macet. Sudarta mendekat dan membantu Rina memperbaiki mesin tersebut. “Terima kasih, Pak Sudarta,” kata Rina dengan wajah lega.

“Tidak masalah, Rina. Kita semua bekerja sama di sini,” jawab Sudarta dengan senyum.

Sementara itu, di ruang rapat, Abidin sedang mempersiapkan presentasi untuk para investor yang akan datang siang itu. Dia memastikan semua data dan grafik sudah siap, dan tidak ada detail yang terlewatkan.

Ketika para investor tiba, Sudarta dan Abidin menyambut mereka dengan hangat. Presentasi berjalan lancar, dan para investor terlihat puas dengan perkembangan perusahaan. Setelah pertemuan, salah satu investor, Pak Budi, mendekati Sudarta.

“Saya sangat terkesan dengan kemajuan perusahaan Anda, Pak Sudarta. Saya yakin kita bisa bekerja sama dengan baik,” kata Pak Budi.

“Terima kasih, Pak Budi. Kami juga berharap kerjasama ini akan membawa manfaat besar bagi kedua belah pihak,” jawab Sudarta dengan penuh keyakinan.

Hari itu berakhir dengan sukses besar. Para pekerja pulang dengan senyum di wajah mereka, merasa bangga dengan apa yang telah mereka capai. Sudarta duduk di kantornya, merenung tentang hari yang penuh tantangan namun membuahkan hasil yang memuaskan.

Sementara itu,Di kantor cabang yang megah, Ruswanda duduk dengan tenang di kursi putarnya. Sebagai seorang direktur, ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar. Namun, ada satu rahasia gelap yang menghantui hidupnya: hubungannya dengan Nayla, sekretaris pribadinya. Pagi itu, Nayla tiba-tiba datang ke kantor dan duduk di samping meja Ruswanda.

“Sayangku, bagaimana kabarnya?” sahut Ruswanda sambil memeluknya dan mencium pipinya. Namun, Nayla hanya bisa diam saja dan tidak membalas senyumannya.

“Mas,” kata Nayla dengan suara bergetar, menelan salivanya. “Aku hamil.”

Ruswanda terkejut. Bagaimana mungkin Nayla bisa hamil? Ia semakin tidak percaya dan marah. “Tidak mungkin, Nayla. Kamu bohong!!” serunya dengan nada tinggi.

Nayla dengan tangan gemetar menunjukkan test pack yang menunjukkan hasil positif. Namun, Ruswanda tetap tidak percaya. Ia merasa dikhianati dan bingung. Untuk membuktikan ketidak percayaannya, Ruswanda mengambil sebuah amplop dari laci mejanya dan menyerahkannya kepada Nayla.

“Baca ini,” katanya dengan suara dingin.

Nayla membuka amplop itu dan membaca surat keterangan medis yang menyatakan bahwa Ruswanda mandul untuk selamanya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak percaya atas semua yang terjadi. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

Setelah kejadian itu, Nayla merasa hancur. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk mencari kebenaran tentang kehamilannya. Nayla mengunjungi beberapa dokter untuk memastikan hasil test pack tersebut. Setiap dokter yang ia temui mengonfirmasi bahwa ia memang hamil.

Sementara itu, Ruswanda juga merasa bingung dan marah. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Nayla hamil. Namun, harapan itu segera sirna. Dengan berat hati, Ruswanda memutuskan untuk mengusir Nayla dari perusahaan. Ia menuduh Nayla hamil hanya untuk menguasai sebagian harta kekayaannya. “Kamu hanya ingin memanfaatkan aku, Nayla. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” katanya dengan dingin.

Nayla merasa hancur. Ia tidak percaya bahwa Ruswanda bisa begitu kejam. Namun, ia tidak punya pilihan lain selain pergi. Dengan hati yang berat, Nayla meninggalkan kantor dan memulai hidup baru.

Beberapa minggu kemudian, kebenaran akhirnya terungkap. Ruswanda menemukan bahwa surat keterangan medis yang menyatakan bahwa ia mandul sebenarnya tertukar dengan surat istrinya. Istrinya yang sebenarnya mandul, bukan Ruswanda. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia lakukan kepada Nayla.

“Wati!” Ruswanda menatap istrinya dengan penuh amarah, matanya berkilat-kilat.

“Apa yang kamu lakukan padaku? Kenapa kamu menukarkan identitas medis ini bahwa aku itu mandul?” katanya dengan suara bergetar menahan emosi.

“Apa maksudmu, Pah ? Kamu darimana saja?” balas Wati dengan nada tajam, tidak mau kalah. Sejak awal, ia sudah curiga bahwa suaminya selingkuh di belakangnya.

Ruswanda mendekat, wajahnya semakin merah. “Apakah benar? Kamu yang mandul? Kamu tidak bisa hamil bukan berarti aku mandul!” katanya dengan nada penuh tuduhan.

Wati terdiam sejenak, lalu menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Papah, aku melakukan ini karena aku takut kehilanganmu. Aku tahu kamu ingin anak, tapi aku tidak bisa memberikannya. Aku hanya ingin kita tetap bersama,” jawabnya dengan suara bergetar.

Ruswanda tertegun, hatinya bercampur aduk antara marah dan kasihan. “Tapi, Wati, kamu tidak bisa membohongi aku seperti ini. Ini bukan cara yang benar,” katanya dengan suara lebih lembut, namun tetap tegas.

Wati menunduk, air mata mulai mengalir di pipinya. “Maafkan aku, Papah. Aku hanya ingin kita bahagia,” bisiknya.

Ruswanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Kita harus mencari solusi bersama, Wati. Kebohongan hanya akan menghancurkan kita,” katanya sambil meraih tangan istrinya.

Mereka berdua terdiam, merenungi masa depan yang penuh ketidakpastian. Namun, di dalam hati mereka, ada harapan bahwa cinta dan kejujuran akan membawa mereka melewati semua cobaan ini.

“Maafkan aku, Mah,” kata Ruswanda dengan suara bergetar, matanya penuh penyesalan. “Aku memang selingkuh darimu, dan aku telah berbuat kesalahan. Aku telah menghamili anak orang.”

Wati terdiam sejenak, lalu melepaskan pelukannya dari Ruswanda dengan cepat. “Apa maksudmu, Pah?” suaranya meninggi, penuh dengan ketidakpercayaan dan kemarahan.

Ruswanda menundukkan kepala, terasa berat untuk melanjutkan. “Aku telah menodai seorang gadis sehingga dia hamil. Aku hanya ingin punya anak, Mah. Tapi perempuan itu sudah diusir dari kantorku, dan aku tidak tahu lagi kemana dia pergi. Nayla tidak bisa ditemukan lagi, seperti menghilang ditelan bumi.”

Wati menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, hatinya hancur berkeping-keping. “Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku, Pah? Bagaimana bisa kamu menghancurkan hidup kita seperti ini?” suaranya bergetar, penuh dengan rasa sakit dan pengkhianatan.

Ruswanda mencoba mendekat, namun Wati mundur, menolak sentuhannya. “Aku tidak tahu harus bagaimana, Mah. Aku hanya ingin kita punya anak,” katanya dengan suara lirih, penuh penyesalan.

Wati menggelengkan kepala, air mata mengalir deras di pipinya. “Anak? Kamu pikir anak bisa menggantikan kepercayaan yang sudah kamu hancurkan? Kamu pikir anak bisa menyembuhkan luka ini?” katanya dengan suara serak.

Ruswanda terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Mereka berdua terjebak dalam keheningan yang menyakitkan, merenungi masa depan yang kini terasa begitu suram dan penuh ketidakpastian.

Wati menghapus air matanya dengan kasar, lalu menatap Ruswanda dengan tatapan yang tak pernah dilihat sebelumnya. “Kamu harus pergi sekarang, Pah,” katanya dengan suara yang dingin dan tegas. “Aku butuh waktu untuk berpikir.”

Ruswanda membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi Wati mengangkat tangan, menghentikannya. “Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Pergilah.”

Dengan langkah berat, Ruswanda meninggalkan rumah itu, meninggalkan Wati yang berdiri di ambang pintu, hatinya penuh dengan kebingungan dan rasa sakit. Di luar, hujan mulai turun, seolah-olah langit pun menangisi nasib mereka.

Wati menutup pintu dengan pelan, lalu bersandar di sana, tubuhnya gemetar. Di dalam pikirannya, satu pertanyaan terus berputar: Apa yang akan terjadi selanjutnya?