Ruswanda duduk di kursi kantornya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Malam itu, setelah diusir oleh istrinya, Wati, dia tidak punya tempat lain untuk pergi. Kantor menjadi tempat perlindungannya, meskipun dingin dan sepi. Pagi yang cerah datang, tetapi hatinya tetap kelam. Karyawan-karyawannya mulai berdatangan, dan bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan.
“Apa yang terjadi dengan Pak Ruswanda? Kenapa dia tidur di kantor?” tanya seorang karyawan dengan nada penasaran.
“Katanya dia selingkuh dengan sekretarisnya,” jawab yang lain dengan nada berbisik, seolah takut terdengar oleh Ruswanda.
Ruswanda hanya bisa mendengar bisikan-bisikan itu tanpa bisa membela diri. Dia tahu bahwa kebenaran lebih menyakitkan daripada gosip yang beredar.
Suatu hari, Abidin, anak Mustafa, datang mengunjungi kantor pusat bersama Sudarta. Abidin adalah seorang pemuda yang penuh semangat, tetapi hari itu, semangatnya tampak redup. Dia melihat keadaan Ruswanda yang tampak lesu dan penuh beban. Abidin merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Pak Ruswanda, apa yang terjadi? Kenapa Anda terlihat begitu tertekan?” tanya Abidin dengan nada prihatin.
Ruswanda hanya menggelengkan kepala, tidak mampu menjawab. Abidin merasa hatinya semakin berat. Dia teringat pada Nayla, gadis yang pernah mengisi hatinya dengan cinta yang tulus. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Nayla, dan kini dia merasa ada sesuatu yang hilang.
Abidin duduk di sudut ruangan, merenung. “Jangan-jangan Nayla hamil?” gumamnya dalam hati. Pikiran itu membuatnya merasa sangat sakit. Cinta yang pernah terpendam kini berubah menjadi rasa sakit yang mendalam.
Sudarta, yang duduk di sebelahnya, melihat perubahan ekspresi di wajah Abidin. “Ada apa, Din? Kamu kelihatan sangat gelisah,” tanya Sudarta dengan nada khawatir.
Abidin hanya bisa menggelengkan kepala. “Aku hanya berpikir tentang Nayla. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku khawatir ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
Sudarta menepuk bahu Abidin dengan lembut. “Kita akan mencari tahu, Din. Jangan khawatir. Kita akan menemukan Nayla dan memastikan dia baik-baik saja.”
Sementara itu, Ruswanda terus berjuang dengan rasa bersalah dan penyesalan. Dia tahu bahwa kesalahannya telah menghancurkan hidup banyak orang, termasuk dirinya sendiri. Setiap malam, dia berdoa agar bisa menemukan Nayla dan memperbaiki kesalahannya.
“Sialan, brengsek kau Ruswanda!” teriak Nayla di sebuah pinggiran restoran. Matanya berkilat marah, wajahnya memerah. “Berani-beraninya kamu usir aku, suatu saat aku pasti akan membalasmu, Ruswanda.” Kata-kata itu keluar dengan penuh dendam dan kepedihan. Nayla, wanita yang pernah mencintai Ruswanda dengan sepenuh hati, kini berdiri di hadapannya dengan hati yang hancur.
Setelah diusir oleh Ruswanda, Nayla hidup sendirian. Dia berusaha bangkit dari keterpurukan dan memulai hidup baru. Suatu hari, dia bertemu dengan seorang saudagar kaya raya bernama Adrian. Adrian adalah pria yang penuh perhatian dan kasih sayang. Mereka berdua saling jatuh cinta, dan Nayla merasa menemukan kembali kebahagiaannya yang hilang.
Nayla menyembunyikan kehamilannya dari Ruswanda. Dia tahu bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil dari hubungannya dengan Ruswanda, tetapi dia tidak ingin mengungkapkan hal itu kepada Adrian. Adrian, yang tidak mengetahui kebenaran, dengan senang hati menerima Nayla dan anak yang dikandungnya.
Adrian membawa Nayla keluar negeri, jauh dari segala kenangan buruk yang pernah dialaminya. Mereka menetap di Amerika Serikat, di mana Adrian memiliki bisnis yang sukses. Nayla merasa hidupnya mulai membaik, meskipun bayangan masa lalunya dengan Ruswanda masih menghantui.
Setelah beberapa tahun, Nayla dan Adrian menikah. Pernikahan mereka dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat. Nayla merasa bahagia, tetapi di dalam hatinya, dia masih menyimpan rasa sakit dan dendam terhadap Ruswanda. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari dia akan membalas perlakuan Ruswanda.
Kini, Nayla hidup di Amerika Serikat bersama Adrian dan anak mereka. Dia menjalani kehidupan yang nyaman dan penuh cinta. Namun, setiap kali dia melihat anaknya, dia teringat pada Ruswanda dan rasa sakit yang pernah dia alami. Nayla berusaha untuk melupakan masa lalunya, tetapi bayangan itu selalu kembali menghantui.
Meskipun hidupnya kini bahagia, Nayla tidak bisa melupakan janji yang pernah dia buat kepada dirinya sendiri. Dia mulai merencanakan cara untuk membalas dendam kepada Ruswanda. Nayla tahu bahwa balas dendam tidak akan menghapus rasa sakitnya, tetapi dia merasa itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan keadilan.
Berbeda dengan Abidin, seorang lelaki yang pernah jatuh cinta dengan Nayla. Abidin adalah seorang pria yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Namun, hidupnya berubah ketika dia bertemu dengan seorang gadis yang menarik hatinya. Gadis itu bernama Destia. Pertemuan mereka terjadi di sebuah bar diskotik yang ramai. Destia, dengan senyum manis dan mata yang berkilau, langsung menarik perhatian Abidin. Mereka berbicara sepanjang malam, dan Abidin merasa ada sesuatu yang istimewa tentang Irma.
Suatu hari, Abidin bertemu dengan sahabatnya, Marcel, di sebuah kafe. Mereka duduk di sudut ruangan, menikmati kopi dan berbicara tentang kehidupan. Abidin tidak bisa menahan diri untuk menceritakan tentang Destia kepada Marcel.
“Marcel, aku bertemu dengan seorang gadis yang luar biasa,” kata Abidin dengan mata berbinar. “Namanya Destia. Aku bertemu dengannya di sebuah bar diskotik. Dia cantik sekali, dan kami berbicara sepanjang malam. Aku merasa ada sesuatu yang istimewa tentangnya.”
Marcel tersenyum mendengar cerita sahabatnya. “Wah, sepertinya kamu benar-benar terpikat, Din. Apa rencanamu selanjutnya?”
Abidin tidak bisa berhenti memikirkan Destia. Dia memutuskan untuk mengajaknya keluar untuk makan malam. Destia menerima ajakan Abidin dengan senang hati. Mereka pergi ke sebuah restoran mewah dan menikmati malam yang indah bersama. Abidin merasa semakin yakin bahwa Destia adalah orang yang tepat untuknya.
Seiring berjalannya waktu, Abidin dan Destia semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang impian dan harapan mereka. Abidin merasa nyaman dan bahagia setiap kali bersama Destia. Dia merasa telah menemukan seseorang yang benar-benar memahami dan mendukungnya.
Namun, hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus. Ada saat-saat di mana mereka menghadapi tantangan dan ujian. Abidin harus belajar untuk lebih sabar dan pengertian, sementara Irma harus belajar untuk lebih terbuka dan jujur. Meskipun begitu, mereka selalu berhasil mengatasi setiap masalah yang datang.
Setelah beberapa bulan bersama, Abidin merasa sudah saatnya untuk mengambil langkah besar dalam hubungannya dengan Destia. Dia memutuskan untuk melamar Destia. Dengan hati yang berdebar, Abidin mengajak Destia ke tempat pertama kali mereka bertemu, di bar diskotik itu.
“Destia, sejak pertama kali kita bertemu, aku tahu ada sesuatu yang istimewa tentangmu. Kamu telah membuat hidupku lebih berwarna dan berarti. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Will you marry me?” tanya Abidin dengan penuh harap.
Destia tersenyum dan matanya berkaca-kaca. “Ya, Kang Mas Abidin. Aku juga ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.”
Abidin dan Destia menikah dalam sebuah upacara yang indah, dihadiri oleh keluarga dan teman-teman terdekat mereka. Marcel, sahabat Abidin, menjadi saksi kebahagiaan mereka. Abidin merasa hidupnya kini lengkap dengan kehadiran Destia di sisinya.
Cerita ini adalah tentang cinta yang tumbuh dari pertemuan tak terduga, tentang bagaimana dua hati yang saling menemukan bisa menghadapi segala tantangan dan ujian, dan tentang keputusan besar yang membawa mereka ke awal yang baru. Abidin dan Destia kini menjalani hidup mereka bersama, penuh cinta dan kebahagiaan. lalu bagaimana dengan kehidupan Marcel ? dalam benaknya masih tersimpan dua wanita antara Rihana dan Endah, siapakah yang akan dinikahi Marcel ? tentuya cerita ini masih tetap berlajut.