Drama

Bab 22 Cinta Ditolak Mantan

17 January 2026

Di pagi hari yang sangat cerah, Marcel duduk di bangku taman, merenungkan dilema besar yang menghantui pikirannya. Di satu sisi, ada Endah, wanita yang telah lama ia kenal dan kagumi. Endah adalah seorang guru yang penuh kasih sayang, selalu sabar dan bijaksana dalam mengajar anak-anak didiknya. Sifat keibuannya terpancar jelas, membuat Marcel merasa nyaman dan tenang setiap kali berada di dekatnya. Endah adalah sosok yang dewasa, mampu memberikan nasihat yang bijak dan selalu siap mendukung Marcel dalam setiap langkah hidupnya.

Disisi lain, ada Rihana, gadis muda yang baru saja lulus dari universitas. Rihana adalah sosok yang ceria dan penuh semangat, selalu membawa keceriaan di setiap kesempatan. Namun, sifat kekanak-kanakannya masih terlihat jelas, membuat Marcel sering kali merasa ragu apakah Rihana siap untuk hubungan yang serius. Meskipun begitu, pesona dan energi positif Rihana membuat Marcel merasa hidupnya lebih berwarna dan penuh petualangan.

Marcel teringat saat-saat indah bersama Endah, ketika mereka berjalan-jalan di taman sambil berbicara tentang impian dan harapan masa depan. Endah selalu mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan pandangan yang matang dan bijaksana. Di sisi lain, Marcel juga teringat momen-momen menyenangkan bersama Rihana, ketika mereka tertawa bersama di kafe favorit mereka, menikmati setiap detik kebersamaan dengan penuh kegembiraan.

Dilema ini semakin membuat Marcel bingung. Ia tahu bahwa memilih Endah berarti memilih kestabilan dan kedewasaan, sementara memilih Rihana berarti memilih keceriaan dan semangat muda. Marcel menyadari bahwa keputusan ini tidak hanya akan mempengaruhi hidupnya, tetapi juga perasaan kedua wanita yang ia cintai.

Di akhir hari yang panjang, Marcel menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang memilih antara dua orang, tetapi juga tentang memahami dan menghargai perasaan masing-masing. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat keputusan yang terbaik, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk Endah dan Rihana.

Untuk itulah, Marcel lebih memilih Endah sebagai calon pendampingnya. Akan tetapi, sifat Endah yang sulit dimengerti membuat Marcel kesulitan menemukan jati dirinya. Sekali lagi, ia menghampiri taman kanak-kanak, hanya untuk bertemu dengan Endah. Ia mencoba lagi untuk melamar Endah. Jadi, apa salahnya jika Marcel selalu berharap kepadanya.

Di saat jam istirahat, Marcel pun memanggil salah satu anak yang ada di taman kanak-kanak itu, lalu ia memberikan sepucuk surat cinta kepada Endah.

“Adik yang manis, om mau bantuan dong,” kata Marcel.

“Bantuan apa, om?” tanya anak kecil itu.

“Om minta tolong, kasihkan surat ini ke Ibu Endah, ya! Katakan ini dari om pengagum rahasia. Dan ini buat adik, ya,” kata Marcel sambil memberikan permen pada anak itu.

“Terima kasih, om. Saya kasih kertas ini dulu, ya,” katanya, lalu anak itu berlalu pergi.

Setelah surat itu sampai, Endah merasa kebingungan dengan hadirnya surat kaleng itu, sebab surat itu tak ada nama siapapun. Surat itu entah dari mana asalnya, sehingga penasaran, ia membuka surat itu. Dan isinya sebuah puisi yang sangat indah:

“Di bawah langit biru, hatiku berbisik Tentang cinta yang tulus, tak pernah terusik Endah, namamu terukir di dalam sanubari Seperti bintang yang bersinar di malam hari.”

Endah tersenyum membaca puisi itu, namun ia masih bertanya-tanya siapa pengirimnya. Sementara itu, Marcel menunggu dengan harap-harap cemas di luar taman kanak-kanak, berharap Endah akan menerima perasaannya.

Hari-hari berlalu, dan Marcel terus mengirimkan surat-surat cinta kepada Endah melalui anak-anak di taman kanak-kanak. Setiap surat berisi puisi yang menggambarkan perasaan Marcel yang tulus dan mendalam. Endah mulai merasakan kehangatan dan ketulusan dari surat-surat itu, meskipun ia masih belum tahu siapa pengirimnya.

Suatu hari, Endah memutuskan untuk mencari tahu siapa pengagum rahasianya. Ia mengamati setiap anak yang datang membawa surat, dan akhirnya ia melihat Marcel yang berdiri di kejauhan, memperhatikan dengan cemas. Endah berjalan mendekati Marcel.

“Marcel, apakah kamu yang mengirimkan surat-surat ini?” tanya Endah dengan kasar.

Marcel terkejut, namun ia mengangguk pelan. “Iya, Endah. Aku yang mengirimkan surat-surat itu. Aku ingin kamu tahu betapa aku mencintaimu dan ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.”

Endah Pun merasa cuek, lalu ia berkata, “Sebenarnya, ada apa kamu ke sini?”

“Endah, se… sebenarnya, aku ingin melamarmu. Aku ingin engkau selalu di sampingku. Sudah beberapa lama kita tidak pernah bertemu, ternyata hati ini tidak bisa berpaling darimu. Jadi, terimalah aku apa adanya,” kata Marcel. Tiba-tiba Marcel memegang tangan Endah dan memasukkan sebuah cincin di jemari manisnya. Namun…

“Cuiwh! Untuk apa kamu masih berharap padaku?” Marcel pun kaget dan terkejut dengan ucapannya.

“Sudah aku bilang, jangan pernah lagi kamu mengurusi hidupku. Aku sudah lelah dengan kamu sejak awal kita berjumpa. Jadi, untuk apa kamu masih mengejarku?” kata Endah yang begitu menyakitkan bagi Marcel. Endah pun hanya bisa pasrah sehingga ia mengeluarkan air matanya, kemudian ia berlalu pergi. Tapi, sebelum pergi, lagi-lagi tangannya ditarik oleh Marcel sehingga ia sulit untuk melepaskannya.

“Endah! Dengarkan aku dulu. Aku bersungguh-sungguh ingin menjadi pendampingmu. Apakah kamu tidak pernah mencintaiku?” kata Marcel berharap ada jawaban terbaik darinya.

“Dengarkan, Marcel! Aku tidak pernah mencintaimu sedikitpun. Kamu hanyalah orang melarat dan miskin. Jadi, untuk apa kamu mau mendekatiku jika kamu tak akan pernah menjadi orang kaya!” Setelah mendengar apa yang dikatakan Endah, kini Marcel baru menyadari, ternyata selama ini Endah hanyalah mengejar harta yang dimiliki oleh Marcel. Saat itu juga, Marcel melepaskan tangannya dan membiarkan Endah pergi jauh darinya. Marcel terdiam dan terpaku mendengar kata-katanya itu, sehingga ia pulang dengan tangan kosong, tanpa cinta dan tanpa harapan lagi. Rasa sakit yang dia rasakan kini membuatnya geram dalam hatinya.

Endah telah berlalu pergi, rupanya Endah tidak pernah tahu identitas Marcel. Sejak sekolah di menengah kejuruan, memang Marcel tidak pernah memperlihatkan sosok sebagai anak orang kaya. Ia selalu hidup sederhana seperti orang miskin. Sehingga, tak ada seorang pun yang tahu bahwa Marcel adalah seorang anak yang terlahir dari orang kaya, sebab ayahnya bekerja di salah satu perusahaan PT.RSTI dan menjadi kepala cabang di sana. Dan kini, Marcel pun bekerja menjadi bagian darinya.

Marcel kembali ke rumah dengan hati yang hancur. Ia merasa dikhianati oleh cinta yang selama ini ia perjuangkan. Namun, di balik kesedihannya, Marcel menyadari bahwa ia harus bangkit dan melanjutkan hidupnya. Ia memutuskan untuk fokus pada pekerjaannya dan membuktikan bahwa ia bisa sukses tanpa harus bergantung pada harta keluarganya.

Waktu berlalu, dan Marcel berhasil meraih banyak prestasi di perusahaan tempat ia bekerja. Ia menjadi sosok yang dihormati dan dikagumi oleh rekan-rekannya. Namun, di dalam hatinya, masih tersimpan luka dari penolakan Endah.

“Marcel, anakku, akhirnya kamu meraih banyak prestasi di perusahaan Pak Ruswanda. Bapak akan memberikan kejutan padamu. Besok malam, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Bagaimana, kamu setuju?” kata Sudarta, ayahnya Marcel.

Marcel terkejut dengan ucapan ayahnya. Siapakah gerangan yang akan dipertemukan dengan Marcel?

Keesokan malamnya, Marcel menunggu dengan perasaan campur aduk. Pintu rumah terbuka perlahan, dan sosok yang tak terduga muncul di ambang pintu. Marcel merasa jantungnya berdegup kencang. Apakah ini awal dari sesuatu yang baru atau justru akan membawa kenangan lama kembali?