Kedekatan yang Tertutup Bayangan
Televisi di ruang tengah berderit pelan ketika layar menampilkan sosok yang selama beberapa hari terakhir membebani pikiran Hanum. Firdaus. Ayahnya. Lengkap dengan setelan jas abu-abu, dasi merah yang mencolok dan senyum penuh percaya diri yang seolah tak pernah tercoreng masalah. Di sampingnya, deretan anggota dewan lainnya tertawa, bertepuk tangan ketika ia berdiri dan melontarkan pidato singkat.
“Sebagai perwakilan rakyat, saya berkomitmen untuk terus menjaga integritas dan membela kepentingan masyarakat!” suara lantang Firdaus memenuhi ruang.
Hanum membeku. Jantungnya serasa melompat keluar. Pandangannya kabur, seakan semua suara di sekelilingnya redup, kecuali satu, tawa ayahnya.
Sebuah ironi pahit. Beberapa waktu lalu, hidupnya berantakan karena nama ayahnya itu. Hanum menyaksikan sendiri bagaimana kekuasaan bisa menciptakan permainan licik, menggiring orang lain dalam pusaran dosa yang bukan miliknya. Namun, kini seakan semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk yang tak pernah eksis.
Tangannya gemetar, remote televisi nyaris terlepas dari genggaman. “Tidak mungkin. Bagaimana bisa?” bisiknya hampir tak terdengar.
Langkah berat terdengar dari arah dapur. Al muncul, mengenakan kaos hitam polos dan celana santai dengan tatapan tajam yang langsung tertuju pada layar. Kedua alisnya terangkat sedikit, lalu bergeser ke arah Hanum yang pucat pasi.
“Matikan.” Hanya satu kata, dingin dan tegas.
Hanum menoleh, menelan ludah. “Itu ayahku, Al. Dia, dia kembali seperti.”
“Aku bilang, matikan.” Suaranya meninggi, bukan karena marah padanya, melainkan pada kenyataan yang terpampang jelas di layar.
Dengan tangan gemetar, Hanum menekan tombol power. Layar redup, meninggalkan bayangan hitam yang membingkai wajahnya yang murung.
Keheningan menyusup. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Al berjalan pelan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Hanum. Tatapannya menusuk, namun ada keteduhan samar yang terselip di sana.
“Kau tak perlu lagi mengikat dirimu pada dia,” katanya datar.
Hanum mendongak. “Bagaimanapun juga, dia ayahku.”
“Dan bagaimanapun juga, dia sudah menyeretmu ke dunia yang kotor.”
Hanum terdiam. Napasnya tercekat. Ia tahu ada kebenaran di balik kalimat itu, tapi hatinya menolak. Ada luka lama yang terus meronta setiap kali nama Firdaus disebut.
Al berjongkok sejajar dengan Hanum yang masih duduk di sofa. Matanya menatap lurus ke wajah gadis itu. “Dengarkan aku, Hanum. Kau di sini karena aku mengizinkannya. Kau selamat, karena aku memilih menjagamu. Jadi berhenti berharap pada seseorang yang bahkan tak pernah melindungimu.”
Kata-katanya keras, tapi suara Al sedikit bergetar. Seolah ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar amarah.
Hanum meremas ujung bajunya. “Kenapa kau selalu bicara seolah aku milikmu?”
Al terdiam. Sekilas matanya berkilat, seperti ada yang ingin diucapkan namun ditahan. Ia berdiri, menyandarkan tubuh ke dinding, lalu menyilangkan tangan. “Karena kenyataannya memang begitu.”
Hanum tercekat. “Aku bukan barang.”
“Tidak. Kau bukan barang.” Al menunduk sedikit, senyumnya tipis tapi penuh ironi. “Justru karena itu, aku tak akan membiarkan siapapun menyentuhmu.”
Malam itu, suasana di rumah begitu hening. Hanum mencoba membaca buku, tapi pikirannya terus berputar pada dua sosok, ayahnya di layar televisi dan Al yang duduk tak jauh darinya dengan tatapan dingin namun protektif.
Beberapa kali Hanum mencuri pandang, memperhatikan rahang Al yang tegas, sorot mata yang tajam setiap kali ia melirik ke arah pintu, seakan bersiaga. Ada sesuatu di dalam dirinya yang aneh. Rasa aman bercampur dengan ketakutan.
“Kenapa kau selalu menjaga jarak seperti itu?” Hanum tiba-tiba bertanya, menurunkan bukunya.
Al melirik sebentar. “Jarak?”
“Ya. Kau seperti pagar yang tinggi. Kau menjagaku, tapi juga mengurungku.”
Al tidak langsung menjawab. Ia bangkit, berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di depan Hanum. “Lebih baik terkurung, tapi selamat, daripada bebas lalu hancur.”
Hanum mendengus, menatap ke bawah. “Kau tidak mengerti perasaanku.”
“Tentu saja aku mengerti.” Suara Al menurun, nyaris berbisik. “Kau marah, kau merasa terjebak, tapi kalau aku tidak melakukannya, apa kau pikir semua pria di luar sana akan memperlakukanmu dengan hormat?”
Hanum mendongak, menatap tajam. “Termasuk kau?”
Pertanyaan itu menghantam keras. Al menahan napas sejenak, lalu mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter. “Aku justru satu-satunya alasan kau masih bisa menatap dunia dengan mata jernih seperti itu.”
Wajah Hanum memerah. Ia buru-buru berdiri, mendorong pelan dada Al. “Kau terlalu percaya diri.”
Senyum tipis muncul di wajah pria itu. “Atau mungkin, kau yang mulai menyadarinya.”
Keesokan harinya, sebuah kejadian kecil memicu konflik baru. Hanum sedang duduk di balkon, menikmati udara pagi, ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari seorang teman lama kuliahnya, seorang pria yang dulu sering membantunya mengerjakan tugas.
“Hanum, aku dengar kabar buruk soal keluargamu. Kalau kau butuh tempat cerita, aku siap kapan saja.”
Hanum membaca pesan itu dengan campuran rasa hangat dan nostalgia, tapi sebelum sempat membalas, sebuah tangan tiba-tiba meraih ponselnya.
Al.
Ia membaca sekilas, wajahnya langsung mengeras. “Siapa ini?”
“Temanku,” jawab Hanum cepat, berusaha merebut kembali.
Al mundur selangkah, ponsel masih di tangannya. “Teman? Atau lebih dari itu?”
“Jangan konyol.” Hanum melotot. “Dia hanya peduli.”
“Peduli?” Al menyeringai miring. “Peduli biasanya ujung-ujungnya ingin lebih.”
Hanum meraih ponselnya dengan kasar. “Kau tidak berhak mengatur siapa yang boleh bicara denganku.”
Al menatapnya tajam, lalu menarik napas panjang. “Aku tidak suka melihatmu berhubungan dengan pria lain. Titik.”
Kata-kata itu membuat Hanum terdiam. Hatinya berdebar kencang, antara marah dan sesuatu yang lain.
“Kenapa?” Hanum memberanikan diri bertanya. “Kenapa kau selalu cemburu?”
Al menatap lurus ke matanya. “Karena aku tidak suka berbagi.”
Sore harinya, Hanum diam-diam duduk di ruang tamu sambil menonton drama di televisi. Pikirannya masih kacau setelah perdebatan tadi. Ia mencoba menenangkan diri dengan menonton cerita romantis, tapi justru membuatnya makin gelisah.
Al masuk tanpa suara, membawa segelas air. Ia meletakkannya di meja, lalu ikut duduk. “Minumlah.”
Hanum melirik, enggan mengambilnya. “Kenapa kau selalu seperti ini? Marah satu menit, lalu baik hati di menit berikutnya?”
Al menghela napas. “Karena aku manusia. Bukan robot.”
Hanum menatapnya lekat-lekat. Ada sesuatu di sorot mata Al, kelelahan, ketakutan, sekaligus rasa yang sulit dijelaskan.
Perlahan, Hanum mengambil gelas itu. “Kalau aku bilang, aku benci kau terlalu mengaturku, apa kau akan berhenti?”
“Tidak.” Jawabnya cepat.
Hanum mengernyit. “Kenapa?”
Al mencondongkan tubuh, suaranya rendah. “Karena aku lebih rela kau membenciku daripada kehilanganmu.”
Ucapan itu menancap dalam. Hanum membeku, jantungnya berdegup kencang. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh dari pria yang selama ini tampak tak tergoyahkan.
Senyap menyelimuti mereka. Hanya detak jantung masing-masing yang terasa terlalu keras di telinga sendiri.
Hanum menunduk, menyembunyikan pipinya yang memanas. “Kau benar-benar menyebalkan, Al.”
Senyum tipis Al muncul. “Aku tahu.”
Malam menjelang. Hanum berbaring di kamarnya, memandangi langit-langit. Bayangan wajah ayahnya, pesan dari teman lamanya dan tatapan Al terus berputar di kepalanya. Ada pusaran emosi yang sulit ia uraikan, marah, cemburu, terluka, tapi juga hangat.
Tiba-tiba, pintu diketuk.
“Hanum.” Suara Al pelan, tapi tegas.
Hanum menoleh. “Apa lagi?”
Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah Al yang setengah tertutup bayangan. “Tidurlah. Aku berjaga di luar.”
Hanum tercekat. “Kau, tidak perlu sejauh itu.”
“Tapi aku mau.”
Pintu kembali tertutup.
Hanum menutup matanya, senyum samar muncul tanpa ia sadari. Di balik semua ketegasan, Al selalu ada. Mungkin benar, ia terlalu protektif, tapi di sisi lain, itu jugalah yang membuat Hanum merasa tidak sendirian.
Untuk pertama kalinya, Hanum mulai bertanya pada dirinya sendiri. Mungkinkah rasa benci yang ia tunjukkan pada Al, sebenarnya hanyalah tameng untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih lembut?
Pertanyaan itu tetap menggantung, tanpa jawaban.