“Bagaimana Marcel? Apakah kamu sudah siap?” tanya ayahnya dengan senyum penuh arti. Marcel merasa heran dengan apa yang dikatakan ayahnya.
“Ayah punya kabar baik untukmu, bagaimana jika ayah melamar Rihana untukmu?” Mendengar kata-kata dari Ayahnya, Marcel terkejut seperti mendapatkan angin segar darinya.
“Ma, maksud ayah?” tanya Marcel tak percaya dengan ucapan ayahnya. Ayahnya pun menjelaskan lebih lanjut.
“Iya, ayah akan melamar Rihana malam ini untukmu. Bapaknya sangat dekat dengan ayah, ternyata dia adalah teman lama ayah saat SMA dulu. Namanya Pak Subroto. Dia juga seorang investor di perusahaan Ayah.”
“Jadi, mulai saat ini. Kamu harus rapi, malam nanti kita bertemu dengan keluarga Pak Subroto. Jadi, bersiap-siaplah! Potong rambutmu agar terlihat rapi dan berkesan. Semoga Rihana dan kedua orang tuanya bisa menerima kamu.” Marcel merasa tak percaya sehingga ia memeluk ayahnya.
“Terima kasih ayah! Hari ini saya sangat bahagia, sekali lagi terima kasih banyak Ayah!” jawab Marcel begitu girangnya.
Malam itu, Marcel berdiri di depan cermin, mengenakan setelan terbaiknya. Rambutnya sudah dipotong rapi, dan wajahnya berseri-seri dengan harapan. Ia merasa gugup, namun juga bersemangat. Ayahnya menepuk bahunya dengan lembut, memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan.
Ketika mereka tiba di sebuah restoran yang sudah dijanjikan antara mereka berdua, yaitu Sudarta dan Subroto, di sebuah restoran mewah. Marcel merasa jantungnya berdebar kencang. Mereka disambut dengan hangat oleh keluarga Rihana. Pak Subroto, seorang pria dengan senyum ramah, langsung mengenali ayah Marcel dan mereka berbincang dengan akrab.
Rihana terkejut ternyata yang ditemui adalah Marcel. Muncul dari belakang Sudarta, ia berkata, “Marcel?” Rihana merasa terkejut dengan pertemuan itu. Awalnya, Rihana tidak tahu rencana kedua orang tuanya, jika ini adalah sebuah perjodohan, karena kedua orang tuanya hanya memberitahukan kepada Rihana untuk memperkenalkan teman lamanya saja. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun terhadap kedua orang tuanya, Rihana pun diminta untuk bersolek dan berdandan cantik malam itu, karena malam ini adalah malam spesial bahwa ayahnya akan memperkenalkan dirinya dengan sahabat karibnya saat masa sekolah dulu.
“Rihana, nanti malam bapak mau memperkenalkan kamu dengan teman lama bapak, sudah bertahun-tahun bapak tidak bertemu dengannya. Jadi, usahakan kamu harus dandan yang cantik untuk menghormati tamu istimewa bapak yah,” kata bapaknya. Rihana yang begitu polos menuruti permintaan bapaknya begitu saja.
Pertemuan itu, pada akhirnya dilaksanakan di sebuah restoran yang sangat mewah dan megah. Di salah satu sudut meja, telah menunggu keluarga Pak Sudarta dengan istrinya, begitu juga dengan Marcel yang sudah berdandan dan menghias diri sehingga terlihat ketampanannya. Sementara itu, Rihana yang baru datang terperanjat dan merasa heran. Kenapa pertemuan ini dihadiri oleh Marcel juga, sehingga ia mulai merasa curiga terhadap kedua orang tuanya.
Rihana duduk dengan anggun di samping ayahnya, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. Marcel, yang duduk di seberang meja, tersenyum lembut padanya. “Hai, Rihana,” sapanya dengan suara tenang.
“Hai, Marcel,” jawab Rihana dengan senyum tipis. Ia masih merasa bingung dengan situasi ini.
Pak Subroto membuka percakapan dengan ceria, “Sudarta, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku senang kita bisa berkumpul malam ini.”
“Benar sekali, Subroto. Ini adalah momen yang sangat spesial,” jawab Pak Sudarta sambil tersenyum.
Percakapan berlanjut dengan hangat, membahas kenangan masa lalu dan rencana masa depan. Namun, Rihana tidak bisa menghilangkan rasa penasaran di hatinya. Ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Bapaki, sebenarnya ada apa dengan pertemuan ini?”
Pak Subroto dan Pak Sudarta saling pandang sejenak sebelum Pak Subroto menjawab, “Rihana, sebenarnya malam ini kami ingin memperkenalkan kamu dengan Marcel. Kami berharap kalian bisa saling mengenal lebih dekat.”
Rihana terdiam sejenak, mencoba mencerna informasi tersebut. “Jadi, ini adalah perjodohan?” tanyanya dengan suara pelan.
Pak Sudarta mengangguk, “Iya, Rihana. Kami berpikir ini adalah kesempatan baik untuk kalian berdua.”
Marcel dan Rihana nampak terdiam dan tersipu, hingga akhirnya kedua orang tuanya lah yang memulai pembicaraan. Setelah hidangan makanan sudah disuguhkan, Pak Sudarta bertanya, “Jadi, apakah kalian sudah saling kenal?” Rihana langsung keselek dan batuk saat makan. Merasa gugup dan malu, Rihana hanya bisa menganggukkan kepala saja.
“Kalau sudah saling kenal, baguslah! Kalau begitu, mungkin saja perjodohan ini akan terasa lebih mudah setelah kalian merasa saling dekat,” lanjut Pak Sudarta, membuat hati Rihana terasa kaget dan bengong atas semua yang dikatakan. Kenapa orang tuanya tidak memberitahukan sebelumnya tentang pertemuan ini?
“Ma… maksud Om gimana yah? Saya tidak paham!” kata Rihana kepada Pak Sudarta. Pak Subroto yang merasa malu dengan ucapan anaknya, lalu menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Rihana, anakku! Pak Sudarta ini adalah teman lama bapak sejak kecil. Dulu, kami bersepakat jika salah satu di antara kita punya anak lelaki maupun perempuan, kami akan menjodohkan anak kami. Jadi, mau gak mau, perjodohan ini tetap harus terlaksana. Kami hanya ingin menepati janji kami berdua saat kamu masih kecil. Lambat laun, kamu pun pasti akan menyukai Marcel, putriku sayang! Biar bapak dan Pak Sudarta merasakan dan tercapainya sebuah harapan sejak dulu untuk menjadi besan dan selalu erat dalam hubungan persahabatan maupun hubungan kekeluargaan kami berdua,” jelas Pak Subroto.
Marcel hanya tersenyum melihat keadaan Rihana, padahal dalam hati Rihana begitu semrawut dan bingung. Jika ia tolak, pasti bapaknya akan marah. Karena sifat bapaknya begitu keras terhadap anak semata wayangnya, Rihana tidak berani menentang keputusan bapaknya. Ia hanya memilih diam dan tidak mau berdebat.
Setelah semuanya selesai, makan malam pun menjadi momen terburuk bagi Rihana, sementara makan malam bagi Marcel sungguh merasa indah. Hingga semuanya terlewatkan begitu saja.
Malam pun semakin larut, tepat jam 21.00 WIB orang tua Marcel dan orang tua Rihanna memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
Tidak terasa bahwa waktu terus berjalan, begitu juga dengan malam, malam pun berganti dengan waktu fajar yang telah menyingsing sehingga tampak sebuah sinar dari arah timur.
Pagi harinya, Abidin menyapa Marcel di kantornya, “Bro! Kok lo melamun aja sih? Berilah sedikit komentar donk data yang sudah gue buat atau loe lagi ada banyak masalah?” tanya Abidin yang dari tadi memperhatikan temannya, yaitu Marcel.
“Entahlah bro? Gue hanya sedikit membayangkan, bagaimana jadinya yah, kalau gue bener-bener bisa menikah dengan Rihana, pujaan dan belaian hatiku,” kata Marcel yang selalu bucin pada Rihana.
“Emangnya cinta loe udah diterima sama Rihana?” tanya Abidin penasaran. Marcel pun hanya mengangkat bahunya saja yang diartikan sebagai ragu-ragu.
“Terus kemarin malam gimana bro? Udah diterima lamarannya?” tanya Abidin lagi semakin penasaran. Marcel pun menghela nafas panjang dan sedikit berpikir, lalu berkata, “Sebenarnya, lamaran itu sudah diterima oleh bokapnya Rihana, tapi melihat suasana muka Rihana malam itu, seperti ia tidak setuju denganku bro…”
Abidin terdiam sejenak, lalu dengan nada serius ia bertanya, “Bro, loe yakin nggak ada yang loe lewatkan? Soalnya tadi pagi gue lihat sesuatu yang mungkin bisa mengubah segalanya…”
Bersambung di bab selanjutnya…