**BAB 1 Perempuan yang Tak Pernah Merasa Istimewa**

Penulis Arunika
29 December 2025

Ia tumbuh dengan keyakinan sederhana: hidup dijalani, bukan untuk dipamerkan. Tak ada ambisi menjadi pusat perhatian, tak ada keinginan untuk dipuji berlebihan. Ia hanya perempuan biasa yang belajar bangun setiap pagi, menyimpan lelahnya sendiri, dan tersenyum secukupnya agar dunia tak terlalu khawatir.

Namun, tanpa ia sadari, caranya mendengar lebih lama, caranya peduli tanpa bertanya balasan, dan caranya tetap lembut meski hidup sering tak ramahtulah yang membuat orang-orang mengingatnya. Ia mungkin tak pernah merasa istimewa, tetapi kehadirannya selalu meninggalkan rasa yang sulit dijelaskan.

Di situlah kisahnya bermula: dari seorang perempuan yang tidak pernah menyadari bahwa dirinya menyimpan seribu pesona.

Ia sering menertawakan pujian yang datang. Baginya, kata-kata manis hanyalah angin lewat singgah sebentar lalu hilang. Ia lebih percaya pada tindakan kecil: mengingat hal sepele, hadir saat dibutuhkan, dan tetap tinggal meski tak diminta.

Hari-harinya berjalan tenang, nyaris sunyi. Ia terbiasa menjadi pendengar, bukan pencerita. Menyimpan kisahnya rapat-rapat, seolah takut jika terlalu banyak bicara, luka itu akan kembali bernapas. Maka ia memilih diam, membiarkan orang lain mengenalnya lewat sikap, bukan pengakuan. Tak ada yang tahu, setiap malam ia belajar menerima dirinya sendiri. Belajar berdamai dengan bayangan masa lalu, belajar percaya bahwa menjadi sederhana bukanlah kekurangan. Dan di tengah proses itulah, tanpa sorotan dan tepuk tangan, pesonanya tumbuh pelan, namun nyata.\ Saya ingin menulis sedikit prolog berdasarkan cerita saya tentang desember yang mengingat luka lama.....

Sebuah kenangan tentang Minggu 26 Desember 2004, saat itu umur saya baru menginjak 6 Tahun, laut adalah teman karena kesaharian seorang ayah yang merupakan nelayan laut bagi kami adalah rumah sumber rezeky dan juga sebuah penghidupan. jarak rumah yang hanya berjaraka 1 km dari pesisir menggamabrkan bahwa laut itu tidak begitu menakutkan hanya ada ombak tempat kita bermain sehari hari dengan teman……..

Seorang anak yang baru berusia 6 tahun ini, mungkin tidak punya ingatan kuat untuk menceritakan detail kejadian Tsunami, tapi luka masih terasa berat karena pagi mingggu bagi anak-anak hanya dengan tontonan doraemon itu adalah hari hari paling bahagia yang bisa dikenang.

Lahir dan besar diwilayah pesisir tidak menakutkan kala itu, karena dalam sejarah bahkan literasi kita tidak pernah tahu atau mengenal istilah bencana besar seperti tsunami..

Gempa dan Tsunami yang menggocang bumi Aceh dengan skala besar itu masih membekas di ingatan, seolah tak pernah pudar bahwa betapa dahsyat gempa kala itu…

2004 kita sama sama tau bahwa luka dan cerita yang sama ini jika diingat hanya ada Luka dan kehilangan, karena kehilangan adalah hal yang paling menakutkan bagi sebuah keluarga.. dan kehilangan itu maish terasa berat jika mengenang kehilangan yang di alami oleh anak kecil kehilangan seorang kakak yang sampai sekarang hanya berdoa diantara ribuan mayat di kuburan massal.

Tulisan ini mengingatkan kembali saya betapa hal serupa di bulan yang sama dengan duka yang sama kembali menggoroti pikiran….

Tidak ada kabar….. Tidak ada akses… Anak rantau yang diam membisu menunggu satu pesan keluarga Semua seolah tertutup bahkan dunia tidak boleh tauu…..

Tulisan ini kami buat hanya untuk mengukir cerita cerita yag dunia perlu tahu bahwa Desember menjadi luka dan pilu bagi warga aceh

Saya ingin menulis sedikit prolog berdasarkan cerita saya tentang desember yang mengingat luka lama.....

Sebuah kenangan tentang Minggu 26 Desember 2004, saat itu umur saya baru menginjak 6 Tahun, laut adalah teman karena kesaharian seorang ayah yang merupakan nelayan laut bagi kami adalah rumah sumber rezeky dan juga sebuah penghidupan. jarak rumah yang hanya berjaraka 1 km dari pesisir menggamabrkan bahwa laut itu tidak begitu menakutkan hanya ada ombak tempat kita bermain sehari hari dengan teman……..

Seorang anak yang baru berusia 6 tahun ini, mungkin tidak punya ingatan kuat untuk menceritakan detail kejadian Tsunami, tapi luka masih terasa berat karena pagi mingggu bagi anak-anak hanya dengan tontonan doraemon itu adalah hari hari paling bahagia yang bisa dikenang.

Lahir dan besar diwilayah pesisir tidak menakutkan kala itu, karena dalam sejarah bahkan literasi kita tidak pernah tahu atau mengenal istilah bencana besar seperti tsunami..

Gempa dan Tsunami yang menggocang bumi Aceh dengan skala besar itu masih membekas di ingatan, seolah tak pernah pudar bahwa betapa dahsyat gempa kala itu…

2004 kita sama sama tau bahwa luka dan cerita yang sama ini jika diingat hanya ada Luka dan kehilangan, karena kehilangan adalah hal yang paling menakutkan bagi sebuah keluarga.. dan kehilangan itu maish terasa berat jika mengenang kehilangan yang di alami oleh anak kecil kehilangan seorang kakak yang sampai sekarang hanya berdoa diantara ribuan mayat di kuburan massal.

Tulisan ini mengingatkan kembali saya betapa hal serupa di bulan yang sama dengan duka yang sama kembali menggoroti pikiran….

Tidak ada kabar….. Tidak ada akses… Anak rantau yang diam membisu menunggu satu pesan keluarga Semua seolah tertutup bahkan dunia tidak boleh tauu…..

Tulisan ini kami buat hanya untuk mengukir cerita cerita yag dunia perlu tahu bahwa Desember menjadi luka dan pilu bagi warga aceh

Saya ingin menulis sedikit prolog berdasarkan cerita saya tentang desember yang mengingat luka lama.....

Sebuah kenangan tentang Minggu 26 Desember 2004, saat itu umur saya baru menginjak 6 Tahun, laut adalah teman karena kesaharian seorang ayah yang merupakan nelayan laut bagi kami adalah rumah sumber rezeky dan juga sebuah penghidupan. jarak rumah yang hanya berjaraka 1 km dari pesisir menggamabrkan bahwa laut itu tidak begitu menakutkan hanya ada ombak tempat kita bermain sehari hari dengan teman……..

Seorang anak yang baru berusia 6 tahun ini, mungkin tidak punya ingatan kuat untuk menceritakan detail kejadian Tsunami, tapi luka masih terasa berat karena pagi mingggu bagi anak-anak hanya dengan tontonan doraemon itu adalah hari hari paling bahagia yang bisa dikenang.

Lahir dan besar diwilayah pesisir tidak menakutkan kala itu, karena dalam sejarah bahkan literasi kita tidak pernah tahu atau mengenal istilah bencana besar seperti tsunami..

Gempa dan Tsunami yang menggocang bumi Aceh dengan skala besar itu masih membekas di ingatan, seolah tak pernah pudar bahwa betapa dahsyat gempa kala itu…

2004 kita sama sama tau bahwa luka dan cerita yang sama ini jika diingat hanya ada Luka dan kehilangan, karena kehilangan adalah hal yang paling menakutkan bagi sebuah keluarga.. dan kehilangan itu maish terasa berat jika mengenang kehilangan yang di alami oleh anak kecil kehilangan seorang kakak yang sampai sekarang hanya berdoa diantara ribuan mayat di kuburan massal.

Tulisan ini mengingatkan kembali saya betapa hal serupa di bulan yang sama dengan duka yang sama kembali menggoroti pikiran….

Tidak ada kabar….. Tidak ada akses… Anak rantau yang diam membisu menunggu satu pesan keluarga Semua seolah tertutup bahkan dunia tidak boleh tauu…..

Tulisan ini kami buat hanya untuk mengukir cerita cerita yag dunia perlu tahu bahwa Desember menjadi luka dan pilu bagi warga aceh