Hening yang menyelimuti sore itu pecah, saat Hanum melangkah keluar dari pintu utama sebuah mall besar di pusat kota. Rambutnya yang tergerai lepas ditiup angin pendingin dari pintu otomatis. Ia menenteng beberapa kantong belanjaan sambil tersenyum kecil, seolah menikmati waktu bebasnya setelah sekian lama merasa terikat oleh bayang-bayang masalah besar keluarganya. Namun, senyum itu tak lepas dari tatapan seseorang yang tak pernah sekalipun rela jauh darinya, Al-Faidzin.
Al berjalan setengah langkah di belakangnya, dengan mata awas ke segala arah. Ia tampak santai dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tapi matanya menyimpan ketegangan yang jelas. Sejak peristiwa terakhir, Al tak pernah membiarkan Hanum berjalan seorang diri. Baginya, menjaga Hanum bukan hanya janji, melainkan harga diri yang tak bisa ditawar.
Namun, suasana sore itu berubah ketika seorang satpam mall yang sedang berjaga tiba-tiba melambaikan tangan sambil tersenyum lebar ke arah Hanum.
“Hanum? Hanum Nadzneen? Astaga, benar kamu, kan?” serunya.
Hanum yang awalnya kaget sontak menoleh. Tatapannya berubah lembut begitu mengenali wajah itu. “Reza? Ya Tuhan, kamu?”
Mereka tertawa kecil, seolah tak ada jarak waktu di antara pertemuan itu. Hanum segera meletakkan kantong belanjaannya di lantai lalu menghampiri pria itu, menyambut uluran tangan yang ditawarkan.
Al yang berdiri tak jauh dari sana, hanya bisa menatap dengan rahang yang menegang. Setiap detik, matanya tak pernah lepas dari tangan Reza yang kini menggenggam tangan Hanum dengan begitu akrab. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya, sebuah api cemburu yang tak bisa ia kendalikan.
“Sudah lama banget, Hanum. Aku kira kita nggak bakal ketemu lagi setelah lulus SMP dulu,” kata Reza sambil terkekeh kecil. “Kamu nggak banyak berubah. Masih sama, senyummu juga masih hangat kayak dulu.”
Hanum tersenyum, pipinya memerah. “Kamu juga masih sama, Reza. Nggak nyangka bisa ketemu di sini.”
Al melangkah maju, sengaja menurunkan suara kakinya agar terdengar. “Hanum,” panggilnya singkat, datar, tapi sarat tekanan.
Hanum menoleh cepat, menyadari aura dingin yang keluar dari Al. “Oh iya, kenalin. Ini Reza, temen SMPku dulu. Sekarang dia kerja di sini.”
Reza melirik ke arah Al, matanya sempat mengukur. Ia mengulurkan tangan dengan sopan. “Halo, saya Reza. Teman lama Hanum.”
Al menatap tangan itu lama, seolah sedang menimbang. Namun, bukannya menjabat, ia hanya mengangkat alis dan berkata dingin, “Aku nggak butuh tahu lebih.”
Situasi mendadak kaku. Reza menarik tangannya perlahan, sementara Hanum terlihat salah tingkah. Ia bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti Al.
“Al.” Hanum mencoba menenangkan.
Namun, Al sudah lebih dulu meraih kantong belanjaan Hanum, membawanya begitu saja tanpa menoleh. “Kita pulang.”
Hanum mendesah, menoleh lagi pada Reza. “Maaf, Reza. Aku harus pergi dulu.”
Reza mengangguk kaku, masih berusaha tersenyum. “Iya, nggak apa-apa. Semoga kita bisa ketemu lagi.”
Namun, kata-kata terakhir itu justru membuat Al menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Reza dengan sorot mata tajam yang membuat siapa pun merasa terintimidasi. “Tidak akan ada pertemuan lagi.”
Hanum tercekat, buru-buru menarik lengan Al agar tak memperkeruh keadaan. “Al, cukup.”
Perjalanan menuju mobil berlangsung dalam diam. Hanum hanya bisa menunduk, sementara Al mengemudi dengan rahang terkatup rapat. Ketegangan itu akhirnya pecah ketika mobil melaju keluar dari area parkir.
“Siapa dia?” suara Al terdengar dalam, menahan emosi.
“Reza, teman SMPku dulu. Dia nggak lebih dari itu,” jawab Hanum pelan.
“Teman SMP atau seseorang yang dulu pernah kamu sukai?” tuduh Al tajam.
Hanum menoleh kaget. “Apa maksudmu? Jangan asal nuduh, Al. Dia cuma teman lama. Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu?”
Al menepuk setir mobil keras-keras. “Karena aku lihat caramu menatap dia! Kamu tersenyum terlalu hangat untuk seorang teman lama.”
Hanum terdiam, hatinya bergejolak antara marah dan bingung. “Aku hanya kaget bertemu dia setelah sekian lama. Apa salah kalau aku menyapa ramah? Al, kamu terlalu berlebihan.”
“Berlebihan?” Al mendengus dingin. “Kamu nggak ngerti, Hanum. Aku nggak akan pernah biarkan laki-laki lain mendekatimu. Termasuk teman lamamu itu.”
Hanum menggenggam tangannya erat, mencoba menahan air mata. “Kenapa kamu harus jadi posesif seperti ini, Al? Aku bukan milikmu.”
Ucapan itu menampar batin Al. Ia menoleh sekilas, menatap Hanum dengan mata yang meredup. “Kamu benar. Kamu bukan milikku, tapi aku tak bisa berhenti merasa kalau kamu seharusnya milikku.”
Suasana di dalam mobil kembali membeku, hanya terdengar deru mesin. Hanum memilih diam, sementara Al sibuk berperang dengan dirinya sendiri. Cemburu, takut kehilangan dan cinta yang tak pernah ia ungkapkan bercampur menjadi satu.
Sementara itu, di sisi lain kota, Firdaus, ayah Hanum sedang duduk di ruang kerjanya yang penuh dengan berkas-berkas politik. Di balik wajah dingin dan ambisiusnya, ada satu hal yang kini mendesak hatinya, keselamatan putrinya. Firdaus tahu, setiap langkah Hanum berada dalam bayang ancaman musuh-musuh lamanya. Karena itu, ia mulai memainkan posisi politiknya dengan lebih halus.
Ia memanfaatkan pengaruhnya agar lebih mudah menemui Hanum tanpa banyak kecurigaan dari pihak lawan. Setiap kali kesempatan datang, ia hadir di dekat Hanum dengan alasan yang rapih disusun, seolah tak ada yang mencurigakan. Namun, meski ia bisa mendekat, Firdaus tetap harus berhati-hati. Musuhnya tak bisa dianggap remeh.
Beberapa hari setelah kejadian di mall, masalah baru menghantam Al. Saat ia baru saja selesai mengantar Hanum pulang, sebuah telepon dari rumah besar keluarganya masuk.
“Al, pulang sekarang juga.” Suara sang ayah terdengar tegas, nyaris tak memberi ruang untuk membantah.
Al mengernyit. “Kenapa, Ayah? Aku sedang ada urusan.”
“Ada hal penting yang harus kita bahas. Menyangkut masa depanmu. Jangan coba-coba menolak.”
Klik. Sambungan terputus begitu saja.
Al mengepalkan tangannya di setir. Hatinya gelisah, tapi ia tak punya pilihan. Ia menoleh ke arah Hanum yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya, menatapnya dengan wajah lelah setelah semua kecanggungan yang terjadi. Al berusaha menahan diri, lalu hanya berkata singkat, “Istirahatlah. Aku akan kembali.”
Hanum mengangguk pelan, meski hatinya masih penuh tanya.
Di ruang kerja keluarga besar, ayah Al duduk dengan wajah penuh wibawa. Beberapa pria berpakaian jas resmi tampak menunggu. Al masuk, menutup pintu dengan keras.
“Apa ini?” tanya Al dingin.
Sang ayah menatapnya tajam. “Kita sudah memutuskan. Kamu akan maju dalam pencalonan politik yang sudah dirancang sejak lama. Tidak ada lagi alasan untuk menunda.”
Al tertegun, matanya menyipit. “Aku tidak pernah setuju dengan ini.”
“Tidak perlu setuju. Kamu hanya perlu patuh,” jawab ayahnya tegas.
“Politik bukan jalanku,” Al membalas cepat. “Aku punya urusan sendiri. Aku tak akan jadi boneka kalian.”
Sang ayah menghela napas berat. “Ini bukan hanya tentangmu, Al. Ini tentang nama keluarga. Tentang kekuasaan. Kau pikir kami akan biarkanmu berkeliaran hanya demi seorang gadis? Jangan lupa siapa dirimu.”
Ucapan itu membuat darah Al mendidih. Ia menggertakkan giginya, teringat wajah Hanum. “Jangan bawa Hanum ke dalam urusan ini.”
Ayahnya tersenyum tipis, penuh siasat. “Oh, jadi benar ada seorang gadis. Itu yang membuatmu menolak? Dengarkan aku baik-baik, Al. Dunia politik lebih kejam dari apa pun yang pernah kau hadapi dan gadis itu, hanya akan jadi kelemahanmu.”
Al mengepalkan tangan, menahan amarah. Namun, ia tahu, ayahnya tidak main-main. Kini ia terjebak di antara dua dunia, cintanya pada Hanum dan kewajiban politik yang dipaksakan padanya.
Malam itu, Al berdiri di balkon rumahnya, menatap langit gelap yang dipenuhi bintang. Pikirannya kacau, hatinya dililit cemburu yang masih membekas dari pertemuan Hanum dengan Reza dan sekarang ditambah tekanan besar dari ayahnya. Ia tahu, jika ia memilih Hanum, maka ia akan berhadapan langsung dengan keluarganya sendiri, tapi jika ia menyerah pada politik, Hanum bisa jadi target yang lebih besar.
Di sisi lain, Hanum duduk di kamarnya, menatap layar ponselnya yang kosong tanpa pesan dari Al. Hatinya ikut kacau. Ia marah karena sikap posesif Al, tapi di saat yang sama ia merindukan kehadirannya. Bayangan Reza hanya sebatas nostalgia. Namun, Al seolah tak bisa melihat itu.
Di luar pengetahuan mereka berdua, Firdaus sedang menyusun langkah berikutnya. Ia tahu badai besar akan segera datang, dan Hanum berada di pusatnya.
Malam itu, tepat ketika Al hendak menelepon Hanum untuk menjelaskan segalanya, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan tanpa nama, hanya berisi satu kalimat pendek.
“Jika kau benar-benar ingin melindunginya, jauhkan dirimu dari Hanum.”
Pesan itu membuat darah Al berdesir dingin. Siapa yang mengirim? Dan apa yang akan terjadi jika ia mengabaikannya?