Bab 24 Kencan diakhiri penculikan

19 January 2026

“Maksud loe?” kata Marcel dengan penasaran.

“Loe tahu, siapa Rihana itu?” kata Abidin, dalam keakrabannya ia ingin mengetahui lebih siapa yang akan dinikahi Marcel.

“Tahu, Rihana itu anaknya Pak Subroto, bro,” jawab Marcel.

“Benarkah?” kata Abidin. Marcel pun menceritakan asal usul Rihana. Bapaknya, Subroto, menginginkan Marcel menikah dengan Rihana berharap perusahaan ayahnya marcel yaitu Sudarta semakin maju dan sukses.

Namun hal ini tidak disukai oleh Abidin. Abidin adalah anak dari Mustafa yang sengaja untuk menghancurkan perusahaan Ruswanda. Abidin berniat balas dendam untuk ayahnya, Mustafa.

Marcel dan Abidin duduk di sebuah taman kota yang sepi, angin sepoi-sepoi menghembuskan dedaunan kering di sekitar mereka. Marcel menatap langit yang mulai memerah, sementara Abidin menatap sahabatnya dengan tatapan serius.

“Gue ngerti, lo punya alasan sendiri kenapa lo nggak suka sama Rihana,” kata Marcel, mencoba mencari titik terang dalam percakapan mereka.

“Bukan cuma alasan, Marcel. Ini soal masa depan loe juga. Gue nggak mau lo terjebak dalam hubungan yang nggak sehat,” jawab Abidin dengan nada penuh kekhawatiran.

Marcel menghela napas panjang. “Tapi, Abidin, Rihana itu beda. Dia nggak seperti yang lo pikir. Gue udah kenal dia cukup lama, dan dia selalu mendukung gue.”

Abidin menggelengkan kepala. “Loe terlalu naif, Marcel. Dunia ini nggak seindah yang loe bayangin. Gue cuma nggak mau lo terluka.”

Marcel terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata sahabatnya. “Gue ngerti kekhawatiran loe, tapi gue yakin Rihana bukan orang seperti itu. Gue akan buktikan kalau dia bisa dipercaya.”

Abidin hanya bisa menghela napas, merasa tak berdaya menghadapi tekad sahabatnya. “Gue harap lo benar, Marcel. Gue harap lo benar.”

Mereka berdua terdiam, membiarkan angin membawa pergi kekhawatiran mereka. Marcel tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tapi dia yakin bahwa cintanya pada Rihana akan membuktikan segalanya. Di sisi lain, Abidin hanya bisa berharap bahwa sahabatnya tidak akan terluka oleh keputusan yang diambilnya.

Sore itu, saat Marcel pulang dari kantornya, ia mencoba menghubungi Rihana. Marcel ingin mengajak Rihana keluar untuk berkencan. Namun, Rihana menolaknya dengan alasan yang tidak jelas. Marcel merasa kecewa dan bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

Dengan bersusah payah, akhirnya Marcel memutuskan untuk mengadu kepada ayahnya, Sudarta. Ia berharap ayahnya bisa memberikan solusi atau setidaknya mendengarkan keluh kesahnya.

“Ayah, aku sudah mencoba mengajak Rihana keluar, tapi dia selalu menolak. Aku tidak tahu apa yang salah,” kata Marcel dengan nada putus asa.

Sudarta mendengarkan dengan seksama. Ia tahu betapa pentingnya Rihana bagi putranya. Setelah berpikir sejenak, Sudarta memutuskan untuk membantu.

“Marcel, biar ayah yang bicara dengan ayahnya Rihana, Pak Subroto. Mungkin dia bisa membantu kita,” kata Sudarta dengan tenang.

Tak lama kemudian, Sudarta menghubungi Subroto. Mereka berbicara panjang lebar tentang situasi Marcel dan Rihana. Subroto, yang memahami perasaan Sudarta, akhirnya setuju untuk membantu.

“Baiklah, Sudarta. Aku akan bicara dengan Rihana. Aku harap dia mau mendengarkan,” kata Subroto.

Setelah percakapan itu, Subroto memanggil Rihana dan menjelaskan situasinya. Ia meminta Rihana untuk memberikan Marcel kesempatan.

“Rihana, Marcel adalah pria yang baik. Berikan dia kesempatan untuk membuktikan dirinya. Ayah yakin kamu tidak akan menyesal,” kata Subroto dengan lembut.

Rihana, meskipun awalnya ragu, akhirnya setuju untuk mengikuti perkataan ayahnya. Ia merasa terpaksa, tetapi juga ingin menghormati keinginan ayahnya.

Keesokan harinya, Marcel menerima pesan dari Rihana yang mengatakan bahwa ia setuju untuk bertemu. Marcel merasa sangat senang dan berterima kasih kepada ayahnya.

Malam itu, Marcel mempersiapkan diri untuk pergi berkencan dengan Rihana. Ia mengenakan pakaian terbaiknya dan memastikan penampilannya sempurna. Saat sedang berdandan, ayahnya, Sudarta, mengetuk pintu kamarnya dan masuk.

“Marcel, anakku,” kata Sudarta dengan suara lembut. “Bapak berharap kamu benar-benar cinta kepada Rihana. Mungkin ini salah satu cara bapak untuk menjodohkan agar perusahaan kita tidak jatuh kepada orang jahat.”

Marcel menatap ayahnya dengan mata penuh pengertian. “Ayah, saya mencintai Rihana dengan tulus. Jujur, saya tidak berniat untuk masalah pribadi ayah dengan Pak Subroto. Bisnis adalah bisnis, dan cinta adalah cinta, Ayah.”

Sudarta tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, nak. Ayah sangat mengerti apa yang kamu katakan. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu dan perusahaan kita.”

Marcel merasa lega mendengar kata-kata ayahnya. Ia tahu bahwa Sudarta hanya ingin melindungi keluarga dan bisnis mereka. Namun, Marcel juga yakin bahwa cintanya kepada Rihana adalah murni dan tulus.

Setelah percakapan itu, Marcel merasa lebih tenang. Ia menyelesaikan persiapannya dan berangkat untuk menjemput Rihana. Di perjalanan, pikirannya melayang ke percakapan dengan ayahnya. Ia bertekad untuk membuktikan bahwa cintanya kepada Rihana bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang perasaan yang tulus.

Ketika Marcel tiba di rumah Rihana, ia disambut dengan senyuman hangat oleh keluarganya. Rihana tampak cantik dengan gaun sederhana namun elegan. Mereka berdua pergi ke restoran favorit mereka, tempat yang penuh kenangan indah.

Di dalam mobil, suasana terasa canggung. Rihana masih cuek dengan kondisi seperti ini, merasa dipaksa oleh ayahnya untuk pergi bersama Marcel. Marcel mencoba mencairkan suasana dengan berbicara.

“Saya panggil kamu apa yah, boleh tidak saya panggil kamu sayang?” kata Marcel dengan nada bercanda, berharap bisa membuat Rihana tersenyum.

Namun, Rihana tak menjawab pertanyaan Marcel. Dia tetap cuek, menatap keluar jendela mobil dengan pikiran yang melayang. Marcel merasa sedikit kecewa, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak memaksakan diri.

Sesampainya di restoran, mereka disambut oleh pelayan yang ramah dan diantar ke meja favorit mereka. Marcel mencoba untuk memulai percakapan lagi, berbicara tentang kenangan indah yang mereka miliki di tempat itu. Namun, Rihana hanya memberikan jawaban singkat dan tidak menunjukkan minat yang besar.

Marcel merasa bingung dan sedikit putus asa. Ia tahu bahwa Rihana merasa terpaksa dalam situasi ini, dan ia tidak ingin membuatnya merasa lebih tidak nyaman. Akhirnya, Marcel memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati.

“Rihana, aku tahu kamu merasa tersiksa dengan semua ini. Aku juga tidak ingin kamu merasa seperti itu. Aku benar-benar mencintaimu dan ingin kita bisa bersama karena kita saling mencintai, bukan karena paksaan,” kata Marcel dengan tulus.

Rihana menatap Marcel dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Marcel, aku… aku hanya butuh waktu. Aku merasa bingung dengan semua ini. Aku tahu kamu orang yang baik, tapi aku butuh waktu untuk memahami perasaanku sendiri.”

Marcel mengangguk dengan pengertian. “Aku mengerti, Rihana. Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini untukmu, apapun yang terjadi.”

Malam itu, meskipun suasana masih canggung, ada sedikit kelegaan di hati Marcel. Ia tahu bahwa perasaannya kepada Rihana adalah tulus, dan ia siap untuk menunggu sampai Rihana siap menerima cintanya.

“Rihana, tunggu sebentar di sini yah, saya mau membuat kejutan untukmu,” kata Marcel dengan senyum penuh arti. Rihana menatapnya dengan sedikit kebingungan, tetapi mengangguk pelan.

Marcel berjalan menuju panggung kecil di sudut restoran. Para pengunjung lain mulai memperhatikan, penasaran dengan apa yang akan terjadi. Marcel mengambil mikrofon dan mengatur napasnya sejenak sebelum mulai berbicara.

“Selamat malam semuanya. Malam ini, saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat spesial bagi saya. Lagu ini untuk Rihana,” katanya dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.

Musik mulai mengalun, dan Marcel mulai menyanyikan lagu cinta yang penuh dengan perasaan. Suaranya yang lembut dan penuh emosi memenuhi ruangan, membuat semua orang terdiam dan mendengarkan dengan seksama. Rihana, yang awalnya merasa canggung, perlahan mulai tersentuh oleh ketulusan Marcel.

Saat lagu berakhir, tepuk tangan meriah memenuhi ruangan. Marcel tersenyum lega dan kembali ke meja mereka. Rihana menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, terharu oleh kejutan yang diberikan Marcel. Tapi, bagi Rihana, semuanya itu membuat malu, sehingga ia keluar dan berlari keluar ruangan. Marcel pun mengejar Rihana hingga ke area parkiran.

Tiba-tiba, Rihana menghilang. Marcel panik, matanya mencari-cari di sekitar parkiran yang gelap. “Rihana!” teriaknya, suaranya penuh kecemasan. Namun, yang terdengar hanyalah keheningan malam.

Saat Marcel berlari lebih jauh ke dalam parkiran, ia melihat sebuah mobil hitam melaju cepat meninggalkan tempat itu. Hatinya berdegup kencang, firasat buruk menghantui pikirannya. “Rihana!” teriaknya sekali lagi, namun mobil itu sudah menghilang di kejauhan.

Marcel berdiri terpaku, keringat dingin mengalir di dahinya. Siapa yang menculik Rihana? Dan mengapa? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, sementara ia berusaha mencari cara untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya. kisah ini masih terus berlanjut.