Bab 25 Malam Penculikan

20 January 2026

Marcel mengejar mobil penculik dengan nafas terengah-engah. Hatinya berdegup kencang, dan panik melanda. Rihana, calon istrinya, telah diculik. Ia merasa terpukul oleh apa yang terjadi. Bagaimana ia akan menghadapi ayahnya, Pa Sudarta, dan calon mertuanya, Subroto?

Mobil penculik semakin menjauh, menghilang di tikungan jalan. Marcel mencoba mengejar lebih cepat, tetapi keputusasaan merayap di hatinya. Ia tidak bisa meraihnya. Rihana, wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya, kini berada dalam bahaya.

Dalam kebingungannya, Marcel memutuskan untuk pulang. Ia duduk sendirian di ruang tamu, cahaya remang-remang menyinari wajahnya. Malam itu sangat gelap. Ia merenung tentang nasib Rihana, tentang bagaimana ia akan menghadapi orang-orang yang mencintainya.

Ayahnya pasti akan marah. Subroto, calon mertuanya, mungkin akan menyalahkan Marcel. Namun, ia tidak bisa hanya berdiam diri. Ia harus bertindak. Ia harus menyelamatkan Rihana.

Marcel mengambil telepon genggamnya dan memilih nomor ayahnya. Suara Pa Sudarta terdengar lelah di seberang sana. “Apa yang terjadi, Marcel?” tanyanya.

“Dia diculik, Ayah,” jawab Marcel dengan suara gemetar. “Rihana. Calon istriku.”

Pa Sudarta terdiam sejenak. “Kita akan menemukan cara untuk menghadapinya, anakku. Jangan khawatir.”

Setelah berbicara dengan ayahnya, Marcel menghubungi Subroto. Ia menjelaskan situasi dengan hati-hati. Subroto mendengarkan dengan serius. “Kita akan bekerja sama,” katanya akhirnya. “Kita akan membawa Rihana pulang.”

Marcel merasa lega. Meskipun malam itu gelap, ada harapan di baliknya. Ia tidak sendirian. Bersama ayah dan calon mertuanya, mereka akan berjuang untuk menyelamatkan Rihana. Semua akan bergantung pada tindakan mereka di malam yang penuh ketidakpastian ini.

Sudarta dan Subroto, dua CEO yang bekerja sama di perusahaan cabang milik Ruswanda, terlibat dalam misi yang tak terduga. Rihana, calon istri Marcel, telah diculik, dan mereka bertekad untuk menemukan pelakunya.

Polisi tiba di tempat kejadian, tetapi jejak penculik telah menguap. Identitasnya seperti kabut yang hilang di angin malam. Sudarta dan Subroto berdiskusi dengan serius. Bagaimana mereka bisa menemukan Rihana dan membawanya pulang?

Suatu malam, Marcel berjalan sendirian di sekitar tempat kejadian. Cahaya bulan menerangi jalanan yang sepi. Ia merasa putus asa, tetapi tiba-tiba, sesuatu menarik perhatiannya. Di antara reruntuhan, ia melihat jam tangan Rihana. Jam tangan yang pernah menghiasi pergelangan tangannya.

Marcel mengambil jam tangan itu dengan hati-hati. Ia tahu ini adalah barang bukti penting. Jejak yang bisa membawa mereka lebih dekat pada penculik. Ia menghubungi Sudarta dan Subroto, memberi tahu mereka temuan ini.

Ketiganya berkumpul di ruang rapat. Sudarta memerintahkan tim investigasi untuk memeriksa jam tangan dengan cermat. Mereka menemukan sidik jari yang tidak dikenali. Jejak baru yang bisa mengarahkan mereka pada pelaku.

Dengan tekad yang semakin kuat, Sudarta, Subroto, dan Marcel menggali lebih dalam. Mereka menghubungi ahli forensik, mengumpulkan informasi tentang jam tangan tersebut. Jejak mengarah pada seorang pria misterius yang tidak memiliki hubungan dengan siapapun.

Malam gelap menyelimuti kota. Ketiga pria itu, Sudarta, Subroto, dan Marcel, bergerak dengan hati-hati. Jejak penculik Rihana membawa mereka ke gang-gang tersembunyi, tempat informan berbicara dalam bisikan. Sudarta dan Subroto menggunakan pengaruh dan kekayaan mereka untuk menggali lebih dalam, sementara Marcel, dengan hati yang penuh cemas, mengingat wajah Rihana dan tekadnya untuk menyelamatkannya.

Setelah dua hari perburuan yang melelahkan, tiba-tiba telepon Marcel berdering. Suara di seberang sambungan membuat jantungnya berdegup kencang.

“Halo, Marcel! Apa kabarmu?” kata suara itu, tenang dan menggoda.

“Siapa kamu?” tanya Marcel dengan nada marah. Kepalanya berputar, mencari tahu siapa yang berbicara.

“Kamu jangan panik. Apa kamu sedang mencari Rihana, calon istrimu?” lanjut suara itu. “Tenang, kini dia bersamaku. Atau kamu mau bicara dengannya?”

Marcel merasa darahnya mendidih. Suara Rihana ditelepon hanya bisa menjerit, mulutnya dilakban sehingga tidak bisa berbicara. Marcel ingin memeluknya, melindunginya dari ancaman ini.

“Marcel! Kamu jangan harap menikah dengan Rihana. Kalau kamu mau tetap menikahi Rihana, siapkan uang 2 milyar dalam waktu 2x24 jam!” kata penculik itu dengan tegas.

“Apa! Kamu gila ya! Saya dapatkan uang itu dari mana?” Marcel berteriak, tapi telepon tiba-tiba putus.

Malam itu, membawa mereka pada ujian terberat. Marcel harus memutuskan: apa yang lebih berharga, nyawa Rihana atau uang yang diminta penculik? Dalam kegelapan, tekadnya semakin kuat. ia tidak membiarkan Rihana menjadi korban lagi.

Marcel berdiri di persimpangan hidup dan mati. Jejak malam membawanya pada ujian terberat yang pernah dihadapinya. Di satu sisi, Rihana, wanita yang dicintainya, terjebak dalam situasi mengerikan. Disisi lain, penculik minta tebusan yang tak terbayangkan: 2 miliar rupiah.

Dalam kegelapan, tekad Marcel semakin kuat. Ia tidak akan membiarkan Rihana menjadi korban lagi. Namun, uang yang diminta penculik adalah jumlah yang tak masuk akal. Bagaimana dia bisa mengumpulkan jumlah sebesar itu dalam waktu dua hari?

“Marcel,” suara lembut Ayahnya memecah keheningan. “Kamu harus tenang dan berpikir dengan bijaksana.”

Marcel menoleh ke arah Ayahnya. Wajah tua itu penuh perhatian dan kekhawatiran. Sudarta dan Subroto, dua sahabatnya yang setia, saling pandang. Mereka juga merasakan tekanan yang sama.

“Ayah, penculik itu minta tebusan 2 miliar,” kata Marcel dengan suara gemetar. “Apa yang harus aku lakukan?”

Ayahnya mengangguk. “Anaku, kita akan mencari jalan. Kita tidak akan menyerah. Rihana adalah bagian dari keluarga kita, dan kita akan melindunginya.”

Sudarta dan Subroto bergabung dalam diskusi. Mereka merencanakan segala kemungkinan. Apakah mereka harus mencari bantuan polisi? Atau mencari cara lain untuk mengumpulkan uang?

Di dalam gudang tua yang tersembunyi di pinggiran kota, tiga orang penculik merayakan keberhasilan mereka. Cahaya remang-remang menyinari wajah mereka yang penuh kepuasan. Rihana, wanita muda yang kini terikat dan terbungkus dengan kain, duduk di sudut ruangan. Matanya berkaca-kaca, mencerminkan ketakutan dan keputusasaan.

Penculik pertama, bernama Malik, menggosok tangannya dengan gembira. “Kita berhasil, teman-teman! Kita punya sandera yang berharga. Tebusan dua miliar rupiah akan mengalir deras ke rekening kita.”

Penculik kedua, seorang lelaki bernama Rukyadi, tertawa terbahak-bahak. “Siapa sangka kita bisa mmenculik Rihana seorang anak dari investor pabrik RSTI. Rihana pasti memiliki banyak rahasia yang bisa kita manfaatkan.”

Penculik ketiga, seorang pria bertubuh besar bernama Viktor, mengangguk setuju. “Tidak ada yang bisa menghentikan kita sekarang. Kita akan menjadi kaya raya!”

Rihana menatap mereka dengan mata penuh ketidakpercayaan. Dia berusaha melepaskan diri dari ikatan, tetapi tali yang mengikat pergelangan tangannya terlalu kuat. Dia berpikir tentang Marcel, kekasihnya yang pasti sedang mencari-cari jejaknya. Dia berharap dia akan datang menyelamatkannya.

Dalam kegelapan gudang tua, Rihana merasakan ketegangan di udara. Suara mesin mobil mendekat, menggema di dinding-dinding yang retak. Dia menutup matanya, tetapi hatinya berdebar kencang. Siapa bos besar yang datang? Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Penculik yang menjaga Rihana menatap pintu gudang dengan ketidakpastian. Wajahnya pucat. “Kita harus siap,” bisiknya pada yang lain. “Bos ini tidak main-main.”

Mobil hitam berhenti tepat di depan pintu. Pintunya terbuka perlahan, dan seorang pria keluar. Wajahnya tertutup topeng, hanya mata tajam yang terlihat. Dia melangkah masuk, memandang tiga penculik dengan tatapan dingin.

“Di mana dia?” suaranya rendah dan berbahaya.

Penculik yang menjaga Rihana menelan ludah. “Di sini, Pak,” katanya gemetar, menunjuk ke arah Rihana.

Pria itu menghampiri Rihana. Dia menatapnya sejenak, lalu tersenyum. “Rihana,” katanya, “lama tidak bertemu.”

Rihana terkejut. Dia mengenali suara itu. Pria ini bukanlah bos besar penculik. Dia adalah seseorang yang lebih berbahaya lagi. Seseorang dari masa lalunya yang dia pikir sudah mati.

“Pak Mustafa,” bisik Rihana, sebelum kehilangan kesadaran.

Semua pertanyaan dan ketidakpastian menggantung di udara. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Mengapa Mustafa, ayahnya abidin muncul di saat-saat genting ini? Dan apa yang dia inginkan dari Rihana?

To be continued…