Rihana merasa jantungnya berdetak kencang. Cahaya remang-remang gudang tua hanya menyoroti wajah bos besar penculik, Mustafa. Dia mengenalnya sebagai sosok kejam yang tak segan mengorbankan siapa pun demi keuntungan pribadi.
“Rihana,” suara Mustafa bergema di dinding-dinding gudang, “kamu gadis yang sangat cantik. Tapi kenapa harus memilih Marcel, anak Ruswanda itu?”
Rihana menatapnya tajam. “Lalu urusan Bapak apa? Kenapa saya tidak boleh berhubungan dengan Marcel?”
Mustafa tertawa sinis. “Kamu tidak tahu? Sudarta, ayahnya Marcel, berharap menguras harta ayahmu. Dia senang saat ayahmu menjadi investor di perusahaan Ruswanda. Jadi, alangkah baiknya kamu batalkan saja pernikahanmu dengan Marcel.”
Rihana menatap Mustafa dengan mata yang membara. “Tidak mungkin! Ayahnya Marcel pastilah orang baik,” katanya tajam. Mustafa hanya bisa tertawa terbahak-bahak, dan tiga penculik lainnya ikut bergabung dalam gelak tawa sinis.
“Kita lihat saja,” ucap Mustafa, wajahnya yang berkerut mengekspresikan ketidakpercayaan. “Uang tebusan dua miliar. Siapa yang akan memberikan untuk kami? Sudarta atau Subroto?”
Rihana merenung sejenak. Sudarta, ayah Marcel, memang selalu terlihat santun dan berwibawa. Rihana memutuskan: dia akan menggali lebih dalam. Dia akan menemukan kebenaran, bahkan jika itu berarti menghadapi bahaya dan mengungkap rahasia yang bisa mengubah segalanya. Cinta mereka tidak bisa bertahan, tapi bukan hanya karena Marcel. Ada lebih banyak yang dipertaruhkan di balik bayang-bayang gelap ini.
Di sudut gelap kota kecil, Mustafa memandang gadis yang terikat dengan tali kasar. Wajahnya pucat, matanya mencari-cari peluang untuk melarikan diri. Mustafa, seorang penjahat kelas kakap, telah merencanakan penculikan ini dengan cermat. Gadis ini, putri seorang pengusaha kaya bernama Subroto yang akan dijodohkan dengan Marcel anak Sudarta. Rihana adalah tiket menuju kebebasan finansial yang Mustafa impikan.
Rukyadi, anak buah setia Mustafa, berdiri di sampingnya. Wajahnya keras, tangan terampil mengikat tali dengan mantap. "Siap, Bos," katanya dengan suara rendah.
Mustafa menggelengkan kepala. "Kita harus menunggu. Sudarta akan membayar tebusan untuk calon menantu. Kita hanya perlu bersabar."
Gadis itu menatap Mustafa dengan mata penuh ketakutan. Mustafa merasa sedikit iba. Dia tahu dia melakukan hal yang salah, tetapi kesempatan ini terlalu menggiurkan untuk dilewatkan begitu saja. Dia akan menjadi kaya, dan gadis ini akan kembali ke pelukan ayahnya Subroto.
Malam semakin gelap. Mustafa dan Rukyadi bersembunyi di antara bayang-bayang, menunggu. Setiap suara langkah kaki membuat hati mereka berdebar.
Pagi menyingsing, dan suasana gelap menyelimuti rumah Subroto. Marcel dan Sudarta duduk di ruang tamu, mata mereka lelah dan penuh kekhawatiran. Di samping mereka, ibu Sumarni, istri Subroto, menggigit bibirnya dengan cemas.
"Apakah belum ada kabar dari penculik?" tanya ibu Sumarni dengan suara gemetar. Subroto hanya menggelengkan kepala, matanya terpaku pada telepon yang tergeletak di meja.
"Pak Sudarta," ujar Marcel, "kita tidak boleh gegabah. Menyerahkan uang tebusan sekarang mungkin bukan pilihan terbaik. Kita harus menunggu sampai penculik menelepon kita."
Subroto menggenggam tangan istrinya. "Tapi anak kita berada dalam bahaya. Apa yang harus kita lakukan?"
Marcel memandang keluar jendela. "Kita harus tetap tenang. Penculik pasti ingin uang, tapi kita tidak boleh terburu-buru. Kita perlu tahu lebih banyak tentang mereka, tentang motif dan rencana mereka."
Sudarta mengangguk. "Benar. Kita tidak boleh panik. Kita akan menunggu."
Hari berlalu dengan lambat. Telepon tidak berdering. Sudarta dan Marcel terus memantau setiap suara, setiap gerakan. Ibu Sumarni berdoa tanpa henti.
Akhirnya, suara telepon memecah keheningan. Semua tiga orang itu menoleh ke arah meja. Subroto mengambil gagang telepon dengan tangan gemetar.
"Siapa di sana?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Kita bertemu lagi, Subroto," kata suara di seberang sana. "Waktunya membayar tebusan.
Subroto menelan ludah. "Berapa yang kau inginkan?"
"2 milyar. Transfer sekarang, atau anakmu akan menderita."
Marcel menatap Sudarta. "Kita harus berani. Kita akan memberikan uang, tapi kita juga akan melacak mereka. Kita tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja."
Sudarta mengangguk. "Kita akan menunggu dan siap menghadapi apa pun yang akan terjadi."
Ketegangan semakin terasa. Keluarga Sudarta berada di persimpangan jalan yang menentukan nasib Marcel. Uang tebusan yang diminta penculik sangat besar, dan mereka harus memutuskan dengan hati-hati. Apakah mereka akan membayar dan mempertaruhkan keuangan mereka, ataukah mencari cara lain untuk menyelamatkan anak mereka?
Di balik layar, Abidin tersenyum. Dia tahu, tak peduli apa pun keputusan yang diambil keluarga Sudarta, dia akan tetap memenangkan permainan ini. Rahasia yang disembunyikan akan segera terungkap, dan dia akan mengambil alih segalanya.
Namun, di antara ketidakpastian dan tekanan, ada satu hal yang tidak bisa diprediksi: keberanian keluarga Sudarta. Apakah mereka akan berani menghadapi bahaya demi anak mereka? Ataukah mereka akan menyerah pada ketakutan dan membayar uang tebusan?
Kehidupan Marcel bergantung pada keputusan yang akan mereka buat. Dan di balik layar, Abidin menunggu dengan sabar, siap untuk mengambil langkah selanjutnya dalam permainan ini.
Sembari menunggu, dering ponsel Marcel memecah keheningan. Dia mengangkat telepon dan mendengarkan dengan cemas. Suara di seberang sana adalah suara yang tak asing baginya.
"Marcel," kata suara itu, "aku tahu tentang Rihana. Dia sedang diculik."
Marcel terkejut. "Siapa ini? Bagaimana kau tahu?"
"Saya ini Abidin !" jawab suara itu.
Marcel dan Sudarta saling pandang. Subroto ayah Rihana, adalah seorang pengusaha kaya yang selalu terlibat dalam urusan gelap. Dia memiliki banyak musuh, dan Marcel tahu bahwa penculikan Rihana bukan hanya soal uang tebusan.
Abidin membayangkan keluarga Sudarta dengan mata yang penuh tipu daya. Dia tahu, saat ini dia berada di tengah-tengah sebuah permainan yang lebih rumit daripada yang bisa dibayangkan. Keluarga ini, dengan segala intrik dan rahasia yang mereka sembunyikan, adalah mangsa sempurna untuk rencananya.
Marcel, putra bungsu keluarga Sudarta, tampak gugup. Wajahnya pucat. Sementara, Abidin berpura-pura baik terhadap mereka, berpura-pura baik bahwa dia peduli dengan Marcel. Padahal, hatinya tertawa melihat kekacauan yang dia ciptakan di antara mereka.
"Kapan penculikan terjadi?" tanya Abidin dengan suara lembut. Dia tahu jawabannya, tentu saja. Dia yang merencanakan semuanya. Tapi dia ingin melihat bagaimana keluarga ini bereaksi.
Tidak ada satupun yang tahu, siapa itu Abidin di antara mereka. Dia menyamar dengan baik, menyembunyikan identitasnya di balik topeng kebaikan palsu. Dia adalah seorang master manipulator, dan keluarga Sudarta adalah korban terbarunya.
Marcel menelan ludah. "Beberapa hari yang lalu," jawabnya gemetar. "Dia diculik di tengah malam. Kami tidak tahu siapa pelakunya."
Abidin mengangguk. "Sangat tragis," katanya. "Tapi jangan khawatir, saya akan membantu menemukan Marcel."
Dia berbicara dengan suara yang lembut, tetapi di dalam hatinya, dia tertawa. Dia tahu persis dimana Marcel berada. Dia telah menyusun rencana yang sempurna untuk menggulingkan keluarga Sudarta dan mengambil alih kekayaan mereka.
Ketika dia berdiri dan tiba-tiba berada dirumah Subroto, dia memandang wajah-wajah ketakutan di sekitarnya. Mereka tidak tahu, bahwa Abidin bukanlah pahlawan yang mereka kira. Dia adalah penjahat yang bersembunyi di balik senyum manisnya.
Dan rahasia keluarga Sudarta akan segera terungkap.
Apakah Abidin akan berhasil dalam rencananya? Apa yang sebenarnya terjadi pada Marcel? Dan siapa sebenarnya Abidin?