Bab 27 keselamatan

22 December 2025

Abidin merencanakan langkah selanjutnya dengan cermat. Dia tahu bahwa keluarga Sudarta tengah berada dalam tekanan besar. Uang tebusan yang diminta penculik sangat besar, dan Abidin ingin memanfaatkan situasi ini untuk keuntungannya sendiri.

“Marcel, jadi apa yang harus saya lakukan?” tanya Abidin, suaranya berbisik penuh ketegangan.

“Entahlah, saya juga masih bingung,” jawab Marcel, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi kita harus bertindak cepat sebelum mereka menyadari sesuatu.”

“Kamu benar Marcel,” jawab Abidin.

Hari semakin siang, keadaan Rihana sampai siang ini belum ada kabar dari penculik. Tiba-tiba ponsel Marcel bergetar, sebuah pesan masuk dari Rihana. Dengan cepat, Marcel membuka pesan tersebut dan melihat bahwa Rihana telah mengirimkan lokasi GPS tempat persembunyiannya. Rupanya Rihana lebih cerdas, ia berhasil mengirimkan koordinatnya kepada Marcel tanpa diketahui oleh penculik.

Marcel segera bergegas, mengambil kunci motor dan helmnya. “Aku harus pergi sekarang, Abidin. Jaga komunikasi tetap terbuka,” katanya sambil berlari keluar rumah. Abidin mengangguk, wajahnya penuh kekhawatiran namun juga harapan.

Marcel melaju dengan cepat di jalanan kota yang mulai ramai. Ia mengikuti sinyal GPS yang dikirimkan oleh Rihana, berharap bisa sampai tepat waktu. Di sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada Rihana. Namun, ia berusaha tetap fokus dan tidak membiarkan rasa takut menguasai dirinya.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Marcel tiba di sebuah gedung tua yang tampak terbengkalai. Ia memarkir motornya di tempat yang tersembunyi dan mulai mendekati gedung tersebut dengan hati-hati. Ia memastikan tidak ada yang mengikutinya atau memperhatikan gerak-geriknya.

Marcel memasuki gedung dengan perlahan, mengikuti sinyal GPS yang semakin kuat. Ia mendengar suara langkah kaki dan bisikan dari kejauhan. Dengan hati-hati, ia mendekati sumber suara tersebut dan melihat beberapa orang yang tampak seperti penjaga sedang berbicara satu sama lain.

Marcel menunggu momen yang tepat, lalu menyelinap melewati mereka. Ia terus mengikuti sinyal GPS hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan kecil di sudut gedung. Di dalam ruangan tersebut, ia melihat Rihana yang terikat di kursi, namun tampak tidak terluka.

“Rihana!” bisik Marcel dengan suara pelan namun penuh emosi. Rihana menoleh dan matanya berbinar melihat Marcel. “Aku akan membebaskanmu,” katanya sambil mulai melepaskan ikatan di tangan dan kaki Rihana.

Namun, sebelum mereka bisa keluar dari ruangan, salah satu penjaga mendengar suara mereka dan berteriak, “Hei! Ada orang di sini!” Marcel dan Rihana segera berlari keluar dari ruangan, mencoba mencari jalan keluar dari gedung tersebut.

Dengan keberanian dan kecerdikan, mereka berhasil menghindari para penjaga dan keluar dari gedung. Marcel mengajak Rihana naik ke motornya dan mereka melaju dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Meskipun mereka masih dalam bahaya, Marcel merasa lega karena berhasil menemukan dan menyelamatkan Rihana.

Mereka terus melaju hingga merasa cukup jauh dari tempat persembunyian penculik. Marcel berhenti di sebuah tempat yang aman dan memeluk Rihana dengan erat. “Kita berhasil, Rihana. Kamu aman sekarang,” katanya dengan suara penuh kelegaan.

Sementara itu, Mustafa bos besar para penculik sangat marah. Karena Rihana kabur begitu juga, ia memaki anak buahnya

Mustafa, bos besar para penculik, sangat marah. Rihana, yang berhasil melarikan diri, membuatnya kehilangan kendali. Ia memaki anak buahnya dengan kata-kata kasar, menuntut penjelasan bagaimana bisa seorang gadis muda lolos dari pengawasan mereka.

Di tempat lain, Rihana berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal-sengal. Ia tahu bahwa jika tertangkap lagi, nasibnya akan lebih buruk. Dengan tekad yang kuat, ia terus berlari menuju hutan lebat di pinggiran kota. Di sana, ia berharap bisa menemukan tempat persembunyian yang aman.

Rihana tersenyum dan membalas pelukan Marcel. “Terima kasih, Marcel. Aku tahu kamu akan datang menyelamatkanku,” jawabnya dengan suara lembut.

Meskipun mereka tahu bahwa ancaman belum sepenuhnya hilang, Marcel dan Rihana merasa lebih kuat karena mereka telah berhasil melewati cobaan ini bersama-sama. Mereka berdua bertekad untuk melawan segala rintangan yang mungkin datang di masa depan, dengan keberanian dan cinta yang mereka miliki.

Pada akhirnya, mereka pun telah kembal ke rumah. Tak lupa, Marcel menyerahkan Rihana kepada orang tuanya dalam keadaan selamat. Kedua orang tuanya sangat berterima kasih kepada Marcel yang telah menyelamatkan putri semata wayangnya. Begitu juga dengan Rihana, tiba-tiba ia memberikan senyuman kepada Marcel untuk pertama kalinya, membuat Marcel tersipu malu.

"Anakku, terima kasih banyak. Pada akhirnya Hana bisa kembali lagi," kata ibu Rihana yang bernama Ibu Sumarni dengan mata berkaca-kaca.

"Sama-sama, Ibu. Sekarang Ibu sudah tenang, sesuai janjiku, aku sudah mengembalikan Rihana. Kalau begitu, kami pamit dulu," jawab Marcel dengan sopan.

Marcel pun berpamitan dan meninggalkan rumah Rihana. Dia berjalan menuju rumah Marcel. Marcel merasa lega dan bahagia karena berhasil menyelamatkan Rihana, namun di dalam hatinya, ia juga merasa ada sesuatu yang berbeda setelah melihat senyuman Rihana.

Sementara itu, Abidin yang mengetahui keselamatan Rihana, menjadi jengkel dan kesal. Di balik senyuman itu, ada hasrat untuk memisahkan Marcel dan Rihana agar mereka tidak jadi menikah.

Abidin mulai merencanakan berbagai cara untuk memisahkan mereka. Ia berpura-pura mendukung hubungan Marcel dan Rihana, namun di balik itu, ia menyusun rencana jahat. Suatu hari, Abidin mendekati Rihana dan berkata, "Rihana, aku mendengar kabar bahwa Marcel sebenarnya tidak tulus padamu. Dia hanya ingin memanfaatkanmu."

Rihana terkejut mendengar perkataan Abidin. "Apa maksudmu, Abidin? Marcel selalu baik padaku."

Abidin tersenyum licik. "Aku hanya ingin kamu berhati-hati. Aku tidak ingin kamu terluka."

Rihana mulai merasa ragu dan bingung. Ia tidak tahu harus percaya pada siapa.

Hari-hari berikutnya, Marcel dan Rihana semakin sering bertemu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, baik itu berjalan-jalan di kampung, membantu pekerjaan di ladang, atau sekadar duduk di bawah pohon besar sambil berbincang-bincang. Hubungan mereka semakin dekat, dan Marcel mulai merasakan perasaan yang lebih dari sekadar teman terhadap Rihana.

Suatu hari, Marcel memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rihana. Mereka duduk di bawah pohon besar yang menjadi tempat favorit mereka. Marcel mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Rihana, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Sejak kejadian itu, aku merasa ada yang berbeda. Aku... aku menyukaimu, Rihana."

Rihana terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut. "Marcel, aku juga merasakan hal yang sama. Sejak kamu menyelamatkanku, aku merasa ada ikatan yang kuat antara kita. Aku juga menyukaimu."

Mendengar jawaban Rihana, Marcel merasa sangat bahagia. Mereka saling berpandangan dan tersenyum, merasakan kebahagiaan yang tak terhingga. Sejak saat itu, hubungan mereka semakin erat dan mereka berdua berjanji untuk selalu bersama, menghadapi segala rintangan yang mungkin datang di masa depan.

Kisah Marcel dan Rihana menjadi inspirasi bagi penduduk desa. Mereka melihat bagaimana keberanian, ketulusan, dan cinta bisa mengatasi segala rintangan. Namun, di tengah kebahagiaan mereka, sebuah surat misterius tiba di rumah Marcel, mengungkapkan rahasia kelam yang bisa mengubah segalanya.

Marcel dan Rihana pun hidup bahagia bersama, Mereka mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka akan membangun keluarga yang penuh cinta dan kebahagiaan di kampung mereka. Apa yang terjadi selanjutnya ???