Bab 28 Terbukanya hati

23 January 2026

Seiring dengan waktu, di sore hari yang cerah itu, Rihana kini dalam kesendirian di dalam kamarnya. Ia duduk di dekat jendela, memandang langit yang mulai berubah warna menjadi oranye keemasan. Angin sepoi-sepoi masuk melalui celah jendela, membawa aroma bunga melati yang menenangkan. Rihana merasa damai, namun ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya hari ini.

Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka perlahan. Ibunya masuk dengan wajah penuh kecemasan. "Hana!" sahut ibunya, suaranya terdengar cemas namun lembut.

"Iya, Ibu," jawab Rihana dengan lembut, menoleh ke arah ibunya.

Ibunya mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Rihana. "Setelah ibu perhatikan, kamu lebih bahagia daripada hari kemarin. Sebenarnya ada apa, ya?" tanya ibunya penuh penasaran, matanya menatap Rihana dengan penuh perhatian.

Rihana hanya bisa tersenyum bahagia. "Entahlah, Ibu. Hana juga bingung. Entah kenapa Hana merasa bahagia sekali, seolah-olah ada seorang pangeran yang sudah masuk ke dalam hati Hana," jawab Rihana, matanya berbinar-binar.

Ibunya hanya bisa melongo dan kaget mendengar jawaban Rihana. "Pangeran? Apa maksudmu, Hana?" tanyanya, mencoba memahami perasaan putrinya.

Rihana menghela nafas panjang, lalu berkata, "Ibu, Hana merasa seperti ada seseorang yang istimewa yang hadir dalam hidup Hana. Meskipun Hana belum tahu siapa dia, tapi perasaan ini membuat Hana sangat bahagia."

Ibunya tersenyum lembut, lalu meraih tangan Rihana dan menggenggamnya erat. "Hana, perasaan bahagia itu adalah anugerah. Mungkin ini adalah tanda bahwa sesuatu yang indah akan datang dalam hidupmu. Ibu hanya berharap kamu selalu bahagia dan menemukan kebahagiaan sejati."

Rihana mengangguk pelan, terasa hangat oleh dukungan ibunya. Mereka berdua duduk dalam keheningan, menikmati momen kebersamaan yang penuh kasih sayang. Di luar, matahari perlahan tenggelam, meninggalkan langit yang berwarna merah muda dan ungu. Hari itu, Rihana merasa lebih dekat dengan ibunya dan lebih yakin bahwa kebahagiaan sejati sedang menantinya di masa depan.

"Tapi, Kamu tak boleh jatuh cinta, Hana!" hardik ibunya dengan suara yang tegas.

Rihana terkejut mendengar nada keras ibunya. "Maksud ibu? Hana tak boleh jatuh cinta?" tanyanya penasaran, mencoba memahami maksud ibunya.

"Ya! Kamu tak boleh jatuh cinta selain anaknya Pak Sudarta," jawab ibunya dengan nada yang masih tegas.

"Kenapa, Ibu?" tanya Rihana, bingung dengan perintah ibunya yang tiba-tiba.

"Karena dia sudah melamarmu lebih dulu. Kalau ada orang lain selain dia, apa kata dunia? Ibu pasti akan malu karena telah menolak lamaran keluarga Pak Sudarta dengan tidak langsung," bentak ibunya, matanya menatap Rihana dengan tajam.

Namun, semua itu ditanggapi dengan senyuman oleh Rihana. Ia menatap ibunya dengan lembut dan berkata, "Ibu, ibu tenang saja. Hana sudah menerima lamaran Kak Marcel."

Mendengar jawaban Rihana, wajah ibunya berubah. Dari yang awalnya tegang dan marah, kini menjadi tersenyum dan malu. Ia merasa lega dan bahagia mendengar keputusan putrinya. Dengan penuh kasih sayang, ibunya memeluk Rihana dengan erat.

"Hana, ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Ibu senang kamu sudah membuat keputusan yang bijak," bisik ibunya dengan suara lembut.

Rihana membalas pelukan ibunya dengan hangat. "Terima kasih, Ibu. Hana juga ingin yang terbaik untuk kita semua."

Mereka berdua duduk bersama, menikmati momen kebersamaan yang penuh kasih sayang. Di luar, matahari mulai terbenam, memberikan warna keemasan pada langit. Hari itu, Rihana merasa lebih dekat dengan ibunya dan lebih yakin bahwa kebahagiaan sejati sedang menantinya di masa depan.

Malam semakin larut, hingga pagi yang cerah pun kembali datang. Suara ayam berkokok membangunkan semua orang. Semua orang beraktivitas di pagi itu, termasuk Rihana yang sangat sibuk.

Kesibukan Rihana adalah mempersiapkan beberapa berkas untuk melamar pekerjaan di sebuah taman kanak-kanak yang tak jauh dari rumahnya itu. Dan tidak disangka, pada akhirnya ia diterima dan besok lusa ia akan mengajar di tempat itu.

Rihana bangun dengan semangat yang membara. Hari itu adalah hari pertamanya mengajar di taman kanak-kanak. Ia mengenakan pakaian terbaiknya, sebuah blus putih dengan rok biru tua, dan mengikat rambutnya dengan rapi. Setelah sarapan cepat, ia bergegas menuju taman kanak-kanak yang hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya.

Sesampainya di sana, ia disambut oleh kepala sekolah, Ibu Sari, yang ramah dan penuh senyum. "Selamat datang, Rihana! Kami sangat senang kamu bergabung dengan kami," kata Ibu Sari sambil menjabat tangan Rihana.

Rihana merasa sedikit gugup, tetapi senyum hangat Ibu Sari membuatnya merasa lebih tenang. Ia kemudian diperkenalkan kepada para guru lainnya dan juga anak-anak yang akan menjadi muridnya. Anak-anak itu tampak antusias dan penasaran dengan guru baru mereka.

Hari pertama Rihana di taman kanak-kanak berjalan dengan lancar. Ia mengajar anak-anak dengan penuh semangat dan kreativitas. Ia mengajak mereka bernyanyi, bermain, dan belajar dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak sangat menyukai Rihana dan mereka cepat akrab dengannya.

Di akhir hari, Rihana merasa sangat puas dan bahagia. Ia merasa telah menemukan tempat yang tepat untuknya. Ia pulang dengan senyum di wajahnya, merasa bahwa hari-hari ke depan akan penuh dengan petualangan dan kebahagiaan.

Hari-hari berlalu, dan Rihana semakin menikmati pekerjaannya sebagai guru taman kanak-kanak. Ia menjadi sosok yang dicintai oleh anak-anak dan dihormati oleh rekan-rekannya. Setiap hari, ia membawa ide-ide baru untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan.

Suatu hari, Rihana memutuskan untuk mengadakan pertunjukan drama kecil-kecilan bersama anak-anak. Ia memilih cerita rakyat Jepang yang sederhana namun penuh makna. Anak-anak sangat antusias dan mereka berlatih dengan giat. Rihana membantu mereka dengan kostum dan properti, serta mengarahkan mereka dengan penuh kesabaran.

Pada hari pertunjukan, orang tua anak-anak datang untuk menyaksikan. Pertunjukan berjalan dengan sangat baik, dan semua orang terkesan dengan penampilan anak-anak. Rihana merasa sangat bangga melihat anak-anak tampil dengan percaya diri dan gembira.

Setelah pertunjukan, banyak orang tua yang datang menghampiri Rihana untuk mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Bu Rihana. Anak-anak kami sangat senang dan mereka belajar banyak dari Anda," kata salah satu orang tua.

Rihana merasa sangat terharu dan bahagia. Ia menyadari bahwa pekerjaannya bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang memberikan kebahagiaan dan inspirasi kepada anak-anak. Ia merasa bahwa ia telah menemukan panggilan hidupnya.

Dan begitu, Rihana terus mengajar dengan penuh dedikasi dan cinta. Ia tahu bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk membuat perbedaan dalam hidup anak-anak, dan ia bertekad untuk memberikan yang terbaik.

Rihana dan Endah bertemu di taman kanak-kanak tempat mereka mengajar. Endah, yang pernah mengkhianati Marcel, tidak mengetahui siapa Rihana sebenarnya. Hari demi hari, Rihana datang mengajar anak-anak dengan penuh kasih sayang. Anak-anak sangat menyukai cara mengajar Rihana yang cantik dan baik hati.

Suatu hari, seorang murid bertanya, "Ibu, saya mau tanya."

"Tanya apa, nak?" jawab Rihana.

"Kenapa ya, kepala jerapah sangat panjang?" tanya muridnya. Dengan tersenyum, Rihana menjawab, "Ouwh itu mungkin karena jarak kepalanya dan tubuhnya jauh, anak-anak."

"Oh, begitu ya, Bu guru?" Akhirnya anak-anak pun puas dengan jawaban Rihana.

Setiap pagi, Endah mengajak anak-anak untuk senam. "Anak-anak, ayo kita belajar senam di pagi hari," kata Endah. Karena ditempatkan di kelas yang sama, Rihana dan Endah semakin akrab. Mereka bekerja sama dalam mengajar dan merawat anak-anak.

Suatu hari, Endah melihat Rihana sedang berbicara dengan seorang pria di luar sekolah. Pria itu adalah Marcel. Dia tidak tahu bahwa Rihana adalah sahabat Marcel. Rihana menyadari perubahan sikap Endah.

Meskipun dengan gaji honorer, Rihana begitu bahagia dengan semuanya itu. Sehingga suatu ketika di tempat lain, Marcel sangat sibuk dengan perusahaannya. Banyak para investor yang masuk di perusahaannya hingga hampir lupa dengan niat dan tujuannya untuk menikahi Rihana.

Hari ini, ia merasakan rindu dengan Rihana dan hendak bertemu dengannya. "Hana, aku sangat merindukanmu, sudah lama aku tak pernah lagi bertemu denganmu," kata Marcel dalam hatinya, sambil memegangi sebuah foto seorang gadis cantik berambut panjang di mejanya, itulah Rihana yang ia dambakan selama ini.

Marcel memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sejenak dan pergi menemui Rihana. Namun, saat ia tiba di taman kanak-kanak tempat Rihana mengajar, ia melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Di sana, Rihana sedang berbicara dengan seorang perempuan yang tampak akrab dengannya. Marcel merasa hatinya berdebar-debar dan bertanya-tanya, "Siapa perempuan itu?

Marcel berdiri di kejauhan, tidak yakin apakah harus mendekat atau menunggu. Akankah Marcel menemukan keberanian untuk mendekati Rihana dan mengungkapkan perasaannya, atau akankah ia kembali ke perusahaannya dengan hati yang hancur? Ikuti selengkapnya di bab berikutnya.