Hening malam di rumah Hanum pecah seketika ketika kaca jendela remuk ditembus peluru. Suara letupan itu bagai guntur yang mengiris keheningan. Hanum menjerit, tubuhnya spontan merapat pada Al yang segera melindunginya dengan refleks seorang yang terbiasa dengan ancaman.
Al menekan tubuh Hanum ke lantai, membuatnya tiarap di balik sofa ruang tamu. Suara napas Hanum yang tersengal membuat dada Al semakin bergemuruh. Ia menoleh cepat, matanya menyapu seluruh ruangan.
Ini bukan ancaman lagi. Mereka datang.
“Hanum, jangan bergerak!” bisiknya rendah tapi tegas.
Hanum menggigil, matanya membelalak, masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Tubuhnya gemetar, dadanya naik-turun cepat. “Al, apa yang terjadi? Siapa mereka?”
Al tidak sempat menjawab. Kaca jendela lain kembali pecah. Dor! Suara peluru kedua menancap ke dinding tak jauh dari mereka.
Dengan cepat, Al meraih pistol yang selalu ia sembunyikan di balik jaket kulit hitamnya. Jemarinya terlatih mengokang pelatuk. Matanya menyipit, penuh kemarahan sekaligus ketakutan, bukan pada peluru, tapi pada kemungkinan kehilangan Hanum.
**"
Serangan pun dimulai.
Suara langkah kaki terdengar dari luar, berat dan cepat, menandakan ada lebih dari satu orang. Mereka bukan sekadar mengintimidasi. Mereka datang dengan maksud jelas, yakni melenyapkan Hanum.
Al menggeram pelan, menahan amarahnya. Ia tahu siapa pun yang berada di balik ini telah benar-benar melangkahi batas.
“Dengar aku, Hanum,” ucapnya pelan sambil meraih bahu gadis itu, menatap matanya dengan penuh ketegasan. “Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan sisi aku. Paham?”
Hanum menatap balik, matanya berair. Namun, ia mengangguk meski ketakutan masih menyelimuti.
Tiba-tiba, suara pintu depan dihantam keras. Brak! Engselnya berderit.
“Diam di sini!” Al menggeser sofa untuk sedikit perlindungan tambahan, lalu berdiri tegak, pistol terarah ke pintu.
Ketukan kedua lebih keras, diikuti teriakan kasar dari luar. “Buka pintunya atau kami masuk dengan cara kami sendiri!”
Al menahan napas. Ia mengenali logat itu, orang-orang suruhan musuh keluarganya.
Ini sudah terlalu jauh.
Pintu pun akhirnya terlempar terbuka dengan sekali tendang. Empat pria bertubuh kekar bersenjata masuk begitu saja. Wajah mereka penuh dendam.
“Cari anak itu!” salah satu dari mereka berteriak.
Al tanpa ragu menembak. Dor! Satu peluru melesat, menumbangkan pria pertama tepat di bahu. Ia jatuh menjerit.
Tiga lainnya langsung menyerbu, membalas dengan tembakan liar. Furnitur rumah Hanum porak poranda, kaca pecah, suara letupan bergema.
Hanum berteriak, menutup telinga. Namun, Al cepat menariknya masuk ke dapur, berlindung di balik meja makan.
Al menunduk, napasnya berat. Ia mengisi ulang peluru dengan cepat. Matanya menyapu Hanum, memastikan gadis itu masih aman di sisinya.
“Pegang tanganku, jangan lepas!”
Hanum menurut, meski tangannya gemetar luar biasa. Ia tak pernah membayangkan rumahnya sendiri bisa berubah menjadi arena pertempuran.
Pria bersenjata itu terus mendekat, suara langkah mereka terdengar semakin dekat. Salah satunya menendang pintu dapur.
Al langsung menembak. Dor! Dor! Dua peluru bersarang di pintu, membuat lawan terhuyung. Namun, yang lain langsung membalas, peluru berdesing nyaris mengenai kepala Al.
“Al!” Hanum berteriak panik.
“Aku tak apa-apa!” jawab Al cepat, meski keringat dingin membasahi pelipisnya.
Namun, ia tahu, ini bukan situasi yang bisa ia kendalikan sepenuhnya. Lawan mereka terlalu banyak, rumah terlalu terbuka. Ia harus menemukan cara keluar.
Jalan keluar.
Al meraih ponselnya dengan tangan kiri, berusaha menghubungi salah satu anak buah kepercayaannya, tapi sinyal mendadak hilang. Ia mendengus marah. “Mereka sudah blokir jaringan.”
Hanum menatapnya panik. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Al menggertakkan gigi. “Kita harus keluar lewat pintu belakang.”
Dengan cepat, ia menarik Hanum ke arah pintu dapur belakang. Namun begitu ia membukanya, dua pria sudah menunggu di sana dengan pisau panjang di tangan.
“Ke mana, hah?” salah satu mengejek.
Al menodongkan pistol, menembak cepat. Salah satu tumbang. Namun, yang lain berhasil menangkis dengan kursi yang ada di teras. Al menendang pria itu keras hingga terjungkal, lalu menarik Hanum berlari keluar.
Udara malam menusuk kulit, suara tembakan masih terdengar dari dalam rumah.
“Cepat, Hanum! Lari ke mobil!” teriak Al.
Hanum berlari sekuat tenaga, jantungnya hampir meledak. Namun, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba seseorang muncul dari balik pagar rumah, menodongkan senjata tepat ke arahnya.
“Jangan bergerak!”
Hanum terhuyung, matanya membelalak.
Al melihat itu, darahnya mendidih. Ia segera melompat ke arah Hanum, memeluknya dan menembak pria itu dengan refleks.
Dor! Pria itu tumbang, pistolnya terlepas.
Hanum tersedak napas, tubuhnya lemas. Al merangkulnya erat, memastikan ia masih bernapas. “Aku ada di sini. Kamu aman.”
Namun, hatinya tahu, ini baru permulaan.
Setelah berhasil membawa Hanum ke mobil dan melarikan diri dari rumah yang kini porak poranda, Al memacu kendaraan dengan kecepatan penuh. Hanum terisak di kursi samping, wajahnya pucat pasi.
“Kenapa, kenapa mereka mengejarku, Al?” suaranya bergetar.
Al tak menjawab langsung. Matanya fokus ke jalan, rahangnya mengeras.
Di dalam dirinya, pertarungan batin berlangsung hebat. Kalau aku tetap di sampingnya, Hanum akan terus jadi target, tapi kalau aku menjauhinya, siapa yang bisa menjaganya?
Bayangan pesan ancaman itu kembali menghantam pikirannya. Kata-kata yang menusuk. “Jauhkan dirimu dari Hanum.”
Apakah benar satu-satunya cara melindungi Hanum adalah dengan meninggalkannya? Bagaimana mungkin ia bisa? Setelah semua yang terjadi, setelah ia mengaku cintanya sendiri?
Ia melirik Hanum yang masih terisak. Perasaan itu semakin kuat. Ia tak bisa menyerah. Tidak pada cinta, tidak pada Hanum.
Namun, sebuah kesadaran pahit menusuk dadanya. Jika ia gagal, Hanum bisa mati karenanya.
**"
Di saat yang sama, Firdaus menerima laporan dari orang kepercayaannya.
“Pak, rumah Anda diserang malam ini. Kami terlambat datang, mereka sudah pergi ketika tim tiba.”
Firdaus berdiri dari kursinya, wajahnya memerah menahan amarah. “Siapa yang berani melakukan ini?”
“Belum jelas, tapi kemungkinan besar kelompok lawan lama Anda, Tuan.”
Firdaus mengepalkan tangan. Mereka berani menyentuh darah dagingku.
Ia menatap foto Hanum yang terletak di meja kerjanya. “Kalau mereka pikir bisa mengalahkanku dengan menyakiti Hanum, mereka salah besar. Aku akan balas seratus kali lipat.”
Namun, dalam hati, Firdaus juga tahu, Al kini terlibat terlalu dalam dan itu bisa jadi kelemahan atau justru satu-satunya pelindung nyata bagi Hanum.
**"
Al akhirnya berhenti di sebuah rumah aman yang hanya diketahui oleh segelintir orang kepercayaannya. Ia mematikan mesin, lalu menoleh pada Hanum.
“Masuk. Kita aman di sini untuk sementara.”
Hanum menurut, meski tubuhnya masih gemetar. Begitu pintu tertutup, ia langsung duduk di sofa, menutupi wajahnya dengan tangan. Air matanya tak terbendung.
“Aku tak tahan, Al. Hidupku berubah jadi mimpi buruk. Aku tak tahu harus bagaimana.”
Al berjongkok di depannya, menatapnya dengan mata sendu. “Aku tahu ini berat. Aku janji, aku akan melindungimu dengan nyawaku sekalipun.”
Hanum menatapnya dengan mata basah. “Bagaimana kalau semua ini karena aku bersamamu? Kalau sebenarnya akulah yang jadi bebanmu?”
Al menggenggam tangannya kuat-kuat. “Kamu bukan bebanku, Hanum. Kamu, alasan aku masih berjuang. Jangan pernah berpikir sebaliknya.”
Hanum terdiam, matanya mencari kejujuran di wajah Al dan yang ia lihat hanyalah cinta dan ketakutan bercampur jadi satu.
Saat Hanum akhirnya mulai tenang dan tertidur di sofa karena kelelahan, Al duduk di kursi tak jauh darinya, pistol di genggamannya, matanya tak lepas dari pintu.
Namun, pikirannya kembali digelayuti dilema. Apakah cintanya justru akan membawa Hanum menuju kehancuran?
Suara notifikasi ponsel kembali terdengar. Al cepat-cepat melihatnya. Nomor yang sama. Pesan baru masuk.
“Malam ini hanya peringatan. Besok, kami akan benar-benar mengambilnya.”
Al meremas ponselnya, matanya memerah menahan amarah. Mereka tidak hanya mengancam. Mereka memberi batas waktu.
Al berdiri, menatap Hanum yang terlelap dengan wajah lelah. Hatinya hancur, tapi tekadnya membara.
“Kalau kalian ingin menyentuhnya, kalian harus melewati mayatku dulu,” gumamnya.
Namun, di saat yang sama, pintu rumah aman itu berderit pelan. Ada bayangan yang bergerak di luar jendela.
Al langsung mengokang pistolnya, jantungnya berdegup keras. Mereka sudah menemukan tempat ini.
Sebuah suara berat terdengar dari luar.
“Al-Faidzin, kau pikir bisa sembunyi? Malam ini, salah satu dari kalian tidak akan keluar hidup-hidup.”
Pertarungan di rumah Hanum hanyalah awal. Musuh yang mengincar mereka bukan lagi sekadar bayangan, mereka kini menargetkan nyawa secara langsung. Al harus memilih, tetap mempertahankan Hanum di sisinya meski nyawa mereka terus terancam atau melepaskan cintanya demi keselamatan Hanum.
Dengan pistol terkokang, Al berdiri menghadapi pintu rumah yang bergetar karena hantaman. Hanum masih tertidur, tidak menyadari bahaya yang semakin dekat dan Al tahu, malam itu mungkin akan menjadi malam paling berdarah dalam hidupnya.