Bab 29 Cinta yang Terlambat Disadari

24 January 2026

Di tengah taman bunga yang berwarna-warni, Rihana berdiri dengan senyum lebar berbicara dengan Endah. Cahaya matahari sore membelai wajahnya yang cerah. Dari kejauhan, dia melihat Marcel, sosok yang pernah mengisi hari-harinya di universitas dulu. Rambut Marcel yang dulu gondrong kini terurai rapi, dan matanya masih sama tajam.

“Kak Marcel!” panggil Rihana dengan suara riang. Marcel terkejut dan menoleh ke arahnya. Ternyata, Rihana sedang berbicara dengan Endah, teman sekelas Marcel juga, ia adalah seorang mantan pacar Marcel di masa lalu. Endah, yang dulu selalu memakai kuncir rambut tinggi, kini memiliki senyum hangat di wajahnya.

Marcel merasa salah tingkah. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Endah yang pernah mengisi bagian penting dalam hidupnya di tempat yang sama. Rihana dan Endah, dua nama yang membawa kenangan manis dan getir. Rihana, yang selalu ceria dan penuh semangat, dan Endah, yang pernah menjadi cinta pertamanya.

Di bawah pohon rindang, Rihana duduk bersama Endah. Cahaya senja memperindah taman yang tenang. Rihana bercerita tentang perjalanan hidupnya. Wajahnya berbinar saat dia menyebutkan bahwa dia akan segera menikah dengan Marcel, cinta pertamanya.

Endah, baru menjadi sahabat baik Rihana di taman kana-kanak, tampak cuek. Dia menggigit bibirnya, mencoba menyembunyikan perasaannya. Endah tahu betul tentang Marcel. Namun, saat itu, Endah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Marcel. Alasannya? Dia merasa takut terluka dan ingin fokus pada studinya.

Saat Rihana mengumumkan rencana pernikahannya dengan Marcel, Endah merasa campur aduk. Perasaan cemburu dan penyesalan datang bergantian. Dia masih ingat bagaimana Marcel selalu mencari-cari Endah di koridor sekolah, bagaimana mereka tertawa bersama, dan bagaimana Marcel selalu memperhatikan Endah dengan penuh kasih sayang.

Namun, Endah tidak bisa mengubah masa lalu. Dia telah memilih jalannya sendiri, meskipun itu berarti melepaskan Marcel. Kini, dia harus menghadapi kenyataan bahwa Rihana dan Marcel akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan.

Berita tentang pernikahan Marcell dan Rihana telah mencapai telinganya, menguras hatinya dengan cemburu. Endah tak ingin Marcell mendahului menikah, padahal dia sendiri belum memiliki calon suami.

Tanpa berpikir panjang, Endah mendekati Rihana yang sedang mengajar. “Rihana, maaf mengganggu sejenak. Saya ingin menanyakan sesuatu. Apa kamu akan menikah dengan Marcell di akhir pekan nanti?” ucap Endah.

Rihana menjawab dengan tenang, “Iya, Endah. Ini lupa surat undangannya untukmu. Kamu datang ya ke acara ku nanti.” Rihana tersenyum, dan Endah melihat surat undangan yang begitu elegan. Pesta yang akan diadakan tampak mewah, dan Endah bertanya-tanya apakah semua ini ditanggung oleh keluarga Rihana.

Endah tak bisa menahan rasa penasaran. “Rihana, mohon maaf sebelumnya. kalau boleh aku tahu. Bukankah Marcell berasal dari keluarga miskin? Kok pernikahanmu dengan Marcell terlihat begitu mewah?” tanyanya.

Rihana menghela nafas sejenak, lalu menjawab, “Sebenarnya, biaya pernikahanku dengan Marcell ditanggung oleh keluarga Marcell. tapi, aku menikah dengan Marcell karena dia telah berjasa membebaskanku dari para penculik waktu dulu. Ini adalah cara membayar balas budi.”

Rihana berlalu pergi, meninggalkan Endah dengan hati yang berkecamuk. Cinta yang pernah terpisah, kini terjalin kembali dalam bentuk persahabatan yang tulus. Endah memandang surat undangan di tangannya, merenung tentang pilihan yang diambil Rihana. Mungkin, dalam cinta dan balas budi, tak selalu ada jawaban yang mudah. Dan di bawah langit senja, Endah berjanji untuk tetap hadir di pernikahan sahabatnya, meski hatinya masih berdebat dengan perasaan yang rumit.

Endah merasakan cemburu yang membara di dadanya. Marcell, cowok tajir yang selama ini menjadi pusat perhatiannya, kini akan menikah dengan Rihana. Endah menyesal telah menyia-nyiakan cintanya pada Marcell. Dia baru sadar betapa besar perasaannya, terlambat saat Marcell sudah memilih orang lain.

Tanpa berpikir panjang, Endah bergegas meninggalkan rumah menuju tempat biasa nongkrong Marcell beserta teman-temannya. Di sana, Abidin dan Destia sudah menunggu dengan senyum ramah. Endah tahu Marcell sering menghabiskan waktu di tempat ini, sebuah kafe kecil dengan dinding bata merah dan lampu-lampu gantung yang hangat.

Dulu, ketika Endah dan Marcell masih berpacaran, mereka sering duduk di sudut kafe ini. Meja kayu berlapis kaca, kursi berlapis kulit, dan aroma kopi yang menggoda. Mereka berbicara tentang mimpi-mimpi, tentang masa depan, dan tentang cinta yang baru berkembang. Endah ingat bagaimana Marcell memandangnya dengan mata berbinar saat pertama kali mengajaknya ke sini.

Namun, sekarang semuanya berbeda. Endah dan Marcell telah berpisah. Cinta yang dulu membara kini hanya menjadi kenangan manis. Endah melangkah dengan hati berdebar. Marcell duduk di sudut ruangan, wajahnya hanya bisa tersenyum. Rihana tidak ada di sana. Mungkin dia sibuk dengan persiapan pernikahan.

“Marcell,” ucap Endah, suaranya bergetar. “Aku… aku menyesal. Aku baru sadar betapa besar perasaanku padamu. Tapi aku terlambat.”

Marcell, dengan tatapan dingin, berkata, “Lepaskan aku, dan untuk apa kamu datang ke sini?”

Endah terguncang. Dia tak pernah membayangkan pertemuan ini akan seberat ini. Marcell, cowok tajir yang selalu mengisi pikirannya, kini berbicara dengan nada yang menusuk hati.

Namun, di sisi lain, ada salah satu teman Marcell yang merekam kejadian ini. Kamera ponselnya mengabadikan momen ketika Marcell dan Endah ngobrol berdua di sudut taman. Teman Marcell itu tahu rahasia Endah, bahwa dia menyukai Marcell sejak lama.

Ternyata, taman ini juga menjadi tempat favorit Rihana, calon istrinya Marcell. Teman Marcell yang menyukai Rihana mencoba memfoto Endah dan Marcell yang sedang bicara empat mata. Dia langsung mengirim foto itu ke aplikasi hijau milik Rihana. Nomor itu dia curi dari handphone Marcell saat Marcell sedang lengah.

Endah merasa dunianya runtuh. Dia mencoba menjawab, “Marcell, aku… aku menyesal. Tapi aku terlambat.”

Marcell hanya menggeleng. Dia menarik tangannya dari genggaman Endah. “Semua sudah terlambat,” katanya.

Endah berdiri di tengah taman yang dulu pernah menjadi saksi canda tawa mereka berdua. Hujan turun dengan lembut, mengaburkan batas antara kenangan dan kenyataan. Cinta yang terlambat disadari, dan sekarang, hanya ada penyesalan yang menghantui.

Marcell, dengan tatapan dingin, telah pergi. Endah merasa seperti jejaknya akan terhapus oleh hujan yang semakin deras. Foto yang mengungkapkan perasaannya telah sampai ke Rihana. ponsel milik Rihana menerima pesan dari teman Marcell yang diam-diam menyukai Rihana. Endah merasa seperti dunianya runtuh.

Taman ini, yang dulu menjadi tempat canda tawa mereka berdua, kini menjadi saksi perpisahan. Endah memandang langit yang semakin gelap. Air hujan membasahi wajahnya, mencampur dengan air mata yang tak terbendung.

Mungkin, di antara tetes-tetes hujan ini, ada kesempatan untuk menghapus jejak cinta yang tak terbalas. Atau mungkin, Endah harus belajar menerima kenyataan bahwa Marcell adalah milik Rihana.

Namun, di balik layar, apa yang akan Rihana lakukan setelah melihat foto itu? Dan bagaimana nasib cinta segitiga ini? Semua akan terungkap pada bab selanjutnya.