Bab 30 Kesedihan Rihana

25 January 2026

Sore itu, Rihana pulang dengan tubuh lelah setelah seharian bekerja. Cahaya senja menyapa jendela kamarnya, dan ia merasa hampa. Rutinitas yang monoton dan kekosongan dalam hati membuatnya merasa terisolasi.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari temannya. “Rihana, lihat ini!” tulis teman lelakinya, disertai dengan foto Marcel yang sedang berduaan dengan seorang wanita bernama Endah. Rihana memandang foto itu dengan mata terbelalak. Marcel, calon suaminya yang baru saja dia kenal, tersenyum manis di samping Endah. Mereka terlihat begitu dekat, begitu mesra.

Rihana merasa dunianya runtuh. Kenapa Marcel melakukannya? Apa yang salah? Ia mencoba menghubungi Marcel, tapi ponselnya mati begitu saja. Rihana semakin cemas. Ia menggigil, berusaha menenangkan diri. Mungkin ada penjelasan logis. Mungkin ini hanya kesalahpahaman.

Namun, dalam hati Rihana, keraguan dan kekhawatiran tumbuh. Ia mengingat momen-momen indah bersama Marcel: senyumnya yang hangat, pelukannya yang menghibur, janji-janjinya. Semua itu hancur dalam sekejap karena sebuah foto.

Rihana memutuskan untuk menemui Marcel. Ia berjalan menuju rumahnya Sudarta calon mertuanya dengan perasaan campur aduk. Ketika pintu rumahnya terbuka, Marcel tampak terkejut melihat Rihana. “Rihana,” sahut Marcel.

Rihana menatap Marcel dengan mata penuh keraguan. “Kak Marcel, bisakah kita keluar?” tanya Rihana, suaranya lembut tapi penuh ketidakpastian. Sudarta, ayah Marcel, dan ibunya Marcel bingung. Sebenarnya apa yang terjadi antara Marcel dengan Rihana?

Marcel mengangguk, mengikuti Rihana yang berdiri dan berjalan menuju taman. Di bawah langit senja, mereka duduk di bangku taman. Rihana memandang Marcel, lalu berkata, “Kenapa kamu bisa dekat dengan Endah?”

Marcel menghela nafas. “Hana, aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi aku harus jujur. Endah adalah seorang mantan saat SMA. Dia berpura-pura mencintai aku dulu, tapi dia salah mengira bahwa aku adalah orang miskin.”

Rihana terkejut. “Mantan? Tapi mengapa Endah masih mencari kamu? Dan mengapa kamu membiarkannya?”

Marcel menceritakan lebih lanjut, “Ketika dia tahu bahwa kamu akan menikahi aku, dia menangis dan ingin kembali padaku. Hana, aku mencintaimu. Aku mencoba menjaga kedamaian di antara kita.”

Rihana merasa terkesan dengan cerita Marcel. Dia mengerti mengapa Endah tiba-tiba menanyakan pernikahan mereka yang begitu mewah. Endah menginginkan Marcel kembali, dan Marcel, dengan hati yang terluka, mencoba mempertahankan cintanya pada Rihana.

Rihana menatap langit senja. “Aku juga mencintaimu, Kak Marcel. Tapi kepercayaanku terluka. Bagaimana aku bisa yakin dia tidak akan kembali pada kita?”

Marcel memegang tangan Rihana. “Kita semua punya masa lalu, Rihana. Tapi yang penting adalah masa depan kita bersama. Percayalah pada cinta kita. Endah mungkin pernah mencintai aku, tapi sekarang aku mencintaimu.”

Dan di bawah langit senja yang semakin gelap, Rihana memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua pada cinta mereka

Malam semakin larut di sudut kota. Endah masih berada dalam perjalanan pulang, pikirannya terus menerus menghantui oleh pertanyaan tentang Marcel. Apakah benar Marcel adalah anak orang kaya? Mengapa dia memutuskan hubungan dengan Marcel begitu cepat? Rasa penyesalan selalu menghantuinya di tengah jalan yang sepi.

Tiba-tiba, Endah berjalan sendirian di jalanan yang gelap. Cahaya lampu jalan yang redup hanya menyoroti setapak yang terbentang di depannya. Namun, ketenangan malam itu tiba-tiba terguncang.

Beberapa orang mabuk muncul dari bayangan. Wajah mereka penuh dengan kebencian dan niat buruk. Mereka menghadang Endah, memblokir jalannya. Suara mereka kasar dan mengancam.

“Hey, cantik,” kata salah satu dari mereka dengan nada merendahkan. “Kamu mau main-main dengan kami, ya?”

Endah merasa ketakutan. Dia tahu situasinya sangat berbahaya. Dia berusaha mempertahankan diri, mengeluarkan jurus-jurus bela diri yang pernah dia pelajari. Namun, mereka terlalu banyak dan terlalu kuat.

“Jangan berontak, atau kamu akan menyesal,” ancam salah satu dari mereka sambil menarik Endah ke arah mereka. Dia merasa tangan mereka mencengkram tangannya dengan kuat.

Endah berjuang sekuat tenaga. Dia menggigit tangan salah satu pemabuk itu dan berusaha melepaskan diri. Namun, situasinya semakin genting. Mereka mengancam akan menculiknya.

Dalam keputusasaan, Endah berteriak sekuat tenaga. Berharap ada yang mendengar dan datang menyelamatkannya. Namun, jalanan gelap itu hanya menyimpan keheningan.

Dalam kegelapan yang mencekam, seperti pahlawan yang muncul dari bayangan, Abidin datang. Langkahnya mantap, dan matanya memancarkan tekad. Dia melihat Endah, seorang wanita yang tampak ketakutan dan terpojok oleh beberapa pemabuk.

Awalnya, Abidin tidak tahu siapa Endah sebenarnya. Dia hanya melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan. Namun, ketika dia mendekati Endah, dia merasa ada yang familiar. Wajahnya, meskipun dalam keadaan ketakutan, memiliki jejak kenangan.

“Endah?” gumam Abidin, mencoba mengingat. “Kamu bukanya mantan Marcel?”

Endah menatapnya dengan mata terbuka lebar. “Bagaimana kamu tahu?”

Abidin tersenyum. “Kita pernah berteman di masa lalu. Aku Abidin.”

Endah mengangguk, masih dalam keadaan terkejut. “Kenapa kamu membantu aku?”

Abidin menggenggam tangannya. “Kita mungkin punya masa lalu yang rumit, tapi aku tidak bisa membiarkan orang melakukan kejahatan padamu. Aku akan melindungimu.”

Namun, pikiran Abidin berubah. Ketika dia menyadari bahwa Endah adalah mantan Marcel, rencananya berubah. Dia tidak hanya akan menyelamatkannya, tapi juga memperalatnya. Dia berniat membuat masalah dengan Marcel, musuh lamanya.

Endah merasa lega ketika melihat seseorang berdiri di sisinya. Di tengah jalanan yang gelap, pertarungan baru saja berakhir. Abidin, dengan keberanian yang mengagumkan, menumpaskan penjahat-penjahat itu sehingga mereka terpaksa melarikan diri. Endah sangat berterima kasih kepada Abidin yang telah menolongnya.

Dalam kegelapan malam, Endah dan Abidin saling menatap. Wajah mereka terbayang samar oleh cahaya remang-remang. Ada sesuatu yang lebih dalam dalam pertemuan ini. “Terima kasih, Abidin,” ucap Endah dengan suara lembut. “Kau telah menyelamatkanku.”

Abidin tersenyum. “Tidak perlu berterima kasih. Kita semua harus saling membantu di dunia ini.”

Mereka berdua berdiri di sana, menghadapi kegelapan malam. Endah merasa ada lebih banyak cerita yang ingin diketahui tentang Abidin. Apa yang mendorongnya untuk bertindak dengan begitu berani? Apa yang membuatnya berdiri di sampingnya di saat genting?

“Kau seorang pahlawan,” kata Endah, matanya masih menatap Abidin. “Tapi mengapa? Mengapa kau melakukan ini?”

Abidin menghela nafas. “Kita semua memiliki rahasia dan alasan kita sendiri, Endah. Mungkin suatu hari nanti, aku akan berbicara lebih banyak tentang dirimu.”

Endah mengangguk. “Aku menunggu.”

Dan di bawah langit yang gelap, di tengah jalanan yang sepi, dua orang yang baru saja bertemu menemukan bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan semata. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mungkin akan mengubah jalan hidup mereka.

Namun, sebelum mereka bisa berbicara lebih lanjut, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Abidin. Matanya mengkerut saat membacanya. Apa yang terjadi? Apakah ini berhubungan dengan Marcel? Endah memperhatikan ketegangan di wajah Abidin dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tentu saja, hanya waktu yang akan memberikan jawaban. Tetapi di malam yang gelap ini, rahasia dan ketidakpastian menggelayuti mereka seperti kabut yang menyelimuti kota.