"Apa kau sedang bersama dengan pria itu sekarang? Regina, Kau berani pergi meninggalkan kantor hanya untuk urusan pribadi yang tidak berguna, lebih baik urus surat pengunduran dirimu saja! Aku tidak butuh seorang anak yang tidak memiliki tanggung jawab dalam pekerjaan."
"Papa, aku tidak bermaksud untuk mengabaikan pekerjaanku. Hanya saja aku--" Regina mencoba untuk memberikan penjelasan.
"Cepat kembali ke kantor sekarang juga!" Tuan Tan dengan tidak sabar memotong ucapan Regina dan mengakhiri panggilan.
Regina menunjukkan ekspresi rumit di wajahnya. Sentuhan lembut di bahunya membuat Regina menoleh. Seorang pria tampan sedang menatapnya dengan lembut berkata, "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Aku masih memikirkan pekerjaan di kantor. Lebih baik kita pulang sekarang," ucap Regina dengan tenang.
"Tapi, kau bahkan belum memilih satupun pakaian."
"Tidak masalah, aku bisa meminta sekertarisku melakukannya. " Regina melangkah meninggalkan toko dengan cepat. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Henry terlambat untuk mengikutinya.
Pikiran Regina saat ini sedang kacau. Meskipun dia ingin lepas dari kendali orang tuanya, pada akhirnya dia selalu takut jika dukungan untuknya di lepaskan. Helaan nafas berat keluar dari bibirnya. Dia menyadari sesuatu dan menoleh ke belakang. "Di mana dia?"
Regina tidak menemukan Henry di belakangnya. Dia tidak ambil pusing dan berpikir untuk pulang dengan transportasi umum, tapi Henry tiba-tiba saja muncul dengan langkah cepat. "Kenapa kau begitu terburu-buru? Apa urusanmu begitu mendesak?"
"Ya. Kau bisa pulang lebih dulu, aku akan menggunakan taksi saja," ucap Regina.
Henry menggeleng dan meraih tangannya. "Bagaimana bisa aku membiarkanmu menggunakan transportasi umum saat kau pergi denganku. Ayo, aku akan mengantarmu lebih cepat."
Mereka berjalan tanpa mengatakan apapun sampai masuk ke dalam mobil. "Apa yang menelepon itu papamu?" tanya Henry tiba-tiba saat mobil perlahan mulai melaju.
Regina hanya diam.
"Kau bahkan masih saja tunduk. Meskipun kau sudah berhasil keluar dari rumah, tapi jika kau bahkan tidak berani melawan otoritas mereka di kantor, apa gunanya? Kenapa kau tidak keluar saja? Seperti apa yang aku janjikan, aku akan memberi modal untukmu dan--"
Regina memotong perkataan Henry. Dia berusaha untuk mengendalikan emosinya. "Aku akan melakukannya, tapi tidak untuk sekarang."
"Lalu kapan? Kau hanya menunda tanpa kepastian seperti seorang pengecut."
Regina tidak bisa lagi mengontrol kemarahannya. "Tuan Henry, kau tidak akan pernah mengerti karena kau tidak berada di situasi yang sama denganku. Pria sepertimu yang memiliki kebebasan yang tak terkendali hanya bisa bicara tanpa memahami situasinya. Lebih baik kau diam dan tidak perlu ikut campur!"
"Aku memang tidak mengalami apa yang kau alami, itulah kenapa aku bisa berpikir berbuka."
"Hentikan mobilnya, aku akan turun di sini." Regina berteriak keras. Dia sudah tidak tahan lagi dengan pria ini.
"Tidak. Jika aku berhenti aku akan terkena denda. Tahan emosimu sampai kau sampai ke kantor," tolak Henry.
"Kau juga tahan mulut beracunmu yang hanya membuatku kesal." Regina mencoba meredakan gejolak emosinya sambil memandang keluar jendela mobil.
Suasana dalam mobil lebih tegang dari sebelumnya. Sampai mobil itu akhirnya mencapai tempat tujuan.
Regina langsung saja keluar tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam gedung. Di dalam mobil, Henry memandangi sosok dari jauh dengan ekspresi yang rumit. Lalu melanjutkan mobilnya.
"Tuan Muda, sepertinya Anda bersenang-senang ya. Bisakah sekarang Anda mulai bekerja karena ada banyak hal yang harus Anda selesaikan," ucap Asisten saat Henry baru saja masuk ke dalam ruangan.
Henry yang menunjukkan ekspresi dingin langsung duduk dan mulai memeriksa dokumen. Asistennya menyadari ada yang salah dengan Tuannya. "CEO Jian, Anda sebelumnya terlihat bersemangat dengan kencan Anda dan Nyonya, tapi kenapa Anda pulang dengan ekspresi murung?"
"Sepertinya kau harus mulai menggunakan kaca mata, wajahku selalu seperti ini dan juga, aku tidak pernah bersemangat sama sekali untuk keluar dengannya. Ini semua hanya bagian dari sandiwara," elak Henry.
"Benarkah, tapi Anda bahkan terburu-buru untuk pergi bertemu."
Henry menatap tajam ke arah Asistennya. "Apa kau ingin lembut malam ini?"
"Tidak. Saya akan keluar." Asisten itu dengan cepat meninggalkan ruangan. Ancaman lembur adalah ancaman paling menarikan.
Henry yang ditinggalkan sendirian kembali fokus untuk memeriksa dokumen, tapi sorot matanya tidak terlihat fokus pada dokumen. Ada hal yang sedang dipikirkan , tetapi tidak terungkapkan."
"Tuan Tan memerintahkan saya untuk membawakan semua dokumen ini dan meninta Anda menyelesaikannya dan besok pagi harus selesai," ucap Sekertarisnya yang datang bersama beberapa karyawan membawa dokumen.
"Sebanyak ini?" ucap Regina sedikit terkejut. Pekerjaannya bertambah menjadi dua kali lipat.
"Benar dan anda juga masih memiliki jadwal untuk melakukan pemeriksaan di lokasi proyek."
Regina dibuat frustasi dengan banyaknya pekerjaan ini. Sepertinya Papanya ingin menyiksanya sampai mati untuk bekerja. "Aku mengerti. Kau bisa pergi sekarang, aku akan menangani dokumen-dokumen ini," ucap Regina dengan tekad. Meskipun beban kerjanya bertambah, dia tidak ingin menunjukkan kelemahan di hadapan orang lain.
Sekretaris itu pergi dengan cepat, meninggalkan Regina yang tenggelam dalam tumpukan dokumen. Diam-diam sekertaris itu menghubungi seseorang. "Saya sudah melakukan seperti yang Anda inginkan."
"Ya, saya akan terus mengawasinya."
Sekertaris itu mengakhiri panggilan. "Untuk apa aku mengawasinya sampai larut malam, lebih baik untuk pulang dan tidur demi kecantikan." omel Sekertaris itu sebelum kembali ke meja kerjanya.
Henry melihat ke arah jam tangannya, waktu berlalu dengan begitu cepat. Dia mengambil ponselnya, ada sebuah pesan masuk yang datang. Melihat dari siapa pengirim pesan itu membuatnya mengerutkan kening. "Tidak biasanya kepala pelayan mengirimkan pesan."
Saat membukanya, Henry akhirnya mengerti. Dia menggeser layar dan menekan sebuah nomer. Panggilnya terus saja di tolak. "Berani sekali dia menolak panggilanku!"
Harga diri seorang Henry terlalu tinggi, dia langsung keluar dari ruangannya. "Lihat saja apa yang dapat aku lakukan untukmu!" geramnya.
Walaupun langit malam sudah menutupi kota dengan kegelapan, Regina masih terus bekerja tanpa henti. Tumpukan dokumen menumpuk di mejanya, dan layar komputernya terang menerangi wajahnya yang mulai lelah. Setiap kali dia melihat jam, hanya untuk menemukan bahwa waktu terus berlalu tanpa ampun.
Ponsel Regina bergetar di atas meja, memecah kesunyian ruangan. Sebuah panggilan masuk dari Henry. Regina sudah berulang kali menolak panggilannya, tapi pria itu tidak henti-hentinya menelepon dan membuat suara berisik.
"Henry, jika tidak ada yang penting jangan meneleponku, aku sangat sibuk?" suara Regina tegas dan langsung mengakhiri panggilan tanpa menunggu pihak lain bicara.
Regina tidak menyadari bahwa pihak lain semakin mengamuk dan sesuatu akan segera terjadi. Bisakah dia melarikan diri setelah menyinggung CEO Jian yang terhormat?