"Apa Anda masih akan tetep menunggu?"
Anak laki-laki itu menolehkan sebentar. "Ya, kenapa mereka masih juga belum datang?" Kevin dengan ekspresi khawatir berdiri di depan pintu.
"Mungkin Tuan memiliki pekerjaan dan memilih lembur," ucap kepala pelayan yang berdiri di belakangnya.
"Tapi, aku sudah memberi tahu Papa."
"Tuan Muda, maaf saya harus mengatakan ini, kenapa Anda bersikeras untuk menyiapkan semua ini? Dan juga Tuan dan Nyonya adalah dua orang yang gila kerja. Bisa saja mereka tidak pulang."
Kevin terdiam cukup lama. Ekspresinya terlihat semakin sedih. "Aku tahu ini mungkin terlihat sia-sia, tapi aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Tunggu satu jam lagi, jika mereka tidak datang aku akan membereskan semuanya."
"Tuan Muda tidak perlu melakukan apapun. Kami yang akan membereskannya, ini tugas untuk para pelayan. Anda bisa istirahat setelah ini."
Kevin menoleh ke arah kepala pelayan. "Paman selalu saja baik dan pengertian padaku. Terima kasih."
"Ini adalah tugas saya, tidak perlu berterima kasih."
"Aku masih berharap usaha kita tidak akan sia-sia," ucap Kevin dengan suara pelan.
Brak
"Henry Jian, apa-apan kau ini! Bagaimana kau bisa masuk sembarangan?" Regina dikejutkan dengan keberadaan pria yang datang mengamuk ini. "Aku akan memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar."
Seringai terukir di pewaris keluarga Jian itu. "Coba saja, apa ada yang cukup berani untuk menyeretku keluar dan juga apa kau ingin ada gosip, Regina Tan cukup kejam untuk mengusir suaminya."
Regina menggeleng nafas, "Lakukan apapun yang kau mau. Aku akan melanjutkan pekerjaanku."
Henry justru menarik tangan Regina yang sedang membalik dokumen. "Pulang sekarang denganku! Tinggalkan saja dan selesaikan besok!"
"Tidak bisa. Batas waktunya sampai besok. Kau pulang sendiri saja, tinggalkan aku!" Regina menepis tangan Henry.
"Kau adalah Bos nya, kenapa mereka memberimu batas waktu?" Henry tidak melepaskan tangannya sedikitpun.
"Henry, aku tidak sepertimu yang bisa begitu bebas untuk meninggalkan pekerjaan begitu saja." Regina berteriak dengan kesal. "Sekarang lepaskan dan menyingkirkan!"
"Benar, kau memiliki situasi yang berbeda dariku karena kau hanyalah budak untuk papamu. Kau bahkan rela untuk diperlakukan seperti itu!"
"Kau!" Regina melotot dengan marah.
"Hei, datanglah ke perusahaanku. Aku memiliki anak perusahaan baru dan kau bisa mengelolanya. Aku akan memperlakukanmu lebih manusiawi daripada orang tuamu. " Henry memberikan tawaran dengan ekspresi penuh kesombongan.
"Tidak. Aku tidak mau bekerja untukmu," tolak Regina dengan tegas.
"Jadi, kau lebih ingin diperlakukan buruk pada keluargamu? Sia-sia saja aku membantumu." Henry mencibirnya.
"Ya. Apa kau ingin menarik apa yang telah kau berikan dan mengembalikanku ke kediaman keluarga Tan?" ucap Regina menatap lurus ke arah Henry.
"Tidak mungkin. Bawa saja pekerjaanmu ke rumah. Kita harus segera pulang." Henry melepaskan tangannya dan mengambil beberapa dokumen. "Aku akan membantumu membawanya."
Regina merebutnya. "Jangan menyentuh dokumenku, kau bisa saja mencuri informasi perusahaan."
Henry melepaskan dokumen itu. "Kau terlalu curiga padaku. Apa untungnya aku melakukan itu. Cepatlah bawa semuanya yang kau perlukan, aku akan memberimu waktu 10 menit."
Henry berjalan menuju ke sofa sedangkan Regina memasukkan beberapa dokumen ke dalam tasnya. Pria itu duduk dan hanya memandanginya dengan tajam dan penuh ketidaksabaran.
"Aku sudah selesai, ayo pergi!"
Henry berjalan terlebih dahulu. Dia melirik ke arah Regina yang membawa tas. Tatapan mata pria itu hanya menunjukkan sikap acuh tak acuh. Namun, dia tidak bisa berhenti untuk terus-menerus meliriknya sepanjang mereka keluar dari ruangan.
Henry langsung mengambil tas itu. Regina terkejut dengan tindakan tiba-tiba. "Hei!"
"Tenang saja, aku melakukan ini karena kita akan berada di luar. Jika Paparazi menangkap aku membiarkan istriku membawa tas berat, apa yang orang pikirkan."
"Kau benar-benar peduli dengan citramu ya?" ejek Regina.
"Tentu saja. Itu hal yang terpenting."
Tangan Henry mengenggam tangan Regina. "Dan kita juga tidak boleh terlihat seperti orang asing."
Regina hanya diam dan membiarkan Henry bermain. Dia tidak menyadari sebelumnya, tetapi pria berhati dingin ini memiliki tangan yang hangat.
Saat Regina masuk ke dalam mobil, dia hendak mengambil dokumen, tapi Henry menahannya. "Selesaikan saja nanti di rumah. Aku tidak mau melihat mobil penuh dengan dokumen."
"Kau memiliki banyak aturan." Regina menghela nafas kesal. "Ngomong-ngomong, kenapa kau sering menyetir sendiri? Ke mana Asistenmu?"
"Kenapa kau mencarinya? Apa istriku diam-diam naksir pada Asistenku? Sepertinya aku tidak akan membiarkannya datang ke rumah dan menggoda istriku." Henry melirik dengan tatapan dingin.
"Tidak. Aku tidak naksir padanya. Biasanya kau selalu bersama dengannya. Kalian seperti dua orang yang tidak terpisahkan."
"Itu untuk pekerjaan, tapi aku ingin waktu privasi dengan istriku. Tidak mungkin membiarkan pihak luar ikut dan menjadi orang ketiga."
"Kau bicara seolah kita benar-benar sepasang kekasih? Siapa yang ingin kau pamerkan saat hanya ada kita berdua."
Henry hanya diam. Regina menyandarkan kepalanya di kursi. Rasa lelah menyelimutinya. Matanya sudah memerah dan perlahan dia tertidur.
Regina yang baru saja membuka mata dikejutkan dengan posisi Henry yang terlalu dekat. Secara refleks dia mendirikannya. "Henry, kau pria brengsek! Mengambil keuntungan saat aku lengah."
Henry menjauhkan badanya. "Aku hanya akan membangunkan mu. Cepat keluar kita sudah sampai."
Regina menatapnya tidak percaya. "Jika kau hanya ingin membangunkan ku tidak mungkin sedekat itu. Kau hendak menciumku bukan?"
Henry langsung keluar begitu saja. Regina ikut keluar dari mobil dan mendesak Heny untuk mengatakan yang sebenarnya. "Regina, aku tidak cukup gila untuk mencium wanita yang tidak dapat membangkitkan nafsuku sama sekali!"
"Apa yang kau katakan?" geramnya. Sebagai seorang wanita, perkataan Henry tidak bisa diterima.
"Mama, Papa!" Suara seorang anak laki-laki menghentikan perdebatan mereka. Dia meraih tangan orang tuanya. "Kenapa kalian begitu lama? Aku sudah menunggu kalian berdua dari tadi."
Regina dan Henry menghentikan perdebatan dan mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Kevin.
"Kata kepala pelayan kau menyiapkan sesuatu yang bagus untuk kami. Apa itu?" tanya Henry.
"Menyiapkan apa?" Regina tidak tahu apa yang sedang di bahas di sini.
"Ayo, mama dan papa terlebih dahulu masuk. Kejutannya ada di dalam rumah. Ikutlah denganku." Tangan Kecil Kevin menarik tangan Henry dan Regina agar berjalan mengikutinya.
Regina tiba-tiba saja melepaskan tangannya. Kevin menoleh ke arahnya. "Mama, ada apa?"
"Apa kejutan ini membutuhkan banyak waktu? Aku masih memiliki hal untuk dilakukan. " Regina memberi alasan.
"Aku tahu Mama dan Papa sibuk. Ini hanya sebentar. Aku mohon ikutlah denganku."
"Nyonya dan Tuan, Tuan Muda telah menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan ini. Mohon turuti keinginan Tuan Muda yang bahkan menunggu sampai larut malam," ucap Kepala Pelayan.
Henry berbisik pada Regina. "Ikuti saja apa kemauan anak ini. Jika dia merajuk dan melarikan diri, aku akan menyeretmu untuk bertanggung jawab."