Membayar dengan Ciuman

Penulis tyaprajana
30 December 2025

"Tada! Apa kalian menyukai ini? Aku melihat di TV, Papa dan Mama sudah resmi menikah. Ini adalah hadiah perayaan dariku," ucap Kevin dengan penuh semangat menunjukkan apa yang telah dia dan pelayanan siapkan.

Henry dan Regina hanya terdiam melihat apa yang ada di depan matanya. Ini membuat perasaan canggung. "Kau tidak seharusnya menyiapkan ini. Bukankah hanya membuang waktu?"ucap Regina.

Henry melangkah menuju ke meja yang dihiasi dengan lilin bahkan ruang makan di dekorasi sedemikian rupa untuk terlihat seperti restoran romantis. "Kevin sudah menyiapkan semua ini, kita tidak mensia-siakannya." Henry menarik kursi. "Kemarilah dan duduk!"

Regina melangkahkan kaki dengan ragu menuju ke kursi yang disiapkan untuknya. "Sejak kapan kau menjadi begitu toleran pada anak itu?" cibir Regina.

"Aku hanya tidak ingin dia menangis dan aku harus mengundang Asistenku untuk datang. Mainkan saja apa yang diinginkannya," ucap Henry.

"Aku akan meninggalkan kalian berdua dan pelayan akan pergi setelah menyajikan makanan. Jadi, papa dan mama bisa bermesraan." Kevin meninggalkan ruangan itu bersama dengan kepala pelayan.

Pelayan lain datang membawa anggur. Regina memberikan postur tubuh penolakan. "Aku tidak minum alkohol hari ini, berikan aku air putih saja," ucap Regina.

"Baik, Nyonya Muda."

"Kau yakin tidak mau minum? Wine hari ini adaah merek yang terbaik," tanya Henry dengan rayuan untuk membujuk.

"Tidak. Aku masih memiliki pekerjaan, minum alkohol bukan hal yang baik," ucap Regina menolak rayuan itu. "Tolong segera sajikan makanan utama langsung!"

Pelayan itu menoleh ke arah Henry, "Lakukan saja apa yang dia inginkan."

Pelayan itu pergi untuk mengambil makanan. Suasana diantara Henry dan Regina masih terasa kaku. "Bukankah ini pertama kalinya kau makan malam romantis seperti ini? Apa kau gugup?" Henry menggodanya.

"Bagiku ini tidak lebih dari makan malam biasa seperti pertemuan untuk urusan pekerjaan."

"Oh, benarkah?" Henry tiba-tiba menggenggam tangan Regina. "Apa urusan pekerjaan akan ada sentuhan seperti ini?"

Regina dengan cepat menarik tangannya. "Henry, jangan main-main!"

"Aku hanya mengikuti alur saja."

Pelayan datang dengan membawa makanan. Regina tidak menunggu waktu lama memulai untuk makan. Pelayan meninggalkan mereka lagi dan tidak ada suara lain selain hentingan pelan alat makan.

Tiba-tiba saja lampu mati. "Ada apa ini?" Regina hanya bisa melihat dengan bantuan lilin. Satu-satunya orang yang dapat dia lihat saat ini adalah Henry.

Pria itu tidak menunjukkan ekspresi panik, wajah yang begitu tenang seolah tidak ada hal yang terjadi. Alunan musik begitu lembut menggema dan lampu-lampu kecil berbentuk lilin tiba-tiba saja menyala dan berjejer rapi memberikan cahaya dengan sentuhan romantis.

Henry mengulurkan tangannya. "Ayo berdansa."

"Tidak," tolak Regina.

"Jika kita tidak melakukannya, maka kita tidak bisa cepat keluar dari sini. Apa kau ingin membuang waktu lebih lama?"

Regina dengan enggan mengambil tawaran dansa dari musuhnya ini. "Baiklah, aku akan berdansa denganmu."

Henry dan Regina mulai berdiri. Tangan Henry berada di pinggang Regina dan tangan Regina berada di leher pria itu. Dengan langkah yang canggung Regina mengikuti gerakan Henry di tengah ruangan yang diberi cahaya lembut oleh lampu-lampu lilin-lilin. Alunan musik yang lembut menciptakan atmosfer romantis. Namun, Regina tidak ingin terlarut dalam suasana manis ini.

"Apa kau sudah memperkirakan situasi ini? Aku melihatmu begitu tenang saat ruangan gelap."

"Ya, aku sudah terlalu hafal dengan trik ini."

"Oh, pasti kau melakukan ini pada para gadis yang kau kencani. Trik ini benar-benar norak, kau dan anak itu bahkan memiliki pemikiran aneh yang sama," sindir Regina.

"Ini bukan trikku, tapi para wanita yang melakukan ini untukku," ucap Henry dengan santai. "Apa kau tahu apa yang terjadi setelah ini?"

"Apa?" tanya Regina dengan polos.

Seringai terukir dari pria itu. Wajahnya menunduk, dekat dengan telinga Regina. "Dia akan menciumku dengan penuh gairah lalu kami pergi ke kamar dan melakukan--"

"Cukup! Apa kau tidak punya malu menceritakan hubunganmu vulgarmu dengan mantan kekasihmu?" Perasaan Regina kacau saat mendengar ini, dia tidak tahu kenapa rasanya ada ledakan di dalam dadanya yang ingin menguap.

Henry justru tertawa. "Apa kau cemburu? Regina, bagaimana jika aku melakukan hal yang sama denganmu? Aku tidak pernah memulai, tetapi karena kau seorang pemula, aku akan mengajarimu."

Regina justru melepaskan tangannya dari leher Henry dan mendorong pria itu menjauh. "Tidak. Datang saja ke mantan pacarmu dan lakukan hubungan intim dengan penuh gairah."

Regina keluar dari ruangan dengan perasaan kesal. Seringai Henry justru menjadi semakin dalam.


Regina kembali ke kamarnya, dia duduk di sofa dan memulai untuk memeriksa dokumen. Ketika itu, Henry tiba-tiba saja masuk, pikiran Regina yang sudah tenang kembali mengingat apa yang dibisikkan oleh Henry tadi. "Tidak, lupakan itu. Aku harus tetap fokus," ucapnya dalam pikirannya.

Henry berjalan dengan santai. "Apa kau mau mandi dulu?"

"Apa?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat mata Regina melebar.

"Ada apa denganmu, kau terlihat begitu kaget? Aku tidak sedang mengajakmu mandi bersama, tapi jika kau mau--"

"Kau saja yang mandi duluan."

Henry langsung masuk ke kamar mandi. Regina masih mencoba untuk tetap memfokuskan konsentrasi pada dokumen. Dia tidak bisa salah dalam meneliti ini atau sesuatu yang besar bisa terjadi. Saat dia akhirnya tenggelam dalam pekerjaannya.

Henry justru memanggulnya, dengan kesal Regina menoleh ke arahnya. Wanita itu justru melihat hal yang tidak seharusnya. Penampilan Henry setelah mandi benar-benar menyegarkan. Rambutnya yang sedikit basah, wajahnya yang tampan dan juga tubuh bagian atas dibiarkan tanpa pakaian. Otot perutnya yang sempurna menambah daya tariknya.

"Apa yang aku pikirkan? Ada banyak pria yang memiliki penampilan itu bahkan para aktor. Tidak ada alasan untuk terpesona." Regina menyakinkan dirinya sendiri.

Dia memutar pandangan ke arah lain. "Henry, tidak bisakah kau tidak menganggu?"

Henry justru berjalan mendekat, Regina dapat merasakan jarak yang semakin dekat. "Berdiri di sana! Jangan langkahkan kakimu lebih dekat lagi."

"Jika aku tidak mendekat bagaimana aku memberikannya padamu?"

"Memberikan apa?" Regina tanpa sadar memandang Henry. Pria itu telah berada di depannya tanpa dia dapat menghindarinya.

"Mundur sedikit sekitar 30 cm!"

Henry secara refleks berhenti. "Terima ini, aku membelikannya untukmu. Kau tidak perlu lagi memakai pakaian dari Mama." Henry memberikan paper bag padanya.

Regina berdiri dan mengulurkan tangan untuk mengambilnya. "Berapa biayanya? Aku akan mentransfernya."

Henry justru menarik tangan Regina, mempersempit jarak diantara mereka. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan?"

"Kau bilang akan membayarnya, kan? Bagaimana dengan satu kali ciuman untuk setiap pakaian." Henry menunjukkan senyum nakal di bibirnya melihat ekspresi gugup Regina.