Kau Berkata Seolah Benar-benar Mengerti Aku

Penulis tyaprajana
30 December 2025

Regina menatap Henry dengan tatapan tajam. "Berikan saja pada mantanmu, dia akan membayarmu dengan ciuman yang tidak terlupakan."

Regina menjauhkan tubuhnya dari Henry. Henry terlihat senang dengan reaksi Regina. "Istriku, kau benar-benar cemburu pada mantanku? Tenang saja, aku tidak benar-benar melakukan sesuatu seperti itu dengan mereka. Semua hanya kebohongan, sungguh. Jangan terlalu memikirkannya."

"Aku tidak peduli mau itu benar atau tidak! Semua itu bukan urusanku, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Kita hanya pasangan kontrak!" Regina menegaskan.

Dia mengambil dokumennya dan berjalan ke pintu keluar.

"Kau mau ke mana?" tanya Henry.

"Pergi ke ruang tengah. Jangan pernah kau datang dan menggangguku lagi!" Regina menutup pintu dengan kasar.

Dia memegangi jantungnya yang berdebar kencang, ada perasaan lega juga dalam hatinya. Sekali lagi, dia berusaha menepis perasaannya. "Aku tidak boleh percaya pada apa yang dikatakan pria itu dan juga itu semua tidak ada urusannya denganku. Kami adalah rival, aku tidak boleh lengah."

Regina berjalan menuju ke ruang tengah. Dia menyalakan lampu dan mulai melakukan pekerjaannya. Sesekali dia membuat beberapa catatan untuk dokumen yang dia anggap kurang atau rencana yang tidak sesuai. Meskipun itu semua tidak penting selama Tuan Tan menyetujuinya.

Rasa lelah kembali menyelimutinya. Tangannya menepuk pipinya untuk membuatnya terjaga lagi . "Aku tidak boleh tidur sekarang."

Setelah Regina menyelesaikannya, dia memilih untuk tidur di sofa tanpa memikirkan dinginnya malam.


Ketika membuka mata, Regina sudah berada di tempat tidur. Kepalanya terasa berat, pandangannya buram. Namun, dia masih memaksakan diri untuk bangun. Tubuhnya ditahan oleh lengan seseorang. "Kau bahkan sedang demam, tetep istirahat di tempat tidur."

Regina dapat mengenali suara itu. "Tidak. Aku masih memiliki pekerjaan." Suaranya terdengar begitu lemah.

"Apa perusahaan Grace akan bangkrut hanya karena kau tidak masuk sehari? Aku akan meminta cuti untukmu," ucap Henry masih dengan nada dinginnya.

"Henry, aku baik-baik saja." Padangan Regina sedikit lebih baik. Walau kepalanya masih berarti. Dia bahkan menepis tangan Henry yang mencoba menahannya.

"Dasar keras kepala. Jika kau pingsan nanti, jangan minta aku untuk merawatmu!" ucap Henry meninggalkan ruangan dengan membanting pintu.

Regina berjalan secara perlahan untuk menyiapkan pakaiannya. Regina dengan ragu-ragu mengambil pakaian yang ada di almari. Ini pakaian yang dibeli oleh Henry, bisakah dia mengenakannya?

Regina akhirnya mengambilnya, dia hanya perlu mentransfer uang jika Henry marah. Dia mulai bersiap-siap. Ponselnya berulang kali berdering. Regina mengambilnya dengan gugup saat mengetahui Papanya yang menelepon.

"Hallo!"

"Kau tidak tinggal di kantor? Lagi-lagi kau mengabaikan pekerjaan yang aku berikan demi keluarga barumu itu?" Tuan Tan memarahinya.

"Tidak, Papa. Aku membawa pekerja ke rumah karena tidak enak menolak Henry yang datang menjemputku. Aku akan segera ke kantor dan membawa semua dokumen--"

"Kau membawanya ke rumah keluarga Jian? Jangan bilang padaku kau menunjukkan dokumen itu pada Henry Jian? Kau ingin menjadi pengkhianat?"

"Tidak. Aku tahu betapa pentingnya dokumen perusahaan. Aku sungguh menjaganya dengan baik." Regina memegangi kepalanya yang semakin berat.

"Bagaimana aku bisa percaya padamu, kau tergila-gila dengan pria itu, bisa saja kau--"

Ponsel Regina tiba-tiba saja di rebut dan Henry langsung langsung menjawabnya. "Tuan Tan, kau masih ingin membenahi istriku? Dengar, aku bukanlah pria picik dan istriku juga melakukan pekerjaannya dengan baik. Apa kau tahu dia sampai sakit sekarang karena pekerjaan yang memaksanya lembur!"

"Henry, kembalikan ponselnya." Regina berusaha untuk merebutnya, tetapi Henry memiliki postur tubuh tinggi menjulang. "Biarkan aku mengatasi masalahku sendiri."

Henry pura-pura tidak mendengarkan. Dia masih saja melanjutkan untuk bicara di telepon. "Jika kau memang benar-benar peduli dengan putriku sendiri, lebih baik jangan terlalu keras padanya dan hari ini biarkan dia istirahat!" Henry langsung mengakhiri panggilannya.

"Henry berikan ponselku!"

Henry justru memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. "Aku akan menyimpannya, sekarang kembali ke tempat tidur. Papamu sudah memberikanmu izin cuti."

"Kenapa kau harus melakukan ini? Aku tidak pernah ikut campur dalam setiap urusanmu, tapi kau terlalu banyak campur tangan dalam urusanku." Regina berteriak marah.

Henry menggendong tubuh ramping Regina. "Henry, turunkan aku!" Regina mencoba menarik diri dari gendongan Henry.

"Diamlah!" Henry membaringkan tubuh Regina di tempat tidur. "Regina, aku katakan padamu, selama kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri dengan benar tentang keluargamu itu, aku tidak punya pilihan untuk bertindak. Jangan lupa kita masih harus tetep terlihat selayaknya sepasang kekasih, apalagi ini baru hari-hari awal."

"Ini tidak ada hubungannya kita berpura-pura sebagai sepasang pasangan dan kau yang ikut campur dalam urusanku!"

"Kau ini, apa kau tidak berpikir jika orang tahu kau ditindas dan aku hanya diam saja, apa yang akan orang pikirkan? Mereka akan menganggapku suami yang tidak berguna. Aku harus memikirkan harga diriku yang akan tercoreng," ucap Henry.

Regina membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Henry bertindak cepat. "Kau sedang sakit, aku tidak ingin berdebat denganmu."

Henry melangkah menjauh. Regina memanggilnya. "Henry, ponselku?"

"Aku akan menyitanya sampai nanti malam. Tenang saja, aku akan mematikannya dan tidak mencoba mencuri clientmu," ucap Henry meyakinkan.

"Apa kau bisa dipercaya tentang hal itu? Kau bahkan sudah sering mencuri calon clientku," sindir Regina.

"Kau sedang sakit, tapi masih tidak berhenti curiga ya. Hei, Regina, selama ini aku bahkan bisa mencuri client darimu tanpa perlu mencuri ponselmu. Aku memiliki kemampuanku sendiri. Beristirahat dan jangan pikirkan banyak hal," ucap Henry sebelum menutup pintu.

Regina ingin bangun, tapi kepalanya terlalu berat. Pintu tiba-tiba saja terbuka. "Kenapa kau datang lagi?" ketus Regina.

"Mama, aku baru saja masuk." Seorang anak masuk ke dalam ruangan. "Aku dengar dari Papa, Mama sedang deman, aku bawa kompres penurun panas, makanan dan obat. "

Kevin berjalan mendekat ke arah Regina lalu mulai menempelkan kompres itu ke keningnya. "Mama makan dulu lalu minum obat," ucap Kevin.

"Aku bukan anak kecil, kau tidak perlu merepotkan diri melakukan ini." Regina mengambil mangkuk bubur.

Kevin menunjukkan tatapan sedih Regina, "Mama selalu seperti ini ya, ketika sakit masih berusaha untuk tetap kuat. Kenapa tidak membiarkan orang lain memanjakan Mama?"

Regina berhenti makan dan menatap ke arah Kevin. "Kau berkata seolah kau benar-benar mengenalku. Kita bahkan baru bertemu kurang dari seminggu."

"Ya, tapi aku anak Mama. Sudah pasti aku tahu seperti apa Mamaku."

Regina dapat melihat tatapan mata seriusnya. Setiap melihat anak ini selalu saja membuatnya merasa bingung. Perasaan akrab yang menyelimutinya, tetepi dia benar-benar tidak mengenal anak ini sebelumnya. "Apa kau sungguh benar-benar anakku?" perkataan itu terucap begitu saja.