Kau Ingin Menggoda Istriku?

Penulis tyaprajana
30 December 2025

"Tentu saja. Apa mama masih meragukan itu. Tidak apa-apa jika mama masih meragukanku saat ini. Aku akan keluar jika Mama merasa tidak nyama," ucap Kevin dengan tulus.

"Apa kau akan pergi ke sekolah?" tanya Regina.

Kevin menggeleng. "Aku masih belum mendaftar sekolah baru."

Regina baru mengingat ini. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya begitu juga dengan Henry. Mereka melupakan jika anak ini seharusnya sudah masuk usia sekolah.

"Aku akan bicara dengan Henry untuk mendaftarkanmu ke sekolah."

"Bisakah Mama membujuk Papa agar aku bisa pergi mendaftar sekolah dengan Mama dan Papa? Aku yakin jika tidak begitu, Papa hanya akan memintaku pergi dengan asistennya." Kevin menunjukkan ekspresi sedih. "Ah, seharusnya aku tidak minta terlalu banyak."

Regina menatap anak laki-laki yang menunjukkan senyum, tetapi matanya terlihat jelas kesedihan.

"Henry pasti tidak akan membiarkan itu, dia pria yang peduli dengan wajahnya. Dia akan datang denganmu secara langsung alih-alih meminta Asistennya melakukannya," ucap Regina. Dia yakin tentang itu. Henry yang dia ingat memiliki kehidupan masa kecil dengan orang tua yang hangat, dia tidak mungkin mengabaikan anaknya. Tidak seperti Regina yang memiliki masa kecil yang selalu diabaikan.

"Papa sangat sibuk, bahkan jika dia punya waktu pada hari itu, dia tidak akan pergi, aku yakin dengan itu."

"Kenapa kau seperti tahu segalanya?" tanya Regina. Perkataan anak yang penuh keyakinan ini .

Kevin tiba-tiba menjadi gugup. "Karena aku adalah anak kalian, aku dapat menebak dengan benar. Aku akan keluar agar mama bisa beristirahat dengan baik."

Kevin dengan terburu-buru meninggalkan ruangan. Regina melihat ke arah pintu cukup lama. Lalu dia melakukan makan dan minum obat. Dia masih tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan Papanya yang mungkin saat ini marah. "Apa yang akan aku dapatkan ketika datang besok?"


"Anda datang lebih siang dari biasanya? Apa terlalu sulit untuk berpisah dengan Nyonya?" ucap Asistennya.

"Kenapa kau ingin tahu?" Henry menjawab dengan ketus.

Asisten itu mengerutkan keningnya. "Tuan, apa anda sedang bertengkar dengan Nona Tan?"

"Jangan memanggil Nona Tan panggil dia Nyonya Jian. Sekarang dia adalah istriku!"

Asistennya mengerutkan kening, "Ya, saya mengerti. Tuan, hasil tes akan segera dikirim, perlukan kita mendiskusikan ini di rumah bersama Nyonya?"

Henry menatap tajam Asistennya. "Kau ingin cari kesempatan untuk bertemu dengan istriku dan menggodanya dengan wajahmu?"

"Apa? CEO Jian, apa maksud Anda? Saya sungguh tidak mengerti, hari ini Anda tidak seperti biasanya. Apa saya melakukan sebuah kesalahan?"

"Itu karena kau-- sudahlah, keluarlah dan kerjakan pekerjaanmu yang lain!" perintah Henry.

Asistennya masih menunjukkan ekspresi bingung, tapi dia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Henry.

Henry menghela nafas, "Ada yang salah denganku!"


Regina sedikit terusik dalam tidurnya. Telinganya yang sensitif mendengar suara Isak tangis. Tangannya juga digenggam dengan erat.

Regina tidak tahan dengan semua itu, matanya perlahan terbuka menatap seorang anak laki-laki yang menutup mata dan menangis. "Kenapa kau menangis?" tanya Regina.

Kevin membuka matanya yang saat ini melebar dan langsung melepaskan tangan Regina, tangisnya berhenti, air mata dengan cepat dihapus kasar oleh tangan kecil itu. "Maaf, mama. Apa tangisanku menganggumu?" Anak itu menunjukkan ekspresi takut.

"Ya. Itu mengangguku. Aku tidak yakin apa ada es krim di kulkas untuk menghiburmu seperti terakhir kali." Regina tidak memiliki pengalaman. Dia sungguh tidak mengerti bagaimana menangani seorang anak.

Kevin menunjukkan senyum. "Aku tidak membutuhkan es krim lagi. Aku akan keluar."

Regina menahan tangan anak yang ingin melarikan diri itu. "Kau masih belum menjawab pertanyaanku, kan?"

Kevin menundukkan kepalanya. "Aku menangis karena aku takut. Melihat Mama yang kesakitan membuatku takut untuk kehilanganmu lagi. Aku tidak ingin itu."

"Kehilanganku lagi? Apa maksudmu?" Regina menatapnya dengan penasaran.

Kevin tidak menjawab, meskipun Regina menunggu sampai beberapa menit. Hanya ada keheningan berkepanjangan di ruangan yang luas itu. "Kau tidak ingin mengatakannya?" Regina menyimpulkan.

Kevin masih tidak memberikan respon apapun.

"Kevin, aku tidak tahu kenapa kau mengatakan itu. Sebenarnya, aku juga bukan orang tua aslimu, jadi jangan terlalu terbawa perasaan seperti ini. Jika aku benar-benar kehilangan nyawaku, kau hanya perlu mencari orang tua yang lain. Seperti apa yang kau lakukan--"

Regina berhenti saat melihat Kevin menatapnya dengan mata berkaca-kaca, air mata keluar dengan deras. Anak itu mengucap sesuatu dengan putus asa, "Mama, jangan katakan Mama akan kehilangan nyawa dengan mudah. Aku tidak mau itu terjadi, aku ingin Mama terus hidup dan mendapatkan kebahagiaan, bahkan jika itu tanpa keberadaanku. Mama sangat berarti bagiku, jadi tolong jangan katakan seolah mama tidak berarti apapun!"

Regina terdiam sejenak. Dia tidak pernah berpikir ada seseorang yang akan menangis untuknya. Selama hidupnya, dia telah menyiapkan bahkan jika dia tidak ada di dunia ini, orang-orang hanya akan melupakannya. Orang tua yang hanya memanfaatkannya, teman yang hanya menginginkan karena statusnya, Regina tidak pernah memiliki orang yang tulus untuknya, tapi anak yang bahkan baru dia temuin beberapa hari ini menangis karena takut kehilangannya.

Kehangatan menyebar dalam hatinya. Dia bangun dan menarik Kevin, menjatuhkan dalam pelukannya. "Jangan menangis, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika kau seperti ini." Regina menggunakan nada selembut mungkin.

Air mata Kevin menjadi semakin deras. Tangan kecil itu membalas pelukan hangat itu dengan erat. "Mama, biarkan aku memelukmu lebih lama seperti ini."

"Ya. Setelah itu, kau akan berhenti menangis, kan?"

Kevin memberikan anggukan kecil. Anak laki-laki berusia 7 tahun ini, menangis seperti seorang bayi dan akhirnya tertidur lelap.

Regina memindahkan tubuh mungil ini, menidurkan di sampingnya. Tatapan matanya menatap anak laki-laki yang menurutnya aneh ini. Ada banyak hal yang tidak dia mengerti.

Brak

Pintu terbuka dengan kasar, Regina menoleh, dia sudah tahu siapa orang yang memiliki sikap kadar seperti itu.

"Ini masih terlalu awal untuk pulang bukan? Kenapa kau datang begitu cepat?" tanya Regina.

"Aku hanya ingin memastikan bahwa istriku tidak melarikan diri. Ngomong-ngomong, kenapa anak itu bisa tidur di sini?" tanya Henry.

"Dia tertidur karena merawatku. Jangan bangunkan dia!"

Henry mencibirnya, "Sepertinya kau menjadi lebih peduli pada anak ini ya? Aku jadi sedikit iri karena istriku masih juga tidak menunjukkan kepedulian padaku."

"Ada banyak wanita yang memberikan perhatian padamu, hanya satu wanita yang tidak melakukannya, tidak menjadi masalah, bukan?" Regina membalas cibiran Henry. "Katakan saja apa keperluanmu, kau tidak cuma datang untuk melihat keadaanku, kan?"

"Ya. Hasil tes sudah ada di tanganku. Aku masih belum membuka segelnya. Kau ingin aku membukanya atau kau yang melakukannya?"