Apa Kalian Masih Tidak Mau Mengakuinya?

Penulis tyaprajana
30 December 2025

"Apa kau yakin tentang hasil tes ini?"Regina masih sulit mempercayainya. Dia tidak mempermasalahkan jika hasil itu menunjukkan anak ini adalah anak Henry, tapi hasil tes anak ini dengan Regina, membuatnya ragu untuk percaya.

"Aku tahu kau tidak mempercayainya. Aku sudah melakukan tes seorang teman yang memang sudah jelas memiliki hubungan darah, hasilnya sesuai. Tidak ada lagi keraguan."

Pikiran Regina saat ini kacau. Bagaimana bisa dia punya anak. Dia memandangi anak yang tertidur itu dengan ekspresi linglung.

"Hei, apa kau sungguh tidak diam-diam mengambil keuntungan dariku dan hamil anakku? Bahkankah saat di sekolah menengah, kau pernah tidak masuk begitu lama? Apa kau melahirkan saat itu?" Henry menatap dengan tatapan yang begitu dalam.

"Kau gila! Aku tidak pernah hamil atau melahirkan! Sampai berapa kali lagi aku harus mengatakannya? Aku saja sampai bosan."

"Bisakah, aku memeriksanya langsung?" Henry tidak menerimanya.

"Apa? Apa maksudmu?" Regina menjadi waspada.

"Bukankah akan terlihat bekas jika kau pernah melahirkan secara sesar? Aku ingin mengejeknya langsung." Henry tidak mengubah ekspresi datarnya.

"Tidak mungkin! Kau berpikir aku akan memperlihatkan tubuhku padamu?"

"Kita adalah suami dan istri, apa yang salah dengan itu?"

Kevin bergerak dan membuka matanya. "Mama dan Papa, apa kalian bertengkar lagi?"

"Kau bangun? Kembalilah ke kamarmu, aku dan Regina memiliki hal yang ingin kami bicarakan."

Kevin bergerak, dia duduk di tempat tidur dengan linglung. Ketika kesadarannya pulih, tatapan matanya terarah pada sebuah kertas di tangan Henry. "Apa kalian sudah mendapatkan hasilnya? Mama dan Papa, kalian sudah percaya padaku, kan?"

Regina dan Henry saling pandang. Tidak ada jawaban pasti yang keluar dari bibir kedua orang ini.

Kevin melangkah, meraih kertas dari tangan Henry secara langsung. Dia membaca hasil tes dengan serius. "Bahkan aku memiliki kecocokan DNA dengan kalian, tapi kalian masih saja meragukanku sebagai anak kalian? Aku pikir kalian baik padaku karena sudah menerimaku." Matanya berkaca-kaca menatap Henry dan Regina secara bergantian.

"Hei, bagaimana kami bisa menganggap kau benar-benar lahir sebagai darah daging kami? Regina menolak untuk mengakui dia melahirkanmu dan aku juga tidak yakin memiliki hubungan dengan--,"

Kevin langsung memotong ucapan Henry. "Tapi kalian menikah untukku, kan? Apa gunanya pernikahan ini jika kalian bahkan masih tidak menginginkanku? Jika aku menghilang, apa kalian akan bahagia?" Teriakannya dipenuhi dengan putus asa.

Regina menarik napas dalam-dalam, mencoba menjelaskan, "Kevin, ini bukan tentang tidak menginginkanmu. Hanya saja kami masih terkejut dengan hal ini."

"Tapi bukan itu artinya kalian tidak mau menerima dan mengakuiku, kan?" Kevin mulai memelankan nada suaranya.

"Baiklah, aku akan memasukkanmu ke dalam daftar keluarga. Berikan aku informasi lengkapmu seperti kapan hari kelahiranmu?"

Pertanyaan Henry membuat Kevin menjadi pucat. "Bisakah kita melewati pendaftaran resmi? Aku sudah cukup puas bahwa kalian mengakuiku dan juga membawaku keluar sebagai anak kalian."

"Aku membutuhkan jawaban bukan pertanyaan. Kevin, aku tidak bisa mendaftarkanmu ke sekolah jika kau tidak punya identitas resmi," ucap Henry menatap dengan tajam.

Regina juga memperhatikan anak yang hanya diam. Apa yang disembunyikan oleh anak ini?

"Kevin! Apa kau tidak akan menjawabnya?" Henry mulai marah.

Kevin menoleh ke arah Regina dengan tatapan meminta pertolongan, tapi Regina tidak melakukan apapun. Dia tidak bisa membantunya untuk hal ini.

"Sebenarnya, aku tidak ingat tanggal ulang tahunku," ucap Kevin dengan lirih.

"Tidak mungkin. Apa ada anak yang tidak tahu tanggal kelahirannya? Kau berbohong!" ucap Henry menatap dengan tidak percaya.

"Kevin, kenapa kau tidak mau jujur pada kami? Hanya tanggal lahir, apa itu begitu sulit untukmu? Kau bilang ingin sekolah, kan? Jika kau tidak memberitahu kami tentang data pribadi, bagaimana kami bisa mendaftarkanmu." Regina akhirnya ikut bertindak.

"Aku sungguh tidak ingat, aku tidak pernah merayakan hari ulang tahunku, sebelumnya." Kevin menatap Henry dan Regina yang menatap lurus padanya. "Aku sungguh-sungguh. Tidak ada yang mengingat ulang tahunku, jadi aku melupakannya."

Henry mengusap lembut rambut Kevin. "Aku mengerti, kalau begitu kau pilih saja tanggal yang kau inginkan sebagai hari ulang tahunmu."

"Apa tidak masalah dengan hal itu?" Kevin menunjukkan wajah ragu.

"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan jika kau tidak mengingatnya." Henry menjawab dengan santai.

"Aku tidak tahu tanggal lahir yang bagus. Bisakah Mama dan Papa memilihkannya?" tanya Kevin.

Henry menoleh ke arah Regina. "Regina yang akan memilih!"

"Kenapa aku?"

"Kau Mamanya, sudah pasti kau yang harus menentukannya."

"Bilang saja kau malas memikirkannya," sindir Regina. Wanita itu menoleh ke arah Kevin. "Bagaimana dengan tanggal ulang tahun yang sama dengan Henry."

"Apa? Kenapa aku bukan kau?" Henry tidak terima dengan keputusan Regina.

"Kau memintaku untuk memutuskan, tapi kau justru memprotesnya. Apa sebenarnya yang kau inginkan?"

"Tentu saja aku memprotesnya karena kau mengambil hari ulang tahunku sebagai pilihan. Apa kau sengaja melakukannya untuk membuatku kesal?"

"Ini hanyalah masalah sepele, kenapa kau begitu sensitif? Apa kau seorang wanita yang sedang memiliki tamu bulanan?"

"Aku akan menggunakan tanggal lahirmu sebagai tanggal ulangtahun anak ini!" Henry membuat keputusan.

"Apa kau tahu tanggal ulang tahunku?" tanya Regina.

"Tentu saja, aku...." Henry tidak melanjutkan perkataannya.

"Kau tidak tahu bukan? Anak ini adalah pewaris keluargamu, kenapa tidak memilih tanggal yang semua orang mengingatnya? Bukankah setiap ulang tahunmu selalu ada perayaan besar dan orang-orang berlomba-lomba memberikan hadiah bagus? Biarkan anak ini merasakannya juga," ucap Regina menjelaskan alasannya.

Henry memikirkannya. "Kau bilang semua orang mengingat ulang tahunku, apa kau juga?"

Regina menyebutkan tanggal ulang tahunnya. "Itu di pertengahan Mei, bukan? Dan selalu ada perayaan selama 2 hari. Ada banyak papan ucapan selama sebulan penuh dan--"

"Kau tahu itu? Aku tidak menyangka jika kau begitu memperhatikanku." Seringai terukir di bibir Henry.

"Ada apa dengan senyumanmu itu? Bukannya aku menginginkan untuk mengingat, tapi semua orang membicarakannya, bahkan saat aku mencoba mengabaikan itu. Jadi, sekarang apa kau setuju dengan pemilihanku?"

"Sepertinya itu bukan hal yang buruk, tapi kenapa kau tidak memilih tanggal lahirmu? Apa kau tidak ingin mendapatkan perayaan besar dengan Kevin."

Regina terdiam. Ekspresinya terlihat dingin dan tatapan matanya menunjukkan kesedihan. "Tanggal lahirku bukanlah hal yang baik untuk di pilih. Aku hanya tidak ingin menularkan ketidakberuntungan."

"Apa maksudmu? Katakan saja kapan kau ulang tahun."

"Untuk apa kau bertanya? Kau bahkan tidak akan berniat untuk meratakannya, kan?"

"Mama, aku akan melakukannya. Aku akan meratakannya untukmu." Kevin langsung saja menanggapinya. "Aku tahu, mama mungkin memiliki kenangan ulang tahun yang buruk dan aku juga mengalaminya. Aku tidak ingin Mama sendirian merayakan hari special. Papa juga akan meratakannya, benarkan, Papa?"

Kevin melirik ke arah Henry yang memasang ekspresi dingin.