Serangan Mertua

Penulis tyaprajana
30 December 2025

"Hm"

"Papa, jawaban macam apa itu? Kau seharusnya tegaskan. Jangan hanya jawaban tidak pasti seperti itu!" ucap Kevin menunjukkan ketidakpuasan.

"Regina bahkan tidak memberitahu tanggal ulang tahunnya, bagaimana aku bisa memutuskannya?" ucap Henry.

"Sudahlah, kita akhiri saja pembicaraan ini. Aku juga tidak memaksa ada perayaan seperti itu," ucap Regina.

Kevin menatap Regina, lalu beralih ke arah Henry. "Papa, menunduklah sedikit!"

"Kenapa?" Henry menatap penuh tanda tanya, tapi dia tetap melakukan apa yang diinginkan oleh anak ini.

Regina menatap dua orang yang membicarakan sesuatu dengan saling berbisik satu sama lain. Dia mencoba untuk mencari tahu dari ekspresi wajah Henry, tapi wajah itu tidak menujukkan reaksi apapun dan hanya menatap Kevin.

Kevin menjauhkan tubuhnya. "Aku akan kembali ke kamarku." Kaki kecilnya berlari menuju pintu, lalu menutup dengan perlahan dan rapat.

"Apa yang anak itu bicarakan?" tanya Regina.

"Ini bukan urusanmu!" Henry menganggap dengan singkat.

"Kau sudah tidak ada urusan lagi denganku, kan? Tinggalkan aku sendiri." Regina langsung kembali bersikap dingin.

"Tentang ulangan tahumu, bukankah ulang tahunmu besok?"

"Bagaimana kau tahu?" Regina menatap dengan heran.

Henry tidak menjawab dan justru membicarakan hal lain, "Sulit untuk persiapan dalam waktu satu hari."

"Aku juga tidak mengharapkan perayaan darimu. Lagipula ulang tahunku bukan sesuatu yang penting." Regina tidak menujukkan ekspresi apapun.

"Hei, kau telah menjadi bagian dari keluarga Jian sekarang ini, bagaimana bisa kau menganggapnya tidak penting? Tahun ini, aku tidak bisa melakukannya, tapi tahun depan aku pasti akan memberikan pesta besar untukmu."

Regina menatap Henry cukup lama. Pria itu menyadarinya. Dia menambahkan beberapa kata lagi, "Jangan salah paham, bukannya aku ingin memanjakanmu, tapi aku ingin terlihat bagus di depan semua orang. Aku ingin mereka melihatku sebagai pria yang memanjakan istrinya, itu poin plus yang baik."

"Aku tahu jika itu tujuanmu. Namun, kau sungguh tidak perlu melakukannya." Regina bersikeras.

Henry melangkah mendekat. Dia menunduk dan memegang dagu Regina. Mata mereka saling bertatapan. "Apa kau takut merasa tersentuh dan akhirnya jatuh cinta padaku?"

Regina menepis tangannya itu. "Darimana sikap percaya dirimu itu. Hanya hal semacam itu tidak mampu menyentuhku."

"Begitu, lalu bagaimana jika aku memberikan diriku sendiri sebagai hadiah. Apa itu cukup menyentuh?" Henry mendekatkan bibirnya ke telinga Regina. "Aku akan melayaniku dengan baik, istriku tersayang."

Regina langsung beraksi dengan menarik selimut dan menutupi tubuhnya. "Henry, pergi dari sini! Aku ingin beristirahat."

Saat ini, Regina dapat merasakan telinganya yang memanas begitu pula dengan pipinya. Sepertinya demamnya menjadi bertambah parah karena pria ini.

Henry tertawa, "Aku hanya mengatakannya tanpa tujuan tertentu, tapi reaksimu sudah berlebihan seperti seorang remaja yang baru pertama didekati seorang pria."

Regina justru melemparkan selimut ke arah Henry setelah mendengar olokan pria itu. Dia menatap pria itu dengan marah, "Apa kau sudah cukup bermain-main? Aku tidak merasa malu atau apapun, aku hanya merasa lelah menghadapimu yang menganggapku seperti mainan. Pergilah, kau membuat demamku semakin buruk!"

Henry melemparkan selimut ke tempat tidur. Tangannya terulur ke arah Regina. Tatapan mata Regina menjadi waspada, "Apa yang akan kau lakukan?"

tok tok tok

Henry menarik tangannya. "Ada apa?"

"Tuan, Tuan Besar dan Nyonya Besar datang dan ingin bertemu dengan Anda dan Nyonya," ucap orang dari balik pintu, suaranya gemetar.

"Aku akan segera keluar. Kau pergilah!" ucap Henry .

Henry membalikkan tubuhnya, melangkah keluar. Regina juga bangun dari tempat tidur. "Henry, tunggu! Aku ikut denganmu."

"Tidak perlu, aku yang akan menghadapi orang tuaku sendiri. Keberadaanmu tidak diperlukan!"

Regina meraih lengan Henry. "Aku tidak tahu seberapa buruk aku di matamu, tapi aku adalah istrimu sekarang, tidak sopan jika aku bersembunyi disini saat mertua datang. Bukankah kita harus berpura-pura menjadi pasangan?"

Henry melepaskan tangan Regina, kepalanya menoleh. "Baiklah, jika kau ingin pergi denganku, tapi aku berharap kau tidak sampai pingsan nanti dan membuatku dalam masalah karena tubuhmu yang lemah."

"Aku memang sakit, tapi aku tidak selemah itu."

Henry meraih telapak tangan Regina. Dia menggenggamnya dengan erat. "Ayo, pergi!"

"Kita tidak perlu berpegangan tangan sekarang, kan?" Regina merasa ketidaknyamanan.

"Kau berjalan begitu lambat dan jika kau pingsan di belakang, aku tidak akan tahu. Cepat! Orang tuaku akan lebih marah jika kita membuatnya menunggu terlalu lama."

Henry dan Regina menuju ke ruang tamu bersama. Padangan suami istri yang duduk di sofa menatap tajam ke arah Regina. Tanpa sadar, tangan lentik itu mengenggam tangan besar dan hangat milik suaminya.

"Hallo, ibu dan ayah mertua, bagaimana kabar kalian?" Regina menyapa seramah mungkin.

"Mertua? Sejak kapan aku mengakuimu sebagai menantu keluarga Jian?" Nyonya Jian langsung menyerang dengan perkataan ketus.

"Ma, Regina adalah istriku. Bisakah Mama tidak memperlakukannya sekasar itu?"

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukan berarti karena dia menikah denganmu maka dia akan secara resmi diakui sebagai menantu keluarga kita."

Regina hendak mengatakan sesuatu, tetapi Henry terlebih dahulu bicara, "Mama dan Papa, sebenarnya kenapa kalian datang tanpa menghubungi terlebih dahulu?" Henry mengalihkan pembicaraan.

"Henry, apa pantas kau mengatakan itu pada orang tuamu? Ini adalah rumah atas nama ayahmu, apa salah aku datang? Selain itu, kenapa kau ada di rumah di siang hari? Apa istrimu merengek agar kau bolos kerja untuk menemaninya?" Nyonya Jian menatap Regina dengan tatapan tajam.

"Ma, jangan bicara sembarangan tentang istriku. Saat ini istriku sedang tidak enak badan, apa aku salah pulang lebih awal untuk memastikan keadaannya. "Henry menjawab dengan tegas.

"Henry, itu bukan berarti kau dapat mengabaikan pekerjaanmu. Hei, apa kau senang sekarang ini karena Henry mengabaikan pekerjaannya hanya karena kau memberi alasan sakit. Kau sebenarnya merayu putraku hanya untuk menghancurkan karirnya, kan?" Nyonya Jian menatap dengan tatapan merendahkan.

Regina mengepalkan tangannya. Jika saja wanita ini bukanlah seseorang yang lebih tua, maka sudah dipastikan dia akan menamparnya sampai merah, tapi melawan tetua dari keluarga besar bukanlah hal yang baik. Regina menyadari ini.

Namun, dia tidak bisa hanya diam saja. Regina menoleh ke arah Henry. Dia melepaskan genggaman tangan Henry dan merangkul lengan pria itu. "Sayang, maafkan aku karena membuatmu meninggalkan pekerjaanmu untukku. Lain kali, aku akan pergi ke dokter sendiri dan tidak akan merepotkanmu. Seperti apa yang ibumu katakan, tidak baik untuk meninggalkan pekerjaan begitu saja." . Henry terdiam cukup lama. Regina berusaha untuk tetap tenang, meskipun dalam hatinya mulai panik, "Tidak, apa Henry Jian tidak mau bermain denganku saat ini?"

"Sayang!"

"Istri, kau tidak perlu merasa tidak enak hati. Aku tidak merasa direpotkan, sebagai suami yang baik, tidak ada yang lebih penting daripada istriku." Henry mengusap lembut rambut Regina dengan tangannya yang bebas.

Regina melirik Nyonya Jian yang terpaku. Dia merasa sedikit senang sekarang.

Tuan Jian berdehem. "Henry, duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." . Henry dan Regina duduk berdampingan. "Ada apa?" tanya Henry.

"Istrimu harus meninggalkan rumah ini!" ucap Tuan Jian tegas.