Henry menatap ayahnya. "Papa, Regina adalah istriku. Bagaimana bisa aku membiarkannya pergi!"
"Ini adalah rumahku, aku yang berhak menentukan siapa yang bisa tinggal di sini. Seperti yang Mamamu katakan kami tidak sepenuhnya merestui hubungan kalian berdua," ucap Tuan Jian dengan dingin.
"Apa alasannya? Papa, Regina memiliki anakku yang akan menjadi penerusku. Tidak seharusnya Papa menentang hubungan ini, bukankah itu yang terpenting?"
"Henry, apa itu benar-benar anakmu? Kami tahu bahwa kau membenci putri dari keluarga Tan, bisa saja dia hanya mengaku-ngaku saja. Jangan tertipu dengan trik murahan itu." Nyonya Jian menunjukkan pertentangan.
"Mama bisa melihatnya sendiri, hasil tes DNA antara aku dan anak itu." Henry memberikan pada Nyonya Jian.
Tuan dan Nyonya Jian melihat hasil tes itu. Nyonya Jian masih tidak mau menerima ini, "Bisa saja wanita itu memalsukannya, kau tahu betapa liciknya keluarga Tan?"
Regina sudah tidak tahan lag, "Nyonya Jian, aku tidak tahu kenapa Anda berpikir seperti itu, tapi Henry sendiri yang melakukan semua prosesnya. Aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk campur tangan."
"Istriku benar. Aku yang melakukannya sendiri. Sudah pasti itu anakku. Apa kalian sungguh akan memisahkan seorang anak dari orang tuanya? Bukankah kalian yang mengajariku untuk memberikan kasih sayang pada anakku?" Henry memberi perlawanan.
"Henry, itu berbeda. Tinggalkan saja anak itu, jika kau ingin memiliki seorang anak dan istri. Aku akan memilihkannya untukmu." Nyonya Jian membujuk Henry. "Lagipula, memiliki keturunan dari keluarga Tan tidak akan menguntungkan bagi kita. Anak itu bisa saja menjadi pengkhianat."
Henry menatap tajam ayah dan ibunya. "Mama, apa mama akan menggantikanku dengan anak lain semudah itu? Apa Mama rela jika Papa menikah lagi dan memiliki anak selain aku? Tidak bisakah Mama memikirkan ini?"
Tuan Jian mengangkat alis, "Henry, sudah aku bilang keadaanmu berbeda dengan keluarga kita. Baik aku dan istriku tidak ada memiliki dampak yang merugikan untuk bersama."
"Papa hanya memikirkan hal buruk saja tentang Regina. Aku tetap dengan keputusan untuk mempertahankan Regina. "
Nyonya Jian menghela nafas, "Henry, kenapa kau begitu keras kepala? Bukankah sebelumnya hubungan kalian begitu buruk? Seharusnya kau tetap membenci wanita ini! Apa yang dia telah berikan padamu sampai kau begitu melindunginya? Jangan menjadi bodoh dan menyesal."
"Aku akan pergi dari rumah ini!" Regina yang sedari tadi diam, akhirnya mulai membuat keputusan. Semua orang menatap ke arahnya.
"Regina, apa yang kau katakan. Aku tidak bisa--"
Regina memotong ucapan Henry, "Aku tidak ingin menghancurkan hubunganmu dan keluargamu. Namun, aku berharap Kevin masih bisa tinggal di sini dan mendapatkan perlindungan dari keluarga Jian."
"Kau ingin anak itu tinggal? Apa kau merencanakan sesuatu dengan menggunakan anak itu?" Nyonya Jian tidak bisa berpikir baik sedikitpun tentang Regina.
Regina menatap tajam Nyonya Jian, "Saya tidak pernah bermaksud menggunakan Kevin. Saya hanya ingin dia memiliki kehidupan yang lebih baik. Selain itu, dia masih memiliki darah Keluarga Jian dan semua orang tahu bahwa anak itu adalah anak Henry. Bukankah ini akan membuat nama keluarga Jian buruk jika mengusir cucu kalian begitu saja?"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Mama pergi!" Suara anak laki-laki dengan lantang mendekat. Kevin melangkah mendekat ke arah Regina. Tatapannya tajam ke arah Nyonya dan Tuan Jian yang menatapnya dengan terkejut.
"Kau benar-benar mirip dengan Henry saat kecil. Kemarilah, nak! Biarkan nenek memelukmu." Nyonya Jian terpikat ketikan melihat wajah anak itu.
"Aku tidak mau mendekat ke arah orang yang jahat dengan Mamaku. Kau bukan nenekku!" Kevin dengan lantang memberikan permusuhan pada Nyonya Jian.
Nyonya Jian mencoba meyakinkan Kevin, "Nak, nenek tidak bermaksud jahat. Apa Mamamu mengatakan hal buruk tentang nenek sampai kau seperti ini?"
"Nenek selalu saja menyalahkan mama bahkan ketika Mama tidak melakukan kesalahan. Kali ini aku akan melindungi Mama." Kevin menoleh ke arah papanya, "Apa Papa akan tetep diam saja dan membiarkan Mama mergi karena penindasan ini."
"Kevin, kembalilah ke kamarmu, biarkan para orang tua bicara," ucap Henry dengan tegas.
Namun, Kevin tetap bersikeras, "Aku tidak mau! Aku tidak akan pergi dan meninggalkan Mama menghadapi masalah sendirian. Papa, aku kecewa padamu karena tidak bisa menjadi suami yang diandalkan untuk Mama."
Regina mengusap pelan punggung Kevin, "Kevin, jangan seperti ini. Lebih baik kau masuk. Jangan campuri urusan orang dewasa."
"Tapi, Mama--"
"Kevin, aku akan mengurus masalah ini!" Henry membujuknya. "Aku telah membuat keputusan untuk meninggalkan rumah bersama dengan Regina dan Kevin."
"Apa? Henry, keputusan bodoh macam apa yang kau buat?" Tuan Jian dipenuhi dengan kemarahan.
Henry tetap tenang, "Papa, aku tidak ingin melihat keluargaku hancur. Sebagai suami dan ayah, aku akan dicap gagal jika membiarkan istri dan putraku pergi demi keuntunganku sendiri."
Regina menoleh ke arah Henry. Dia awalnya sedikit terkejut dengan keputusan Henry yang berpihak padanya, tetepi mendengar apa yang dikatakannya, dia tahu alasannya. Bagaimanapun dia adalah Henry yang memiliki harga diri tinggi.
"Henry, aku juga tidak akan mengizinkanmu tinggal di rumah lain milik keluarga Jian!" Tuan Jian melakukan berbagai cara untuk membujuk putranya ini. "Kau tidak mungkin akan tinggal ke hotel seterusnya dan Keluarga Tan juga tidak mungkin membiarkanmu tinggal di rumah mereka. Pikirkan ini dengan baik, jangan terbawa ego."
Henry terdiam.
"Aku akan menunggu sampai besok. Aku harap kau bisa memikirkannya dengan baik!" Tuan Jian meninggalkan ruangan bersama dengan istrinya.
Kevin langsung memeluk Henry, "Papa, kau melakukan yang terbaik. Terima kasih karena peduli denganku dan Mama."
Henry tersenyum tipis. Tangannya mengusap lembut rambut yang sedikit panjang ini.
"Henry, kita perlu bicara berdua! Kevin, bisakah kau meninggalkan kami sebentar?"
Kevin menatap dengan ragu, tapi akhirnya memberikan anggukan kecil. Anak laki-laki itu melangkah menuju ke pintu keluar sendirian.
Regina menatap serius ke arah Henry, "Henry, aku tahu bahwa kau peduli dengan wajahmu, tapi memilih meninggalkan rumah, itu benar-benar tidak masuk akal! Kau seharusnya tetap bersikeras untuk tinggal dan mencari cara agar aku bisa kembali ke rumah ini!"
Henry menghela nafas dalam-dalam, "Regina, ini semua juga karena kau yang tanpa berdiskusi dulu padaku, mengatakan untuk pergi. Aku tahu kau akan melepas tanggung jawab tentang anak agar kau bebas berkeliaran diluar sana? Aku tidak akan membiarkannya."
"Henry, kau berpikir hal konyol itu? Sekarang anak itu juga bersikeras ikut denganku, aku akan coba membujuk Papaku untuk menerima kami. Kau bisa tetap tinggal di rumah--"
"Regina, apa kau tidak punya harga diri untuk mengemis belas kasihan pada Papamu setelah meninggalkan rumah? Aku tidak bisa membuatmu mencoreng harga dirimu sebagai istriku!" Henry meninggikan suaranya.
"Kalau begitu kenapa kita tidak akhiri saja? Lebih mudah melakukan ini sekarang! Maka, apa yang aku lakukan tidak akan mempengaruhimu." Regina menanggapi dengan raut wajah serius.
Henry secara refleks melangkah dan melakukan sesuatu untuk membungkam bibir itu.