Henry menutup bibir Regina dengan tangannya. "Bagaimana jika orang mendengarnya? Kau ingin menggagalkan rencana kita?"
Regina melepaskan tangan Henry dengan kasar. "Lagipula apa gunanya rencana ini? Sekarang semua telah menjadi berantakan. Perceraian adalah jalan yang bisa diambil."
"Apa kau tidak malu jika berita menyebar dan kita dianggap sebagai pasangan dengan usia paling pendek di kota ini? Aku tidak mau hal memalukan itu terjadi!"
Regina menujunya ekspresi kesal, "Apa menurutmu menjadi gelandang tidak lebih memalukan daripada perceraian?"
"Kau tenang saja, apa aku begitu miliki sampai kita harus menjadi gelandangan? Aku sudah memikirkan semua itu. Kita bisa tinggal di apartemen," ucap Henry dengan santai.
"Tidak mungkin bisa memilki apartemen bagus dalam waktu sehari. Ada banyak hal yang harus diurus, kan? Aku tahu kau adalah pasangan yang tidak bisa diandalkan!" Regina mengucap dengan sinis.
"Regina, Apa kau tidak mendengar? aku sudah bilang padamu, kita akan tinggal di Apartemen milikku. Kau tenang saja, ini diluar aset yang dimiliki oleh orang tuaku."
Regina menatapnya dengan penuh keraguan. "Apa kau itu benar-benar milikmu dan orang tuamu tidak akan ikut campur?"
Henry tersenyum pahit, "Regina, apa kau sedang meremehkan ku? Tentu saja aku memiliki beberapa aset terpisah dari keluargaku. Aku tidak sepertimu yang harus bergantung dengan ayahmu!"
Regina tidak bisa menyangkalnya.
Henry mengakhiri pembicaraan mereka, "Aku harus kembali ke perusahaan. Selama aku pergi, hindari kontak dengan orang tuaku. Jika kau membuat masalah, aku yang akan direpotkan."
"Aku tahu. Tanpa kau peringatkan aku juga tidak berniat untuk berurusan dengan orang tuamu."
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Kau tidak bisa bergerak hanya menuruti egomu tanpa diskusi denganku!" Henry memberikan peringatan.
"Cepat pergi sana!" Regina mengucapkan dengan dingin.
Henry menatap Regina dengan penuh keraguan, tetapi kakinya tetap berbalik dan meninggalkannya.
Regina kembali ke kamarnya. Dia berbaring tetapi tidak bisa tidur. Pandangannya terarah pada laptopnya, lalu mengambilnya, menjelajahi email yang masuk. Tidak ada lagi laporan penting yang masuk ke emailnya. Regina menjadi cemas, apalagi mengingat sikap kasar Henry dan juga masalah yang terjadi.
Regina mengirimkan pesan pada sekertarisnya. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan balasan. "Tuan sangat marah saat ini. Nona Tan, apa kau tahu jika kita kehilangan project besar karenamu? Tiba-tiba saja client menolak memperpanjang kontrak dan beralih ke perusahaan Jian. Apa kau sungguh tidak bekerja sama dengan perusahaan Jian?"
"Aku sungguh tidak melakukannya. Perusahaan apa itu? Aku akan mencoba meyakinkannya lagi atau mencari client baru."
"Tuan sudah tidak mempercayaimu lagi. Akhir tahun nanti, Tuan berencana menarik posisimu dan mengambil alih. Kau akan dikirim ke perusahaan cabang yang lain."
Regina mengepalkan tangannya. "Katakan pada papa untuk memberikanku kesempatan, aku pasti akan bertanggung jawab dengan masalah yang terjadi."
Tidak ada balasan, bahkan setelah beberapa menit berlalu. Regina mengusap wajahnya. "Sejak awal pernikahan ini hanya membawa pada kekacauan!"
Keluarga mertua yang tidak menerimanya, dan keluarganya sendiri yang ingin membuangnya. Regina merasa hidupnya begitu rumit. "Apa yang dapat aku lakukan?"
Regina mengirim email lain pada seseorang yang lain. Dia hanya bisa menggunakan cara ini. Setelah mendapatkan balasan, laptop segera ditutup.
Regina mengganti pakaian, lalu keluar dari apartemen dengan langkah cepat. Ada banyak hal yang dia pikirkan sehingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang duduk di ruang tamu.
"Tidak sopan! Kau melewati mertuamu begitu saja?"
Regina menoleh ke arah wanita tua yang menatapnya dengan tajam. Mata itu begitu mirip dengan Henry. "Maafkan saya Ma-- maksudku Nyonya Jian, saya terlalu terburu-buru."
"Aku dengar kau sedang sakit, tapi saat putraku pergi, kau justru keluar. Apa kau ingin datang ke perusahaan dan menganggu pekerjaan putraku?"
Regina menatap Nyonya Jian dengan lembut. "Saya tidak memiliki keinginan untuk mengganggu pekerjaan suamiku."
"Jika tidak? Kemana kau akan pergi? Aku tahu kau masih ingin membujuk Henry untuk melepas client perusahaan Grace yang lebih memilih pindah menjadi patner keluarga Jian, kan?"
Regina mengerutkan keningnya. "Bagaimana Anda tahu tentang masalah ini?"
Nyonya Jian tersenyum tipis, dia menyeruput teh, lalu berkata dengan penuh kesombongan, "Tidak ada yang tidak aku ketahui. Saat ini bukankah Tuan Tan sangat marah sejak tadi pagi. Itulah alasanmu tidak masuk ke kantor dengan menggunakan alasan sakit dan memaksa Henry di sisimu untuk membujuknya, tapi baguslah jika Henry tidak bisa kau bodohi untuk masalah ini."
Regina mulai menyadari sesuatu. Apalagi mengingat seberapa besar kekuasaan Nyonya Jian di kalangan sosialita. "Apa Anda terlibat dalam hal ini?"
Nyonya Jian memberikan tanggapan yang merendahkan, "Tidak ada yang dapat kau lakukan padaku jika aku terlibat ataupun tidak. Namun, aku akan memberikanmu saran."
Wanita itu meletakkan gelas dan mendekat ke arah Regina. "Tinggalkan rumah ini sendirian sekarang juga dan umumkan akhir hubunganmu dengan putraku!"
Regina mengepalkan tangannya, menahan tekanan tatapan intimidasi dari Nyonya Jian. Dia tidak bisa memberikan jawaban pasti. Jika, dia mundur saat ini, maka dia akan membiarkan keluarga Jian memandang rendahnya. Namun, bertahan juga akan merugikannya dan perusahaan.
"Apa begitu sulit untuk setuju? Aku akan memberikanmu tawaran lain, aku akan membantumu untuk mempertahankan posisimu ketika Tuan Tan tidak lagi membutuhkanmu! Bukankah ini hal yang bagus untukmu?" ucap Nyonya Jian tersenyum licik.
Regina merasa tertekan, dia menundukkan kepala sejenak, memutuskan kontak mata agar bisa menenangkan diri dan mengatur pikirannya. Beberapa detik kemudian, dia menatap Nyonya Jian. "Saya tidak akan mengakhiri pernikahan saya dengan Henry."
Nyonya Jian tertawa dingin. "Kau masih keras kepala pada situasi saat ini? Kesombongan keluarga Tan begitu tinggi ya? Kau benar-benar tidak menyesalinya?"
"Kenapa saya harus menyesal? Anda belum tentu benar-benar memberikan apa yang Anda janjikan pada saya. Sedangkan walau untuk saat ini, Henry tidak mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan, tapi dia akan tetap menjadi pendukungku walau aku berada di bawah. Tidak ada harta berharga lebih dari ini." Regina menatap dengan tatapan penuh keyakinan dan percaya diri.
"Sudah aku duga kau ingin memanfaatkan putraku!" Nyonya Jian geram.
Regina tersenyum mantap. "Saya tidak memanfaatkan Henry. Ini adalah bentuk dari cinta untuk saling mendapatkan keuntungan."
Nyonya Jian bangkit dari kursinya, wajahnya memancarkan kemarahan. "Kau menggunakan kata cinta sebagai kamuflase rencana licikmu. Aku tidak tahu kau begitu menjijikan."
Regina tersenyum dingin. "Maaf, saya harus segera pergi. Silahkan menikmati semua hal di rumah ini."
Nyonya Jian berteriak kesal, tangannya mengambil cangkir porselin dan melemparkannya ke arah Regina yang menuju ke arah pintu. "Wanita sialan! Mati saja kau!"