Regina membatu sejenak melihat pecahan yang jatuh dibelakangnya. Dia hanya menatap Nyonya Jian, lalu menutup pintu begitu saja.
"Sialan! Pelayan! Cepat bereskan!" Nyonya Jian berteriak dengan keras.
"Istri, kenapa kau marah-marah?" Tuan Jian mendekat ke arah istrinya.
"Boneka keluarga Tan itu membuatku kesal. Dia benar-benar tidak layak jadi menantu. Jika aku tahu, aku akan memilih wanita yang dibawa Henry saat itu daripada Henry bersama dengan seorang bidak catur." Nyonya Jian melupakan emosinya.
"Tenangkan dirimu. Henry juga pasti akan menyesali menikah dengan wanita itu. Sebentar lagi, Henry pasti akan meninggalkan wanita itu. Kita hanya menunggu waktu itu datang." Tuan Jian dengan lembut menghibur istrinya.
"Apa Henry benar-benar akan meninggalkan istrinya itu? Wanita itu bahkan berencana untuk mempengaruhi Henry agar tetap bersamanya."
"Istriku, percayalah padaku! Aku yakin pengaruh wanita itu tidak akan lama."
Regina menemui seorang teman yang kemungkinan dapat membantunya. Namun, tanggapan orang itu diluar ekspektasinya.
"Kau memintaku bertemu hanya untuk hal ini? Kenapa kau tidak menemui suamimu saja?" Wanita di depannya itu menunjukkan wajah acuh tak acuh.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat begitu marah?" Regina menatapnya dengan heran. Dia memang tidak memiliki banyak teman, tapi wanita ini yang masih terhubung dengannya.
"Bagaimana aku tidak marah? Aku mendengarmu selalu mengkritik saat aku berbicara tentang Henry Jian, tetapi kau justru menikah dengannya dan memamerkan kemesraan di depan umum. Aku merasa telah dikhianati." ucap Wanita itu penuh dengan keluhan.
"Bukan begitu. Aku hanya--"
"Cukup! Aku menemuimu saat ini untuk mengakhiri hubungan pertemanan kita. Aku tidak ingin berhubungan dengan orang yang telah merebut kekasihku."
"Kekasih? Kau berkencan dengan Henry?" tanya Regina dengan nada terkejut.
"Ya, tapi itu begitu singkat. Dia mengakhiri hubungan lalu mengumumkan menikah denganmu. Aku tidak tahan lagi. Jangan temui aku lagi sebelum kau dan Henry bercerai!" ucap Wanita itu.
"Tunggu, bukankah kita teman?" tanya Regina dengan ragu.
"Teman? Regina kau berpura-pura naif? Kau bahkan tidak pernah menganggapku teman dan bagiku juga begitu! Selamat tinggal dan manfaatkan saja statusmu sebagai istri Henry Jian!" Wanita itu langsung meninggalkan Regina.
"Lagi-lagi karena masalah ini!" keluh Regina. Dia benar-benar muak sekarang ini. "Kenapa aku yang harus menanggung semuanya."
Regina duduk diam di kafe. Dia terdiam cukup lama. Sebelum akhirnya bangkit. Seorang pria datang menghalangi jalannya.
"Kau mau ke mana lagi?"
Regina memasang ekspresi terkejut selama beberapa detik. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau penguntit?"
Henry berjalan lebih deka, kaki Regina mundur beberapa langkah. Tangan Henry menahan pinggangnya, menguncinya agar tidak melarikan diri. "Aku hanya datang untuk menjemput istriku yang melarikan diri," bisik Henry dengan suara yang dalam.
Regina mendorong dadanya. Namun, bagaimana seekor kelinci bisa lepas dari cengkeraman seekor singa jantan?
"Aku tidak melarikan diri," elak Regina.
"Jika tidak lalu apa? Kau pergi dari rumah tanpa sepengetahuanku."
"Aku hanya perlu keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan pribadi dan juga ini tidak ada urusannya denganmu!" sahut Regina.
Henry melepaskan pelukannya, tangannya, menggenggam telapak tangan Regina dengan erat . "Regina, ikut denganku. Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu aku bicarakan denganmu. Jangan ganggu aku, masih ada yang harus aku lakukan," tolak Regina sambil mencoba melepas diri.
"Apa kau ingin orang melihat pertengkaran pasangan diantara kita? besok dan beberapa hari mungkin saja kita akan muncul di semua situs gosip."
Regina langsung diam. Henry tersenyum licik dan dengan segera menarik Regina masuk ke mobil dengan kasar. Pria itu mengendarai mobil tanpa bertanya terlebih dahulu pada Regina.
"Di mana asistenmu?"
"Ini sudah kedua kali kau selalu bertanya. Kenapa kau begitu tertarik saat dia tidak ada. Apa tidak cukup hanya aku seorang?" ucap Henry dengan kesal.
"Kenapa kau begitu kesal? Seharusnya aku yang kesal karena menarikku secara paksa," keluh Regina.
"Aku tidak punya pilihan, karena kau terus menerus menunjukkan perlawanan. Hei, aku dengar kau bertengkar dengan Mama. Bukankah aku susah peringatkan padamu untuk tidak berbuat ulah?"
"Mata-mata yang kau miliki sepertinya memberitahumu secara terbatas untuk menyalahkanku ya?" cibir Regina dengan nada datar. "Aku juga tidak ingin terlibat dalam pertengkaran, tapi....ah sudahlah untuk apa aku mengatakannya padamu."
"Kenapa tidak?"
"Karena kau pasti akan membela Mamamu dan menyalahkanku. Kita hentikan saja pembicaraan tidak berguna ini!"
Mereka berdua terdiam membiarkan kesunyian diantara mereka. Regina berulang kali tenggelam dalam lamunannya dan menghela nafas. Sesekali dia melirik ke Henry. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu.
" Regina, apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?"
Regina memandang ke luar jendela mobil, memilih untuk diam sejenak sebelum menjawab. "Apa gunanya aku mengatakan padamu? Itu bukan urusanmu!"
Henry melirik ke arah Regina dengan tajam "Kau bicara seolah kita adalah orang asing? Bukankah kita adalah pasangan? Sudah seharusnya kita saling terbuka."
Regina menghela nafas, "Bahkan jika aku mengatakannya, kau belum tentu akan melakukan sesuatu untukku, kan? Tidak perlu mengatakan omong kosong dengan mengatas namakan pasangan. Hubungan kita adalah palsu."
"Tidak sepenuhnya palsu. Kita adalah patner dalam kerja sama ini. Namun, aku tidak akan melakukan sesuatu jika itu tidak memberiku keuntungan. Kau harus membayarku!"
Regina menatapnya, "Kau memiliki bisnis besar dan uang. Apa itu masih kurang bagimu?"
"Sebagai pengusaha tentu saja aku tidak akan pernah cukup. Apalagi memberikan sesuatu tanpa mendapatkan sesuatu adalah kerugian."
"Bagaimana aku harus membayarmu? Apa dengan tidur denganmu cukup?" Regina berkata dengan santai.
Henry secara refleks menginjak rem, membuat mobil berhenti mendadak memberikan goncangan.
"Henry, kau gila? Kenapa berhenti mendadak?" Regina terkejut karena kelapanya hampir saja terbentur. "Beruntung aku tidak terluka."
"Regina, kau benar-benar akan memberikan tubuhmu?"
"Huh? Kau menganggapnya serius? Aku hanya mengatakan begitu saja. Lagipula, kau juga tidak tertarik untuk melakukannya denganku." Regina mengucapkan dengan dingin.
"Ya, bukan berarti aku akan menolaknya. Katakan apa yang dapat aku lakukan?" ucap Henry.
Regina menatapnya cukup lama. "Apa kau akan memberikan semua client penting perusahaan Jian untukku?"
"Jadi itu yang kau inginkan?"
Regina mengangguk.
Henry terdiam cukup lama. Regina tidak tahan dengan hal itu. "Sudahlah, tidak perlu untuk memaksakan diri. Aku tahu kau tidak akan rela mengorbankan bisnismu."
Regina memiliki harga diri tinggi. Ini benar-benar memalukan baginya melakukan hal rendahan untuk mendapatkan keuntungan dalam bisnis.
"Hei, Regina...." Suara Henry membuat Regina mengalihkan pandangan ke arahnya. Pria itu melepaskan sabuk pengaman, tubuhnya tiba-tiba saja semakin dekat dengan Regina.
Bibir pria itu sejajar dengan telinganya dan mulai berbisik sesuatu.