Aku Tidak Memaksamu Untuk Percaya

Penulis tyaprajana
30 December 2025

"Aku tidak menyangka kau adalah seorang wanita murahan! Berapa pria yang telah mendapatkan tawaran ini untuk membantumu mendapatkan project?" bisik Henry dengan penuh ejekan.

Regina mendirikan pria itu. "Aku sudah bilang, aku tidak serius dengan itu. Satu hal lagi, aku bukan wanita seperti yang kau pikirkan."

Henry menatap Regina cukup lama. Tubuhnya kembali tegak. "Tapi, jika kau serius menawarkannya, aku tidak akan menolak. Kau tidak akan menyesali telah menjual dirimu padaku. Aku akan memberikan semua yg kau inginkan, bahkan jika itu mempengaruhi bisnisku."

"Persetan! Aku tidak butuh!"

"Kau yakin? Bukankah ini tentang masalah proyek besarmu yang gagal dan client pindah untuk bekerja sama dengan perusahaanku?"

"Aku sudah bilang tidak ingin--"

Henry memotong perkataannya, "Aku belum menandatangani kontrak dengannya."

"Kenapa? Tadi pagi kau menyombongkan diri." Regina menatap Henry yang mulai menyetir mobil.

"Aku tidak ingin ada rumor menyebar, aku telah merebut client dari perusahaan istriku, ini akan buruk bagi citraku. Selain itu, ini aneh karena dia tiba-tiba beralih ke perusahaanku."

Regina menghela nafas. "Mamamu yang telah mengatur ini semua. Aku pikir kau akan bergerak sesuai dengan keinginannya."

"Apa yang kau pikirkan tentangku? Aku bukanlah kau yang akan selalu memenuhi apa yang diarahkan orang tuamu."

"Jangan mengejekku." Regina menatap dengan kesal.

"Aku hanya bicara yang sebenarnya, tapi bagaimana kau bisa berpikir kalau Mamaku terlibat dalam masalah ini?"

Regina memandang Henry dengan serius "Mamamu mengungkit tentang masalah ini. Aku rasa dia menggunakan kedudukannya di kalangan sosialita. Bukannya dia dekat dengan para istri pengusaha? Aku tidak memaksamu jika kau tidak percaya."

"Tidak. Apa yang kau katakan itu memang masuk akal. Lalu bagaimana rencanamu? Apa kau masih ingin bantuanku dengan bayaran yang kau janjikan?" tanya Henry.

Regina terdiam sejanak, lalu menggelengkan kepala. "Aku akan mencoba untuk meyakinkan client itu sendiri. Namun, Papaku dan sekertarisku tidak memberikan informasi lebih banyak tentang masalah ini. Bisakah kau....ah sudahlah, tidak perlu!" Regina mengurungkan niatnya.

Henry menanggapi keraguan Regiana. "Kenapa kau mengungkapkan perkataanmu? Katakan saja, aku sudah memberikan tawaran untuk membantumu."

Regina menatapnya tajam, "Jika aku harus menjual diriku, aku tidak mau."

Henry tertawa mengejek. "Kau begitu takut tentang itu? Tenang saja, aku tidak akan memaksa wanita. Katakan saja bantuan kecil apa yang kau inginkan?"

"Bisakah kau memberikanku informasi tentang Client itu?"

"Dia client penting perusahaanmu, kan? Kau bahkan tidak bisa mengingatnya?" Henry mengolok-oloknya.

"Jika kau tidak mau katakan yasudah. Aku sudah menduga, berkomunikasi denganmu tidak ada gunanya."

"Kau begitu mudah marah ya. Regina, jika kau mau mendengarkanku, lebih baik kau lepaskan saja dia. Jika memang orang itu sudah mendapatkan pengaruh besar dari Mama, dia akan tetep menyulitkanmu, hal apapun yang kau lakukan tidak ada gunanya. Aku akan menawarkan perusahaan lain untukmu yang lebih baik."

Regina mempertimbangkan kata-kata Henry dengan hati-hati. "Apakah aku bisa percaya padamu? Bagaimana aku tahu ini bukan bagian dari rencana licikmu?"

Henry menjawab dengan tegas, "Aku tidak memaksamu untuk menerima usulanku. Terserah padamu kau mau percaya atau tidak."

Regina masih ragu, tapi memikirkan perkataan Henry, mungkin saja dia bisa dipercaya kali ini. Lagipula jika dia hancur, maka Regina akan menuntut Henry bertanggung jawab. "Baiklah, beri aku informasi tentang perusahaan alternatif yang menurutmu cocok dan aku akan mempertimbangkannya."

Henry mengangguk, "Aku akan mengirimkannya nanti. Apa kau mau melihat apartemen yang akan kita tempati besok?"

" Kenapa kau terlihat memiliki begitu banyak waktu luang? Apa tidak ada pekerjaan yang harus kau lakukan?" tanya Regina.

"Aku bukan orang yang gila kerja dan juga, aku miliki Asisten yang dapat diandalkan, dia bisa menggantikanku."

"Betapa enaknya itu?" sindir Regina.

"Kau iri? Mungkin ini terlihat mudah, tapi sebelum sampai ke tahap ini, ada banyak hal yang harus aku lalui."

"Oh. Kau tidak perlu mengatakannya padaku untuk mendapatkan simpatiku." Regina tidak ingin mendengarnya. Dia tidak ingin hatinya tersentuh oleh pria ini.

Henry hanya tersenyum samar.


Mereka tiba di sebuah apartemen mewah dengan pemandangan kota yang memukau. Regina terkejut dengan apa yang dia lihat. Jika dia tidak salah ingat, ini adalah komplek apartemen dengan biaya sewa tinggi.

"Apa kau terkejut?" tanya Henry dengan bangga.

Regina tidak mau mengakui. "Tidak, tapi bagaimana kau bisa membeli apartemen area ini? Kau juga memiliki Apartemen yang diinvestasikan oleh perusahaanmu, kan?"

"Ya, tapi tidak ada yang senyaman lingkungan di sini. Lagipula kamarnya lebih mewah dan juga aku berinvestasi secara pribadi untuk pembangunan Apartemen ini. Temanku memberikan 3 unit apartemen untukku?"

Regina menutupi mulutnya, mencoba untuk tidak mengungkapkan kekagumannya. Henry benar-benar rival yang tangguh. Semakin dia tahu tentang betapa luar biasanya orang ini membuatnya merasa tidak nyaman.

Henry melajukan mobilnya ke arah tempat parkir. "Apa kau ingin 1? Aku dapat memberinya padamu dan kau bisa memamerkannya."

"Tidak," tolak Regina.

"Cepat sekali kau menolak. Biasanya para wanita akan antusias saat aku memberikan secara cuma-cuma." Henry mengerutkan keningnya.

"Ya, jika itu pria lain, aku akan menerimanya, tapi karena ini kau, aku tahu pasti ada hal buruk jika kau tiba-tiba baik," ucap Regina sambil membuka pintu.

Henry menarik tubuh Regina. "Ada apa lagi?"

"Kau tidak boleh menerima apartmen dari pria lain!" Henry menunjukkan ekspresi posesifnya.

"Kenapa?"

"Karena..." Henry melepaskan tangannya, ekspresinya kembali seperti biasanya. "Pria yang memberikan hadiah mahal itu pasti ada imbalan yang mereka inginkan."

"Hanya karena itu?" Regina langsung keluar dari mobil dengan santai tanpa memikirkan apa yang dikatakan oleh Henry.

Henry dengan buru-buru keluar . Henry berusaha mengejar Regina yang meninggalkannya dengan cepat. "Regina, tunggu sebentar! Apa kau tidak menanggapi ucapanku dengan serius?"

Regina menoleh dingin, "Apa yang kau katakan itu tidak penting. Orang sepertimu tidak pantas untuk memberikan peringatan. Kau bahkan lebih brengsek, setelah Bersenang-senang dengan mereka, memberikan apa yang mereka mau lalu membuangnya. Aku sungguh tidak tahu kenapa mereka terpikat padamu hanya karena diberikan barang mewah. Tidak ada pria yang lebih brengsek lagi selain kau. "

Henry justru tertawa. "Kau sampai mengetahui hal itu? Regina, seberapa banyak kau mencari tahu temanku?"

"Jangan tertawa, apa kau pikir ini lelucon. Aku juga tidak ingin mengetahuinya, tapi setiap para nona muda berkumpul, ada saja yang menangis dan bercerita tantang itu. Aku tidak tuli, sehingga semua itu masuk begitu saja ke telingaku."

"Aku mengerti. " Henry meraih tangan Regina, "Tapi, kau salah memahami satu hal tentangku."

Regina menepis tangannya. "Aku tidak peduli!"

"Jika kau memang tidak peduli, kenapa kau membahas dan menjadi marah?"