"Hei, Regina dengarkan aku. Bahkan jika aku membuang mereka setelah memberikan banyak hal, tapi aku tidak akan melakukannya padamu!" Henry menatap Regina begitu dalam
Jantung Regina berdebar. Dia tidak sanggup menatap mata tajam Henry, yang seolah mencoba menembus jiwanya. . "Ya, tentu saja kau tidak bisa membuangku begitu saja karena kita memiliki perjanjian dan kau tidak mau citramu buruk. Aku tahu itu. Tidak perlu lagi membicarakan hal yang tidak penting."
Regina berjalan duluan, mencoba menyingkir dari pandangan intens Henry. Emosi yang tidak dia inginkan telah menyelimutinya. Dia bisa merasakan kehadiran Henry yang mengikuti rapat di belakang.
"Hei, kau bahkan tidak tahu lokasinya kan? Jangan melangkah sendirian." Henry mengenggam tangannya dengan erat.
"Tidak perlu bergandengan tangan! Aku bukan anak kecil yang akan hilang tanpa tahu jalan pulang." Regina mencoba melepaskan genggaman itu. Henry justru merapatkan jari-jarinya membuat ikatan yang sulit untuk dilepaskan.
"Ikuti saja. Para paparazi mungkin ada di sini."
"Tidak mungkin. Aku pernah melihat bahwa apartemen ini memiliki keamanan yang ketat. Bahkan kita harus melalui pemeriksaan sebelum masukkan?" ucap Regina mengelak.
"Mungkin saja, tapi tetap saja lebih baik berhati-hati," ucap Henry sambil tersenyum dingin. "Kau tahu, para paparazi itu pintar untuk menyusup.."
"Ya, kau benar juga. Tidak heran kau menggatakan omong kosong yang membuat orang salah paham." Regina menyadarinya.
"Huh? Apa yang kau katakan?"
"Bukan apa-apa."
Mereka berjalan masuk, menuju ke ruangan yang akan mereka tempati. Koridor ruangan ini juga memiliki dekorasi yang indah. Seperti yang diharapkan dari apartemen mewah.
Henry membuka pintu, pemandangan kemawahan apartemen langsung membutakan mata. Warna yang dominan Dinding-dinding apartemen ini didominasi oleh nuansa abu-abu muda yang memberikan latar belakang yang bersih. Beberapa aksen warna putih murni menyoroti desain dinding, menciptakan tampilan yang terang dan sentuhan aksen dengan warna metallic, seperti emas memberikan kesan mewah.
Furniture yang dipilih selaras memberikan kesan mewah. Dalam sekali lihat, dia yakin harganya yang tinggi dengan kualitas yang baik. Walau kediaman keluarga Tan tidak buruk, tapi apartemen ini menyegarkan mata. Namun, ada hal yang menganggu. Regina berbicara secara skeptis. "Apa kau membawa para wanita yang kau kencani ke sini?"
"Kau masih ingin membahas masa laluku?" Henry menanggapinya dengan malas. Kakinya melangkah ke arah sofa dan langsung menjatuhkan tubuhnya.
"Aku hanya bertanya dengan santai."
"Aku tidak pernah membawa orang lain. Di sini adalah tempat bagiku untuk bersantai dan sendirian. Kau orang pertama dan satu-satunya yang datang." Henry berkata dengan lembut.
"Oh." Regina hanya memberikan kesan tidak tertarik, tetapi saat ini dia sedang menenangkan perasaannya.
"Tapi, sepertinya bagus untuk melakukan 'hal itu' di apartemen ini. Apa kau tahu, kamar tidurnya punya tempat tidur yang nyaman dan hangat?" Henry berdiri dan tiba-tiba datang memeluk pinggang Regina. "Mau mencobanya?" ucapnya dengan nada rendah yang menggoda.
"Berhenti bermain-main."
Regina melepaskan tangan Henry dari pingganya. Namun Henry justru mendorong tubuhnya ke sofa. "Henry?" Wajah Regina memutih. Kecemasan menyelimutinya.
"Regina, kau tidak berpikir bahwa kita hanya melihat-lihat saja kan? Saat ini, hanya ada kita berdua dengan suasana yang baik untuk melakukannya!" Henry melepaskan dasinya.
Regina dengan gugup bangun, mendorong Henry yang menahannya. "Henry, kau sudah gila? Ini masih siang dan kau ingin melakukan hal seperti itu?"
"Apa yang salah? Kau yang pertama menawariku."
"Tidak. Aku sudah bilang bahwa aku tidak serius menawarkan itu. Kau juga bilang tidak akan melakukannya. Lepaskan! Aku akan berteriak jika kau nekat." Regina memprotesnya.
Henry menyelipkan rambut Regina ke samping telinganya, tangannya menyentuh kulit daun telinganya yang tipis. "Istriku, apa kau tidak belajar bahwa ucapan para pria tidak bisa dipercaya untuk beberapa hal?"
Regina tidak bisa bergerak menepis tangan itu karena Henry mencengkeram keduanya dengan erat. Meskipun merasa takut, dia tidak berkedip sedikitpun dan menatap Henry tanpa keraguan.
"Kau tidak merasa takut aku melakukan ini?" tanya Henry dengan ketidakpuasan.
"Tidak, karena aku tahu kau tidak akan melakukannya. Kau bilang padaku bahwa aku tidak menarik, dan tipe pria sepertimu tidak akan melakukannya pada orang yang tidak mereka minati." Regina berbicara dengan percaya diri, mempertahankan harga dirinya.
Henry menunjukkan senyum sinis. Dia semakin mendekatkan wajahnya. Tatapannya begitu inten. Ekspresi kepercayaan diri Regina mulai goyah. Senyumannya Henry menjadi semakin lebar "Regina, aku sudah katakan padamu tadi, kau tidak bisa mempercayai apa yang kau dengar dari seorang pria!"
Wajah mereka begitu dekat dan bibir mereka semakin dekat, hanya sedikit lagi sampai bibir itu menyatu. "Tidak, ini tidak bisa terjadi!" teriakan penolakan dalam pikirannya telah menggerakkan tubuhnya tanpa terkendali.
Kaki Regina secara refleks bergerak cepat berayun menendang kelemahan bagi seorang pria. Henry menarik tubuhnya dan meronta kesakitan. "Apa yang kau lakukan, Regina? Kau mau bertanggung jawab jika aku tidak memiliki keturunan?"
Regina menatapnya tajam, "Itu salahmu sendiri yang mencoba melecehkanku. Aku tidak akan diam saja dan menerima tindakan kurang ajarmu itu! Dan, jangan khawatir, kau sudah punya satu anak yang bisa menjadi penerusmu menjadi impoten itu bukan masalah." Regina menujukkan seringai ejekan.
Dia bangun dari sofa, melarikan diri dari Henry. Pria yang masih kesakitan itu mencoba untuk mengejarnya. "Hei, kau tidak bisa pulang tanpaku! Ingat, aku yang membawa mobilnya."
Henry memamerkan kunci mobilnya dengan penuh kesombongan. Regina langsung merebutnya dengan cepat. Konsentrasi Henry sedang tidak begitu bagus terlihat dari pandangannya membuat Regina dengan mudah merebut kunci itu dari genggaman tangan Henry.
"Aku akan pulang sendiri. Sampai jumpa, suamiku." Regina berlari cepet membuat Henry kesulitan mengejarnya, apalagi saat pintu Lift tertutup.
Regina tersenyum bahagia. Dia yakin saat ini Henry sedang mengutuknya di sela-sela rasa sakitnya. Regina menyadari sesuatu yang dia lupakan. "Lagi-lagi, aku melupakan untuk meminta ponselku."
Regina menyesalinya, tetapi jika dia datang menemui Henry saat ini, pria itu bisa saja menyerangnya. Regina dengan terburu-buru masuk ke mobil sebelum Henry datang.
Regina yang baru saja datang langsung di sambut oleh kepala pelayan yang memiliki wajah cemas. "Ada apa kenapa kau terlihat begitu cemas."
"Nyonya, syukurlah anda datang," kelegaan terukir jelas di wajahnya.
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" tanya Regina.
"Nyonya, lebih baik anda--"
Suara teriakan makian yang begitu keras menggema di ruangan. Regina memiliki firasat yang buruk. Dia melangkah mendekati suara itu.
"Nyonya Jian, apa yang Anda lakukan pada Kevin?" Regina dengan cepat datang memeluk anak laki-laki yang gemetaran itu.
Regina menatap tajam ke arah Nyonya Jian yang menunjukkan ekspresi marah.