Nyonya Jian memandang pasangan ibu dan anak dengan sorot mata dipenuhi dengan kebencian. Bibirnya mengeluarkan perkataan sinis sebagai jawaban, "Kalian ibu dan anak hanya bisa membuatku kesal!" Kebencian terlihat begitu jelas saat wanita paruh baya itu melangkahkan kaki menjauh.
“Nyonya Jian, apa anda akan melarikan diri begitu saja?” Suara Regina begitu keras, tetapi Nyonya Jian tidak menunjukkan tanda menghentikan langkah kakinya dan memecahkan masalah ini.
“Mama.”Suara panggilan Kevin menarik pandangan Regina. Menatap anak laki-laki dengan keadaan menyedihkan ini membuat perasaan yang tidak dikenalinya tumbuh. Rasa sakit yang menghancurkan hatinya. "Ada apa sebenarnya? Apa kau dipukul?"
Dengan hati-hati Regina mengusap pipi Kevin yang memerah. Anak itu menenggelamkan diri dalam pelukan, tubuhnya masih gemetar. Kevin menjawab dengan suara serak, "Aku hanya tidak suka mama dihina, jadi aku membalas apa yang dia katakan. Orang itu marah dan memukulku."
"Apa ada hal lain selain itu?" Regina melepaskan pelukan Kevin. Tatapan matanya begitu dalam mencoba menembus apa yang ada di dalam mata anak laki-laki untuk mencari kebenaran. Mata bulat jernih itu seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak terungkap.
Namun, Kevin justru hanya menggeleng. Regina menghela nafas. "Aku tidak ingin ada sesuatu yang coba kau sembunyikan dariku. Apa kau tidak percaya padaku?"
"Mama, aku tidak menyembunyikan sesuatu, sungguh." Mata polo itu menatapnya dengan air mata yang menumuk, berebut untuk keluar . Tangan kecil itu mengusapnya sebelum jatuh membasahi pipinya.
Regina tidak memaksanya lagi. Dia beralih ke arah pelayan. "Bawakan air untuk mengompres pipinya." Pelayan dengan cepat pergi.
Regina mengulurkan tangannya dengan penuh kelembutan untuk mengenggam tangan yang gemetar, "Ayo, aku akan mengantarmu ke kamarmu."
Regina cukup terkejut karena Kevin melepaskan genggaman tangannya. "Mama, aku sudah tidak apa-apa. Tidak perlu pedulikan aku," penolakan lembut itu membuat Regina kecewa. Ada kemarahan yang coba untuk dia tahan.
"Bagaimana bisa aku tidak peduli saat melihat kondisimu yang seperti ini. Kenapa kau tiba-tiba menjadi anak yang kuat. Tubuhmu bahkan masih gemetaran." Regina dengan tegas merangkul tubuh anak laki-laki yang hanya menunduk.
Kevin tidak mengatakan apapun. Dia menghindari melakukan kontak mata dengan Regina dan hanya menurut saat tubuhnya di tuntun menuju ke kamarnya.
Regina membuka pintu. Kevin melepaskan dirinya, dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tangannya menarik kain, menutupi wajahnya.
Regina melihat sekeliling ruangan. Kamar ini lebih cenderung kosong untuk kamar seorang anak, tapi anak ini tidak mengeluhkan apapun.
Kevin mengintip dari balik selimut. "Mama, aku mau tidur. Aku akan baik-baik saja."
Regina melangkah mendekat. "Kau bisa tidur Setelah aku selesai dengan perawatan lukamu. Dimana pelayan itu, kenapa begitu lama?" Regina menunjukkan ketidaksabaran.
"Mama, aku sungguh tidak apa-apa. Mama pasti lelah, aku tidak ingin merepotkan--"
"Kau memanggilku Mama, tapi kau memperlakukanku seperti orang asing."
Kevin dengan cepat membatah. "Tidak, bukan begitu. Aku hanya merasa aneh. Tidak biasanya mama seperti ini."
"Apa kau berbicara tentang saat kita pertama bertemu? Saat itu kau--"
Suara ketukan terdengar. Regina menghentikan ucapannya dan segera membuka pintu.
"Nyonya, saya akan merawat Tuan Muda Kevin," ucap Pelayan itu menawarkan diri.
"Tidak perlu. Aku yang akan melakukannya. Kau bisa pergi!" Regina mengambil baskom yang dibawa oleh pelayan itu.
Dia mulai melakukan perawatan dengan hati-hati. Kevin hanya diam memandanginya tanpa memberikan keluhan. Regina memandang ke arah Kevin. "Kau bisa menangis jika kau ingin."
Kevin hanya menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja."
Regina menyelesaikannya dengan cepat. "Aku akan mengatakan pada Henry tentang apa yang terjadi."
Kevin menunjukkan ekspresi panik. Dia meraih tangan Regina. "Tidak. Itu tidak ada gunanya. Papa akan berpihak pada nenek. Aku tidak mau mama menjadi pihak yang disalahkan."
"Kenapa aku harus disalahakan? Jika Henry menyalahkanku tentang itu maka artinya dia buta dan tuli. Jangan khawatirkan tentang masalah ini." Regina menanggapi dengan santai.
Kevin menatap Regina dengan ragu. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada sesuatu yang keluar. Regina cukup peka menyadarinya, "Jika kau ingin mengatakan sesuatu maka katakan saja."
Kevin menatap Regina dengan ekspresi rumit. Bibirnya terbuka, suaranya terdengar gemetar, "Mama, sebenarnya ini salahku. Aku yang membuat nenek begitu marah. Aku telah menyinggung perasaan nenek."
Regina mengenggam telapak tangannya, tatapannya serius terfokus pada anak yang ragu-ragu ini. "Kevin, ceritakan lebih banyak padaku!"
Kevin menundukkan kepala, "Jika aku mengatakannya, apa mama akan marah padaku?"
Regina melembutkan nada suaranya, tetapi masih menunjukkan ketegasan, "Itu tergantung pada situasinya. Seberapa buruk apa yang kau lakukan! Namun, aku lebih suka kau jujur dan introspeksi diri dengan kesalahan yang kau perbuat. Angkat wajahmu dan katakan padaku!"
Kevin dengan ragu mengangkat wajahnya. Regina menatap wajah Kevin dengan penuh perhatian, menunggu dia untuk membuka hatinya sepenuhnya untuk bicara.
Kevin menelan ludah, matanya berkaca-kaca, dan dia mulai menceritakan semua yang telah terjadi, "Sebenarnya aku mengeluarkan perkataan kasar pada nenek. Aku marah karena nenek bilang jika mama telah pergi meninggalkanku. Aku yakin nenek pasti yang mengusir mama. Maaf, aku tidak bisa menahan diri, mungkin siapapun akan marah jika seseorang berbicara buruk dengan perkataan kasar, dan nenek sebenarnya...." Kevin langsung berhenti bicara.
"Kenapa kau tidak melanjutkannya? Apa Nyonya Jian mengancammu?"
Kevin memejamkan matanya sejenak. "Aku hanya bisa mengatakan itu pada Mama. Aku telah menyadari kesalahanku, jadi tidak perlu memperpanjang hal ini dengan meminta bantuan pada Papa."
Regina menatap Kevin tanpa berkedip, melihat setiap gerak gerik darinya. Dia merasa ada yang disembunyikan, tetapi memaksanya hanya akan membuat seorang anak semakin tertekan. Regina mengingat tentang bagaimana dirinya pernah menghadapi situasi yang sama. Itulah kenapa dia menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Baiklah, karena kau sudah menyesali kesalahanmu, lain kali tidak boleh lagi bersikap buruk pada seseorang yang lebih tua."
"Ya, Mama."
"Kau bisa beristirahat dan aku akan membangunkanmu ketika jam makan nanti." Regina meninggalkan ruangan ketika Kevin mulai menutup mata.
Seorang pelayan masih berdiri di samping pintu. "Kau masih di sini?" Regina menatapnya heran.
"Saya sedang berjaga-jaga jika Anda membutuhkan sesuatu."
"Kalau begitu bawa baskom ini kembali. Apa kau tahu di mana ibu mertua sekarang?" Regina memberikan baskom itu pada pelayan.
"Nyonya Besar Jian sedang di taman menikmati tehnya. Nyonya, lebih baik Anda tidak mendekatinya. Saat ini Nyonya Besar terlihat marah." Pelayan itu menunjukkan ekspresi kekhawatiran.
"Tidak. Aku harus tetap datang menyelesaikan masalah ini."
Regina melangkah ke area taman. Tanpa keraguan, Regina mendekat ke arah Nyonya Jian yang duduk di tengah hamparan bunga indah. "Permisi, Nyonya Jian, ada hal yang ingin saya katakan."
Nyonya Jian melirik Regina dengan tidak senang. "Ada apa? Apa kau akan menyalahkan--" Ekspresi Nyonya Jian berubah ketika melihat apa yang sedang Regina lakukan. "Apa-apan ini?"