Regina menekuk kedua kakinya, berlutut di depan Nyonya Jian. Dia membuang semua harga dirinya untuk melakukan semua ini. Tatapan matanya menunduk dan mengucapkan dengan penuh ketulusan, "Aku minta maaf atas apa yang Kevin perbuat pada Anda. "
Nyonya Jian memandang Regina dengan tatapan tajam. Tatapan matanya memandang Regina dengan ketidakpercayaan, "Trik macam apa ini? Apa kau akan bertindak sebagai korban lalu memfitnahku di depan putraku bahwa aku memaksamu berlutut dan meminta maaf?"
Regina tetap tenang meskipun tatapan tajam Nyonya Jian menusuk ke dalam dirinya. Wanita itu mengangkat tubuhnya, berdiri tegap dengan tatapan lurus. "Saya tidak memiliki rencana buruk apapun dan hanya berharap Anda memaafkan putra saya. Sebagai orang dewasa sudah sepantasnya untuk merendahkan diri dan mengakui kesalahan."
Nyonya Jian menatapnya dengan dingin, beberapa detik kemudian, senyum penuh kemenangan terukir, "Baguslah jika kau mau meminta maaf untuk kau yang tidak becus mendidik anakmu."
"Nyonya Jian, bukankah kau juga seharusnya meminta maaf pada Kevin? Kau sudah memukulinya dengan kasar dan mengancamnya. Sebagai orang dewasa, apa kau tidak malu melarikan diri begitu saja?" Regina langsung memberikan serangan.
"Kenapa aku perlu minta maaf? Sebagai neneknya aku harus mengajarinya sopan santun dengan benar, wajar jika aku menghukumnya." Nyonya Jian tidak menunjukkan penyesalan sedikitpun.
"Apa Anda melakukannya juga pada Henry? Bagaimana jika aku memukuli Henry seperti Anda melakukannya pada Kevin?"
"Kau berani melakukannya?! Dasar istri durhaka! Aku akan memberikanmu pelajaran." Nyonya Jian mengulurkan tangan untuk memukul, tetapi tangannya di tahan oleh seseorang.
"Mama, hentikan! Aku sudah bilang untuk tidak menyakiti istriku," ucap seorang pria yang tiba-tiba datang.
"Henry, kau salah paham. Wanita ini yang bilang ingin memukulimu. Dia wanita yang tidak baik." Nyonya Jian mejelaskan.
Henry melepaskan tangan Nyonya Jian. Lalu mengalihkan pandangan ke arah Regina. "Jelaskan! Apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu kau tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan."
"Aku hanya datang untuk minta maaf karena Kevin telah menyinggung perasaan ibumu dengan kasar, tetapi ibumu tidak mau meminta maaf atas tindakannya yang memukul Kevin. Sebagai Mamanya, apa aku akan diam saja?"
Nyonya Jian merasa tertekan dengan tatapan tajam putranya yang mengintimidasi. "Istrimu terlalu membesar-besarkan masalah. Aku tidak memukulinya. Apa yang aku lakukan hanya menegurnya."
Regina merasa kemarahannya semakin memuncak. Dia menatap Nyonya Jian dengan tajam, kekecewaan dan kekejaman menyala di matanya.
"Kau menyebut itu teguran? Mengancam dan memukul anak sampai bengkak di pipinya apa itu pantas?!" desis Regina, suaranya gemetar oleh kemarahan yang berusaha untuk dia kendalikan.
"Regina, pergilah dulu. Aku yang akan bicara pada ibuku tentang masalah ini," ucap Henry menenangkan kemerahan Regina.
"Tidak. Aku tidak bisa pergi. Masalah ini belum selesai. Henry, apa kau berada di pihak ibumu dan membenarkan tindakannya yang memukuli darah dagingmu?" Regina berteriak dengan kesal.
"Regina, aku mohon padamu. Tolong kau pergi dulu dan tenangkan amarahmu. Aku akan menyelesaikan ini berdua dengan Mama."
Regina menatap Henry dengan wajah muram, lalu melangkah meninggalkan taman itu.
"Henry, kau pasti tidak mempercayai istrimu itu, kan? Kau lihat sendiri bagaimana dia mengarang cerita untuk membuat Mamamu ini terlihat jahat. ."
Henry menatap ibunya dengan tajam. "Mama, aku sudah tahu semuanya. Aku telah mendapatkan laporan tentang ini. Aku tidak suka cara Mama memperlakukan Kevin dengan kasar."
"Henry, kau harus tahu situasinya. Ini adalah pola didik, bukannya kau juga--"
"Ya, Mama pernah memperlakukanku seperti itu, tapi cara itu benar-benar tidak sesuai. Bukankah Mama bilang padaku untuk menutupi hukuman yang mama berikan padaku. Aku bisa menahannya, tapi bukan berarti Kevin juga bisa. Aku tidak ingin anakku memiliki ketakutan seperti apa yang aku rasakan di masa lalu." Henry meluapkan ketidaksenangannya. "Aku dan Regina akan pergi dari rumah ini sekarang juga."
Nyonya Jian terkejut dengan keputusan itu. Dia berusaha meyakinkan putranya, "Henry, Papamu memberikan waktu sampai besok, kan? Pikiran ini baik-baik. Apa kau akan meninggalkan orang tuamu demi wanita itu. Jangan lupa bagaimana para wanita yang kau kencani tidak pernah bertahan lama. Regina juga akan mencampakkanmu setelah memanfaatkanmu."
"Itu tidak akan terjadi. Mama, kau seharusnya tahu kenapa hubunganku selama ini mengalami kegagalan setiap aku ingin serius dengan seseorang. Tidak peduli sekarang atau besok, keputusanku tidak akan berubah. Aku akan pergi bersama istri dan anakku selama kau masih memperlakukan mereka dengan buruk."
Nyonya Jian memandang putranya dengan tatapan kekecewaan. "Kau benar-benar akan mengabaikan keluargamu demi wanita itu? Jangan salahkan mamamu jika kelak kau menyesalinya. Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya."
Henry berbalik pergi. Nyonya Jian menujukkan kepanikan melihat keteguhan yang tak tergoyahkan dari Henry. Dia memanggil nama putranya dengan keras. "Henry! Aku akan minta maaf pada anakmu. Jika aku melakukannya, kau tidak akan pergi, kan?"
Henry menghentikan langkah kakinya. "Kau bisa menyelesaikan ini dengan minta maaf, berikutnya, masalah yang sama akan terjadi lagi. Mama tidak benar-benar menyadari kesalahanmu, bukan? Aku tidak akan mengubah keputusanku."
Henry melangkah cepat tanpa mempedulikan Nyonya Jian yang memanggilnya.
Regina berbicara dengan kepala pelayan ketika Henry datang. "Kau sudah selesai bicara dengan Nyonya Jian?" ucap Regina.
"Saya permisi." Kepala Pelayan pergi untuk memberikan ruang pada majikannya berdua.
"Ya, apa yang kau bicarakan pada Kepala Pelayan?" tanya Henry dengan curiga. "Setelah sekertarisku, kau sekarang menargetkan mengincar Kepala Pelayan?"
"Apa sih yang kau katakan? Jangan asal menuduh!" Regina melangkah pergi, tetapi Henry menahannya.
"Cepat kemasi barangmu dan Kevin, kita akan pergi dari rumah ini seka juga!" ucap Henry penuh tekad.
Regina mengerutkan keningnya. "Apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Bukankah kita akan pergi besok?"
"Tidak ada gunanya menunggu sampai besok. Jika kau semakin lama di rumah ini maka, kau hanya akan membuat keributan dengan Mama."
Regina berpikir Henry sedang menyalahkannya, "Henry, aku tidak mungkin bertengkar dengan Nyonya Jian jika tidak ada masalah. "
"Aku tahu, itulah kenapa lebih baik pergi secepatnya. Jangan banyak bicara lagi!"
"Henry, bantu aku kemasi barang Kevin dan anak itu juga masih tidur, aku tidak tega membangunkannya, jadi gendong dia pelan-pelan." Regina langsung meninggalkan Henry setelah mengatakan semua itu.
Henry menghela nafas. Dia melirik ke arah pelayan yang berdiri di balik tembok. "Apa yang kau lakukan di sana? Apa kau mata-mata?"
"Tidak , Tuan! Saya tidak seperti itu. Saya hanya--"
"Pergi! Lain kali jangan lakukan ini lagi!" perintah Henry.
Pelayan itu bukannya pergi, tetapi justru mendekat ke arah Henry. "Kau? Apa yang kau inginkan?" Henry menatap penuh curiga.
"Tuan, saya...."