Tidak Puas Denganku?

Penulis tyaprajana
30 December 2025

"Tolong bawa saya bersama dengan Anda dan Nyonya!" Pelayan itu memohon. "Saya sungguh ingin melayani Anda dan Nyonya."

Henry justru meremehkannya. "Kenapa aku harus membawa seorang mata mata dari pihak orang tuaku?"

Pelayan itu mengelak. "Tuan, saya sungguh bukan seorang mata-mata. Saya benar-benar tulus untuk--"

"Jika kau bukan mata-mata maka kau tidak akan menguping pembicaraan. Jangan menghalangi jalanku!" Henry mendorong pelayan itu menjauh.

Pelayan itu menatap Henry cukup lama. Tangannya mengepal dengan erat.


Henry masuk ke dalam kamar Kevin, dia mendekat ke arah seorang anak laki-laki yang tertidur lelap. Pandangannya tertuju pada pipi yang memerah. Nafas berat keluar dari mulutnya. "Regina tidak berbohong."

Henry mengulurkan tangan untuk membangunkannya, tetapi akhirnya menarik kembali. Dia pergi ke almari pakaian dan mulai memasukkannya ke dalam koper.

Ketika Henry sedang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper, Kevin akhirnya terbangun dari tidurnya yang lelap. Matanya terbuka perlahan, masih terlihat mengantuk. "Papa, apa yang sedang Papa lakukan di kamarku?" tanyanya dengan suara serak.

Henry menoleh ke arah Kevin. "Aku sedang membereskan pakaianmu. Kita akan pergi sekarang juga."

"Sekarang? Bukan besok?"

Henry menganggukkan kepala. "Kemari dan bantu Papamu"

Kevin turun dari tempat tidur dan mulai membantu memasukkan pakaiannya. "Papa, kenapa tiba-tiba seperti ini?" Kevin melirik Henry dengan penasaran.

"Aku tidak tahan melihatmu diperlakukan buruk saat aku tidak ada. Di rumah baru, tidak ada yang akan menyakitimu."

Kevin terdiam sejenak. "Tapi, aku akan kesepian," suara Kevin begitu pelan penuh kesedihan, Henry sulit untuk mendengar dengan jelas.

"Apa yang kau katakan tadi?"

Kevin menggelengkan kepala, "Bukan apa-apa. Papa, apa kita akan kembali ke rumah ini lagi?"

"Aku tidak yakin. Itu tergantung bagaimana orang tuaku akan menerimamu dan Regina. Apa kau menyukai tinggal di sini?" Henry melirik ke arah Kevin.

"Di sini para pelayan sangat baik dan mereka juga menemaniku bermain. Aku sangat senang." Senyum cerah terukir di bibirnya.

"Apa kau ingin membawa beberapa pelayan dari rumah ini untuk menemanimu?"

Kevin terdiam sejenak. Kepalanya menggeleng. "Tidak. Itu akan merepotkan."

"Baguslah jika kau berpikir begitu. Kevin, seberapa dekat kau dengan pelayan, mereka tidak selalu dapat dipercaya. Apa kau mengerti?"

Kevin mengangguk.


Regina keluar lebih dulu. Dia bertemu dengan Tuan Jian yang berdiri di depan tangga. "Ada apalagi kali ini?" pikir Regina. Dia merasa lelah harus berurusan dengan keluarga Jian yang penuh taktik jahat padanya.

"Tuan Jian, apa Anda ingin menemui Henry? Dia sedang di kamar Kevin." Regina bersikap setenang mungkin.

Tuan Jian mengulurkan sebuah dokumen. "Kau bisa memilikinya jika kau meninggalkan Henry sesegera mungkin."

"Apa ini?" Regina tidak berani langsung mengambilnya.

"Dokumen yang akan membantumu mendapatkan maaf dari Papamu. Ini adalah proyek yang sangat diinginkan oleh Tuan Tan, aku akan memberikan dengan syarat kau meninggalkan Henry. Bukankah itu mudah untukmu?"

Regina menghela nafas. "Tuan, saya tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan."

"Jangan munafik. Kau mendekati Henry juga untuk tujuan mendapatkan keuntungan dalam bisnis. Regina Tan, kau tidak mau terjadi perselisihan terlalu lama dengan Papamu, kan?"

Seseorang tiba-tiba mengambil dokumen itu. Regina dan Tuan Jian menoleh ke arah seorang pria berwajah merah. "Papa, aku tidak menyangka Papa akan melakukan hal rendahan seperti ini."

"Henry, kau salah paham. Papamu hanya ingin membuktikan jika Wanita ini tidak baik, sebelum kau akan menyesal--"

"Papa, apapun risiko dari hubunganku, aku akan menghadapi semuanya. Aku sudah peringatkan untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadiku. Aku pergi!" Henry mengembalikan dokumen itu pada Tuan Jian.

Dia meraih tangan Regina dan menariknya keluar. Tuan Jian menghentikannya. "Henry, apa kau ingin mempermalukan keluarga dengan memamerkan keretakan hubungan?"

Henry menghentikan langkahnya. "Tenang saja, selama Papa dan Mama tidak menyakiti anak dan istriku di depan publik, aku akan tetep berusaha tampil seolah tidak ada masalah dalam keluarga kita."

Henry melangkah meninggalkan rumah tanpa menunjukkan keraguan sedikitpun.


Selama di dalam mobil, Kevin berbaring di kursi belakang. Henry dan Regina berada dalam situasi canggung.

"Hei, apa kau tidak ingin tahu apa yang terjadi padaku setelah kau meninggalkanku begitu saja?"

"Aku sudah tahu. Kau bisa memanggil Asistenmu untuk datang. Namun, kenapa kau kembali ke rumah?" Regina masih tidak menoleh ke arah Henry sedikitpun.

"Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin karena merasa istriku sedang dalam bahaya. Sekali lagi aku berhasil untuk menyelamatkanmu. Kapan kau akan membalas utangmu?" ucap Henry dengan nada menggoda.

Regina tetap dingin, tidak memberikan tanggapan manis untuk godaan Henry. "Aku tidak berutang apapun padamu. Itu sudah tugasmu melindungiku karena menyeretku pada masalah ini," ucapnya.

"Apa kau tidak sadar bahwa kau sendirilah yang membuat masalah. Masalah yang kau sebabkan tidak ada hubungannya denganku," ucap Henry dengan acuh tak acuh.

Regina memalingkan wajahnya ke arah Henry dengan ekspresi kesal. "Kau pikir ini hanya masalahku? Semua ini terjadi karena keluargamu yang arogan itu."

Henry tersenyum sinis. "Aku sudah memberimu peringatan untuk bersikap tenang dan tidak melawan. Maka orang tuaku tidak akan sampai membuat masalah besar seperti ini."

Regina merasa hatinya semakin berat. "Jadi, kau ingin aku diam saja dan membiarkan kehormatananku diinjak? Henry, jika kau memang ingin begitu, lalu kenapa kau menentang orang tuamu? Apa ini juga salah satu bagian untuk pencitraan?"

"Tentu saja, kau pikir kenapa aku melakukannya? Mulai sekarang, sebisa mungkin hindari masalah dengan keluargaku. Aku tidak mau terseret dan melelahkan untuk berpura-pura."

"Papa, apa sulit untuk mengakui bahwa kau sebenarnya mengkhawatirkan Mama?" Kevin terbangun dari tidurnya dan langsung mengkritik sikap Henry.

"Kevin, apa kau masih belum bangun dari mimpi sampai memikirkan sesuatu yang tidak nyata itu?" cibir Henry.

Kevin tidak menyerah. "Jika Papa tidak jujur dan bersikap penuh perhatian pada Mama, kalian hanya akan terus bertengkar. Apa papa tidak bisa sedikit saja mengalah pada Mama dan bersikap manis."

"Kevin, kenapa kau terus menyalahkanku? Jika Mamamu berhenti bersikap kasar dan menjadi seperti parah wanita lain yang manja, aku pasti akan memperlakukannya dengan baik." Henry memberikan alasan sebagai pembelaan.

"Aku memang selalu seperti ini dan tidak bisa untuk bersikap manis. Jika kalian berdua tidak puas denganku, tidak masalah."

Kevin merasa bersalah. "Mama, aku tidak bermaksud begitu. Papa, kenapa Papa tidak mengatakan sesuatu yang baik. Apa Papa tidak ingin memiliki hubungan yang harmonis dengan Mama? Hanya mengalah sedikit, apa itu begitu sulit?" Kevin merasa putus asa. Saat melihat Henry tidak mengatakan apapun.

"Papa!" Kevin memanggilnya lagi untuk melakukan sesuatu.

Henry menghela nafas dan mulai membuka mulutnya.