Terlalu Kejam

Penulis tyaprajana
30 December 2025

"Kevin, berhenti mendesaknya, aku tidak ingin mendengar omong kosong apapun darinya!" Regina melirik ke arah Kevin melalui kaca.

Kevin mengerutkan bibirnya. Dia menunduk dengan sedih. "Aku hanya ingin membuat Mama dan Papa seperti pasangan pada umumnya. Jika kalian saling bicara manis, bukankah pernikahan kalian akan bertahan lama?"

Regina yang melihat anak yang tertunduk dengan aura abu-abu yang dipenuhi dengan kekecewaan membuatnya tidak tahu harus berbuat apa.

"Kevin, kau tidak bisa berharap lebih dari ini dan pasangan yang terlihat manis belum tentu mereka akan bersama dalam waktu yang lama. Kau tidak mengerti ini, kan?" Henry menanggapinya, "Kehidupan pasangan nyata tidak seperti dalam dongeng."

Kevin justru tersenyum yang membuat Henry merasa heran. "Kenapa kau tersenyum seperti itu?"

"Aku hanya merasa senang karena Papa berpihak pada Mama. Ini kata untuk penghiburan pada Mama bukan. Meski kasar tapi aku paham sebenarnya Papa ingin mengatakan bahwa meskipun kalian tidak bersikap manis satu sama lain, kalian adalah pasangan yang sempurna dan akan bertahan lama dan walau Papa tadi bersikap kasar sebenarnya meski Mama tidak bersikap manis seperti gadis lainnya, tapi Papa akan tetap setia padanya." Kevin menjelaskan pemikirannya.

Henry justru menertawakannya. "Dari mana kau belajar mengartikan perkataan orang lain dengan memaksakan seperti itu. Aku tidak--"

Kevin dengan cepat memotong ucapannya, "Tidak perlu malu. Aku tahu Papa tidak bisa mengungkapkan sesuatu dengan benar saat di depan Mama. Mama, jangan salah paham lagi pada Papa."

Regina menoleh ke arah Henry. Mendapatkan tatapan yang begitu intens membuat Henry berteriak dengan canggung, "Hei, Regina. Kau tidak benar-benar berpikir begitu kan?"

Regina mengalihkan pandangan ke arah lain. "Tentu saja tidak. Apa yang akan terjadi pada dunia jika orang sepertimu memikirkan hal seperti itu tentangku."

Kevin menghela nafas pasrah. Dia bergumam dengan suara pelan, "Kenapa begitu sulit untuk membuat orang tuaku rukun."

Kevin tidak tahan dengan kesunyian dan ketegangan di dalam mobil. Dia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.


Mereka akhirnya sampai ke apartemen. Kevin hanya menunjukkan reaksi sedih saat mereka masuk ke dalam. "Ada apa? Kau tidak menyukai Apartemen ini?" tanya Henry. "Walau begitu kau harus menahannya.

"Ya, Papa. Aku akan ke kamar." Kevin menarik kopernya seorang diri.

Regina mendekat. "Apa kau bisa membawanya sendiri?"

"Tentu saja. Aku anak laki-laki. Ini hanya masalah kecil." Kevin berbicara dengan arogan.

Regina melirik ke arah Henry yang tidak membawa apapun. "Apa kau hanya akan diam saja?" tegur Regina.

"Dia sendiri yang ingin membawanya. Biarkan dia melakukannya. Kita tidak memiliki pembantu, anak itu harus mandiri." Henry menggunakan nada acuh tak acuh yang membuat Regina kesal.

"Henry, kau bersikap kejam pada anakmu sendiri?"

"Dia anak laki-laki, apa dia harus bergantung hanya untuk hal kecil. Jika aku memperlakukannya seperti itu maka dia akan tumbuh sepertimu yang hanya bisa bergantung pada Papamu lalu mengalami kegagalan karena tidak bisa melakukan sesuatu sama sepertimu!" cibir Henry dengan kejam.

Tidak peduli seberapa sering Regina mendengarnya, tetapi penghinaan Henry selalu menyakiti perasaannya. Tangannya mengepal dengan erat, dia ingin membantah. Jari-jari mungil menyentuh kulitnya memberikan kehangatan saat tangan mungil itu mengenggamnya.

Regina menoleh ke arah anak laki-laki yang berdiri di sampingnya. "Papa, kenapa Papa berbicara begitu pada Mama? Apa Papa sudah merasa hebat dengan keadaan sekarang? Papa bahkan membawa kami pergi karena sebenarnya takut untuk berhadapan dengan keluarga Papakan? Jangan merasa begitu kuat!"

"Kau! Apa kau ingin melawanku?" Henry menatapnya kesal.

"Henry cukup! Apa kau akan melawan anak kecil?" Regina berdiri di depan Kevin.

Henry berdecak kesal dan masuk ke dalam kamar begitu saja.

"Mama, jangan pedulikan perkataan Papa tadi. Aku tidak ingin Mama terluka," ucap Kevin dengan lembut.

Regina tersenyum tulus. "Kau memiliki wajah yang mirip dengan Henry, tapi baguslah kau tidak memiliki karakter buruk sama sepertinya."

Suara aneh terdengar ditengah-tengah suasana yang mengharukan antara ibu dan anak, Kevin memerah. Regina cukup peka, "Apa kau lapar?"

Kevin mengangguk.

"Aku akan memesankan makanan-" Regina baru mengingat dia tidak memiliki ponsel sekarang. "Aku akan menemui Henry untuk mengambil ponselku."

"Tidak. Jangan menemui Papa sekarang. Saat ini Papa sedang marah kan? Bisa saja sesuatu yang buruk terjadi."

"Kalau begitu, aku akan memasakkan sesuatu. "

"Apa Mama bisa memasak?" tanya Kevin dengan ragu.

"Meskipun bukan menu yang rumit, tapi aku bisa melakukannya. Tunggu di sini sambil menonton TV."

"Mama, aku akan membantumu." Kevin meraih ujung pakaian Regina.

Regina menolak tawarannya. "Kau masih kecil, terlalu berbahaya berada di dapur. Tunggu di sini dengan tenang."

Regina menghela nafas lega ketika Kevin akhirnya setuju untuk menunggu di ruang tamu. Dia masuk ke dapur dengan langkah ragu. Dia memandangi sekeliling. Regina tidak pernah memasak sebelumnya..

Setelah beberapa saat berpikir, Regina memutuskan apa yang akan dia buat. Dia melihat isi di kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan lalu mulai mengolah sesuai dengan apa yang dia tahu.

Regina menyiapkan piring dan meninggalkan daging itu di teflon. Dia tidak menyadari bahwa menyalakan api menyala besar dan daging steak yang sedang dia panggang hangus. Asap hitam mulai menyelimuti ruangan, menyebabkan Regina panik dan terbatuk. Matanya perih dan sulit melihat.

"Mama, ada apa?" Kevin datang dengan ekspresi khawatir.

Henry masuk ke dalam dapur dan segera memadamkan api itu. "Regina, apa kau mencoba membakar apartemen ini?" ucap pria itu meninggikan suaranya. "Jika kau tidak tahu cara memasak jangan melakukannya. Kau hanya bisa merusak dapur."

"Kau hanya membuang-buang bahan makanan." Henry melihat sesuatu yang sudah hangus di atas teflon.

"Ini semua tidak akan terjadi jika bukan salahmu," ucap Regina tidak kalah marah.

"Kenapa kau menyalahkanku? Kau sendiri yang membakar dapur."

"Tentu saja kau salah. Jika saja kau tidak menyita ponselku, aku bisa memesan makanan melalui aplikasi pengiriman makanan," Regina merasa semakin kesal.

"Kau bisa meminta langsung padaku."

"Kau sedang marah. Apa kau akan membuka pintu? Pastinya kau hanya akan marah tidak jelas."

"Jika kau memberikan alasannya, aku akan membuka pintu dan memesankannya."

"Pembohong! Kau adalah orang yang egois. Tidak mungkin kau peduli bahwa anak dan istrimu sedang kelaparan. Bagimu hanya dirimu sendiri yang kau pikirkan." Regina meluapkan segala keluhannya. "Bahkan, kau lebih peduli pada dapur daripada keselamatanku."

"Regina, apa kau ingin aku bertindak seperti pasangan? Apa kau membayangkan itu dan dengan sengaja melakukan tindakan bodoh ini untuk menarik perhatianku?"

"Apa? Henry, apa kau pikir aku akan melakukan itu demi suami tidak berguna sepertimu."

"Kau!"

Kevin tidak tahan dan segera menengahi pertengkaran orang tuanya ini. "Cukup! Papa, daripada memarahi mama, kenapa kau tidak melakukan sesuatu seperti memasak untuk kami."

"Kevin, pria ini tidak mungkin bisa memasak!" Regina meremehkanku.

"Jangan meremehkanku. Kau lihat saja, siapa yang kau bilang tidak bisa memasak!" Henry merasa tertantang.