"Ini yang kau maksud lebih baik?" Regina berbicara disela-sela batuknya. Dia dengan cepat mengambil minuman.
"Kau bisa melihatnya sendiri, ini tidak hangus, kan?" Henry bertindak biasa saja dan masih menikmati makanannya tanpa menunjukkan ekspresi.
"Memang tidak hangus, tapi tidak enaknya sama sekali. Aku tidak sanggup memakannya," ucap Regina dengan sarkas.
Henry membalas, "Apa kau pikir makananmu yang hangus itu berasa enak? Kau sendiri tidak bisa memasak, jadi tidak punya hak mengkritik."
Henry dan Regina mulai saling berdebat. Kevin memperhatikan kedua orang tuanya. Dia bergumah dengan suara pelan, "Pantas saja tidak ada satupun diantara Mama dan Papa memasakanku makanan sebelumnya. Aku harus ingat ini!"
Kevin menghentikan perdebatan itu. "Mama dan Papa, daripada bertengkar, kenapa tidak memesan makanan saja? Papa, kau juga tidak perlu memaksakan diri memakannya. Walau kau tidak menunjukkannya, tapi aku tahu kau juga merasakan rasa yang buruk, kan?"
"Baiklah, aku akan memesankan makan dari restoran milikku."
"Tunggu, bukankah restoran yang kau maksud itu milik keluarga Jian? Apa mereka tidak akan mengadu pada orang tuamu dan siapa tahu mereka mengirim makanan beracun."
Henry tertawa mengejek. "Regina, apa kau kebanyakan nonton drama? Tenang saja, orang-orang di sana adalah milikku. Tidak ada hubungannya dengan orang tuaku. Aku tidak sepertimu yang tidak memiliki apapun."
Henry mengambil ponsel dari sakunya, dia menyebutkan beberapa makanan tanpa memberikan penawaran. Regina menyelanya, "Hei, apa kau tidak meminta pendapatku dan Kevin?"
Henry pura-pura tidak mendengarkan. Dia fokus berbicara. Lalu mengakhiri panggilan. "Kita hanya perlu menunggu makannya tiba dengan pengiriman ekspress."
Regina menatapnya dengan kesal. "Dasar egois!"
"Regina, kau ingin ponselmu, kan? Ambil saja di kamar." Henry mengalihkan pembicaraan secara tiba-tiba.
"Kenapa kau tidak mengambilnya dan bawa padaku?" Kekesalan Regina semakin bertambah.
"Kau yang membutuhkannya, tentu kau yang harus mengambilnya. Jika kau tidak mau melakukannya sekarang, aku tidak akan pernah mengembalikannya."
Regina menggebrak meja dengan kesal. Dia berdiri dari kursi. Kakinya melangkah meninggalkan ruang makan. Henry diam-diam tersenyum licik.
"Aku harus pergi ke toilet." Henry mencari alasan untuk meninggalkan ruangan.
Kevin mengikuti langkahnya. Henry berbalik. " Kenapa kau mengikutiku? Apa kau ingin ke toilet juga?"
"Papa, aku tahu kau berbohong. Saat ini, kau sedang merencanakan sesuatu untuk menganggu Mama, kan?" Kevin menatapnya tajam.
Henry tersenyum sama, seolah sedang menutupi sesuatu . "Kamu terlalu curiga, Kevin. Kenapa aku perlu menganggunya? Aku benar-benar akan pergi ke toilet."
Kevin tetap waspada, "Aku tidak dapat percaya padamu. Aku akan tetap mengikutimu."
"Terserah kau saja," ucap Henry pasrah.
Henry melanjutkan langkah kakinya. Dia masuk ke dalam toilet. "Kau tidak akan ikut masuk ke dalam, kan?"
"Tidak. Aku akan tetep berjaga di depan pintu."
Ketika Henry memasuki toilet, Kevin tetap berdiri di luar pintu dengan sikap waspada. Henry merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Kevin yang terus memperhatikannya.
Sementara itu, di luar toilet, Kevin tetap berdiri dengan mata tajam yang mengawasi setiap gerakan pintu. "Aku yakin tidak ada jalan keluar di toilet selain pintu."
Beberapa saat kemudian, pintu toilet terbuka lagi. Henry keluar. "Ayo, kembali ke ruangan makan," ucap Henry dengan santai.
Kevin masih mengawasi Papanya, tanpa berkedip. Dia menyadari ekspresi samar di wajah Henry. Senyum diam-diam terukir di bibir muginya. Sepertinya, dia susah benar-benar menghancurkan rencana Henry.
"Papa, kenapa kau selalu menunjukkan cinta dengan cara yang salah?" ucap Kevin tiba-tiba.
"Apa yang kau katakan tiba-tiba?" Henry menanggapi dengan wajah datar.
"Papa, jika kau terus seperti ini pada akhirnya Mama akan menjauh darimu dan keluarga kita akan berantakan lagi. Kenapa begitu sulit untuk jujur."
Henry menoleh ke arah Kevin. "Hanya karena aku menikahi Regina, kau berpikir bahwa aku mencintainya? Jika bukan karena keberadaanmu yang mengacaukan kehidupanku, apa kau pikir aku mau bersama dengan wanita itu. Bahkan jika ibumu adalah wanita lain, aku akan memilih wanita lain itu. Jadi, hentikan omong kosongmu itu!" Henry menggunakan nada tinggi yang membuat Kevin tidak bisa mengatakan apapun.
Tidak jauh dari mereka Regina mendengar apa yang di katakan Henry. Jari-jarinya yang panjang saling bertautan membentuk kepalan. Dia susah tahu semua itu, tapi kenapa hatinya terasa menyakitkan. "Mulai sekarang, aku tidak boleh terlarut dengan sikap baik pria itu. Bagaimanapun ini hanyalah kontrak." Regina menanamkan ini dalam pikiran dan hatinya.
Regina berjalan mendekati mereka. "Kalian darimana?"
Mata Henry melebar saat menatap Regina, tetapi itu hanya terjadi selama beberapa detik sebelum pria itu bisa mengembalikan ekspresi datarnya. "Kau sudah selesai mengambil ponselmu?"
"Ya." Regina hanya membalas dengan singkat. Dia beralih ke arah Kevin. "Ayo, kita ke ruang tenang menonton TV selagi menunggu makanan."
Kevin beralih ke sisi Regina. Dia sempat menoleh ke arah Henry yang berada di belakang mereka. " Papa, apa kau mau ikut?"
"Aku harus mengerjakan sesuatu. Panggil aku ketika pesanan datang." Henry melangkah menuju ke lantai atas.
Kevin menghela nafas, dia merasa ada sesuatu yang aneh antara Papa dan Makanya. Jika terus seperti ini, bagaimana cara menyatukan mereka berdua?
Makanan yang dipesan akhirnya datang. Kevin menawarkan diri untuk memanggil Henry, tapi Regina menahannya. "Tidak perlu. Kita akan menghabiskan makanan ini berdua saja."
Kevin terkejut. "Apa Mama yakin? Bukankah Papa yang memesannya?"
Regina menjawab dengan ketus, "Dia memesan untuk kita, kan? Tidak perlu memikirkan orang itu. Jika dia lapar, dia akan memesan lagi. Pria itu tidak akan kehabisan uang."
Kevin mengerutkan keningnya. "Ini tidak seperti Mama yang biasanya." Kevin mengucap dengan pelan.
"Apa yang baru saja kau katakan? Seperti apa aku yang biasanya? Sejak lama, aku tidak pernah memikirkan tentang orang itu." Regina menanggapi dengan dingin.
Kevin menyantap makanannya dengan ragu-ragu. "Mama, bagaimana jika Papa marah karena ini? Lalu kita diusir dari rumah ini?"
"Apa Henry orang yang berpikiran sesempit itu? Hanya karena makanan yang tidak seberapa? Jangan pikirkan atau kau akan kelaparan. Jika dia marah biarkan saja dia marah, orang itu selalu mudah marah." Regina menikmati makanannya dengan santai.
Kevin mencoba untuk tidak memikirkannya, tetapi begitu sulit. Dia tahu bagaimana Papanya jika sedang marah besar.
Beberapa menit kemudian, Regina dan Kevin sudah hampir menghabiskan makanan yang di pesan. seorang pria bertubuh tinggi datang mendekati mereka.
"Apa-apaan ini? Aku yang memesan makanan, tapi kalian menghabiskannya?!"
Tubuh Kevin bergetar mendengar suara melengking dan tajam itu. Regina justru masih tetap santai, dia berdiri berhadapan langsung dengan Henry yang memiliki ekspresi wajah menakutkan. "Ini hanya masalah, sepele tapi kau begitu marah?" Regina menatapnya dengan mengejek.