Henry menahan diri. "Masalah sepele tetaplah masalah! Siapa yang tidak akan marah jika makanan miliknya diambil seseorang tanpa sisa?"
Regina tersenyum sinis. "Oh, Bagaimana jika aku membayarnya. Aku akan mentransfernya segera."
Henry tersenyum meremehkan, "Kau ingin membayar dari uang di kartu yang aku berikan? Bukankah itu sama saja?"
Regina melangkah mengambil kopernya yang masih berada di ruang tengah. Dia mengambil dompet, dan melemparkan kartu yang diberikan Henry padanya. "Ambil! Aku tidak butuh itu."
Regina membuka aplikasi di ponselnya dan mentransfer sejumlah uang. "Aku juga sudah mentransfernya. Kita tidak punya utang apapun."
Regina langsung pergi begitu saja. Henry meraih tangannya sebelum istrinya sempat melarikan diri.
"Regina, ada apa denganmu? Kenapa kau lebih marah daripada aku? Hei, jangan bertindak seperti gadis remaja yang sedang merajuk, umurmu terlalu tua untuk itu."
Regina menginjak kaki Henry yang membuatnya lengah. Gadis bertubuh ramping ini menggunakan kesempatan untuk melepaskan diri. "Jangan pernah menghina wanita dengan kata 'tua'. Kau berpengalaman pada banyak wanita, tapi tidak mengerti hati wanita."
Regina meninggalkan Henry yang kesakitan, tidak lupa untuk membawa kopernya. Henry tidak dapat mengerjarnya dengan cepat. Dia menoleh ke arah Kevin. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Mamamu?"
Kevin mengangkat bahunya. "Papa coba pikirkan saja, apa yang Papa lakukan untuk membuat Mama tersinggung?"
"Terlalu banyak, wanita itu selalu tersinggung dengan hal-hal kecil."
Kevin menghela nafas, dia mulai membereskan tempat makanan yang sudah habis itu. Ini lebih mudah daripada menjadi penasihat untuk masalah rumit orang tuanya.
"Tinggalkan saja di sana, aku akan menghubungi pekerja paruh waktu."
"Ini tidak berat, aku terbiasa melakukannya sendiri."
"Apa? Apa keluarga yang merawatmu Sebelumnya memperlakukanmu sebagai pelayan?" Henry terlihat kesal.
"Papa, lebih baik Papa menyusul Mama sekarang sebelum kemarahan Mama semakin dalam. " Kevin mengalihkan pembicaraan.
"Kamu benar." Henry bergerak menuju ke lantai atas.
Kevin menatap ayahnya pergi dengan ekspresi rumit. "Aku harap masalah cepat selesai. Aku tidak menyangka Mama dan Papa yang sekarang lebih rumit."
"Apa yang terjadi denganku. Kenapa aku menjadi kekanakan seperti ini. Marah pada sesuatu yang bahkan sesuatu yang penting." Regina merenungkan apa yang terjadi. Tangannya masih bergerak dengan cekatan mengeluarkan dan menata pakaiannya di almari.
"Tidak! Apa aku menyesali karena telah bersikap buruk pada Henry! Kenapa aku perlu memikirkan itu?" Regina dan Henry sudah seperti biasa bertengkar. Henry tidak perna merasa bersalah, jadi tidak ada alasan bagi Regina untuk menyesal. Seperti ini hubungan mereka.
Pintu terbuka lebar, Regina hanya melirik sekilas ke arah pria tampan bertubuh proporsional bagaikan seorang model ternama. "Aku kira kau akan tersesat di ruangan lain."
"Aku tidak sebodoh itu. Kamar utama terlalu menonjol, bagaimana aku tidak tahu." Regina menjawab tanpa menoleh ke arah Henry.
Henry mendekat ke arah Regina. Dia berdiri di belakang dan langsung melingkarkan tangannya ke pinggang yang ramping. Tubuh Regina membeku menghadapi pelukan dari belakang yang tiba-tiba ini. "CEO Jian, apa yang kau lakukan?"
"Kau begitu marah sampai memanggilku begitu? Hei, kau bilang aku berpengalaman pada wanita, tapi tidak mengerti wanita. Aku sangat paham, cara ini dapat menenangkan hati para wanita. Mereka yang bersamaku selalu--"
Regina melepaskan tangan Henry. "Kau menganggu! Tidak semua suka seperti ini. Minggir, aku harus menyelesaikan merapikan pakaianku."
Henry menarik diri sedikit menjauh. "Kenapa kau bersikap rumit begini."
Regina masih mengabaikan Henry. Pria kaya yang arogan tidak bisa menahan diri. Dia menutup ruang pakaian dan membalikkan tubuh Regina hingga membentur pintu. "Regina, ada apa denganmu sebenarnya? Kau bertindak terlalu menyebalkan."
Regina menatap Henry dengan tajam, "Aku memang selalu seperti ini. Lepaskan aku! Aku ingin menyelesaikan lalu beristirahat. Apa kau tidak memiliki hal penting lain untuk dikerjakan?"
Henry tersenyum sinis, "Regina, kenapa kau tidak jujur. Katakan, apa kau marah padaku karena kau mendengar apa yang aku katakan pada Kevin? Jangan katakan padaku kau sebenarnya telah jatuh cinta padaku dan merasa terluka dengan kebenaran?"
Regina mendorong Henry dengan sekuat tenaga. "Kau terlalu narsis. Siapa yang jatuh cinta padamu? Kecuali aku kehilangan pikiranku. Aku juga menganggap bahwa hubungan ini hanya sekedar kontrak."
Henry menunjukkan ekspresi yang Regina baru pertama melihatnya. "Henry,kau...." Ekspresi Henry berubah dengan cepat membuat Regina berpikir itu hanya ilusinya.
"Bisakah kita akhiri masalah ini sekarang juga? Kau bisa pergi sekarang. Tenang saja, aku tidak marah padamu atau apapun."
Henry menatap Regina dengan tatapan yang begitu dalam. Regina memutar bola mata ke arah lain untuk memutus tatapan mereka. Perlahan suaminya itu menjauh.
Henry meninggalkan Regina tanpa sepatah katapun. Regina menghela nafas lega. Dia lebih suka Henry bertengkar dengannya daripada serangan fisik yang terlalu intim. Bagi wanita yang tidak memiliki pengalaman, itu benar-benar sulit bagi Regina untuk memberikan perlawanan.
Regina dengan cepat memasukkan pakaian ke dalam almari. Dia harus tidur sebelum Henry datang. Sebuah pemikiran tiba-tiba saja menganggunya. "Tidak, kami akan tidur bersama juga kali ini, Henry tidak akan melakukan sesuatu, kan?"
Regina mengingat kembali, Henry pasti akan memberikan balasan pada apa yang telah dia lakukan pada pria itu tadi siang. Regina mengambil piyamanya, dia bahkan tidak berani menggunakan kamar mandi di kamar ini.
Regina melangkah menuju pintu, lebih baik dia tidur di kamar Kevin malam ini. Baru beberapa langkah keluar dari pintu, suara Henry terdengar. Regina pura-pura tidak mendengar suara Henry.
Henry menghalangi jalannya, berdiri tepat di depannya tanpa Regina menyadarinya. "Kau mau ke mana?"
"Aku akan tidur di kamar Kevin malam ini." Regina menunjukkan sikap tenang.
"Kenapa? Kita sudah sering tidur bersama, kan? Kenapa kau memilih ingin kabur malam ini?" Henry menatapnya tajam.
"Henry, kau salah memilih kata yang membuat orang salah paham." Regina justru memberikan komentar daripada menjawab. "Kita hanya berbagi tempat tidur bukan tidur bersama."
"Itu sama saja. Kembali ke kamar 'kita' jika kau masih menginginkan ini." Henry mengangkat sebuah dokumen.
"Apa itu?"
"Kau lupa apa yang kau minta padaku tadi siang?"
Regina mengingatnya, " Bukankah kau bilang akan mengirimkannya?"
"Aku pikir akun emailmu bisa saja dilihat oleh Tuan Tan. Bukankah kau tidak ingin orang tahu jika aku memberikannya? Buat pilihan, kau ingin memiliki ini atau kau akan tetap pergi dan aku akan membakar dokumen ini." Henry memberikan penawaran.
Regina dibuat bimbang menghadapi dua pilihan ini. Kenapa Henry selalu saja membuatnya terjebak dalam pilihan yang selalu ada hal tidak menguntungkan. Kaki Regina bergerak melangkah berbalik ke kamar utama.
Henry mengikutinya. Saat tangan Regina mencengkeram gagang pintu, Henry yang berada di belakang Regina melakukannya. CEO tampan Jian berdiri begitu dekat di belakang Regina. "Aku memiliki syarat lainnya juga, pergilah denganku besok!"