Telepon dari Seorang Wanita

Penulis tyaprajana
30 December 2025

"Kenapa kau menambahkan syarat seenaknya? Keu tidak mengatakannya sebelumnya." Regina menoleh ke arah Henry, tetapi jarak mereka yang begitu dekat membuat Regina kembali memandang ke depan, tangannya terlepas dari genggaman pintu dan menerobos melalui tangan Henry, menjauhkan diri dengan jarak aman.

"Jika kau tidak mau tidak masalah. Maka, aku tidak akan memberikannya!" Henry mengibaskan filenya.

Regina memandang file itu. Tangannya mengepal. Dia harus menahan diri dan ikut bermain dalam permainan Henry.

"Berikan padaku sekarang juga," ucap Regina.

Henry tersenyum penuh kesombongan. "Aku akan menganggap menerima syarat dariku. "

"Ayo, masuk, istriku!" Henry membukakan pintu kamar.

Regina memasuki kamar dengan hati-hati, tatapannya terarah pada Henry dengan penuh kecurigaan. Henry menatapnya dengan senyum diwajahnya. "Kenapa kau menatapku begitu? Aku sungguh tidak akan melakukan sesuatu. Ambil dokumen ini!"

Regina mengulurkan tangannya, mengambil dengan cepat. Dia memeriksa isinya yang cukup lengkap.

"Aku sudah memberikan tanda untuk perusahaan yang aku rekomendasikan."

Regina hanya membalas dengan anggukan. Dia membaca dokumen itu dengan serius.

"Hei, kenapa kau sedaritadi membawa piyama ke luar? Apa kamar mandi di ruangan ini bermasalah sehingga kau pergi ke kamar Kevin?" tanya Henry menatap piyama yang sedari tadi berada di pelukan Regina.

Regina menutup dokumen ini. "Aku akan pergi mandi. Jangan mencoba untuk menerobos masuk."

"Huh? Jadi kau pergi ke kamar Kevin karena takut aku akan--" Regina sudah masuk ke kamar mandi sebelum Henry menyelesaikan perkataannya. Pintu ditutup dengan keras. .

Regina menyalakan air yang mulai membasahi tubuhnya. Matanya terpejam, suara ketukan membuat Regina panik. Matanya terbelalak dan dengan segera mematikan air. Dia mengulurkan tangan mencari handuk, tetap tidak menemukannya. "Kau? Kau mau apa? Jangan masuk!"

"Kau lupa membawa handuk, kan? Aku meletakkan handuk baru. Kau bisa menggunakannya."

"Aku tahu, cepat pergi!" Regina berteriak dengan keras. Untung saja kamar mandi ini memiliki ruangan lain sebelum menuju ke ruangan untuk bak mandi.

Regina memberikan jeda, dia membuka sedikit pintu untuk mengintip. Perasaannya sedikit lega. Dia menyelesaikan mandi dengan cepat.


Ketika Regina selesai, Henry sedang mengetik sesuatu di ponselnya. "Kau sudah selesai?" Henry tidak sedikitpun menoleh ke arah Regina.

"Ya."

"Aku akan menggunakannya." Henry meletakan ponselnya di atas meja. "Jangan lupa keringkan rambutmu, aku tidak mau tempat tidurku basah dan kau bisa gunakan pengering rambut di atas meja."

Henry melewati Regina begitu saja. Regina mengambil pengering rambut itu, saat itu ponsel Henry berdering. Regina secara refleks melihatnya. Nama yang tertera di layar, nama seorang wanita.

Regina hendak mengangkatnya, tapi dia menarik kembali tangannya. "Tidak . Aku tidak ingin ikut campur."

Regina mengingat isi perjanjian antara dia dan Henry. Mereka tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing. Dia hanya bisa mengabaikan dan fokus untuk mengeringkan rambut.

Pintu kamar mandi terbuka, Regina hanya meliriknya sekilas, pria itu menggunakan jubah, berjalan mendekat ke arahnya. "Ponselmu sedari tadi berbunyi. "

"Oh," Henry hanya menanggapi dengan dingin.

Pria itu justru meraih tangan Regina dan merebut pengering rambut. "Biar aku yang melakukannya, sedari tadi kau belum selesai juga."

"Tidak perlu. Aku tidak butuh bantuanmu, siapa yang tahu apa yang kau mungkin akan lakukan pada rambutku." Regina merebutnya kembali, tapi Henry menjauhkannya.

"Tenang saja, jika terjadi sesuatu pada rambutmu, aku juga akan berada dalam masalah. Orang akan berpikir aku tidak bisa merawat istriku. Tetap tenang, biarkan aku melakukannya untukmu."

Regina akhirnya pasrah. Dia duduk diam, membiarkan Henry mengeringkan rambutnya. Henry melakukannya dengan hati-hati mengeringkan helai rambut panjang. Ponsel Henry kembali berdering. "Biar aku lakukan sendiri , kau jawab saja teleponnya. Seperti itu cukup penting."

"Biarkan saja."

Regina mengerutkan keningnya. "Apa kau sungguh tidak menyesal mengabaikan telepon itu? Bagaimana jika orang itu marah?"

"Kenapa kau begitu peduli tentang itu?" Henry bertanya dengan ketus.

Regina mencoba memahami tindakan Henry. "Apa dia sedang bertengkar dengan kekasihnya?" Itulah kesimpulan yang dapat Regina tarik. "Mungkin dia ingin berpisah dengan wanita itu makanya mengabaikannya."

Regina mengingat percakapannya dengan para gadis di pesta. Banyak gadis yang menjadi korban Henry saling mengeluh tentang bagaimana Henry memperlakukan mereka setelah pria itu merasa bosan.

"Rambutmu sangat harum dan lembut, tapi aromanya sama seperti milikku." Regina tersadar dari lamunannya saat melihat dari cermin bahwa Henry mencium rambutnya.

Regina refleks ingin memukul Henry. "Jangan lakukan hal aneh."

Tangannya di tahan oleh tangan yang sebelumnya memegang helai rambutnya. "Jangan banyak bergerak, kau bisa terluka jika kena pengering rambut."

"Matikan saja, rambutku sudah kering! Jika tidak, aku akan merebut langsung."

Henry mematikan pengering rambut dan menyingkirkannya. Regina bangkit dari kursinya. "Sudah cukup. Aku ingin tidur sekarang." Dia berjalan menuju tempat tidur.

Henry merapikan peralatan yang dia gunakan tadi, lalu menyusul Regina ke tempat tidur. "Hei, apa kau akan langsung tidur begitu saja? Kau tidak ingin berdiskusi denganku tentang dokumen yang aku berikan tadi?"

"Tidak. Aku tidak ingin membocorkan pemikiranku tentang itu padamu. Siapa yang tahu apa yang akan kau lakukan." Regina menjawab dengan ketus.

"Aku sudah membantumu, tapi kau Masih bersikap dingin padaku. Apa aku tidak cukup di percaya?"

"Tentu saja. Selain itu kau membantuku hanya untuk menggunakannya sebagai jebakan. Ngomong-ngomong, kemana kita akan pergi besok?"

"Kau akan tahu besok." Henry memberikan jawaban samar.

Regina tidak bisa mengendalikan kecurigaannya, "Kau tidak akan meninggalkanku di suatu tempat sebagai pembalasan dengan apa yang telah aku lakukan padamu, kan?"

"Lihat saja besok."

Regina membalikkan tubuhnya ke arah Henry. "Hei, Henry, apa maksudmu dengan itu?"

"Ssst, tidur saja. Jika kau berisik, aku akan melakukannya sesuatu padamu."

"Dasar tukang ancam!" Regina kembali berbalik dan mulai memejamkan matanya dan kembali memunggungi Henry. Lampu dimatikan dan kegelapan dengan cahaya samar menyelimuti kamar besar dengan dua orang yang saling memunggungi.

Beberapa menit kemudian, saat dia hampir terlelap tidur, dia merasakan Henry terbangun. Regina membalikkan tubuhnya kembali. "Hei, apa kau sudah tidur?" Regina mendengar suara Henry yang bertanya padanya.

Regina tidak menjawab, tetapi matanya terbuka sedikit untuk melihat apa yang akan dilakukan Henry. Pria itu mengambil ponselnya dan diam-diam keluar meninggalkan kamar.

"Ternyata dia ingin menghubungi wanita itu secara diam-diam." Regina mencibirnya dalam hati. "Tidak, kenapa aku Harus memikirkan apa yang bukan urusanku? Aku membenci Henry, dan pria itu memiliki kehidupan yang berantakan, tidak perlu dipikirkan."

Regina kembali memejamkan matanya. Namun, dia tidak bisa benar-benar tidur. Henry bahkan belum kembali ke kamar dalam waktu yang lama. Regina tidak bisa menahan penasarannya, apa yang dibicarakan Henry dengan wanita itu? Ataukan Henry saat ini pergi menemuin wanita itu, dengan menggunakan jubah tidur?