"Kenapa?" Henry bertanya pada Regina melirik tanpa mengatakan apapun.
Regina menggeleng. Dia tidak mungkin menanyakan darimana Henry yang tidak kembali ke kamar sampai larut malam. Regina menunduk wajahnya dan mulai mengigit roti putih yang telah di panggang.
"Mama, apa mana tidak tidur dengan baik? Ada kelompok mata gelap di mata." Regina terkejut dengan Kevin yang menyadarinya walau sudah ditutupi dengan make up.
"Bukankah kau tidur nyenyak semalam?" Henry menatapnya penuh keheranan. "Atau kau tidak bisa tidur karena aku meninggalkanmu? Oh, apa istriku tidak bisa tidur tanpaku?"
"Tidak. Justru aku tidur nyenyak semalam. Ini bukan kelopak mata gelap tapi bagian dari make up." Regina memberi alasan yang masuk akan. "Aku tidak tahu jika kau pergi semalam."
"Papa, apa papa keluar saat malam hari? Apa yang Papa lakukan?" Kevin bertanya. Regina tidak menyangka Kevin akan menanyakan pertanyaan yang ingin Regina ketahui.
Mata yang terlihat lelah, terarah pada Henry tanpa berkedip. Dia menunggu setiap gerakan bibir Henry sampai memberikan jawaban, "Apa lagi yang aku lakukan selain menyelesaikan pekerjaanku."
"Pembohong!" Regina bergumam dalam hati.
"Dan ada hal lain yang harus aku urus." Henry melanjutkan jawabannya.
Henry menatap ke arah Regina. "Kenapa istriku menatap dengan tatapan tanpa kedip begitu? Apa kau ingin tahu apa yang aku lakukan?" Henry menujukkan seringai.
"Tidak. Itu bukan urusanku."
"Papa, jangan melakukan hal buruk di belakang Mama dan aku." Kevin memberikan teguran.
"Aku tidak melakukannya. Cepat selesaikan makannya, kita harus pergi sebelum terlambat. Aku sudah mengatur pertemuan dengan seseorang."
"Bisakah aku tidak pegi ke tempat yang Papa pilih?" ucap Kevin dengan tatapan memohon.
"Kevin, aku tidak bisa membatalkannya!"
"Apa yang kalian bicarakan?" Regina tidak mengerti arah pembicaraan ini.
"Kau akan tahu nanti." Regina mendengus dengan kesal mendengar jawaban Henry. Selalu saja dia menjawab dengan jawaban yang tidak berguna sama sekali.
Ketika mereka berdua sedang sarapan, Regina mencoba memperbaiki suasana dengan menanyakan rencana hari itu. "Kemana kita akan pergi, Henry?"
Henry menoleh ke arahnya dengan senyum tipis. "Kau akan tahu nanti."
Regina mendesah dalam hati. Jawaban Henry yang selalu menggantung membuatnya semakin tidak sabar. Dia merasa seperti terjebak dalam labirin rahasia yang tidak pernah terungkap.
Saat mereka selesai sarapan. Mereka berjalan keluar apartemen. Kevin melihat Regina membawa tas berat. "Mama, aku akan membantumu membawa tas."
"Tidak perlu, aku tidak bisa membiarkan seorang anak membawa tas berat."
Henry langsung merebut tas milik Regina. "Henry, apa yang kau lakukan? Kau ingin mencuri dokumenku lagi ya?"
"Kau bisa mengawasiku."
"Henry biarkan aku membawanya sendiri. Aku tidak selemah itu. Kau jangan bandingkan aku dengan para wanitamu yang suka di manja." ucap Regina merebut kembali tasnya.
"Yasudah." Henry melepaskannya begitu saja membuat Regina hampir kehilangan keseimbangan.
"Papa!" Kevin memprotes.
Henry masih melanjutkan langkah tanpa peduli dengan apapun. "Kalian berdua, cepatlah!"
"Mama, apa kau terluka?" Kevin menatap dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja."
Henry berasa di samping mobil. "Kalian berdua, sampai kapan kalian akan mengobrol? Regina, kau tidak mau terlambat ke tempat kerja, kan? Kalian berdua begitu lambat, " cibir Henry.
"Kau yang berjalan terlalu cepat. Kakimu juga panjang, bagaimana kami bisa mengejarmu?" Regina membalas cibirannya.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Regina hanya melihat ke luar, menebak-nebak kemana mobil tujuan laju mobil ini. Mobil itu terparkir di sebuah bangunan gedung.
"Jadi, ini tempatnya? Kenapa kau begitu terburu-buru untuk melakukan ini? Bukankah lebih baik dilakukan pada tahun depan?"
"Tahun depan atau sekarang sama saja. Kevin juga menginginkannya, kan? Ayo turun. Orang yang aku kenal sudah menunggu kita."
Saat Henry keluar deri mobil, dia sudah disambut oleh seorang wanita. "CEO Jian, kau benar-benar datang."
Regina menatap wanita yang sumringah menatap Henry. Dia mengerutkan kening, memikirkan hubungan diantara keduanya.
"Kau tidak perlu menyambutku di luar, oh ya ini istri dan anakku. Aku sudah mengatakan padamu kan semalam."
"Hallo, saya Rosa, kepala sekolah. Kau pasti Kevin ya, wajahmu benar-benar mirip dengan Henry."
Wanita bernama Rosa secara terang-terangan mengabaikan keberadaan Regina. Rosa mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Kevin, tetapi anak laki-laki itu menepisnya. "Aku tidak suka seseorang menyentuh wajahku selain Mama. Jadi, jangan sok akrab."
"Kevin, jangan bertindak kasar!" Henry menegurnya.
Kevin hanya menunjukkan ekspresi cemberut. "Tidak apa-apa. Anak kecil biasa seperti itu. Mari pergi ke ruanganku, kita akan memulai mengurus berkas pendaftaran dan Kevin bisa langsung masuk ke kelasnya."
"Permisi, bukankah sebelum penentuan kelas, ada ujian masuk?" tanya Regina.
Rose menoleh ke arah Regina dengan tatapan kebencian, tetepi nada suaranya dibuat seramah mungkin, "Hmm, tentu saja ada ujian masuk. Namun, aku yakin dengan kemampuan putra dari CEO Jian akan dapat menjalani kelas dengan baik tanpa tas."
Regina merasa curiga, "Kepala Sekolah Rosa, bukankah itu tidak adil jika kau pilih kasih seperti ini dan juga ujian dapat mengetahui sampai tingkat mana kemampuan Kevin. Kau tidak bisa menyamakannya dengan suamiku."
Henry menyenggol tangan Regina, bibirnya mendekat ke telinganya, "Apa yang kau lakukan? Aku sudah susah payah agar pendaftaran ini berjalan mudah dan cepat, tapi kau justru memperumitnya."
"Nona Rose, lebih baik kita mulai saja urusan administrasinya atau kau bisa memberikan tes wawancara singkat agar tidak menghambat waktuku untuk bekerja."
"Tentu saja. Aku akan memberikan wawancara singkat sebagai tes. Kevin, aku yakin kau bisa melaluinya dengan baik."
"Hm." Kevin memberikan jawaban acuh tak acuh.
Mereka memasuki ruangan Rosa. Kevin mulai diberikan pertanyaan, Rose sengaja melakukannya di ruang terbuka agar Henry dapat melihatnya. "Baiklah, aku akan mengajukan pertanyaan. Apa kau siap?"
Rose mulai mengajukan pertanyaan dasar, Kevin menjawab dengan asal-asalan yang membuat wajah Rose pucat, apalagi saat ini Henry menatapnya dengan tajam. Rose memberikan tanggapan membenarkan jawaban Kevin.
Regina memperhatikan semua itu. "Dia tidak melakukan tes dengan benar." Kritiknya pada Rose.
"Ya, aku tidak menyangka kenapa keturunanku tidak secerdas yang seharusnya, apa ini karena ada campuran dari keluarga Tan?" ucap Henry yang justru menyalahkan Kevin.
"Apa yang kau katakan? Setidaknya di keluarga Tan tidak ada diantara kami yang gagal pada tes ujian masuk. Pastinya tidak perlu menggunakan cara licik seperti memiliki hubungan demi mendapatkan kemudahan melalui pintu belakang seperti cara yang diambil seseorang," sindir Regina.
"Apa maksudmu? Kau sedang mengkritik selama ini aku masuk lewat pintu belakang? Kau meremehkanku?"
"Jika tidak, lalu kenapa kau membuat Kevin masuk dengan cara ini? Kau bahkan tidur dengan kepala sekolahnya untuk mendapatkan kemudahan ini, kan?"
"Regina, jaga ucapanmu!" Henry menekan kemarahannya.
"Kau marah bukankah tandanya itu semua benar? Wanita yang meneleponmu dan membuatmu tidak kembali adalah dia, kan?"